Karakter perempuan dalam serial 'Wednesday' di Netflix

Dari Morticia Hingga Enid, Ragam Rupa Feminisme dalam Serial ‘Wednesday’

Serial 'Wednesday' yang tayang di Netflix punya beragam rupa feminisme yang muncul dari karakter Wednesday, Morticia, Grandmama, hingga Enid.

Dulu saya pernah menulis tentang representasi perempuan dalam wayang purwa. Saat itu saya mengulas tokoh-tokoh seperti Drupadi, Wara Sembadra, dan Srikandi. Meski sama-sama kuat, namun mereka menempuh jalan pemberdayaan yang berbeda.

Ada yang ‘memilih’ jalur feminisme keibuan. Yaitu jalur feminisme yang menegaskan kekuatan perempuan melalui peran sebagai istri, ibu, dan penjaga harmoni keluarga. Sementara itu ada pula jalur feminisme ksatria yang lebih dekat pada feminisme liberal. Mereka menuntut kebebasan individu, hak yang setara dengan laki-laki, dan ruang untuk berjuang di luar ranah domestik.

Baik Drupadi maupun Wara Sembadra memiliki karakteristik seorang perempuan lemah lembut, welas asih, setia pada suami hingga mengabdikan seluruh hidupnya untuk anak dan keluarga. Perempuan yang memang memilih jalan hidup berkeluarga dan totalitas dalam menjalaninya. Srikandi, di sisi lain, adalah sosok perempuan yang memilih mengabdikan diri ke medan tempur Bharatayuddha. Menurut saya, ia mencerminkan perempuan yang memilih jalan untuk berkarier daripada menjadi sosok family person, yang saat ini cukup menjadi social trend di kalangan Gen-Z

Baca Juga: Saatnya Berpaling Pada Kepemimpinan Feminis: Refleksi Atas Kegagalan Aksi Massa di Sejumlah Negara

Lalu kembali saya temukan pola kontras seperti ini di dalam serial Wednesday di Netflix. Serial tersebut kini hadir dengan musim terbarunya hingga September mendatang. Sejak 2022 silam saya memang cukup mengikuti alur serial besutan Tim Burton ini. Banyak sumber yang mengulas bahwa serial ini bukan sekadar kisah misteri berbalut horor-gotik semata, tapi juga drama karakter yang cerdas dan penuh lapisan. Kompleks, bisa dibilang demikian. Visualnya memanjakan mata, dialognya tajam, dan ceritanya mengaduk rasa penasaran. Penonton seolah diajak menjadi saksi bisu adanya investigasi pembunuhan misterius. Seru, mendebarkan namun ada rasa ketagihan akan “what’s next?

Saya tertarik mendalami sedikit mengenai personality beberapa karakternya apabila ditelisik melalui kacamata feminisme. Ternyata karakter-karakter perempuan di Wednesday membawa warna agar kita lebih memahami makna perjuangan perempuan yang beragam tanpa mendiskreditkan salah satunya.

Morticia dan Feminisme Keibuan: Kekuatan yang Mengalir dari Rumah

Morticia Addams, dalam dua musim Wednesday, adalah gambaran nyata feminisme keibuan (maternal feminism). Pandangan ini berangkat dari keyakinan bahwa peran tradisional perempuan sebagai ibu atau istri tidak menghalangi mereka untuk memiliki pengaruh besar. Bahkan, justru dari posisi itu mereka bisa menegakkan nilai, menjaga keseimbangan, dan memimpin dengan kasih. 

Feminisme keibuan di Indonesia dapat dipahami sebagai pandangan yang mengangkat nilai-nilai tradisional perempuan, contohlah seperti kasih sayang, kepedulian, dan pengasuhan, sebagai modal sosial untuk memperjuangkan perubahan. Dalam konteks ini, peran ibu tidak dilihat sebagai beban domestik, tetapi sebagai kekuatan moral yang dapat mendorong kebijakan publik yang berpihak pada kesejahteraan keluarga dan masyarakat. 

Dyah Wijaningsih, S.H., M.H., salah satu pakar Hukum dan Wanita Fakultas Hukum Universitas Diponegoro juga pernah membenarkannya. Tidak ada salahnya ketika seorang perempuan memilih untuk ‘memeluk’ sifat alami keibuannya. Artinya ketika perempuan memutuskan untuk bertindak sebagai ibu rumah tangga, melahirkan, hingga mencapai kesepakatan dengan suami untuk tidak bekerja demi anak, hal itu sah-sah saja. Bahkan tak masalah ketika ia berpendidikan tinggi namun memilih untuk menjadi ibu rumah tangga.

Morticia adalah contoh perempuan berpendidikan dan berwawasan luas. Kemudian dalam hidupnya ia memilih berkeluarga, membesarkan anak, dan menganggap keluarganya sebagai prioritas mutlak. Apakah hal itu dapat disalahkan? Tentu tidak. Ironisnya, masih banyak perempuan yang menganggap remeh hal ini. Sehingga bukannya mengapresiasi dan saling mendukung, justru sebaliknya; mereka saling menjatuhkan.

Baca Juga: Ketika Remaja Menonton ‘Bokep’, Bagaimana Sineas Menggambarkannya dalam Film Indonesia?

Di season 2, saya menyoroti salah satu adegan ketika ia beradu argumen dengan ibunya,  Grandmama. Ketika Grandmama terlihat memanjakan dan ‘membela’ Wednesday, cucunya, Morticia sebagai ibu Wednesday menegaskan bahwa ia tetap teguh dalam pendiriannya untuk melindungi Wednesday. Salah satu kalimatnya yang menurut saya sangat memancarkan karakter feminisme keibuannya adalah: “keluargaku bukan untuk dinegosiasikan”. Hal itu menunjukkan komitmen pada keutuhan rumah tangga hingga kegigihannya melindungi Wednesday dengan insting keibuan.

Morticia memang dikenal sebagai seorang family person. Ia bahkan belajar mengolah luka batin yang diberikan ibunya, agar kemudian tidak terulang pada anak-anaknya (walaupun memang pendekatannya dinilai tak selalu tepat bagi Wednesday). Namun demikian, pilihannya untuk berkeluarga dan menjadi ibu bahkan dianggap remeh oleh anak dan ibunya sendiri. Bagi mereka, Morticia merupakan sosok yang bergantung pada suaminya, Gomez Addams. 

Memang, Gomez Addams adalah manifestasi dari laki-laki dan suami yang meratukan istrinya. Hubungannya dengan Morticia sendiri sangat romantis. Tapi sebagai individu, Gomez memberikan ruang yang luas untuk Morticia agar ia dapat melebarkan sayapnya sendiri, bahkan berperan sebagai person in charge untuk keluarga kecilnya. Maka dari itu, dari sini dapat terlihat bahwa feminisme keibuan tidak menganggap ranah domestik sebagai bentuk pengekangan. Melainkan medan untuk memberdayakan, yang berawal dari dalam kemudian merangkak ke luar keluarga.

Wednesday dan Feminisme Liberal: Kebebasan di Atas Segalanya

Berbeda dari ibunya, Wednesday adalah sosok feminis liberal. Feminisme liberal berfokus pada kebebasan individu, kesetaraan hak, dan peluang yang sama bagi perempuan untuk mengembangkan diri, tanpa harus terikat pada norma atau peran tradisional. Sementara itu, feminisme liberal di Indonesia berfokus pada kesetaraan hak dan peluang antara laki-laki dan perempuan di semua bidang, termasuk pendidikan, pekerjaan, hingga politik.

Pendekatan ini dapat dikatakan memiliki suatu tuntutan akan adanya society yang setara secara cukup ‘radikal’ antara perempuan dan laki-laki. Apabila hal itu terealisasi, maka setiap individu dapat berkembang tanpa terhambat norma tradisional yang membatasi. Singkatnya, ketika feminisme keibuan merayakan peran khas perempuan sebagai kekuatan sosial, feminisme liberal hadir menekankan kesetaraan hak sebagai fondasi masyarakat yang adil.

Wednesday memilih jalan hidupnya sendiri, mengutamakan kemandirian, dan cenderung skeptis pada institusi keluarga sebagai pusat hidup. Ada satu kalimat di Season 1 yang menyita perhatian saya juga saat menontonnya:

“I’m not you, Mother. I will never fall in love, or be a housewife, or have a family.”

Baca Juga: Film ‘A Normal Woman’: Lagi-lagi, Antagonis Jahat dan Protagonis Baik Disematkan Pada Perempuan

Ungkapan ini jadi titik penting yang menunjukkan ketegasan identitas pribadi Wednesday: meski dia mencintai ibunya, dia ingin jelas menunjukkan bahwa dia memiliki jalan dan nilai-nilai yang berbeda. Ia lebih mementingkan kebebasan berpikir, kebebasan bertindak, dan misi pribadinya dibandingkan mengikuti ekspektasi keluarga atau masyarakat. Pendekatan ini sering diasosiasikan dengan perempuan yang memilih jalur karier, pendidikan, atau perjuangan sosial yang menempatkan mereka sejajar dengan laki-laki dalam ruang publik. 

Di sisi lain, Enid Sinclair, sahabat Wednesday, adalah contoh menarik dari pesan “don’t judge book by its cover.”Penampilannya yang penuh warna, ceria, dan ramah mungkin membuat orang mengira ia lemah atau pasif. Namun, Enid adalah seorang werewolf yang berani, rela bertarung demi keselamatan teman-temannya, dan tidak takut mengambil risiko. Karakter ini menegaskan bahwa keberanian dan kekuatan tidak harus ditampilkan dengan gaya suram atau pemberontakan frontal seperti Wednesday.

Enid membuktikan bahwa keberanian dapat dibalut kelembutan dan keceriaan, merupakan racikan pas antara feminisme keibuan dan feminisme liberal. Ia tidak enggan tampil layaknya perempuan yang lemah lembut dan penuh warna sebagaimana konstruksi sosial yang dibangun masyarakat terhadap perempuan selama ini, namun di sisi lain mampu menunjukkan adanya kekuatan dan kegigihan untuk berjuang, terutama untuk membela orang-orang yang ia sayangi. 

Grandmama dan Perdebatan Peran Perempuan Zaman Sekarang

Di Season 2, ada momen ketika Grandmama berkomentar bahwa perempuan harus memiliki portofolio dan tidak bergantung pada suami. Sekilas, ini terdengar seperti dukungan terhadap kemandirian finansial perempuan, yang benar, memanglah penting. Namun, jika dilihat lebih kritis, kalimat ini bisa terasa mencibir perempuan yang memilih fokus pada keluarga, seperti Morticia. Sungguh ironis, sebab ini banyak terjadi di kehidupan nyata.

Hal itu juga saya alami sendiri di keluarga besar saya. Ketika itu, ada sosok perempuan karier yang mencibir hingga menganggap remeh saudara perempuannya yang berpendidikan tinggi namun memang memilih untuk fokus kepada keluarga dan tidak bekerja. Seakan tidak menghargai pilihan sesama perempuan.

Adegan di film tersebut bagi saya merupakan titik penting untuk memahami bahwa feminisme bukan satu jalur tunggal. Memilih menjadi ibu rumah tangga yang sepenuh hati mengurus keluarga bukan berarti kurang progresif dibandingkan menjadi pebisnis sukses atau aktivis publik. Kedua pilihan itu sama-sama valid, asalkan lahir dari pilihan sadar, bukan paksaan. Kritik sepihak yang merendahkan jalur lain justru bertentangan dengan semangat feminisme itu sendiri, yang seharusnya menghargai keragaman pilihan hidup perempuan.

Banyak Jalan Menuju Pemberdayaan

Serial Wednesday memberi kita gambaran bahwa pemberdayaan perempuan bisa tampil dalam banyak bentuk. Morticia dengan feminisme keibuan, Wednesday dengan feminisme liberal, Enid yang membuktikan kekuatan di balik warna-warni, dan Grandmama dengan dorongan kemandiriannya.

Setiap pendekatan memiliki kekuatan dan relevansinya sendiri. Tidak ada yang lebih baik atau lebih rendah, yang terpenting adalah kebebasan memilih jalannya sendiri. Dengan atmosfer gotik khas Tim Burton, humor yang gelap namun cerdas, dan alur penuh kejutan, Wednesday bukan hanya tontonan, tapi juga cermin refleksi sosial.

Memang serial ini belum tuntas. Banyak yang akan terjadi di episode berikutnya. Saya pun juga tidak akan membahas hal yang belum saya ketahui lebih lanjut diluar parameter bahasan di atas. Maka dari itu, mari bersama kita nanti dan saksikan Wednesday di Netflix hingga September mendatang. Bantu saya temukan, feminisme seperti apa yang paling dekat dengan hati kalian.

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

Stella Hita Arawinda

Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro, Semarang
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!