Pernah gak sih kamu menjumpai ada pernyataan seperti ini;
“Hidupmu selamat, jika kamu punya saudara perempuan yang masih single. Anakmu aman!”
Ini banyak banget beredar di media sosial, yang menunjukkan anggapan bahwa saudara perempuan single itu adalah “aset” untuk bisa mengasuh anak. Dengan kata lain, perempuan single ini jadi tumpuan untuk melakukan kerja perawatan anak pasangan orang tua, yang adalah saudaranya.
Tak hanya merawat anak saudaranya, perempuan single dalam keluarga juga seringnya yang dijadikan tumpuan untuk standby merawat orang tua. Ini juga lah yang terjadi di sekitarku.
Paman saya pernah suatu hari mengatakan “Kalau tidak ada kakakmu itu, aku sudah mati konyol di rumah ini.”
Ucapan itu, paman saya katakan, ketika membicarakan anak perempuannya yang sudah menginjak usia jelita aka jelang lima puluh tahun.
Baca Juga: ‘Rasanya Lelah Akut’: Beban Single Mom yang Miliki Anak Autis
Bagaimana kakak sepupu bisa menyelamatkan paman saya?
Ternyata, ada anggapan bahwa kakak sepupu saya yang adalah perempuan single itu selalu bisa menemani dan mengurus ayahnya. Hanya karena dia belum menikah dan punya anak. Sedangkan, saudaranya yang lain sudah menikah dan mengurus keluarganya masing-masing.
Pertanyaan yang sering muncul di diri saya: Apakah menjadi single menjadi tanda kalau seorang perempuan haruslah menjadi tulang punggung kerja perawatan di keluarganya? Banyak lainnya juga sambil melakoni pekerjaan domestik, untuk anggota keluarga yang laki-laki atau lebih tua.
Apakah kami sebagai perempuan single, yang tidak memiliki pasangan dan anak, jadi kami tidak memiliki urusan yang harus diselesaikan? Tidak bisa punya ruang menjalani hari dan aktualisasi diri? Bahkan, tidakkah ada mimpi versi kami untuk seorang perempuan single?
Sebab “mimpi” di tengah masyarakat patriarki, adalah menikah dan memiliki anak. Dan, ada anggapan untuk kami yang tidak punya “mimpi” itu, kami perempuan single dalam keluarga harusnya menjadi support system buat anggota keluarga yang lain.
Kakak sepupu saya pernah membatalkan perjalanan ke Thailand karena adik laki-lakinya kecelakaan, dan hanya dia yang bisa mengurus adiknya. Ibunya sudah lama meninggal, ayahnya sudah tua dan sakit-sakitan, sementara saudara-saudara yang lain sibuk dengan rumah tangga dan urusannya sendiri.
Saya pernah mengalami masa-masa dimana tidak punya pilihan selain merawat ibu yang sakit stroke karena kakak dan abang sedang melanjutkan hidupnya. Satu pengalaman yang tidak bisa saya lupakan, ketika menghabiskan Natal dan malam tahun baru berdua bersama ibu yang terbaring di ranjang dan tidak bisa melakukan apa-apa. Rasanya sepi sekali.
Baca Juga: Usiaku 40 Tahun dan Single Mother, Aku Ditolak Kerja karena Terlalu Tua
Saya ingat, saya mengirimkan pesan ke kakak perempuan saya yang ketika itu memilih menghabiskan liburan akhir tahun di tempat lain. Terlepas dari setiap orang punya isunya masing-masing, tiap orang juga punya pilihan–untuk tinggal atau meninggalkan. “Begitulah hidup,” balasan pesan kakak ketika saya mengirimkan teks sepi.
Sebenarnya tidak semua single menjadi “tumbal”, ini soal kesediaan juga dan mau atau tidak menuruti tuntutan masyakat. Dan soal menuruti dan kesediaan ini tergantung perspektif dan pencerahan masing-masing.
Saya pernah berada di posisi menjadi “tumbal” karena saya perempuan single–anak terakhir pula–yang sudah pasti diharapkan untuk mengurus persoalan keluarga. Mulai dari menjaga orangtua sampai backup segalanya. Mungkin karena single itu, ada pemikiran kalau perempuan single tidak punya cita-cita atau impian yang perlu diwujudkan. Perempuan single tidak punya suami dan anak untuk diurus, jadi ya dia bisa diperbantukan untuk mengurus jika ada kebutuhan mendadak.
“Memang adek mau kemana rupanya?” abang saya pernah menanyakan demikian ketika dalam sebuah percakapan random, saya berkomentar kalau saya tidak bisa lagi bepergian karena ngemong ponakan yang baru saja lahir, sebab semenjak kena PHK saya tinggal dengan kakak saya di Batam.
Ternyata abang saya punya pemikiran, sebagai perempuan single yang tidak bekerja, saya tidak punya keperluan apa-apa di dunia ini selain bernapas dan mengabdi pada pekerjaan domestik.
Seorang teman pernah menjadikan menikah sebagai alasan untuk lari dari “tanggung jawab” mengurus tetek-bengek keluarga. Ayahnya menikah lagi setelah ibunya meninggal sedang saudara laki-lakinya tidak peduli, “Aku mau membentuk keluargaku sendiri dan menjadi lebih baik,” begitu kurang lebih penjelasannya.
Stereotip Gender terhadap Kerja Perawatan di Keluarga
Stereotip gender bahwa perempuan adalah berjiwa “keibuan” yang merawat, telaten, sabar dll, seringnya dijadikan dalih untuk membatasi ruang gerak perempuan. Perempuan dikungkung dalam ruang-ruang domestik dan kerja perawatan, yang tiada habisnya.
Jika perempuan single dibebankan oleh kerja perawatan di ranah keluarga besar. Baik itu orang tua ataupun saudara-saudaranya yang sudah menikah. Perempuan yang tidak single karena menikah pun, tak lepas dari tumpuan kerja perawatan suami-anak. Bahkan tak jarang juga, dia yang harus merawat ibu-bapak mertuanya.
Padahal semestinya, kita sudah harus membongkar stereotip gender itu. Supaya kerja-kerja domestik dan perawatan bisa lebih adil terdistribusikan. Setelah akhirnya, masing-masing anggota keluarga sadar bahwa itu adalah tanggung jawab bersama.
Namun realitanya, hal itu masih seringnya berkebalikan. Sebagai perempuan single, saya seringkali selalu saja diposisikan sebagai yang harus “mengorbankan diri” menjadi terdepan untuk melakukan kerja perawatan dalam keluarga itu. Tanpa saya bisa memberi alasan apapun.
Padahal, saudara saya yang sudah menikah, bisa saja memberi alasan untuk menolak. Mereka bahkan bisa menggunakan validasi, untuk tidak perlu berkontribusi terhadap hidup anggota keluarga lainnya.
Baca Juga: Single dan Happy: Kami Bukan Perempuan Kesepian
Hal itu dengan pemahaman, sebagai single, perempuan tidak punya kebutuhan yang signifikan, sehingga lebih bisa membantu keluarga yang memerlukan. Bahkan tak jarang diharapkan untuk menekan kebutuhannya yang dianggap tidak ada tersebut dan mengalihkannya ke anggota keluarga yang punya kebutuhan yang dianggap “lebih penting”.
Padahal seperti manusia pada umumnya yang memiliki hasrat, perempuan single punya keinginannya sendiri. Dan mengapa itu tidak menjadi penting bila dibandingkan dengan mereka yang berpasangan, hanya karena dia solo?
Kesendirian juga dianggap sebagai hidup tanpa masalah. Apalagi kalau engkau di-PHK. Sepertinya kalau perempuan single kena PHK, itu bukan suatu isu yang perlu dibesar-besarkan. Karena perempuan single hidup sendiri, tidak membiayai siapapun. Apalagi kalau perempuan single-nya sudah yatim-piatu, paslah sudah!
Posisi sebagai peremuan single yang dianggap tidak punya masalah, jadinya harus siap menjadi “tong sampah” dan pendengar yang baik untuk semua keluh-kesah orang terdekatnya. Seakan-akan dia tidak punya beban yang perlu dipikirkan sehingga harus siap sedia menampung keluhan orang lain dan memberikan validasi untuk setiap kesah mereka.
Tidak pernah ditanya are you okay, disuruh ini-itu, ina-inu, kalau perlu melompat ke retakan bumi seperti Sita dalam Ramayana. Saya jadi berpikir, masuk akal juga yang disampaikan teman saya menikah untuk lari dari tetek-bengek mengurusi hidup orang lain/anggota keluarga lainnya. Karena alih-alih membantu atau menjadi pendengar, dia bisa berdalih “Aku punya suami atau anak untuk aku urus…” sehingga dia tidak perlu bertanggung jawab untuk mengurusi urusan keluarga terdahulu.
Di sisi lain perempuan single yang sibuk menjadi pendengar tidak punya tempat untuk bercerita dan didengarkan. Kalaupun dia bercerita, ketika komentar yang mendengarkan tidak nyambung, si single tidak bisa komplain. Karena orang yang mendengarkan ceritanya tersebut sudah berkeluarga dan punya isu yang lebih penting.
Baca Juga: Dear Jomblo Sejati, Jangan Habiskan Malam Minggumu dengan Mengenang Mantan yang Bikin Galau
“Kehilangan konsentrasi” adalah hal yang wajar untuk orang yang sudah berkeluarga, punya pekerjaan tetap. Sedangkan kaum single seakan wajib mendengarkan dan memberikan respons sesuai ekspektasi.
Sebagai bagian dari barisan perempuan single saya suka ngenes melihat ketimpangan perspektif yang diberikan hanya karena kami tidak membentuk koloni baru.
Begitulah… bukan bagian dari koloni tapi diharapkan menjadi penyokong koloni yang sudah ada. Pun ketika sudah menjadi support system, para single tidak tercatat di dalam riwayat historikal, karena dia bukan penyumbang langsung DNA.
Puncaknya, mereka yang berkeluarga tak jarang justru merepotkan anggota keluarga yang belum atau tidak menikah. Dan saya melihat itu sebagai siklus mengerikan yang membuat para single sebagai tumbal, korban vampir penghisap darah para loner but not lonely tersebut.
Begitulah sendiri salah, berdua juga salah. Niat hidup sendiri supaya tidak direpotkan, malah kerepotan dengan urusan orang lain. Bagiku, memang paling tepat itu menjadi acuh. Itu ekstremnya, setelah batasan yang kita tetapkan terus-terusan dilanggar.





