Alasan Remaja Perempuan Hadapi Risiko Mental Saat Bepergian Sendiri

Riset menunjukkan remaja perempuan menghadapi persoalan sistemik berbasis gender ketika bepergian sendiri di ruang publik.

Bagi remaja usia 12-15 tahun, kemampuan untuk menjelajahi lingkungan di luar rumah secara mandiri adalah salah satu indikator kunci perkembangan psikologis yang sehat. Secara teori, mobilitas mandiri (independent mobility) menumbuhkan rasa percaya diri dan otonomi, yang semestinya membuat mereka merasa lebih bahagia dan puas terhadap hidupnya.

Namun, riset yang kami lakukan di Jakarta terhadap 193 remaja (108 perempuan dan 85 laki-laki) justru menunjukkan bahwa kebebasan menjelajah ruang-ruang kota harus dibayar mahal oleh remaja perempuan.

Kami menyebutnya sebagai “ongkos kebebasan” (cost of freedom), yang dibayar dengan beban psikologis, seperti kecemasan dan ketakutan.

Perempuan merasa tidak aman bepergian sendiri

Analisis kami menunjukkan bahwa dari segi kesejahteraan psikologis dan persepsi rasa aman terhadap lingkungannya, remaja laki-laki secara statistik memulai dari titik yang lebih positif.

Remaja laki-laki melaporkan tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi (73,3%) dibandingkan remaja perempuan (68,1%). Mereka juga menilai lingkungan mereka jauh lebih aman (67%) daripada penilaian remaja perempuan (60,3%).

Perbedaan penilaian terhadap keamanan lingkungan ini kemudian berdampak langsung terhadap cara perempuan memanfaatkan dan berinteraksi dengan ruang sekitarnya (perilaku spasial). Remaja laki-laki memiliki mobilitas mandiri yang jauh lebih tinggi (62,8%) dibandingkan remaja perempuan (47,3%).

Faktor penentu dari semua perbedaan tersebut adalah persepsi keamanan.

Definisi ‘bahaya; dan ‘aman’ yang berbeda

Studi kualitatif kami terhadap lima remaja laki-laki dan lima remaja perempuan mengungkap perbedaan fokus “bahaya” saat remaja bepergian sendiri. Remaja laki-laki cenderung fokus pada risiko kejahatan umum (seperti perampokan) dan bahaya lalu lintas (contohnya kendaraan mengebut).

Meski remaja perempuan juga mengkhawatirkan kedua hal tersebut, mereka memiliki kekhawatiran tambahan yang spesifik dan berbasis gender. Risiko tambahan yang mereka hadapi mencakup pelecehan yang sering terjadi di ruang publik (seperti catcalling dan ditatap secara intens oleh lawan jenis), bahkan ancaman kekerasan seksual.

Baca Juga: Marak Pelecehan Seksual di Fasilitas Umum: Kebijakan Pemerintah Mesti Serius Lindungi Perempuan

Rasa takut ini adalah respons yang rasional. Secara historis, ruang publik sering dirancang dengan mengabaikan pengalaman dan risiko yang dihadapi oleh perempuan. Ini menciptakan apa yang dikenal sebagai “geografi ketakutan perempuan” (geography of women’s fear).

Akibatnya, perempuan mengembangkan “peta mental” mereka sendiri, yakni dengan secara aktif menghindari area atau waktu tertentu yang dianggap “berbahaya”. Hal ini dapat membatasi mobilitas dan kebebasan perempuan.

Temuan kami ini sekaligus membuktikan secara statistik terkait teori Feminist Geography, bahwa ruang kota tidaklah netral. Berdasarkan teori ini, rasa takut yang dirasakan perempuan terhadap kejahatan di ruang publik (khususnya kekerasan dan pelecehan seksual oleh laki-laki) adalah respons yang rasional.

Makin bebas, makin tidak aman

Temuan kami lainnya adalah bahwa rasa tidak aman tersebut membuat remaja perempuan tidak lebih bahagia daripada remaja laki-laki.

Bagi remaja perempuan, semakin besar kebebasan yang mereka miliki untuk bepergian mandiri menjelajahi ruang-ruang kota, maka semakin menurun pula kesejahteraan psikologis mereka secara signifikan.

Sederhananya, setiap tambahan kebebasan bermobilitas justru menjadi sumber stres yang dapat menurunkan kesejahteraan perempuan.

Contohnya, ketakutan yang dialami seorang remaja perempuan yang baru diizinkan orang tuanya pulang kursus sendirian naik angkot.

Baca Juga: Minimnya Transportasi Publik Perkotaan, Perspektif Gender Cuma Jadi Impian

Bagi remaja laki-laki, perjalanan tersebut mungkin hanya soal macet atau menahan bosan dalam kemacetan. Namun, bagi remaja perempuan, perjalanan yang sama, terutama saat malam hari, dapat berubah menjadi rangkaian “kalkulasi risiko” yang konstan: Apakah angkot yang datang terlalu sepi? Di mana posisi duduk yang paling aman?

Setiap angkot berhenti di tempat sepi atau tatapan dari penumpang lain merupakan sumber stres yang harus selalu diantisipasi remaja perempuan.

Kebebasan baru berupa bepergian sendiri ini justru menjadi sebuah beban kewaspadaan yang melelahkan secara mental, yang pada akhirnya menggerus kesejahteraan psikologis mereka.

Bagi remaja perempuan, merasa aman di suatu lingkungan memberikan dampak positif yang kuat dan signifikan terhadap kesejahteraan mereka. Ini menjelaskan mengapa bepergian mandiri gagal membuat mereka merasa bahagia.

Dalam bermobilitas, mereka harus terus-menerus memperhatikan sekeliling, memilih rute perjalanan yang dianggap paling aman (meski sering kali bukan yang tercepat ataupun terjangkau dari segi biaya), atau mengatur cara berpakaian untuk menghindari pelecehan seksual.

Ketakutan geografis perempuan

Data kami menunjukkan bagaimana geographies of women’s fear ini dirasakan dalam kehidupan sehari-hari remaja perempuan di Jakarta. Ini tak menutup kemungkinan di kota dan daerah lainnya di Indonesia.

Padahal, rasa aman adalah syarat mutlak agar bepergian sendirian bisa menjadi pengalaman yang positif bagi perempuan. Pada akhirnya, kebebasan itu sendiri justru berubah menjadi kewaspadaan yang menurunkan kesejahteraan mereka.

Persoalan ini pun secara langsung berkaitan dengan konsep Hak atas Kota (The Right to the City). Hak ini tidak hanya sekadar akses terhadap fasilitas. Seperti transportasi publik atau taman kota, tetapi juga mengenai pengalaman individu saat berinteraksi dengan ruang kotanya.

Hak atas kota juga meliputi hak untuk merasa aman, tenang, dan setara saat berada di ruang-ruang tersebut, terlepas dari identitas gender atau karakteristik demografis lainnya.

Hasil studi kami menunjukkan bahwa “hak atas kota” bagi remaja perempuan di Jakarta belum seutuhnya terpenuhi.

Bukan hanya soal infrastruktur

Temuan-temuan dalam studi ini diharapkan dapat membuka mata para perencana kota. Yaitu, bahwa membangun lebih banyak infrastruktur yang mendukung mobilitas (seperti trotoar atau transportasi publik) saja tidak otomatis membuat semua warga, khususnya kelompok rentan, lebih sejahtera.

Kota yang inklusif harus menjamin keamanan sosial dan psikologis.

Salah satu solusinya adalah melakukan integrasi keamanan sosial ke dalam desain fisik kota melalui penerapan eyes on the street. Ini dilakukan dengan menekankan peran aktif warga yang saling menjaga dan menciptakan ruang publik yang aman bagi semua.

Kemandirian bermobilitas bagi remaja perempuan bukan sekadar bisa bebas bepergian. Tetapi bisa pergi ke mana saja dengan rasa aman, meski sendirian.

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Fitri Arlinkasari

Senior lecturer in Pscyhology, Universitas Yarsi
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!