Novel 'Pada Sebuah Kapal' karya NH Dini (sumber foto: gramedia.com)

‘Pada Sebuah Kapal’, Novel Pertama Nh Dini yang Angkat Tema Feminisme

Novel 'Pada Sebuah Kapal' karya Nh Dini adalah salah satu karya sastra Indonesia yang penting. Ia berani menyuarakan persoalan-persoalan perempuan yang pada masanya masih dianggap tabu.

Bicara soal penulis perempuan yang berpengaruh dalam sejarah sastra Indonesia, nama Nh Dini tak bisa diabaikan. Ia adalah pelopor dalam penulisan sastra feminis. Novel-novelnya mengangkat kisah perempuan-perempuan yang berjuang atas hidupnya. Termasuk novel berjudul ‘Pada Sebuah Kapal‘.

Perempuan bernama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin ini mampu menangkap pengalaman ketubuhan perempuan yang kerap diabaikan. Seperti yang disampaikan Sapardi Djoko Damono, “Dini telah menggoyang-goyang perahu yang berlayar tenang. Mengajak kita memahami dan menghayati hakikat keperempuanan, yang dalam novel-novel sebelumnya banyak ditampilkan sebagai konsep.”

Lewat Pada Sebuah Kapal (1972), novel yang sudah cetak ulang beberapa kali sejak pertama terbit, Nh Dini mengangkat tema feminisme. Meskipun saat novel tersebut terbit istilah feminisme belum banyak dikenal. Tema tersebut juga belum banyak dibahas dalam sastra Indonesia.

Baca Juga: Nh Dini Sastrawati Feminis, Penulis Pemikiran dan Perasaan Perempuan

Dalam novel ini, Dini menciptakan sosok perempuan yang menolak tunduk pada aturan yang mengekang kebebasan individu. Tokoh utama novelnya tidak hanya menyadari kualitas dirinya, tetapi juga berani melangkah ke depan dengan keyakinan penuh.

Ia digambarkan sebagai nahkoda hidupnya sendiri, yang tidak pasrah ketika dihadang riak ombak. Ia memilih menjadi penyelamat bagi dirinya sendiri, menolak bergantung pada orang lain.

Tubuh, Sensitivitas, dan Identitas yang Terbentuk

Sri, tokoh utama dalam cerita, adalah seorang seniwati yang berkecimpung di dunia seni tari sekaligus bekerja sebagai penyiar radio. Pengalaman batinnya membentuknya menjadi pribadi dengan perasaan yang halus dan mendalam.

Sejak kecil, Sri berbeda dari abang-abangnya yang kerap mengekspresikan pendapat dengan gaya maskulin. Sebaliknya, ia memilih diam di sudut ruangan, membenamkan pikirannya dalam keheningan. Namun, diamnya bukan tanda ketidakpahaman; Sri lebih suka mendengar, menyerap informasi, dan memproses kerumitan percakapan di dalam pikirannya.

Meski cenderung pendiam, ayah dan abangnya, Sutopo, adalah sosok yang memahami dirinya dengan baik. Sutopo, khususnya, mampu menangkap ketidaknyamanan tersembunyi di balik kelembutan Sri. Ketidakpercayaan dirinya sering terlihat ketika ia mengomentari bentuk tubuhnya. Tinggi badan yang pendek, hidung yang dianggap tidak mancung, dan warna kulit sawo matang yang membuatnya merasa kurang percaya diri.

Ia juga meragukan kemampuan intelektualnya karena merasa tidak cukup berprestasi di sekolah. Namun, Sri bukanlah tipe perempuan yang menghabiskan waktu hanya untuk kesenangan dangkal. Ia memiliki kedalaman yang membuatnya berbeda, lebih memilih mengejar makna daripada kebahagiaan yang sementara.

Baca Juga: Merawat Kenangan Bersama Penulis Feminis Nh. Dini

Sri bukanlah sosok yang mudah terpengaruh oleh hiruk-pikuk kehidupan. Ia lebih memilih tenggelam dalam dunia buku, menikmati berjalan santai sore hari mengelilingi kebun, dan mengamati sekelilingnya dengan penuh kepekaan. Kebiasaannya ini membuat pemahamannya terhadap manusia dan alam makin tajam. Dalam ketenangan yang diciptakannya sendiri, ia menemukan pelipur lara.

Namun, takdir mempertemukannya dengan dunia seni tari, sebuah jalan yang sebelumnya tak pernah ia duga. Kedalaman batinnya, yang terbangun dari pengalaman hidup dan kecintaannya pada bacaan, memberinya kemampuan luar biasa untuk merasakan dan mengekspresikan emosi secara mendalam, menghidupkan jiwa manusia dalam setiap gerakan tarinya.

Cinta, Kehilangan, dan Perangkap Rumah Tangga

Kepekaan inilah yang membuat Sri lebih selektif, terutama dalam hal hubungan dengan laki-laki. Ia mendambakan sosok lelaki yang lembut dan mampu memberikan rasa tenang. Seseorang yang dapat menggenggam tangannya di saat getir, membangkitkan semangatnya, dan memberikan perlindungan yang membuatnya merasa aman.

Sri menginginkan pasangan yang hangat, tempat ia bisa bersandar, merasakan usapan lembut di rambutnya, serta mendengar bisikan menenangkan yang menguatkan hatinya. Harapan itu seolah terwujud saat ia bertemu Saputro, seorang pilot Angkatan Darat yang telah lama menginginkan Sri menjadi pendamping hidupnya.

Bersama Saputro, Sri merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Namun, kebahagiaan itu berakhir tragis ketika rencana pernikahan mereka harus kandas oleh takdir yang tidak dapat ditolak.

Di tengah masa berkabung, Charles, seorang lelaki Prancis kaya, hadir sebagai penghibur. Awalnya, ia tampak manis dan perhatian, tetapi sifat aslinya mulai terlihat setelah tiga bulan menikah. Charles sering membentak dan menunjukkan kecenderungan kasar, membuat Sri merasa muak. Pernikahan itu, yang awalnya diharapkan dapat menyembuhkan luka hati Sri setelah kehilangan Saputro, justru menjadi perangkap baru.

Sri menyadari bahwa Charles bukanlah lelaki yang ia butuhkan. Alih-alih memberikan kelembutan dan pengertian, Charles mendominasi segala aspek kehidupan rumah tangga, mengatur dan memerintah seolah hanya dirinya yang benar, tanpa memberi ruang bagi Sri untuk menyuarakan pendapat. Dalam pernikahan ini, Sri kembali terjebak dalam kekecewaan dan kehilangan dirinya.

Perlawanan Diam dan Narasi Ketubuhan Perempuan

Charles memandang Sri sebagai perempuan Asia yang dianggap tidak memiliki pengetahuan, hanya bisa melakukan sesuatu jika diperintah. Ia bahkan melarang Sri membersihkan rumah, khawatir pekerjaan tersebut tidak akan dikerjakan dengan baik. Bakat menari Sri pun terhambat karena larangan Charles, yang meragukan kemampuannya, meskipun menari adalah bakat yang sudah mendarah daging dalam hidup Sri sejak kecil.

Lewat novel ini, Dini menggambarkan bahwa tirani kekuasaan laki-laki begitu dominan, terutama saat mereka memegang status sebagai kepala keluarga. Semua aturan harus datang dari mereka, tanpa ruang untuk perlawanan, dan diterima begitu saja. Charles adalah contoh nyata dari dominasi ini.

Tuntutan agar istri patuh pada suami menjadi masalah besar dalam konteks ini. Apakah kepatuhan yang dimaksud harus dipatuhi bahkan ketika hal itu justru membatasi dan menghentikan potensi seorang istri? Apa arti kepatuhan yang “baik dan benar”? Haruskah seorang istri hanya tinggal di rumah, mencuci piring, baju, mengasuh anak, memasak, memastikan belanja, dan menjalankan tugas domestik lainnya?

Sementara suami sibuk di luar rumah. Padahal, pekerjaan domestik itu pun menguras tenaga dan waktu tanpa imbalan apapun.

Baca Juga: #StopNgelesUUTPKS: Dosen Pembimbing Unhas Lakukan Kekerasan Seksual, Kampus Gagal Beri Ruang Aman Bagi Perempuan

Pada Sebuah Kapal tidak hanya menggambarkan perjuangan Sri dalam mencari kebebasan dan pengakuan atas potensi diri. Ia juga mencerminkan realitas yang dihadapi banyak perempuan di dunia nyata, yang sering terjebak dalam peran dan tuntutan yang mengekang.

Dini dengan cermat menggambarkan bagaimana dominasi patriarki bisa begitu kuat hingga menumbuhkan perasaan ketidakberdayaan dan kebingungan identitas bagi perempuan.

Namun, melalui perjalanan Sri, pembaca diingatkan bahwa kebahagiaan dan kebebasan adalah hak yang tidak boleh disia-siakan. Dan perempuan memiliki kekuatan untuk mengambil alih kendali hidup mereka, meski harus melawan arus yang ada.

Novel ini mengajarkan kita bahwa kepatuhan yang sesungguhnya bukanlah tentang tunduk pada perintah. Melainkan tentang keberanian untuk menjadi diri sendiri dan mengejar hidup yang lebih bermakna.

Sebuah refleksi yang mengajak kita untuk memandang lebih dalam peran perempuan dalam masyarakat. Dan pentingnya memberikan ruang bagi kebebasan individu, tanpa rasa takut atau pengekangan.

Judul: Pada Sebuah Kapal | Penulis: Nh Dini | Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama | Tahun Terbit: 2019 | Jumlah Halaman: 351 Halaman | 

(Editor: Anita Dhewy)

(sumber foto: gramedia.com)

Sekar Jatiningrum

Pecinta karya sastra yang ditulis oleh penulis perempuan, penggemar cinema of contemplation, dan penikmat rutinitas monoton yang tampak membosankan, namun sejatinya membebaskan.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!