Model Callista Louis Speak Up Pelecehan Seksual: Stop Normalisasi Guyonan Seksis di Industri Kreatif 

Tak ada siapapun yang layak dilecehkan termasuk di dunia kerja. Callista Louis jadi salah satu model perempuan yang mesti kita terus dukung karena berani speak up atas pelecehan seksual yang dialaminya oleh rekannya di industri kreatif.

Pada akhir November lalu, seorang model perempuan bernama Callista Louis memilih untuk tidak lagi diam atas pelecehan seksual yang dialaminya. 

Melalui serangkaian unggahan story di Instagram, ia membagikan kalimat-kalimat yang ia dengar langsung di ruang kerja, diucapkan tanpa malu, tanpa bisik-bisik, dan tanpa upaya menyamarkannya sebagai sesuatu yang salah. Terduga pelakunya juga berasal dari industri kreatif. 

“Dalam 5 tahun saya bekerja di industri ini, saya bertemu ratusan profesional—orang-orang berbakat, rendah hati, dan hormat yang benar-benar memahami arti kolaborasi. Tapi artis ini sendiri? Dia kebalikannya,” tulis Callista dengan penuh kekecewaan di IG-nya @callistalouis.

Kalimat-kalimat yang melecehkan Callista itu, diucapkan ketika ia sedang bekerja, berada di lokasi produksi, dan saat Ia menjalankan peran profesionalnya sebagai model. Di antaranya: 

“Kamu keliatannya nakal deh, pasti performanya bagus”

“Kamu suka cowok berbulu ga? Gamau cobain?”

“Aduh, celana aku makin sempit nih”

Kalimat-kalimat ini bukan tafsir, bukan dugaan, bukan emosi yang dibesar-besarkan. Itu adalah kutipan yang Callista tuliskan sendiri, kata demi kata, sebagai bagian dari kesaksiannya. 

Callista tidak menambahkan efek dramatis. Ia tidak menyunting agar terdengar lebih kejam. Ia hanya memindahkan apa yang ia dengar ke ruang publik, dan justru di situlah kekerasannya terasa gamblang.

Pelecehan yang dialami Callista terjadi di ruang yang seharusnya aman dan profesional. Di lokasi syuting, di hadapan kru, di tengah proses produksi yang menuntut fokus dan kerja sama. 

Dalam unggahannya, ia juga menceritakan bagaimana komentar bernuansa seksual, gestur yang merendahkan, dan sentuhan fisik tanpa persetujuan terjadi berulang kali.

Baca juga: Artis Perempuan dan Fandom Alami Pelecehan Seksual: Rebut Agensi, Perjuangkan Mereka

Salah satunya ketika seorang rekan kerja berdiri terlalu dekat saat adegan berlangsung, menyentuh tubuhnya tanpa izin, lalu menyebutnya sebagai lelucon. Dalam kesempatan lain, gestur seksual diperagakan sambil berkata, “Jari kamu panjang ya, coba bentuk gini deh, buat ngukur,” sembari membentuk simbol seksual dengan tangan.

(Unggahan Callista di Instagram-nya @callistalouis)

Situasi ini menunjukkan bahwa pelecehan tidak selalu hadir dalam bentuk yang langsung dikenali sebagai kekerasan fisik. Ia sering datang sebagai candaan, komentar selintas, atau interaksi yang dianggap sepele. Namun dampaknya nyata. Pelecehan bekerja dengan cara mengikis rasa aman secara perlahan, membuat perempuan terus-menerus menimbang antara bertahan atau bersuara.

Dalam salah satu unggahannya, Callista menegaskan bahwa seksualisasi dan objektifikasi perempuan bukanlah sekadar lelucon. Bukan juga, sesuatu yang harus diabaikan demi terlihat profesional. Namun di banyak ruang kerja, terutama industri kreatif, pelecehan justru sering disamarkan sebagai bagian dari “kepribadian” yang lagi-lagi menyalahkan ke korban.

Ketika perempuan merasa tidak nyaman, ia dianggap terlalu sensitif. Kemudian, ketika ia diam, pelecehan itu berlanjut. Candaan semacam ini hampir selalu bekerja satu arah. Ia tidak dimaksudkan untuk menghibur semua pihak, melainkan untuk menegaskan kuasa. Tubuh perempuan dijadikan bahan konsumsi verbal, sementara keberatannya tidak pernah benar-benar dipertimbangkan.

Dalam unggahannya, Callista juga menuliskan bagaimana komentar bernuansa rasis dan merendahkan turut dilontarkan, termasuk komentar tentang tubuh dan wajah perempuan lain di lokasi produksi. Ini menunjukkan bahwa pelecehan jarang berdiri sendiri. Ia sering berkelindan dengan rasisme, seksisme, dan hierarki kuasa yang saling menguatkan.

Salah satu pengalaman yang paling menohok adalah ketika instruksi kerja disampaikan dengan bahasa yang mengobjektifikasi. Saat sutradara meminta Callista berdiri lebih tegak, yang diucapkan justru, “Busungin dadanya ya, Callista. Busungin.”

Baca juga: Dear Komika, Stop Humor Seksis! Itu Pelecehan dan Gak Ada Lucunya 

Callista mempertanyakan mengapa instruksi profesional tidak bisa disampaikan dengan bahasa netral seperti “tegakkan posturnya”. Mengapa tubuh perempuan harus selalu dipanggil lewat bagian-bagian seksualnya. Pertanyaan ini penting, karena menunjukkan bagaimana tubuh perempuan di ruang kerja kerap diperlakukan sebagai properti sosial. Sesuatu yang boleh dikomentari, diarahkan, bahkan dipermalukan secara terbuka.

Di titik ini, pelecehan tidak lagi hanya tentang individu pelaku, tetapi tentang sistem yang membiarkan bahasa dan perilaku semacam ini berlangsung tanpa koreksi.

Dalam kesaksiannya, Callista berulang kali menekankan bahwa ia datang untuk bekerja. Ia mencoba membangun percakapan tentang musik, proses kreatif, dan karier. Ia bertanya bagaimana rekan kerjanya memulai perjalanan di industri. Namun tidak satu pun pertanyaan itu dijawab dengan serius.

Sebaliknya, ia terus menerima komentar seksual, seolah keberadaannya di lokasi hanya untuk menjadi hiburan. “Aku bukan rekan kerja, bahkan bukan manusia,” tulisnya, “aku hanya tubuh untuk memberi makan ego (patriarki–red).”

Di sinilah terlihat bagaimana profesionalisme sering kali menjadi beban sepihak. Perempuan dituntut untuk tetap tenang, sopan, dan produktif, bahkan ketika dilecehkan. Sementara pelaku berlindung di balik status, popularitas, dan dalih bahwa ia hanya bercanda.

Banyak perempuan memilih diam bukan karena tidak sadar bahwa yang dialaminya salah, tetapi karena sadar betul akan risikonya. Dalam industri dengan relasi kuasa yang timpang, bersuara bisa berarti kehilangan pekerjaan, dicap sulit diajak kerja sama, atau disingkirkan secara perlahan.

Kesaksian Callista merefleksikan dilema ini. Ia tetap profesional sampai akhir produksi. Ia menghormati kru. Dan ia menjalankan tugasnya. Namun profesionalisme itu tidak pernah dibalas dengan perlakuan yang setara.

Baca juga: Komika Eky Priyagung, Laki-Laki Juga Bisa Speak Up Ketika Jadi Korban Kekerasan Seksual

Dalam pembaruan yang ia unggah sepuluh hari setelah kejadian, Callista menuliskan bahwa tidak ada permintaan maaf. Tidak satu pun. Ia menegaskan dengan huruf kapital bahwa hingga saat itu, belum ada permintaan maaf dari pelaku.

Label yang terlibat dalam produksi pun memilih untuk menjauh, meski peristiwa itu terjadi dalam konteks kerja resmi mereka. 

Hal yang diminta Callista sebenarnya sederhana, Ia tidak menuntut berlebihan. Ia hanya menginginkan akuntabilitas profesional dan perbaikan nyata agar kejadian serupa tidak terulang. Namun, keheningan yang ia terima justru menjadi penegasan tentang bagaimana sistem sering kali gagal melindungi korban.

Meski tidak mendapatkan pertanggungjawaban yang layak, Callista tetap memilih untuk bersuara. Ia menuliskan bahwa berbagi pengalaman bukan tentang keputusasaan, melainkan tentang kesadaran. Tentang mencegah normalisasi. 

Ia  juga membagikan pesan praktis bagi pekerja lain, terutama perempuan. Lindungi diri. Rekam kejadian. Simpan tangkapan layar. Catat saksi. Minta dukungan. Bukti adalah salah satu alat bertahan di industri yang sering kali tidak berpihak pada korban.

Callista bukanlah satu-satunya yang mengalami hal pahit itu. Banyak perempuan di berbagai sektor mengalami hal serupa. Mereka ada di kantor, di lokasi proyek, di ruang kreatif, komentar tentang tubuh, seksualitas, dan relasi personal sering dianggap lumrah. 

Normalisasi ini membuat pelecehan sulit dikenali, apalagi ditangani. Ketika perempuan menolak, ia dianggap merusak suasana. Ketika ia diam, pelecehan berlanjut. Siklus ini terus berulang karena sistem lebih memilih kenyamanan pelaku daripada keselamatan korban.

Baca juga: Bernadya Speak Up Soal Komentar Melecehkan: Stop Normalisasi KBGO 

Dalam unggahannya, Callista menegaskan bahwa membiarkan pelecehan berlalu berarti menjadikannya standar. “Safety and respect should never be optional,” tulisnya. 

Kesaksian ini mengingatkan bahwa perempuan berhak atas ruang kerja yang aman, dihormati sebagai subjek, dan diperlakukan sebagai rekan kerja setara. Bersikap diam bukan solusi. Dan bersuara, meski berisiko, tetap menjadi salah satu cara untuk menolak dinormalisasi. Perempuan layak mendapatkan keamanan, bukan keheningan. Pelecehan tidak pernah sekadar bercanda. Rasa hormat adalah batas minimum.

Kesaksian Callista tidak berdiri sendiri sebagai cerita tentang satu kejadian, satu lokasi, atau satu pelaku. Ia adalah cermin dari bagaimana banyak perempuan belajar bertahan di ruang kerja yang sejak awal tidak dirancang untuk melindungi mereka. Bersikap profesional, bekerja dengan sepenuh hati, dan menghormati semua orang sering kali tidak cukup untuk mencegah pelecehan terjadi. 

Dalam budaya kerja yang masih menormalisasi komentar seksual sebagai candaan, keberanian untuk bersuara sering diperlakukan sebagai gangguan. Padahal justru kesaksian seperti inilah yang membuka kemungkinan perubahan. Dengan menyebut pelecehan sebagai pelecehan, dengan menolak diam, perempuan sedang menarik garis yang selama ini dibiarkan kabur.

Jika pengalaman ini terasa akrab bagi banyak perempuan, itu bukan karena mereka terlalu sensitif, melainkan karena sistem terlalu lama membiarkan kekerasan bersembunyi di balik nama profesionalisme. 

Perubahan tidak akan datang dari keheningan. Ia datang dari keberanian untuk menyebut, mengingat, dan menolak lupa. Dan selama masih ada perempuan yang harus memilih antara bekerja atau merasa aman, selama itu pula suara-suara seperti Callista mesti terus didengar.

(Editor: Nurul Nur Azizah)

Rayfahd Haykal

Reporter magang Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!