Rasanya Menikah Dengan Manchild: Pernikahan Jadi Proyek Rehabilitasi Kedewasaan Laki-laki

Perkawinan makin kompleks dengan adanya fenomena manchild, yang menjadikannya bukan sebagai proyek rumah tangga bersama, melainkan hanya jadi proyek rehabilitasi kedewasaan laki-laki.

Selama ini banyak orang menganggap jika pernikahan adalah ruang bagi orang dewasa yang dipimpin oleh laki-laki sebagai kepala keluarga, dengan pembagian peran dan tugas yang cukup jelas dan sederhana.

Pembagian kerja itu seperti suami mencari nafkah, sedangkan istri mengurus rumah dan anak. Sesekali laki-laki akan membantu kerja-kerja domestik di rumah untuk beberapa jam ketika libur atau ketika mereka punya waktu. Tentu saja pembagian kerja tradisional seperti ini ditolak oleh para feminis.

Kondisi pembagian kerja ini ternyata makin memburuk ketika laki-laki mengalami krisis kedewasaan, seperti fenomena manchild dalam sebuah perkawinan. Manchild yaitu laki-laki yang masih bersikap kekanak-kanakan secara emosional, mental, dan perilaku meskipun secara usia sudah dewasa. Ciri-ciri laki-laki manchild dalam perkawinan yaitu mereka maunya hidup bebas, tidak mau diatur, tidak mau mengurus rumah.

Awalnya para laki-laki manchild ini berpikir bahwa menikah adalah untuk membangun rumah tangga bersama. Mereka bisa gotong royong mengelola keuangan, kebutuhan hidup, perencanaan punya momongan, saling jadi tumpuan soal parenting hingga menyiapkan dana darurat. 

Namun dalam perjalanan, kehidupan ini jadi terbalik, laki-laki manchild tidak mau diatur dan mau hidup bebas. 

Mereka tidak memahami atau tidak sadar jika para istri sedang mengemban pekerjaan double, yaitu menjadi istri sekaligus ibu bagi suaminya, bahkan triple jobs (jika sudah punya anak). Mereka menangani proyek renovasi karakter seseorang manchild- si Peter Pan yang baru saja terlempar dari Neverland.

Baca juga: Album ‘Man’s Best Friend’ Sabrina Carpenter, Ini Pemberdayaan atau Stereotipe Demi Estetika Pasar?

Sabrina Carpenter dalam lirik lagunya berjudul Man-Child dengan lantang dan merdu tertulis.

‘Never heard of self-care, half your brain just ain’t there.

And how survive the Earth so long?
If I’m not there, it won’t get done
(Belum pernah dengar soal perawatan diri, separuh otakmu tidak ada. Dan bagaimana caranya bertahan di bumi begitu lama?. Kalau aku tidak ada, semuanya tidak akan selesai)

Harusnya laki-laki menyadari bahwa dewasa itu bukan karena ber-KTP, wajahnya punya jenggot dan kumis tebal, melainkan tentang standar kematangan emosi. 

Pada umumnya laki-laki yang siap menikah adalah mereka yang sadar tentang tanggung jawab nya dalam berelasi dengan pasangannya.

Sementara itu para manchilds seakan menolak bertumbuh secara emosional, bahkan setelah menikah. Cirinya jelas seperti anti tanggung jawab, emosi meledak-ledak, dan selalu ingin jadi pusat dunia. Laki-laki dengan sifat ini biasanya kurang mandiri, bahkan setelah menikah masih merepotkan orang tua terutama ibunya. Ini berakibat pada tidak adanya inisiatif dan arah selama membina rumah tangga.

Akibatnya perempuan harus menghadapi proyek dadakan. 

Awalnya banyak perempuan sendiri tidak sadar. Fenomena ini bukan sekadar laki-laki bersikap layaknya anak kecil yang suka game, mengoleksi robot gundam, atau hafal semua tokoh superhero. Namun para laki-laki ini juga gagal mengelola emosi, yakni sengaja menolak bersikap dewasa karena ingin mangkir dari tanggung jawab. 

Padahal orang dewasa mengerti soal tanggung jawab, apa yang harus dikerjakan tanpa menunggu dikte begini dan begitu. 

Baca juga: Putus Sekolah Sampai KDRT: Marak Perkawinan Anak di Sulawesi Selatan, Anak Perempuan Jadi Korban

Manchild untuk jenis laki-laki semacam ini, mereka terperangkap dalam ketakutan terhadap kedewasaan. Psikolog Carl Jung menyebutnya Puer Aeternus yaitu ‘anak laki-laki abadi’ yang menganggap tanggung jawab seperti penjara dan komitmen berhadiah hukuman mati. 

Jadi jangan heran kalau memberi nafkah istri atau membelikan popok anak terasa mencekik kebebasan mereka. Kewajiban semacam itu tidak lebih penting dari ganti model vapor baru, beli parfum branded harga jutaan, atau jajan fancy di cafe ternama ibukota. Bahkan tagihan listrik dinomorduakan untuk menutup iuran bulanan club mobil demi prestise. Hingga tabungan masa depan tidak pernah direncanakan karena sibuk modifikasi kendaraan kesayangan.

Lantas bagaimana jika menikah dengan laki-laki manchild ? Istri yang menikah dengan laki-laki berjiwa Peter Pan syndrome harus punya mental baja serta hati lapang. Belum memiliki anak tetapi mereka sudah berlatih mengurus kebutuhan dan ego suaminya. Setelah anak lahir maka beban semakin bertambah berkali-kali lipat sehingga menimbulkan mental load.

Istri kemudian mengambil alih untuk memimpin, untuk mengatur dan mengarahkan. Mereka mengatur keuangan, belanja bulanan, bayar tagihan, membersihkan rumah, mengurus dapur sekaligus anak. Mereka menciptakan struktur komunikasi agar suaminya dapat berfungsi seperti menyuruh membuang sampah di jam sekian, jemput anak sekolah, dan mengingatkan tentang pertemuan rutin warga. Hal-hal sederhana juga perlu didikte seperti tidak menaruh handuk di kasur atau tidak menyimpan piring kotor di kamar.

Dalam hal ini perempuan kemudian mengambil hampir semua peran dalam pernikahan. Mereka akan tampak serakah karena menggagahi seluruh peran dalam pernikahan kalau juga ikut bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, padahal sejatinya tanggungjawab ini harus diambil perempuan. 

Jika istri meminta pembagian tugas, biasanya suami manchild berusaha mengulur waktu dengan menunda pekerjaan. Tujuannya supaya mereka lelah berdebat, merasa percuma sehingga menyelesaikan sendiri tanggung jawab tersebut secara mandiri. 

Laki-laki jenis ini juga sering terlambat dalam mengambil keputusan karena butuh dikte dan pengawasan ketat tentang hal-hal yang harus dikerjakan.

Kerugian Perempuan Wife-Mother Secara Personal

Kerugian mengurus proyek rehabilitasi kedewasaan laki-laki manchild ini memberikan kerugian personal selama pernikahan. 

Pertama, perempuan sudah pasti menghadapi konsep The Wasted Potential – potensi yang terbuang sia-sia. Rumah tangga yang seharusnya dibangun berdua dengan visi misi searah, pada akhirnya dikelola oleh satu pihak saja. Energi mereka habis untuk mengurus si kepala keluarga yang harusnya menjadi pemimpin.

Mental load akhirnya muncul sehingga berdampak pada kelelahan fisik dan emosional. Perempuan sering uring-uringan padahal baru melihat wajah suami. Bukan karena tidak cinta melainkan sudah lebih dulu merasa terintimidasi atas kehadirannya sehingga alam bawah sadar memulai mode pertahanan. Waktu bersantai untuk sedikit bernapas lega berakhir karena mereka harus segera berjaga kembali demi mengantisipasi kegagalan peran suami.

Kerugian kedua adalah krisis identitas. Perempuan membayar mahal pernikahannya dengan kehilangan citra diri sebagai individu. Karena terlalu sibuk menjadi wife-mother, mereka mengalami kelelahan kronis sehingga tidak memiliki waktu untuk mengurus dirinya sendiri. Kesempatan banyak terlewatkan bahkan sengaja ditinggalkan yang berakibat pada sempitnya ruang berkembang bagi perempuan.

Karena mau tak mau harus mengurus laki-laki manchild dengan alasan doktrin kewajiban istri serta dogma agama maka mereka mengesampingkan urusan citra diri. Oleh sebab itulah banyak perempuan memiliki krisis kepercayaan diri karena merasa penampilan kurang menarik, kurang pergaulan dan pengetahuan. Padahal secara tidak langsung, kondisi pernikahan tidak ideal lah yang menyebabkan ini terjadi. Nihilnya peran suami yang jauh dari kedewasaan sehingga semua beban rumah tangga bertitik berat pada istri.

Baca juga: Hancur Lebur, Mental Kena: Begini Rasanya Bertahan Dalam Pernikahan Toksik!

Perempuan sebenarnya dapat menjalankan peran serta tanggung jawab tanpa kehilangan diri sendiri. Mereka mengembangkan potensi lain di luar ranah rumah tangga seperti karier, hobi, dan kemampuan lainnya. Jadi mereka tetap merasa utuh dalam menunaikan perannya sebagai istri, ibu, dan perempuan.

Fenomena menchild secara tidak langsung juga menciptakan wife-mother. Sebenarnya kedua pihak sama-sama merugi dan harus saling menciptakan perubahan demi terciptanya hubungan harmonis dalam pernikahan. 

Tapi sayangnya, laki-laki yang menolak kedewasaan seringkali larut dalam zona nyamannya sehingga membuat perempuan selamanya terikat komitmen pernikahan sambil mengurus si bayi Peterpan.

Sayangnya lagi, realitas berumah tangga butuh sistem kemitraan bukan tugas pengasuhan untuk menyukseskan proyek rehabilitasi kedewasaan ini.

(Editor: Luviana Ariyanti)

Gabby Allen

Tertarik menulis tentang isu feminisme untuk menantang status quo dan memberikan panggung bagi narasi-narasi perempuan yang sering terpinggirkan.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!