Stop Bilang “Not All Men”: Korban Butuh Empati, Bukan Interupsi

Perempuan di kehidupan sehari-hari sudah sering mengalami interupsi (mansplaning). Tak terkecuali saat menceritakan pengalaman kekerasan berbasis gender yang dialaminya, masih diinterupsi dengan kalimat defensif seperti “Not All Men” yang menunjukkan maskulinitas. Alih-alih mendengarkan dan berempati.

Saya sungguh terganggu ketika sedang membahas kasus kekerasan seksual, pelecehan, atau seksisme, tiba-tiba ada laki-laki yang nyeletuk “nggak semua laki-laki kayak gitu”. Seolah-olah kita harus berhenti bicara dan bilang “Syukurlah masih ada laki-laki baik seperti kamu di dunia ini”. 

Mungkin mereka memang merasa nggak pernah melakukan kekerasan atau berlaku seksis. Tapi dengan bilang begitu, fokus langsung beralih dari korban ke mereka. Bukannya mendukung atau mendengarkan, mereka malah sibuk minta diakui sebagai “laki-laki baik”.

Laki-laki yang ‘berbeda’ ini sering muncul di saat orang sedang sibuk membahas kasus yang merugikan perempuan. Mereka terlihat seperti ikut tidak setuju dengan laki-laki yang menjadi pelaku kekerasan, tapi di saat yang sama juga menginginkan validasi dari perempuan bahwa dia berbeda. Mungkin mereka khawatir perempuan akan menganggap semua laki-laki adalah monster. Daripada memilih untuk mengutuk keras sesama laki-laki yang melakukan kekerasan, mereka lebih memilih mengalihkan perhatian orang pada dirinya yang berbeda dari mayoritas pelaku kekerasan yang adalah laki-laki.

Kalimat defensif yang digunakan juga beragam selain “Tidak semua laki-laki seperti itu” atau “Not all men”, ada juga “Aku kan nggak pernah lakukan itu ke kamu”, atau “Kok jadi benci laki-laki?”

Baca juga: Kekerasan Seksual Di Depok: Terduga Pelakunya Anggota DPRD, Aktivis Desak Pencopotan

Atau ketika perempuan membahas ketidakadilan gender, laki-laki berkata: “Laki-laki juga punya masalah, tahu! Kita juga ditekan untuk mencari nafkah.” Tujuannya menunjukkan bahwa laki-laki juga korban sehingga diskusi tentang ketidakadilan terhadap perempuan terlihat tidak relevan.

Ini bukan soal generalisasi semua laki-laki itu pelaku, tapi lebih ke melihat fakta kalau kekerasan berbasis gender itu secara sistemik dan statistik, yang memang lebih sering dilakukan laki-laki. Jadi, jangan dibandingin sama misalnya ketika ada kasus perempuan dianggap terlalu menuntut perhatian atau waktu laki-laki, lalu muncul argumen dari perempuan “nggak semua perempuan kayak gitu”. Sebab, pernyataan ini biasanya tidak menyinggung masalah sistemik, melainkan hanya membahas perilaku individu yang tidak memiliki dampak struktural. 

Bedanya, kekerasan dan seksisme yang dilakukan laki-laki itu bagian dari pola besar yang didukung sama patriarki, yang memberi mereka kuasa di ruang publik dan kehidupan sehari-hari. Jadi, yang kita soroti itu bukan cuma perilaku satu-satu, tapi juga sistem yang bikin pola ini terus jalan.

Laki-Laki dan Perempuan Hidup dalam Realitas yang Berbeda

Di masyarakat patriarki, realitas perempuan dan laki-laki itu jauh beda. Laki-laki bebas jalan di ruang publik tanpa merasa was-was. Tapi perempuan? Melewati segerombolan laki-laki di pinggir jalan aja bikin deg-degan. Dan perasaan itu bukan tanpa alasan.

Perempuan banyak yang memiliki memori tentang pelecehan atau seksisme yang mereka alami baik besar atau kecil. Jadi, meskipun benar nggak semua laki-laki pelaku kekerasan, statistik menunjukkan bahwa mayoritas pelaku adalah laki-laki. Jadi ketika ada yang nyeletuk “nggak semua laki-laki,” fokusnya langsung beralih dari pengalaman korban ke pembelaan diri.

Padahal, yang dibutuhkan korban adalah empati. Dengarkan tanpa menyela. Bukan pembelaan, bukan validasi, dan bukan cerita soal betapa baiknya dirimu. 

Mungkin laki-laki yang ‘baik’ ini takut mereka harus memikul tanggung jawab atas tindakan laki-laki lain, baik secara moral maupun sosial. Mereka tidak ingin merasa bersalah atas masalah yang mereka rasa tidak mereka sebabkan.

Kejujuran Perempuan: Ancaman bagi Maskulinitas

Dalam bukunya Rage Becomes Her, Soraya Chemaly menjelaskan bahwa perempuan yang jujur soal pengalaman kekerasan atau seksisme sering dianggap mengancam maskulinitas. Kenapa? Karena maskulinitas dominan sering dibangun di atas ide bahwa perempuan itu lemah dan butuh perlindungan. 

Ketika perempuan bilang mereka mengalami kerugian dari laki-laki dan mengungkap ketidakadilan, laki-laki yang merasa nyaman dengan maskulinitasnya jadi defensif. Dan defensif ini sering kali muncul dalam bentuk meremehkan, menyangkal, atau bahkan memusuhi perempuan yang marah.

Laki-laki sebenarnya sadar bahwa kebanyakan laki-laki pelaku kekerasan. Bahkan ada laki-laki yang menggunakan contoh banyaknya kekerasan yang dilakukan laki-laki lain untuk menegaskan superioritas mereka. Bahwa mereka adalah yang terbaik di antara laki-laki. Pesan tersiratnya adalah, “Kamu beruntung karena saya memperlakukan kamu lebih baik daripada laki-laki di luar sana”. 

Seakan nasib perempuan bergantung pada bagaimana laki-laki memilih untuk memperlakukan mereka. Dan bersyukur bahwa mereka tidak diperlakukan buruk.

Bagaimana Berbicara Tanpa Melukai Ego Laki-Laki: Beban Narasi Ada di Tangan Korban

Soraya juga menyebut bahwa terlalu sering, korban harus memilih kata-kata mereka dengan hati-hati agar tidak melukai ego laki-laki. Reaksi defensif laki-laki terhadap pembicaraan tentang seksisme sering kali muncul sebagai respons dari rasa terancam terhadap identitas mereka. 

Ekspresi ini, meskipun tampak spontan, sebenarnya berakar pada keyakinan seksis yang sangat mendalam: yaitu keyakinan bahwa perempuan dianggap terlalu emosional, kurang cerdas, dan membutuhkan bimbingan dari laki-laki. 

Kesenjangan ini memperparah stres, kelelahan, frustrasi, kecemasan, dan kemarahan perempuan sebagai korban. Situasi ini menjadi lebih buruk ketika perempuan mencoba berbicara tentang masalah tersebut, hanya untuk mendapati bahwa pandangan mereka diabaikan atau ditolak begitu saja. 

Jika perempuan menginternalisasi pandangan ini, menyalahkan diri sendiri, atau mengarahkan kemarahan ke dalam, dampaknya akan jauh lebih destruktif.

Banyak perempuan memilih untuk tetap diam tentang kebutuhan, keinginan, dan perasaan mereka karena sudah mengantisipasi respons negatif. Sikap ini memungkinkan laki-laki untuk tetap berada dalam ketidaktahuan yang nyaman, sementara dominasi mereka terus berlanjut.

Ironisnya, laki-laki yang menyangkal ini lebih cenderung memusuhi ekspresi kemarahan perempuan daripada memahami akar penyebab kemarahan tersebut. Penyangkalan ini adalah cara mempertahankan status quo laki-laki. Dimana hal itu terus membebani perempuan dengan tugas untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, yang disebabkan oleh laki-laki. Tanpa menyadari bahwa mereka sendiri adalah bagian dari laki-laki.

Kita tidak bisa selamanya hidup dengan menahan diri untuk tidak melukai perasaan laki-laki. Sebagai perempuan, kita memiliki hak untuk menunjukkan kebenaran, untuk berbicara tentang pengalaman kita, tanpa harus memanjakan ego siapa pun. 

Bukan karena kita ingin memusuhi laki-laki, tetapi karena kita ingin menciptakan dunia yang lebih adil, di mana suara perempuan didengar tanpa harus disaring oleh ketakutan akan melukai ego orang lain.

Baca juga: Seksisme di Ekosistem Tech Bro: Perempuan Makin Rentan Jadi Korban Pelecehan 

Seperti yang disampaikan oleh Laura Bates dalam bukunya Men Who Hate Women: kita tidak bisa terus menghindar dari kenyataan adanya misogini hanya karena merasa tidak nyaman mengakui bahwa masalah ini berasal dari kelompok yang paling berkuasa: laki-laki heteroseksual. 

Ketakutan untuk dilabeli sebagai pembenci laki-laki atau menghadapi seruan seperti “tidak semua laki-laki” sering digunakan untuk meremehkan pengalaman perempuan. Padahal, meski benar tidak semua laki-laki terlibat langsung, mereka yang sibuk membela gendernya. Di satu sisi mereka juga meragukan korban dan tetap ikut mendukung sistem yang membungkam korban dan menjaga ketidakadilan terus berjalan. 

Masalah ini bukan cuma ancaman untuk perempuan. Tapi juga untuk laki-laki. karena jika kita terus mengabaikannya, pelaku kejahatan akan terus lolos dari tanggung jawab.

Kalau memang kamu merasa berbeda dan bukan bagian dari laki-laki yang merugikan perempuan, pertanyaannya adalah: apa yang bisa kamu lakukan? Apakah cukup hanya dengan berkata “not all men” untuk membela diri, atau justru kamu bisa menggunakan posisimu untuk menciptakan perubahan? Misalnya, dengan berani menegur teman-temanmu yang melontarkan candaan seksis, belajar mendengarkan pengalaman perempuan tanpa defensif, atau ikut mengedukasi orang lain tentang bahaya kekerasan berbasis gender.

Masalah ini tidak akan selesai jika kelompok yang diuntungkan oleh sistem patriarki tidak mau menerima kenyataan dan mengambil langkah untuk berubah. Perubahan membutuhkan kemauan untuk mendengarkan, mengakui kesalahan, dan melakukan reformasi, baik secara individu maupun sistemik.

Editor: Nurul Nur Azizah

Ika Ariyani

Kontributor Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!