Merayakan perceraian untuk menjadi ‘aku yang baru’ seringkali butuh proses. Tiap perempuan bisa jadi beda-beda pengalamannya.
Dari pengalamanku, fase setelah perceraian, menghadirkan beban mental yang menumpuk. Sulit sekali menghindar dari perasaan dan pikiran negatif. Juga untuk tidak overthinking atas hal-hal yang kita lalui.
Bila beban yang menumpuk itu dibiarkan, dapat menurunkan kesehatan mental yang berdampak pada kesehatan fisik kita. Padahal paska perceraian, kita membutuhkan mental dan fisik yang sehat untuk memulai hidup baru. Salah satunya terkait finansial.
Pada sebagian perempuan, perceraian mengakibatkan berkurangnya pendapatan untuk keluarga hingga 75%. Terutama bagi pasangan yang saat menikah sama-sama bekerja untuk menghidupi keluarga. Akibatnya perceraian membuat perempuan butuh bekerja lebih keras untuk menaikan pendapatan.
Belum lagi, persoalan mengurus rumah dan pengasuhan anak yang sebelumnya dilakukan bersama pasangan. Setelah bercerai, biasanya tanggung jawab itu lebih banyak dibebankan kepada perempuan.
Baca Juga: Setelah Berpisah Dengan Pasangan, Perlunya Decluttering Agar Tak Menimbulkan Ingatan Buruk
Lalu apa yang perlu kita lakukan untuk merawat kesehatan mental? Salah satunya decluttering mental, yaitu menyingkirkan perasaan-pikiran yang sudah tidak relevan dengan kita yang baru. Seperti pikiran:
“Mengapa ia meninggalkanku?”
“Bagaimana kehidupan mantan sekarang?”
Juga memahami-menerima-menegaskan perilaku atau interaksi dengan mantan yang maknanya sudah berubah. Bila sebelumnya ia hadir dalam hidup kita sebagai kekasih-suami-bapak dari anak-anak. Sekarang makna dari interaksi-relasi sudah berubah menjadi teman dan bapak dari anak-anak.
Bila perubahan makna dari interaksi yang mengandung perkekasihan masih dihidup-hidupkan, baik oleh kita maupun mantan, hal itu mempersulit kita untuk move on. Pikiran kita jadi ditumpuki ‘sampah’ “he loves me not”. Padahal sudah jelas, bila masih mampu mencari jalan untuk saling mengerti, perceraian tidak akan jadi pilihan.
Kita juga perlu menyingkirkan perasaan rendah diri akibat serangan harga diri. Serangan harga diri bisa datang dari mantan, lingkungan terdekat, atau diri kita sendiri. Misalnya, mantan pernah mengatakan ingin berpisah karena kita tidak dapat melahirkan anak atau hal lain dengan tujuan untuk menunjukan kekurangan kita. Lalu keluarga atau teman-teman mencari-cari kesalahan kita sebagai penyebab terjadinya perceraian.
Baca Juga: Hidupku Mendadak Berhenti, Aku Bertemu Calon Istri Suamiku
Belum lagi, bila mantan atau lingkungan terdekat menggunakan interpretasi agama yang patriarki untuk menyerang harga diri kita. Situasi itu dapat mengguncang harga diri sekaligus religius kita. Apakah agama hadir untuk turut mempersulit hidup perempuan? Seharusnya tidak. Karena itu, guncangan-guncangan itu sebenarnya tidak perlu kita pedulikan. Anggap saja mereka para penganut agama yang belum kaffah (utuh) memahami Yang Maha Cinta.
Guncangan bisa juga datang dari pikiran kita sendiri. Karena kita disituasikan dalam tekanan sedemikian rupa, muncul pikiran menyalahkan diri sendiri. Seperti “Ya, aku yang salah. Aku layak untuk tidak dicintai.”
Hindari menggali lubang untuk mengubur harga diri sendiri. Sebab dalam situasi ini, yang utama dapat menolong kesehatan mental kita adalah kita sendiri. Kehendak kita untuk menghormati, mencintai dan menyayangi diri kita sendiri.
Kemudian bagaimana menyingkirkan perasaan dan pikiran negatif itu? Setiap orang dapat menemukan ragam caranya sendiri. Berikut beberapa hal yang dapat kita coba.
Pertama, tumbuhkan keyakinan diri yang positif
Ada dua keyakinan yang perlu kita tumbuhkan. Pertama, setiap ciptaan itu berharga dan bermartabat, termasuk diri kita.
Bila dalam proses perceraian, kita menghadapi serangan terhadap harga diri. Maknai serangan itu sebagai bentuk kekecewaan atau ketidakmengertian mantan dan pihak lain terhadap kita, bukan sepenuhnya diri kita apalagi sejatinya diri kita. Hindari membiarkan orang lain memframing diri kita.
Lokalisir serangan itu sebagai cara mereka berpikir-bersikap, bukan realitas kita atau kita yang seharusnya. Hindari membenarkan apalagi meyakini hal-hal negatif yang mantan atau pihak lain lekatkan kepada kita.
Kehadiran diri kita, kehidupan kita, tidak membutuhkan afirmasi atau pembenaran dari mantan dan pihak lain. Kita menjalani hidup, memperjuangkan hidup kita di atas keyakinan dan usaha kita.
Kedua, alihkan kosentrasi perasaan-pikiran dari masa lalu ke masa kini
Beban mental bisa bertumpuk bila kita terus merujuk pada masa lalu. Mulailah pelan-pelan untuk menyingkirkan pikiran-pikiran yang membuatmu terus meratapi masa lalu.
“Dulu mantan tidak begitu”
“Dia dulu menerimaku apa adanya”
“Dulu hidupku tercukupi”
“Dulu hidupku bahagia”
“Andai saja aku tidak membiarkan hal itu terjadi, mungkin perceraian dapat dihindari”
Terimalah kenyataan bahwa itu semua sudah menjadi masa lalu. Alihkan energi, perasaan dan pikiran untuk masa kini. Bila kita membiarkan masa lalu memenuhi perasaan dan pikiran, kita akan kelelahan. Akibatnya kita tidak cukup energi untuk move on dan memulai hidup baru.
Baca Juga: Suamiku Mau Poligami, Ini Kisahku Berlatih Jadi Janda
Curahkan segenap jiwa raga untuk hidup kita saat ini. Seperti bagaimana cara menambah penghasilan. Menambah pengetahuan dan keterampilan menjalani solo life atau menjadi orang tua tunggal (bagi yang punya anak). Dan terus mencari pengetahuan, keahlian untuk menyelami kondisi mental diri. Lalu mencari cara untuk pulih, sehingga dapat meningkatkan kesehatan mental.
Bila membutuhkan dukungan konselor, psikolog atau support group, lakukanlah. Juga dukungan dari sahabat dan keluarga di masa transisi ini. Jangan sungkan meminta pertolongan pada yang kita percaya dan ahli di bidangnya.
Sebagian perempuan bahkan perlu belajar keahlian hidup yang sebelumnya dilakukan pasangannya, seperti mengendarai motor, belajar kelistrikan, dan lain-lain. Tidakkah belajar banyak hal untuk mempersiapkan ‘aku yang baru’ lebih menyenangkan dari pada mengingat, menggugat atau menyalahkan masa lalu yang sudah berakhir?
Ketiga, rayakan aku yang baru
Bercerai memberi ruang pada kita untuk lebih menyelami diri sendiri. Selama pernikahan bisa jadi keutuhan diri terbagi dengan berbagai konsensus bersama pasangan. Rayakan kesendirian menjadi momen untuk lebih mengenali diri. Kesendirian juga memberi waktu untuk mengurus diri lebih baik.
Lakukan hal-hal menyenangkan yang selama hidup bersama tidak dapat dilakukan karena butuh persetujuan pasangan atau waktunya habis untuk mengurus anak-anak dan pasangan. Bila ada bakat yang terpendam selama pernikahan, ini saatnya kita bersinar menunjukan kreativitas diri.
Keempat, terima proses jatuh bangun melakukan decluttering mental
Bila kita sudah mencoba melakukan ketiganya tapi kembali terperosok pada kenangan masa lalu, kemarahan dan kesakitan yang bisa datang tiba-tiba. Lembut hati lah kepada diri sendiri. Tidak apa-apa, kita jatuh bangun melakukan decluttering mental. Karena ini bukan proses yang mudah. Bila sedang jatuh, peluk diri dengan lembut. Ajak diri untuk bangun pelan-pelan dan kembali berupaya hidup lebih bahagia di masa kini dengan diri yang baru.






