Beberapa waktu lalu, Elon Musk pemilik platform sosial media X melontarkan cuitan yang dianggap melecehkan Taylor Swift.
“Fine Taylor … you win … I will give you a child and guard your cats with my life,” tulis Musk.
Cuitan ini muncul setelah Taylor Swift menyatakan dukungannya kepada Kamala Harris sebagai bakal calon presiden AS. Sementara Musk mendukung Donald Trump. Komentarnya langsung dikecam sebagai seksis dan misoginis.
Tak hanya itu, pada Agustus lalu, perusahaan teknologi Palo Alto Networks juga memicu kemarahan publik. Saat acara konferensi Black Hat, mereka menggunakan model perempuan berpakaian ketat dengan kap lampu di kepala. Seolah menjadi ‘kaki lampu manusia’. Meskipun CEO-nya sudah meminta maaf, kejadian ini kembali memanaskan perbincangan soal budaya patriarki di Silicon Valley.
Laki-laki yang bekerja atau hidup sebagai tech enthusiast mendapat sorotan oleh masyarakat akhir-akhir ini. Para laki-laki ini disebut dengan Tech Bro. Mereka bekerja dan berdiskusi di lingkup teknologi seperti programmer, engineer, developer hingga cryptocurrency. Terminologi Tech Bro ini lekat dengan anggapan negatif karena seringkali orang-orang yang disebut Tech Bro ini melakukan tindakan misoginis dan seksis. Salah satu contohnya seperti 2 kasus di atas.
Baca Juga: Kenapa Partisipasi Perempuan di Bidang STEM Lambat? Bias Gender Jadi Hambatan
Jurnalis Bloomberg, Emily Chang, membahas ini dalam bukunya, Brotopia: Breaking Up the Boys’ Club of Silicon Valley. Ia mengungkap bagaimana seksisme dan pelecehan sudah menjadi bagian dari budaya teknologi di sana.
Kehadiran perempuan di Sillicon Valley tidaklah lebih dari 30%. Sayangnya jumlah perempuan yang sedikit itu tidak membuat orang-orang di ‘pusat’ teknologi dunia itu memikirkan inklusivitas dan mendorong kesetaraan. Melainkan justru menganggap kehadiran perempuan sebagai penghambat kemajuan produk teknologi.
Menariknya, budaya brotopia ini dianggap Emily sebagai salah satu bentuk ‘balas dendam si kutu buku’. Budaya brotopia yang cenderung intimidatif, seksis dan misoginis. Hal itu seringnya dilakukan oleh lelaki yang pada masa sekolah dianggap sebagai nerd dan justru menjadi korban bullying. Pelecehan adalah hal yang biasa terjadi di sana namun sangat sulit perempuan speak up.
Konstruksi Sosial Gender dan STEM: Mengapa Perempuan Jauh dari Teknologi?
Dunia teknologi memang masih sangat didominasi oleh laki-laki. Terutama di industri STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dan sering diklaim sebagai industri maskulin. Kesenjangan gender dalam representasi di bidang STEM dimulai sejak dini. Di usia sekolah menengah, jumlah anak laki-laki yang ingin bekerja di bidang sains atau teknik dua kali lebih banyak daripada anak perempuan.
Hal ini diungkap dalam jurnal berjudul Gender in Science, Technology, Engineering, and Mathematics: Issues, Causes, Solutions. Bahwasanya kesenjangan gender dalam dunia STEM erat kaitannya dengan konstruksi sosial yang selama ini dibangun oleh masyarakat. Konstruksi sosial berupa peran laki-laki dan perempuan membuat perempuan menjauhi dunia STEM karena dianggap kurang cocok dengan peran sosialnya dan beranggapan tidak akan menemui keberhasilan di dunia tersebut.
Baca Juga: Dua Perempuan Ahli Kimia: Dobrak Sterotype Gender Di Dunia Sains
Secara khusus, “hipotesis kesesuaian tujuan” membuat perempuan memilih keluar dari STEM karena mereka menganggap tujuan gender mereka tidak sesuai dengan sifat pekerjaan STEM, peluang yang tersedia di STEM, dan kemungkinan keberhasilan mereka. Sederhananya, perempuan merasakan ketidakcocokan antara tujuan/nilai mereka dan lingkungan STEM.
Lebih jauh lagi, perempuan yang masuk di industri teknologi seringkali mendapat upah di bawah laki-laki. Gender pay gap ini sebenarnya terjadi di banyak industri, namun khusus untuk bidang STEM kesenjangan yang terjadi dapat menyentuh angka 9%, angka kesenjangan ini terbilang cukup besar jika dibandingkan dengan kesenjangan upah berdasar gender di dunia kedokteran misalnya yang berada di angka 3%.
Tidak Ada Perbedaan Fungsi Otak Berdasarkan Gender
Konstruksi sosial tentang peran gender adalah produk budaya patriarki yang membatasi hak dan potensi perempuan. Salah satu stereotip yang muncul dari konstruksi ini adalah anggapan bahwa perempuan “tidak cocok” untuk pendidikan STEM, dengan alasan adanya perbedaan fungsi otak antara laki-laki dan perempuan.
Namun Gina Rippon, seorang ahli saraf kognitif, dalam bukunya The Gendered Brain: The New Neuroscience That Shatters, menegaskan bahwa tidak ada perbedaan fungsi otak berdasarkan gender. Otak manusia belajar dan berkembang melalui pengalaman, yang kemudian menjadi ‘database’ untuk mempermudah tugas-tugas di masa depan. Proses ini tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin. Gina menerangkan bahwa otak manusia belajar mengembangkan diri melalui pengalaman.
Lebih lanjut, Gina menjelaskan bahwa otak itu sendiri tidak memiliki gender; sebaliknya, dunia di sekitar kita yang membentuk identitas, peran sosial, dan hierarki yang berbasis gender.
Dunia luar inilah yang menciptakan batasan tentang bagaimana laki-laki dan perempuan harus bertindak dan menjalani hidup. Mengaitkan konstruksi patriarki ini dengan keilmuan otak disebut sebagai neuroseksisme, yaitu memberikan pembenaran bahwa otak bekerja secara berbeda berdasarkan gender.
Baca Juga: Teknologi Saat Ini Masih Bias Gender, Gimana Perempuan Ambil Peran?
Pemikiran seperti inilah yang menjadi akar masalah absennya perempuan di industri STEM, sehingga menyebabkan kurangnya perspektif gender yang adil dan inklusif di bidang teknologi.
Meskipun ada upaya untuk mempromosikan keberagaman dan inklusi, industri teknologi tetap saja homogen. Tech Bro merupakan contoh dari kurangnya keberagaman ini, yang melestarikan budaya yang mengutamakan kesesuaian daripada kreativitas.
Kecenderungan mereka untuk merekrut dan mempromosikan individu yang mencerminkan latar belakang mereka sendiri hanya memperkuat struktur kekuasaan yang ada, sehingga menyulitkan kelompok yang kurang terwakili untuk masuk ke industri.
Mengatasi masalah ini tidak hanya membutuhkan perekrutan bakat yang beragam tetapi juga menciptakan lingkungan yang inklusif di mana setiap orang merasa dihargai dan dihormati.
Tech Boom dan Gaji Besar: Menumbuhkan Budaya Bro dalam Industri Teknologi
Sekitar 1 dekade lalu, era tech boom membawa perkembangan pesat di industri teknologi. Banyak perusahaan baru bermunculan dengan layanan berbasis aplikasi dan website. Mereka menarik perhatian angel investor yang berlomba-lomba menanamkan uang mereka di sektor ini.
Fenomena “bakar uang” pun terjadi, di mana perusahaan menghabiskan banyak dana untuk menarik pelanggan dan mengubah kebiasaan masyarakat agar beralih ke layanan berbasis aplikasi. Akibatnya, gaji karyawan di sektor ini pun ikut melonjak.
Mengutip data Indonesia Salary Guide yang dikeluarkan Michael Page, hingga tahun 2024 sektor teknologi masih memiliki nilai gaji tertinggi untuk posisi software engineer misalnya, yakni di angka 65 juta per bulan. Ini berbanding jauh dengan sales manager yang hanya ada di angka 45 juta per bulan.
Fenomena ini terjadi bukan hanya di Indonesia namun juga di seluruh dunia. Selain gaji yang tinggi, pekerja di sektor teknologi juga mendapat berbagai tunjangan dan fasilitas yang juga tak kalah fantastis.
Dengan adanya fenomena tech boom hingga gaji yang tinggi dan mendominasinya laki-laki pada sektor tersebut, membuat budaya bro atau ‘bro culture’ menjadi tumbuh.
Baca Juga: Teknologi dan Informasi: Apa saja Hak Perempuan?
Adanya rasa dibutuhkan oleh industri membuat sebagian pekerja sektor ini hidup dalam gelembung patriarki. Sebuah media publikasi bisnis Crunchbase melakukan survei terkait pendanaan atau investasi untuk startup. Hasilnya pendanaan bagi startup didominasi oleh perusahaan dengan CEO laki-laki. Sementara startup yang dimiliki perempuan hanya mendapat 2 persen dari nilai pendanaan global. Sedangkan, startup yang dimiliki orang kulit hitam hanya mendapat pendanaan sekitar 1 persen.
Hal ini tidak bisa dipisahkan dari tujuan venture capital yang hanya mencari keuntungan dan pertumbuhan jangka panjang. Tanpa mempertimbangkan kesetaraan dalam ekosistem teknologi.
Dari keterkaitan ini semua, dapat dipahami bahwa bro culture akan terus melahirkan para Tech Bro yang membuat sektor industri teknologi belum inklusif. Ketiadaan sudut pandang perempuan juga akan berdampak pada produk-produk berbasis teknologi yang tidak ramah gender.
Mengakhiri Budaya Bro: Mendorong Kesetaraan Gender di Industri Teknologi
Keberadaan bro culture adalah hasil dari budaya patriarki yang sangat panjang. Dari dominasi gender di sekolah hingga pendanaan yang cenderung kepada lelaki. Namun, bukan berarti dunia tidak memahami hal ini.
Sebuah kelompok advokasi untuk perempuan di bidang teknologi bernama Allrise mengungkapkan adanya pertumbuhan keberadaan perempuan di bidang teknologi khususnya di sektor pendanaan atau venture capital. Mereka menargetkan pada 2028 akan terjadi peningkatan 2 kali lipat dari 9 persen menjadi 18 persen untuk perempuan pengambil keputusan dan pengelola dana investasi di atas 25 juta dollar.
Baca Juga: Wacana Adu Tinju Mark Zuckerberg vs Elon Musk, Krisis Maskulinitas Ada di Sekitar Kita
Selain itu, gerakan-gerakan sipil juga menjadi penyeimbang atas ketimpangan yang terjadi di industri teknologi. Meskipun hanya menjadi diskursus dan belum sampai pada tahap penentu kebijakan, pembicaraan mengenai Tech Bro dan anggapan kolektif yang menyatakan mereka sebagai bagian dari budaya toxic membuat banyak orang sadar adanya hal yang tidak wajar. Ditambah lagi dengan adanya bukti kasus-kasus kekerasan dan pelecehan tentu membuat pandangan umum semakin sinis atas budaya bro ini.
Namun, tentu kita tidak bisa memukul rata semua orang yang bekerja di bidang teknologi adalah Tech Bro itu seksis secara personal. Ada juga dari mereka yang sadar akan kesetaraan dan pentingnya sudut pandang gender meski mereka berada di tengah ekosistem yang seringnya maskulin.
Oleh karena itu, sangat penting untuk mendorong perubahan di industri teknologi agar dapat menciptakan ekosistem yang lebih beragam dan menghargai keberadaan berbagai gender. Karena tanpa itu, kita hanya akan terjebak dalam lingkaran stagnasi.






