Saatnya Berpaling Pada Kepemimpinan Feminis: Refleksi Atas Kegagalan Aksi Massa di Sejumlah Negara

Vincent Bevins lewat If We Burn: The Mass Protest Decade and the Missing Revolution mengajak pembaca mencari tahu kegagalan gerakan massa yang sempat menguncang kekuasaan di sejumlah negara. Refleksi atas buku tersebut membuka kemungkinan pada urgensi kepemimpinan feminis.

Buku If We Burn: The Mass Protest Decade and the Missing Revolution (2023) karya Vincent Bevins adalah sebuah alarm keras bagi gerakan sipil. Lewat laporan jurnalistik yang padat dan refleksi tajam, Bevins mengajak kita menelusuri satu dekade penuh ledakan protes dari Brasil, Mesir, Hong Kong, hingga Chile, yang tampaknya mengguncang tatanan, tetapi pada akhirnya gagal menghasilkan perubahan jangka panjang.

Bayangkan jutaan orang turun ke jalan, penuh semangat melawan ketidakadilan, mengguncang pusat-pusat kekuasaan. Namun beberapa bulan atau tahun kemudian, justru muncul paradoks. Keadaan memburuk, pemimpin otoriter berkuasa, ruang gerak sipil menyempit, dan impian akan dunia yang lebih adil terasa makin jauh. Inilah potret getir yang ditawarkan Bevins, bahwa kemarahan kolektif tidak otomatis melahirkan revolusi.

Melalui riset mendalam dan wawancara dengan para pelaku kunci, Bevins membongkar kenyataan pahit, banyak gerakan massa justru dibajak, diredam, atau menguap tanpa arah. Salah satu kisah paling mencolok datang dari Brasil pada 2013. Apa yang awalnya merupakan protes progresif atas biaya transportasi publik berkembang liar, kehilangan arah, dan secara tak sadar membuka jalan bagi Jair Bolsonaro, figur otoriter sayap kanan, untuk merebut kekuasaan. Fenomena serupa terjadi di Mesir. Revolusi 2011 memang berhasil menumbangkan Hosni Mubarak, tetapi digantikan oleh rezim militer di bawah Abdel Fattah el-Sisi.

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/If_We_Burn

Bevins menyoroti satu akar persoalan penting, horizontalisme. Banyak gerakan sosial kontemporer menolak struktur formal, kepemimpinan, dan organisasi. Model “tanpa pemimpin” dianggap lebih demokratis dan cair. Namun dalam praktiknya, pendekatan ini justru membuat gerakan rentan disusupi dan kehilangan arah. Tanpa strategi, siapapun bisa mengklaim berbicara atas nama gerakan. Tanpa struktur, tidak ada yang dapat mengelola momentum menjadi kekuatan politik yang bertahan.

Imajinasi Politik dan Struktur Hybrid

Membaca Bevins mengingatkan saya pada diskusi panjang bersama beberapa kawan, terutama saat perdebatan soal “gerakan rimpang” mencuat. Di tengah ketidakpuasan terhadap organisasi yang kaku dan sentralistik, serta kelelahan terhadap gerakan yang menolak segala bentuk struktur, kami mulai bertanya, “Mungkinkah dibangun bentuk baru yang menggabungkan kekuatan struktur dan kelenturan horizontalisme?”

Baca juga: Gerakan “Rimpang”: Bagaimana Kaum Muda Jatuh Bangun Bergerak Melawan Rezim

Kami membayangkan bentuk struktur hybrid, organisasi yang tidak takut memegang kekuasaan, tetapi tidak mengulang logika patriarkal yang menindas. Sebuah bentuk yang tidak hanya bereaksi terhadap momentum, tetapi juga mampu menjaga arah, nilai, dan kesinambungan dalam jangka panjang.

Awalnya, gagasan ini terdengar utopis, atau mungkin saya terlalu naif. Namun setelah membaca If We Burn, saya sadar, justru imajinasi semacam inilah yang paling kita butuhkan hari ini. Bahkan, tanpa disadari, praktik-praktik kecil menuju struktur hybrid mulai tumbuh dalam kerja-kerja kolektif kami.

Apa yang Bisa Kita Refleksikan?

If We Burn membuat pembacanya frustasi. Namun ini frustrasi yang produktif. Melalui cerita-cerita kegagalan, kita dipaksa merenung, mengapa kita kerap jatuh ke lubang yang sama? Mengapa kita begitu takut pada gagasan kekuasaan, seolah kekuasaan selalu identik dengan kejahatan dan korupsi? Padahal, justru karena kita menolak memegang kekuasaan, ruang itu diambil oleh mereka yang lebih siap dan tak segan menyalahgunakannya.

Bevins memang tidak menawarkan resep. Namun satu hal menjadi jelas, perubahan tidak akan lahir hanya dari kemarahan atau viralitas. Kita butuh struktur. Kita butuh strategi. Ya, kita mungkin butuh kepemimpinan.

Tentu bukan kepemimpinan tunggal dan absolut. Di sinilah pendekatan feminisme menawarkan jalan keluar. Gerakan feminis telah lama mempraktikkan bentuk-bentuk berbagi kekuasaan, kepemimpinan kolektif, pembagian tanggung jawab, dan prinsip saling merawat. Ini bukan hanya lebih adil, tetapi juga lebih efektif dalam menjaga gerakan tetap hidup dan terorganisasi.

Feminisme mengajarkan bahwa kekuasaan bisa diolah menjadi kekuatan bersama. Kepemimpinan bukan soal siapa yang paling vokal atau paling sering turun ke jalan, tetapi siapa yang mampu menciptakan ruang yang aman, adil, dan terstruktur. Ini adalah praktik shared power, yang menghindari dominasi dan membuka ruang partisipasi luas.

Menyalakan Api, Menjaga Nyala

Namun refleksi ini juga menuntut kita untuk jujur melihat ke dalam. Meskipun gerakan feminis banyak menawarkan alternatif kepemimpinan yang kolektif dan etis, tidak sedikit organisasi feminis hari ini yang mulai kehilangan arah. Di bawah tekanan donor, logika proyek, dan ekspansi institusional, sebagian justru mereproduksi pola maskulinitas, hierarki kaku, sentralisasi kuasa, dan lemahnya akuntabilitas terhadap basis.

Baca juga: Manifesto Politik Perempuan Kritik Rezim Prabowo-Gibran Di Hari Pergerakan Perempuan

Feminisme yang awalnya dibangun untuk membongkar cara kerja patriarkal bisa terjebak dalam logika manajerial. Kita perlu waspada terhadap kecenderungan ini. Sebab perjuangan kita bukan hanya soal keterwakilan perempuan di posisi strategis, tetapi tentang mengubah cara berkuasa dan cara berorganisasi. Kepemimpinan feminis tidak boleh hanya jadi label, tapi harus hidup dalam praktik nyata, dari cara membuat keputusan hingga menyelesaikan konflik.

If We Burn tidak menyuruh kita berhenti turun ke jalan. Akan tetapi buku ini mengingatkan, tanpa strategi dan struktur yang jelas, kita hanya akan menjadi bahan bakar bagi kebangkitan lawan. Sebagai perempuan muda yang tumbuh bersama semangat aksi dan protes, saya merasa buku ini menyentil sekaligus menguatkan. Ini bukan ajakan untuk menjadi sinis, tapi untuk menjadi lebih cerdas.

Kita bisa tetap marah, tetap progresif, tetapi juga tetap terorganisasi dan siap. Kita bisa berbagi kekuasaan tanpa kehilangan arah. Lebih jauh kita bisa membangun gerakan yang kuat dan tetap saling merawat.

Revolusi yang bertahan tidak hanya butuh nyala api, tapi juga wadah yang menjaga api itu tetap menyala. Bevins memang tidak memberi solusi struktural pasti. Namun justru disitulah tantangannya, bagaimana kita bisa merancang bentuk-bentuk baru dari yang telah gagal?

Mungkin, dengan semangat kepemimpinan feminis yang berbagi kuasa dan bertumpu pada solidaritas, kita bisa mulai membangun wadah itu, pelan-pelan, dari bawah, dan bersama.

(Editor: Anita Dhewy)

Eva Nurcahyani

Bidan muda yang aktif menginisiasi Lingkar Studi Feminis, ruang kolektif yang mendorong pendidikan kritis dan advokasi berbasis feminisme. Ia terlibat dalam kerja-kerja pengorganisasian akar rumput, khususnya terkait isu keadilan reproduktif, kekerasan berbasis gender, pemberdayaan perempuan muda dan gerakan antikorupsi.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!