Tak Semua yang Terdengar Ilmiah Itu Benar, Kenali Mitos Determinisme Biologis

Karena terdengar ilmiah, banyak anggapan soal gen, hormon, dan sifat bawaan diterima begitu saja tanpa dipertanyakan secara kritis. Cara pikir ini sering kali jadi pembenaran rasisme, seksisme dan stereotipe gender.

Dalam keseharian mungkin kamu pernah mendengar asumsi-asumsi yang didasarkan pada faktor-faktor biologis. Seperti pada kalimat berikut,

“Anak dari keluarga broken home pasti nanti bercerai juga kalau menikah.”

Atau ini, “Kalau orang tuanya penjahat, anaknya pasti begitu juga.”

Atau mungkin, “Perempuan secara alami punya insting keibuan.”

Di masyarakat, banyak beredar mitos seperti ini yang diyakini sebagai ketetapan takdir. Pernyataan-pernyataan tersebut mencerminkan cara berpikir yang mengaitkan sifat, perilaku, bahkan nasib seseorang secara langsung dengan faktor keturunan atau warisan biologis.

Pandangan semacam ini dikenal sebagai determinisme biologis, yaitu paham yang menyatakan bahwa perilaku, kepribadian manusia sepenuhnya ditentukan oleh faktor genetik atau biologis sejak lahir. Menurut paham ini, lingkungan sosial, pendidikan, upaya individu tidak memiliki pengaruh signifikan karena segala sesuatunya sudah “ditakdirkan” oleh pembawaan lahir. Meski terdengar meyakinkan bagi sebagian orang, konsep ini sering dikritik. Lantaran cenderung mengabaikan kompleksitas manusia sebagai makhluk sosial dan psikologis yang juga dipengaruhi oleh lingkungan, pengalaman hidup yang bersifat kompleks.

Bayangkan rasanya jadi anak yang selalu dibilang, “Kamu nanti pasti bercerai juga kayak orang tuamu,” hanya karena orang tua bercerai. Atau bagaimana rasanya kalau setiap kali kamu berbuat salah, orang langsung bilang itu karena sifat buruk dari keluargamu. Dengan pikiran seperti itu, anak-anak ini mungkin mulai percaya bahwa nasibnya sudah ditentukan sejak lahir. Padahal tidak ada gen perceraian, gen penjahat. Tak satu pun perilaku manusia entah itu setia, selingkuh, mencuri, membunuh, jatuh cinta yang bisa ditelusuri pada satu gen tunggal.

Sejarah Ide yang Pernah Dianggap Ilmiah

Determinisme biologis sering dijadikan pembenaran untuk stereotipe, diskriminasi, sampai pembuatan kebijakan yang tidak adil seperti sterilisasi paksa kepada manusia yang dianggap lemah dan tidak cerdas. Pemikiran determinisme biologis mulai muncul pada abad ke-19, sejalan dengan perkembangan ilmu genetika dan antropologi. Salah satu tokoh yang mempopulerkan ide ini adalah Francis Galton, seorang ilmuwan Inggris yang juga sepupu dari Charles Darwin.

Galton dikenal sebagai bapak eugenika (pemuliaan manusia), ia berpendapat bahwa kecerdasan, bakat, bahkan sifat moral seseorang bisa diturunkan secara genetik. Di bukunya Hereditary Genius, Galton percaya bahwa manusia unggul harus dibiakkan seperti hewan ternak. Gagasan ini kemudian diperkuat oleh tokoh-tokoh seperti Cesare Lombroso yang menyatakan bahwa kriminalitas diturunkan. Ia meneliti bahwa penjahat memiliki ciri-ciri tertentu pada tubuhnya seperti mata kecil jelalatan, bibir tebal, hidung besar, telinga menonjol, dan menyukai tato. Bayangkan kalau kamu memiliki ciri ini dan bertemu Lombroso pada masa itu.

Tokoh lain yang mendukung pemikiran determinisme biologis adalah Samuel George Morton dan Robert Bennett Bean. Mereka menyatakan orang kulit putih lebih unggul secara intelektual dari orang kulit hitam dilihat dari otaknya. Lalu ada Edward H. Clarke, profesor Harvard yang mengatakan perempuan tidak bisa mempelajari hal sulit seperti laki-laki. Alasannya karena bisa berakibat tidak menstruasi, bahkan mengalami kemandulan. Pandangan-pandangan inilah yang meletakkan dasar bagi determinisme biologis yang masih hidup hingga sekarang.

Gagasan awal determinisme biologis berpusat pada pewarisan sifat yang tidak diinginkan. Kini pemikiran determinisme biologis tak hanya soal keturunan, tetapi juga mencakup segala keyakinan bahwa sifat, perilaku, dan peran manusia ditentukan sepenuhnya oleh biologi dan karenanya, dianggap tak bisa diubah. Keyakinan ini berdampak luas menjadi fondasi bagi ide-ide seperti eugenika, rasisme ilmiah, dan mitos peran gender.

Mitos Sesat Berkedok Biologi

Pandangan menyesatkan bahwa sifat dan perilaku manusia sepenuhnya ditentukan oleh gen mendapat kritik luas dari berbagai ilmuwan dan feminis sains sebagai metode berpikir yang tidak hanya salah kaprah secara ilmiah, tetapi juga berpotensi merugikan masyarakat.

Dalam buku The Century of the Gene, Evelyn Fox Keller seorang ahli biologi matematika morfologi mengkritik determinisme biologis. Ia berpendapat pandangan tersebut menyederhanakan peran kompleks gen dalam perkembangan organisme. Menurutnya ide bahwa gen adalah faktor tunggal penentu takdir biologis tidak hanya keliru secara ilmiah, tetapi juga membahayakan secara sosial. Lantaran sering digunakan untuk membenarkan diskriminasi, rasisme, atau ketidakadilan gender.

Sejak dirilisnya Human Genome Project (HGP) pada 1990, banyak orang berharap bahwa dengan memiliki urutan genom lengkap, kita bisa mengetahui segala sesuatu tentang manusia seperti penyakit, perilaku, bahkan kepribadian. Keller mengapresiasi pencapaian ini, tetapi ia menolak gagasan bahwa urutan genom bisa menunjukkan seluruh sifat dan perilaku manusia dan membentuk mahkluk hidup lewat rencana “blueprint”. Menurutnya, urutan genom itu sia-sia saja jika hanya bisa dibaca. Oleh karenanya harus ada analisis genomik fungsional untuk mengetahui interaksi antar gen.

Narasi konvensional biologi yang sering diajarkan adalah prosesnya dimulai ketika gen ditranskripsi menjadi RNA, lalu RNA diterjemahkan menjadi protein. Sebagian besar protein ini adalah enzim yang mengatur berbagai reaksi biokimia. Protein ini kemudian bekerja keras menyusun sel baru yang memungkinkan embrio menjadi bayi. Maka genom mengandung informasi yang dibutuhkan untuk membuat manusia.

Namun narasi ini menyederhanakan kenyataan biologis yang jauh lebih kompleks. Seperti yang dikatakan Keller bahwa gen tidak bekerja sendirian. Mereka dipengaruhi oleh jaringan dinamis dengan faktor lingkungan seluler, hormon, sinyal molekuler, dan pengalaman hidup. Tidak semua gen aktif setiap saat, dan ekspresinya dapat berubah tergantung konteks. Selain itu, banyak RNA yang tidak diterjemahkan menjadi protein, tetapi justru memiliki fungsi pengatur yang penting. Keller menunjukkan bahwa biologi itu dinamis, interaktif, dan tidak bisa direduksi hanya pada urutan genom.

Baca juga: Diskriminasi Perempuan di Olahraga, Kasus Hiperandrogenisme dan Determinisme Biologis

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat meyakini pandangan yang seolah berbasis biologis bahwa laki-laki lebih rasional dan perempuan lebih emosional. Begitu juga dengan anggapan bahwa perempuan secara alami lebih cocok mengasuh anak. Dengan berlindung di balik klaim “alami” atau “sudah dari sananya,” masyarakat melanggengkan ketimpangan sosial sambil menyebutnya sebagai kebenaran ilmiah.

Dalam bukunya Delusions of Gender, profesor sejarah dan filosofi sains Cordelia Fine mengkritik keras pandangan yang menganggap perbedaan psikologis antara laki-laki dan perempuan sebagai hasil dari determinisme biologis. Ia menolak klaim bahwa otak laki-laki dan perempuan terprogram secara bawaan untuk memiliki kemampuan atau sifat tertentu. Seperti keyakinan bahwa laki-laki lebih unggul dalam matematika atau logika, sementara perempuan lebih empatik dan intuitif.

Menurut Fine, perbedaan-perbedaan yang tampak pada anak laki-laki dan perempuan dalam hal minat, bakat, atau perilaku lebih banyak dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, dan harapan lingkungan daripada oleh perbedaan biologis yang bersifat bawaan.

Salah satu temuan yang diulas Fine adalah hasil dari berbagai studi psikologi sosial yang membuktikan bahwa stereotipe negatif terhadap perempuan dalam bidang matematika dapat memengaruhi kinerja akademik melalui mekanisme stereotype threat (ancaman stereotipe). Misalnya, ketika anak perempuan diingatkan bahwa perempuan kurang mampu dalam matematika, performa mereka cenderung menurun. Ini dikarenakan tekanan psikologis yang muncul akibat khawatir akan mengonfirmasi stereotipe tersebut.

Hal ini salah satunya karena pengagungan terhadap testosteron. Simon Baron-Cohen seorang psikolog populer mengatakan otak perempuan sebagian besar dirancang untuk empati. Otak laki-laki  sebagian besar dirancang untuk memahami dan membangun sistem. Ia mempertanyakan, “Mengapa, selama lebih dari 100 tahun penghargaan Medali Fields di bidang matematika, tidak ada satu pun pemenang perempuan?” Menurut Baron-Cohen ini dikarenakan kaitan matematika dan testosteron prenatal yang sangat kuat sehingga laki-laki lebih unggul dalam matematika.

Baca juga: ‘Cool Girl’, Kebebasan atau Jebakan? Ketika ‘Perempuan Keren’ Lahir dari Stereotipe Patriarki

Fine mengkritik kaitan testosteron dengan matematika ini. Jika memang testosteron berperan dalam matematika, mengapa pada tes anak perempuan yang mengalami kondisi Congenital Adrenal Hyperplasia atau memiliki testosteron tinggi, tidak membuktikan superioritas matematika.

Gagasan bahwa otak perempuan dirancang untuk empati bukan hanya disampaikan Baron-Cohen. Ada juga Louann Brizendine, penulis buku The Female Brain. Menurutnya sekitar minggu kedelapan kehamilan, janin laki-laki mengalami lonjakan besar testosteron. Lonjakan ini membuat otak janin yang mengatur komunikasi dan emosi menyusut, sementara bagian yang terkait dengan seks dan agresi tumbuh lebih besar.

Sebaliknya, janin perempuan tidak mengalami lonjakan hormon ini. Otaknya terus berkembang tanpa gangguan, membentuk lebih banyak koneksi di area yang berhubungan dengan komunikasi dan pengolahan emosi. Karena itu, Brizendine berpendapat bahwa bayi perempuan, sejak lahir, punya potensi lebih besar dalam kemampuan berkomunikasi, mengamati, dan merespons emosi dibandingkan bayi laki-laki.

Klaim ini seakan mengunggulkan perempuan dengan empati. Fine mengkritik ini sebagai “iklan baru stereotipe lama”. Seolah-olah perempuan memang dari sananya sudah ditakdirkan jadi makhluk emosional, suka mengobrol, dan terlalu sensitif. Narasinya memang terdengar lebih ilmiah dan seolah-olah memuji perempuan. Namun ujung-ujungnya sama saja dengan menyempitkan bahwa otak perempuan hanya dirancang untuk keterampilan yang dianggap “feminin”, seperti ngobrol atau mengurus anak. Bukan untuk keahlian “maskulin”, seperti sains atau kepemimpinan.

Kalau Anak Tidak Cerdas, Itu Salah Ibunya?

Selain klaim perempuan lebih unggul secara emosional sejak lahir, ada juga narasi populer lain seperti kecerdasan anak diturunkan dari ibu. Alasannya gen yang berperan dalam kecerdasan disebut terletak di kromosom X, dan perempuan memiliki dua kromosom X sedangkan laki-laki hanya satu. Kedengarannya membanggakan, akhirnya perempuan diakui sebagai sumber kejeniusan.

Namun jika ditelaah lebih dalam, klaim ini berisiko menciptakan stereotipe baru yang membebani perempuan sekaligus merugikan laki-laki. Seakan-akan tanggung jawab terhadap prestasi anak sepenuhnya berada di pundak perempuan. Di sisi lain, laki-laki terpinggirkan dari peran intelektual dan emosional dalam pengasuhan. Secara tidak langsung, ini bisa memperkuat tekanan sosial bahwa ibu harus cerdas dan berpendidikan tinggi agar anaknya bisa mewarisi kecerdasannya. Padahal, kecerdasan dipengaruhi banyak faktor, termasuk lingkungan, nutrisi, stimulasi, dan relasi sosial bukan hanya oleh gen dari satu orang tua.

Sejumlah studi menegaskan kecerdasan adalah sifat poligenik artinya dipengaruhi banyak gen, yang diwariskan dari kedua orang tua, bukan hanya ibu. Selain itu, faktor lingkungan (seperti stimulasi kognitif, pendidikan, dan nutrisi) juga sangat besar perannya.

Kita seharusnya tidak menerima begitu saja segala klaim yang berbau determinisme biologis termasuk yang terlihat memuji perempuan. Pasalnya sering kali klaim itu berakar pada interpretasi selektif terhadap data, bahkan terkadang lebih mencerminkan prasangka sosial ketimbang fakta ilmiah.

Sains seharusnya tidak memisahkan biologi dari konteks sosialnya. Faktanya, otak manusia sangat plastis, artinya ia bisa berubah seumur hidup berdasarkan stimulasi, pendidikan, dan pengalaman. Sejarah membuktikan bahwa banyak klaim biologis tentang perempuan dan laki-laki yang ternyata mitos belaka. Misalnya, dulu perempuan dianggap tidak pantas sekolah tinggi karena akan mengganggu rahimnya. Begitu juga laki-laki dianggap tidak bisa mengasuh anak karena tidak punya insting keibuan. Manusia bukan sekadar produk gen. Kita adalah makhluk kompleks yang dibentuk oleh interaksi dinamis antara biologi, lingkungan, dan pilihan-pilihan kita sendiri.

(Editor: Anita Dhewy)

Ika Ariyani

Kontributor Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!