Ilustrasi 'ditemani dari nol'

“Ditemani dari Nol”: Ini Romantisme atau Relasi Transaksional yang Tidak Setara?

Banyak laki-laki menyampaikan kerinduan untuk ‘ditemani dari nol’ alias dicintai saat belum punya apa-apa. Tapi benarkah ini murni soal cinta?

Belakangan, obrolan soal obsesi laki-laki ingin ‘ditemani dari nol’ ramai di media sosial X. Salah satunya muncul dari akun @tubbirfess. “Kenapa ya, cowok-cowok terobsesi ditemani dari nol, dari masih berproses, dari masih miskin?” 

Banyak yang mencoba menjawab. Ada yang bilang kalau dicintai saat sudah sukses, takut ditinggal jika suatu saat tidak sukses lagi. Juga ada yang menyebut ini bentuk perlawanan terhadap relasi cinta yang dianggap transaksional. Ada pula yang mengartikan bahwa ditemani dari nol berarti ingin dicintai sebagai diri sendiri saat belum punya apa-apa. Diskusi mengenai hal ini berekspansi lebih lanjut. Namun, dari gambaran sekilas itu, kita bisa melihat bahwa narasi ditemani dari nol mencerminkan kecemasan gender. Ini juga mencerminkan gambaran maskulinitas modern yang dipahami oleh sebagian laki-laki.

Harapan tersebut sangat manusiawi. Dicintai sebagai diri sendiri dan tidak hanya dilihat dari harta yang kita punya adalah hal yang dinantikan semua orang, apa pun gendernya. Cinta memang seharusnya lebih tinggi dari preferensi melihat calon pasangan dari harta, status sosial atau penampilannya. Pasalnya, cinta itu murni, spontan, dan saling timbal balik. Tapi kenapa harapan ingin dicintai tanpa melihat itu semua menjadi semakin langka?

Baca Juga: ‘Anak Perempuan Main Bola, Anak Laki Bantu Memasak’ Pengasuhan Mestinya Bikin Peran Gender Bisa Dipertukarkan

Jawabannya, hal itu terjadi sejak dunia mengenal kapitalisme. Gagasan bahwa cinta romantis menjadi pondasi budaya kapitalisme sebenarnya bukan hal baru. Dalam bukunya The Origin of the Family, Private Property and the State, Friedrich Engels mengkritik institusi keluarga dari zaman Yunani kuno hingga era borjuis. Keluarga digunakan untuk menundukkan perempuan dan melanggengkan kepemilikan pribadi, terutama lewat hukum warisan. 

Bagi Engels, pernikahan borjuis yang tampak penuh kasih dan monogami hanyalah ilusi munafik. Sebab ia hadir bukan karena cinta, tapi karena kepentingan kelas. Cinta di situ hanyalah hiasan dari sebuah kontrak sosial ekonomi. 

Mengapa Ditemani dari Nol Begitu Menarik, Tapi Seksis?

Sebuah hubungan yang dibangun sejak kondisi ekonomi rendah sering kali digambarkan sebagai lebih murni. Ia dianggap bebas dari motif materialistik. Dalam narasi ini, laki-laki merasa bahwa jika mereka bertemu pasangan saat belum mapan, maka cinta yang didapatkan lebih otentik. Sebab pasangan memilih mereka tanpa pamrih. 

Pandangan ini menarik, tapi juga seksis. Sebab pada akhirnya, bisa saja terselip asumsi bahwa semua perempuan hanya tertarik pada uang atau status laki-laki. Atau prinsip harga mati bahwa cinta yang benar-benar sejati akan teruji saat perempuan datang ketika laki-laki masih ‘nol’. Artinya, mereka mencurigai perempuan yang hadir saat laki-laki sudah sukses, cintanya tidak murni dan sewaktu-waktu bisa meninggalkan laki-laki, karena yang dilihat hanya hartanya.

Apa lagi, pengertian ‘nol’ dalam narasi ini tidak jelas. Nol itu apa? Tidak punya pekerjaan? Belum mapan? Masih tinggal di rumah orang tua? Setiap orang punya definisi sendiri. Tapi asumsi secara umum adalah saat laki-laki belum cukup sukses untuk merasa percaya diri atau dihormati. 

Baca Juga: Pendidikan Makin Dikomersilkan, Kelompok Miskin Kian Tertinggal  

Perempuan yang diajak menemani dari nol diminta sabar, kuat, dan setia. Namun, ia mungkin tak tahu kapan fase itu selesai, atau apakah dia masih akan dipilih saat sukses sudah datang? Jadi, ‘nol’ sering hanya jadi alat untuk menguji perempuan. Ia yang bertahan dianggap tulus, ia yang mundur dianggap matre. Padahal dari awal, relasinya sudah berat sebelah.

Di tengah masyarakat yang menilai harga diri laki-laki dari keberhasilan finansial, narasi ini dianggap semacam perlawanan. Feminisme memahami bahwa standar maskulinitas beracun yang bilang kalau laki-laki ‘harus sukses dan harus mapan’, juga menindas laki-laki. Tapi meromantisasi struggling bersama tanpa jaminan keadilan dalam relasi gender bukan revolusioner; itu eksploitatif. Sekilas tampak sebagai perlawanan terhadap kapitalisme, padahal sama saja. Yang membedakan hanya waktu. Laki-laki seakan menciptakan keadaan: “Jika kamu menemani aku, maka kesuksesanku akan kita nikmati bersama.” Ujung-ujungnya, toh, jadi soal ekonomi juga.

Laki-laki ingin tetap merasa dicintai meski belum jadi siapa-siapa, tapi tetap dalam posisi yang tidak kehilangan keistimewaannya sebagai pusat cerita. Laki-laki ingin diterima apa adanya—dengan istilah masa kini, ‘unconditional love (cinta tak bersyarat)’. Namun, ingin diterima apa adanya saja pun adalah sebuah syarat. Jadi, ‘cinta tanpa syarat’ itu ternyata ada syaratnya juga.

Baca Juga: Sisi Gelap Perkebunan Sawit Perusahaan: Petani Miskin Makin Sengsara

Itu pun belum termasuk harapan tambahan bahwa perempuan yang menemani dari nol harus memenuhi standar. Visualnya harus menarik, sabar, pandai memuji, tahu cara memberi semangat, dan kalau bisa membantu juga secara finansial. Sebab rupanya ‘menemani’ di sini bukan berarti diam duduk manis, tapi ikut kerja—ikut pusing membantu si ‘tokoh utama’ berjuang. Lantas, apakah dalam proses ditemani itu, laki-laki bisa menerima jika pasangannya memberi masukan dan mengkritik cara kerjanya? Atau jangan-jangan malah dianggap beban yang selalu ikut campur. Menghadapi seseorang dengan rasa rendah diri, gagal, apa lagi selalu ingin berada di posisi dominan tentu bukan hal yang mudah. 

Yang sering diabaikan adalah fakta bahwa di dalam kemiskinan, perempuan menjadi korban ganda. Tidak hanya menghadapi tekanan ekonomi, tetapi juga beban sosial dan emosional untuk selalu menjadi pendamping yang baik, penghibur, tidak boleh banyak menuntut. Sementara laki-laki bisa beralasan masih berproses dan harus selalu dimaklumi. Maka yang terlihat sebagai perlawanan, pada akhirnya justru memperpanjang ketimpangan.

Padahal perempuan juga berjuang di dunia kerja, bahkan lebih banyak keterbatasan dan tantangan di sistem patriarki. Tapi sering kali tidak diberi ruang yang sama untuk minta ditemani dari nol. Jarang ditemukan perempuan bertanya, “Laki-laki seganteng ini mau nggak ya, menemani aku dari nol?”

Laki-laki Tumbuh dalam Angan-Angan Didukung Perempuan

Narasi bahwa laki-laki ingin “ditemani dari nol” memiliki kemiripan dengan narasi-narasi lama yang masih sangat melekat dalam masyarakat, seperti: “Di balik laki-laki sukses, ada perempuan di belakangnya,” atau, “Ayo menikah biar ada yang ngurus.” Perempuan diposisikan hanya sebagai penopang. Ini semua adalah cerita yang seolah-olah romantis, tapi sebenarnya penuh dengan pembagian peran gender yang timpang. 

Narasi-narasi ini sering kali berasal dari film, sinetron, iklan, dan bahkan diinstitusikan pemerintah seperti Dharma Wanita. Laki-laki digambarkan didukung penuh ambisinya oleh perempuan. Media menunjukkan adegan-adegan istri menyiapkan baju dan makanan suami, dan menyambut suami pulang kerja dengan hangat. Dan ironisnya, banyak laki-laki tumbuh dengan angan-angan bahwa inilah bentuk hubungan ideal.

Dalam buku Consuming the Romantic Utopia, Eva Illouz berpendapat bahwa cinta romantis semula dimaknai sebagai sesuatu yang tak terikat pada status, kekayaan, atau kelas. Cinta itu, katanya, seharusnya netral, irasional, dan bahkan anti materi. Tapi dalam kenyataannya, terutama dalam budaya populer, saling mencintai dan berpasangan seakan bisa mengubah kemiskinan berubah jadi kemapanan ekonomi dan tanpa perhitungan logis.

Baca Juga: Pendapatan Perempuan di Bawah 25%: Analisa 30 Tahun Ketimpangan Gender di Indonesia

Illouz menunjukkan bahwa makna cinta telah mengalami transformasi besar. Cinta dipromosikan dalam budaya massa, dan dijual sebagai cita-cita kebahagiaan hidup yang tertinggi. Cinta pun menjadi bagian dari gaya hidup dan sekaligus alat promosi komoditas.

Makan malam romantis, hadiah, liburan, bahkan perasaan jatuh cinta itu sendiri diproduksi dan dikemas dalam bentuk pengalaman yang bisa dibeli. Kegiatan seperti jalan-jalan berdua atau makan bersama tak lagi sekadar aktivitas, tapi jadi bukti cinta dan alat validasi. Di situ orang merasa berdaya, merasa hidup, dan memiliki semangat—baik mereka dari kelas pekerja maupun kelas menengah.

Modernitas kini memberi kita kebebasan untuk memilih pasangan berdasarkan kepribadian dan nilai moral, bukan sekadar status sosial. Namun dalam kenyataan sehari-hari, hubungan sering kali tetap dipenuhi pertukaran. Kita menggunakan orang lain untuk banyak hal. Untuk validasi, untuk hiburan, atau sekadar untuk mengusir bosan. Dalam dunia kapitalisme, seperti yang dikatakan Karl Marx, hubungan antarindividu pun bisa berubah menjadi transaksi, dan orang lain menjadi komoditas yang dinilai berdasarkan daya tarik dan manfaatnya.

Cinta telah dipahami dalam istilah yang sama dengan pertukaran ekonomi kapitalis. Pasangan sering kali dilihat sebagai “tim kerja”, dengan nilai-nilai yang mirip dengan relasi bisnis, kompetensi, kesetiaan, dan keuntungan bersama.

Perempuan Dituntut Menjadi Pengagum dan Mengabdi

Laki-laki ingin diyakinkan bahwa dirinya berharga, bahkan saat kondisinya masih biasa-biasa saja atau dalam keadaan gagal. Cinta dalam konteks ini tak lagi soal perasaan timbal balik, tapi menjadi ruang di mana laki-laki melihat nilai dirinya melalui cara perempuan mencintainya.

Dalam The Second Sex, Simone de Beauvoir menulis bahwa laki-laki melihat perempuan seperti air, yang akan memantulkan citra dirinya yang hebat. Laki-laki ingin melihat perempuan menunjukkan kebanggaannya kepada laki-laki melalui mata yang bersinar dan dipenuhi rasa syukur. Laki-laki tidak suka melihat perempuan yang kecewa dan keberatan. Karena itu, perempuan didorong untuk menunjukkan penilaian yang dilebih-lebihkan, menyambut laki-laki dengan tawa ceria, dan rasa hormat yang pura-pura. Budaya dan mitos membentuk keyakinan bahwa tugas utama perempuan adalah “melupakan diri dan mencintai”, menjadi pendukung, pengagum, serta sosok yang lembut demi kehidupan laki-laki.

Beauvoir menunjukkan bahwa perempuan sejak kecil diajarkan untuk melihat dirinya melalui mata laki-laki. Mereka dibentuk untuk memenuhi fantasi laki-laki, bukan mengejar mimpi dan proyeknya sendiri. Ketika jatuh cinta, perempuan sering kali kehilangan batas antara dirinya dan pasangannya. Perempuan membaca buku yang dibaca pasangannya, menyukai hal-hal yang disukai pasangannya, dan membentuk dunianya berdasarkan keinginan orang lain.

Baca Juga: Ketimpangan Digital Antara Kaya dan Miskin Tentukan Kemampuan di Masa Pandemi

Dalam cinta, perempuan bukan subjek yang otonom, tapi objek yang dimiliki. Sedangkan bagi laki-laki, perempuan menjadi lambang pencapaian tertinggi, karena dia adalah bentuk luar dari diri laki-laki yang berhasil ia kuasai, tubuh asing yang kini bisa ia miliki.

Laki-laki punya tuntutan ganda terhadap perempuan. Ia ingin perempuan jadi miliknya, tunduk dan melayani, tapi di saat yang sama tetap terasa asing, misterius, dan tak sepenuhnya bisa dimiliki. Ia ingin perempuan jadi pelayan dan penyihir sekaligus. Inilah akar dari perempuan sebagai “yang lain”, sebagai makhluk yang dikagumi namun bisa dikendalikan dalam waktu bersamaan, dan yang selalu harus menyesuaikan diri dengan tuntutan yang tidak pernah konsisten.

Beauvoir mencatat bahwa laki-laki ingin perempuan yang bisa berpikir, yang punya kecerdasan, tapi pada akhirnya tetap “menyerah” pada penalaran laki-laki. Dalam pandangan ini, cinta sering kali menjadi proyek pembenaran diri laki-laki. Perempuan didorong untuk melupakan dirinya sendiri dan menjadi refleksi dari hasrat dan identitas laki-laki. Bahwa pencapaian tertinggi perempuan adalah pengabdian—baik sebagai istri, ibu, maupun putri.

Pada akhirnya, narasi ditemani dari nol bukan sekadar cerita romantis tentang kesetiaan di masa sulit. Cinta yang katanya tulus justru dibungkus dalam syarat yang panjang, meski dikemas seolah-olah anti transaksional. Jika kita ingin membayangkan cinta yang benar-benar setara, maka relasi romantis tak bisa terus-menerus dibangun di atas harapan sepihak. Perlu diingat, ditemani dari nol adalah kalimat pasif: menunjukkan bahwa satu pihak diam di tempat, sementara pihak lain yang bergerak dan menopang. Ini yang mesti diubah; sebab cinta sejati adalah tentang dua orang, dari titik mana pun mereka berasal, yang saling mendukung dan tumbuh bersama. 

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

Ika Ariyani

Kontributor Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!