Dear Komika, Stop Humor Seksis! Itu Pelecehan dan Gak Ada Lucunya 

Para pelawak tunggal di panggung (komika) sudah semestinya membangun komedi yang sehat. Tak melecehkan dan merendahkan termasuk pada perempuan dengan humor seksis dalam penyampaian materi stand up comedy.

Apa kamu termasuk yang juga gelisah sama humor-humor seksis yang berseliweran saat penampilan stand up comedy? Baik yang dibawakan dalam pertunjukkan komedi di panggung ataupun konten sosial media.

Niatnya menghibur dengan mencoba relevan sama penonton, tapi disadari atau tidak, humor para komika ini justru gak ada lucu-lucunya. Bahkan, merendahkan dan melecehkan. 

Laman Britannica menjelaskan, seksisme sebagai prasangka dan anggapan bahwa salah satu jenis kelamin lebih superior atau lebih baik daripada jenis kelamin yang lain. Meskipun seksisme dapat terjadi pada laki-laki dan perempuan, namun seringkali, perempuan adalah korban seksisme di kehidupan masyarakat. 

Belum lama ini, salah satu komika, Felixius ‘Felix’ Seda jadi perbincangan karena membawakan humor seksis. Itu terjadi di acara dialog salah satu capres, Desak Anies, yang berada di Yogyakarta. 

Baca Juga: Ada Seksisme Dalam Bahasa Indonesia, Bagaimana Kita Menanganinya?

Najwa Shihab yang kebetulan saat itu sedang meliput, jadi korbannya. Jurnalis sekaligus presenter Narasi TV itu, mengalami pelecehan dari humor seksis yang dibawakan salah seorang komika, Felixius Seda. 

“Mbak Nana pakai bajunya putih-putih kayak kasur saya dan jadi pengen saya tidurin,” Begitulah ucapan Felix yang berujung Ia minta maaf. 

Video permintaan maaf Felix kepada Najwa diunggah ke akun Instagram @felixseda. “Saya Felixius Juang Seda mau meminta maaf kepada Mbak Najwa Shihab terkait gombalan dari saya waktu tampil di acara Desak Anies Yogyakarta,” ucap Felix Seda, Selasa (23/1/2024).

Setelah sebelumnya, ada seorang peserta perempuan, Emma, yang juga menyampaikan keberatannya langsung di panggung atas humor seksis itu. Emma menyayangkan, forum demokrasi yang mestinya aman dan nyaman bagi semuanya, malah ada humor seksis dari komika.  

Tak hanya felix Seda, dalam beberapa tahun terakhir, kecaman publik atas humor seksis yang disampaikan komika juga terjadi. Pada sekitar November 2022, ada Popon Kerok yang menyebut ‘feminis cewek yang males dan ribet’.

Baca Juga: Miskonsepsi Feminisme di Stand-Up Comedy: Leluconmu Itu Bisa Jadi Kekerasan

Kalimat itu mencuat dalam penampilan seorang komika Popon Kerok. Dia bercerita kalau dirinya pernah sampai ada pembatalan proyek kerjaan gara-gara konten stand-up yang dibawakannya gara-gara ia bicara soal perempuan

“Yang ngasih kerjaan cewek semua, nge-cut kerjaan,” imbuhnya lagi.

Para perempuan yang berencana memberikan pekerjaan kepada Popon itu, yang disebutnya pula sebagai kalangan “open minded” itu, Ia duga tak setuju dengan pandangan atau sikap Popon dalam menyampaikan materi termasuk berkaitan dengan isu LGBT.

Sebulan sebelumnya, Patra Gumala juga ramai jadi pembicaraan publik usai materi stand up comedy-nya yang mengkritik soal parkir khusus perempuan di pusat perbelanjaan. Menurutnya, adanya fasilitas khusus itu menunjukkan sikap standar ganda kelompok pendukung feminisme yang tak hanya menginginkan perempuan mandiri. Tapi juga minta “diistimewakan”. 

The Conversation pernah membahas ini. Miskonsepsi feminisme lewat humor seksis pada Patra Gumala ini, salah kaprah karena simplifikasi soal esensi kesetaraan gender yang hanya dilihat ketika perempuan bisa melakukan hal-hal yang sama seperti laki-laki. 

Gerakan feminisme itu muncul sebagai upaya untuk membuat perempuan dapat menikmati hak yang setara dan adil dengan laki-laki, baik dalam aspek sosial, ekonomi, politik, di ruang publik, bahkan di ranah domestik. Untuk mencapai keadilan tersebut, perlakuan yang berbeda antara perempuan dan laki-laki masih sangat mungkin diberlakukan sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.

Fasilitas parkir khusus perempuan, contohnya, diperlukan agar perempuan dapat terhindar dari ancaman kekerasan seksual, mengingat layanan parkir biasanya minim penerangan, sunyi, dan relatif jauh dari pintu masuk utama gedung. Begitu pula dengan gerbong kereta dan bus khusus penumpang perempuan yang bertujuan untuk menghilangkan hambatan perempuan dalam mengakses sarana transportasi yang layak dan aman.

Itu semua merupakan bentuk ‘tindakan afirmatif’ yang dirancang untuk mencapai kesetaraan bagi perempuan dan laki-laki dalam mengakses ruang publik yang aman. 

Kepada Konde.co, *Patra menyampaikan klarifikasi penjelasannya soal konten parkir khusus perempuan. Ia merujuk pada konten Youtube yang tayang di Total Politik ‘Dear Feminis SJW, Patra Mau Ngomong Nih Soal Parkiran Perempuan..’

Patra mengatakan, ada beberapa asumsi publik yang tidak setuju dengan konten yang disampaikannya soal parkir khusus perempuan. Pertama bahwa dia tidak setuju dengan parkir khusus perempuan. Kedua, dia dianggap merendahkan difabel. Ketiga, anggapan bahwa dia menganggap tidak pernah ada pelecehan di parkiran perempuan.

“Itu kan sebenarnya (lawakannya) cara mematahkan asumsi… objek tertawaannya, orang yang gampang tersinggung dengan apapun,” katanya.

Spesifik soal parkir khusus perempuan, Patra menyebut, dari jurnal-jurnal yang dia baca masih ada perdebatan ‘sesama perempuan’ soal adanya parkir khusus perempuan. Ada yang sepakat soal upaya perlindungan perempuan, tapi ada juga yang menganggap itu “me-spesial-kan”.

“Katanya Loe mau mandiri, tapi Loe kok mau dibikin spesial,” ujar Patra.

Baca Juga: Banyak Stiker Seksis Tentang Perempuan Di Media Sosial: Jangan Diam

Komika Kemal Palevi juga pernah melakukan seksisme atas video prank-nya di sosmed yang menanyakan ukuran bra perempuan berusia 14 tahun. Kejadian itu terjadi sekitar tahun 2016, saat video prank sedang laku di kanal Youtube. 

Dalam penjelasannya, Kemal mengaku hanya berniat membuat video lucu saat bertanya kepada sekumpulan perempuan mengenai ukuran bra mereka. “Di Amerika Serikat, video prank memang tengah ramai di Youtube,” katanya kala itu. 

Melalui akun twitter pribadinya, Kemal lantas minta maaf atas humor seksis yang Ia unggah di sosmed itu. “Sekali lagi gue mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kekeliruan gua di video tsb dan terima kasih untuk kritiknya,” tulis Kemal Palevi melalui akun @kemalpalevi, Senin (18/4/2016).

Selain beberapa kasus humor seksis komika yang mencuat di pemberitaan tersebut, pada beberapa kesempatan masih ditemui juga materi yang seksis. Salah satunya, Komika Ridwan Remin dalam Super Stand Up Seru eps 90: Nunggu Cewek Dandan. 

“Cewek itu bukan ribet soal dandan aja, tapi ribet soal belanja,” ujar Remin dalam video yang diunggah di Youtube itu. 

Sepanjang beberapa menit stand up comedy-nya, Remin menceritakan betapa ribet perempuan, yang diidentikkan selalu lama kalau dandan. Saking lamanya, laki-laki kalau jemput buat main harus nunggu berjam-jam. “Saking gue keselnya, gue cari papan di tempel di pagar rumahnya ‘rumah ini kosong’ lama bangeet dandannya,” katanya. 

“Yang namanya cewek gak bisa dipisahin sama dandan, karena itu mereka itu kalau Lo gak dandan, hidup lu gapapa, emang bakal hampa? Rejeki Lo bakal seret? Di masyarakat Lo bakal dikucilkan?” imbuhnya. 

Baca Juga: Konten Seksis Youtuber Ferdian Paleka, Tinggalkan Dampak Psikologis Bagi Transpuan

Tak cuma komika, humor seksis juga tak jarang kita bisa temukan pada konten-konten Youtuber atau seleb sosmed. Salah satu yang menimbulkan kegeraman publik adalah konten Youtuber Ferdian Paleka yang melecehkan sampai menimbulkan trauma pada transpuan. 

Saat pandemi tahun 2020, Paleka melakukan prank dengan pura-pura memberikan bantuan sembako. Namun, ternyata isinya batu bata dan sampah. Itu terjadi setelah sebelumnya, dia juga membuat konten seksis yang menghina pekerja seks. 

Hal-hal seperti ini, tentu saja termasuk perbuatan yang melecehkan. Juga penghinaan terhadap kemanusiaan. 

Humor seksis semacam ini, bisa berkaitan dengan bentuk tubuh, warna kulit, sampai seksualitas sebagai bahan humor yang berkenaan dengan kelompok gender ataupun individual. Mirisnya, tak semua sadar apa yang mereka ucapkan termasuk humor seksis. Bahkan, itu dianggap biasa. 

Stop Normalisasi Humor Seksis

Humor atau candaan adalah hal yang wajar dilemparkan dalam kehidupan sehari-hari. Ini bisa jadi pemecah suasana yang tegang bahkan mengkritik sesuatu dengan satir yang lucu. Namun, humor seksis dan objektifikasi terhadap perempuan ataupun kelompok rentan seharusnya tidak dinormalisasi sebagai sebuah lelucon.

Sebab itu adalah bentuk pelecehan yang harus stop dinormalisasi. Komedian pun mesti belajar agar lebih peka dalam membawakan materinya agar tak ada unsur seksisme. 

Tak dipungkiri, hal yang masih banyak terjadi pada komedian yang hilir mudik menyampaikan humornya di berbagai platform, tampaknya tak semua sadar. Bahkan biasa-biasa saja saat membawakan materi yang seksis dan bias gender. Ini juga berlaku bagi para penontonnya. 

Dalam kasus Najwa dan Felix, banyak yang masih beranggapan bahwa hal tersebut adalah wajar karena hanya candaan. Felix sendiri meminta maaf kepada Najwa karena dia menganggap candaannya tersebut berupa “gombalan” yang kelewat batas, bukan karena unsur seksisme dalam jokes itu sendiri. 

Pembelaan berupa “gombalan” ini sering diungkapkan komedian dengan istilah “aku cuma bercanda” untuk membela diri dari tuduhan seksis. Hal ini disebut sebagai the “only joking” defence (OJD)

Dalam hal ini penonton seperti dilarang berasumsi bahwa komedian  bersungguh-sungguh dengan apa yang dia katakan, dan mengajak penonton untuk beranggapan bahwa hal itu memang jokes semata.

Bahaya “Only Joking” 

Anggapan “only Joking” yang digunakan untuk melegitimasi candaan seksis bisa berdampak banyak bagi korban atau objek candaan. John Morreall dalam bukunya Comic Relief: A Comprehensive Philosophy of Humor menyebut, saat pendengar menikmati lelucon seksis dan rasis, mereka membiarkan stereotip berbahaya masuk ke dalam alam bawah sadar mereka. 

Pernyataan jokes yang lugas mungkin akan langsung menuai kritik saat itu juga, namun penggunaan kalimat lucu yang dilebih-lebihkan atau yang disajikan dengan cara yang ‘cerdas’ bisa saja diterima dan membuat penonton segan untuk merasa marah. Artinya, jokes seksis bisa menghasilkan stereotip dan malah dianggap wajar secara tidak langsung.

Olah kata dari lelucon itu sendiri mengandung kekuatan bahasa. Semantik dari lelucon seksis dirancang sedemikian rupa hanya untuk merendahkan perempuan, sambil memfasilitasi toleransi terhadap seksisme.

Komedian tanpa ragu menjadikan penonton yang hadir di depannya menjadi objek candaan. Jika penonton adalah bagian kelompok rentan yang distereotipkan dalam lelucon tersebut, mereka dapat merasa terhina. Lebih buruk lagi, mereka bisa terancam atau diserang. Ini kan adalah masalah yang serius, dan komedian tetap pada pendiriannya bahwa mereka “cuma bercanda”.

Hal tersebut akan membuat penonton merasa tidak enak jika tidak terima dengan jokes yang diucapkan karena dianggap tidak mengerti komedi. Korban bahkan malah diberi julukan “tidak asyik”, “tidak open minded” oleh kelompok komedian seksis. Bisa disimpulkan ini adalah bentuk gaslighting.

Dampak Pelanggengan Stereotip

Lelucon seksis dapat memperkuat stereotip yang mengobjektifikasi perempuan. Ini bisa berdampak tidak langsung yang berbahaya dan tidak mudah dideteksi dalam waktu yang cepat. 

Melanjutkan kata-kata John Morreall, “orang kulit hitam, perempuan dan kaum homoseksual telah mengalami [kerugian] karena stereotip yang beredar tentang mereka […] mereka mengalami diskriminasi dalam pemungutan suara, dalam pembelian real estat, dan di pengadilan. Stereotip rasis dan seksis membuat mereka kehilangan uang, rasa hormat, status dan kekuasaan.”

Selain stereotip yang akan tertanam di kepala penonton, dampak lain dari jokes seksis akan dirasakan oleh kelompok rentan yang menjadi objek candaan itu sendiri. 

Menurut LaFrance & Woodzicka dalam penelitiannya yang berjudul No laughing matter: Women’s verbal and nonverbal reactions to sexist humor, paparan humor seksis bagi perempuan menyebabkan meningkatnya rasa jijik, hilangnya harga diri, dan reaksi non-verbal yang menunjukkan rasa malu. 

Perempuan menganggap humor seksis kurang lucu karena mereka mengidentifikasi diri mereka dengan korban, setelah sebelumnya mereka didiskriminasi berdasarkan gender mereka. 

Perempuan akan mengidentifikasi diri dengan karakter perempuan yang mereka pandang; oleh karena itu, ketika karakter yang mewakili perempuan dianiaya atau diejek, hal itu menjadi hal yang bersifat pribadi bagi penonton perempuan.

Baca Juga: Banyak Kreator Konten, Namun Tak Peka Isu Kemanusiaan

Studi Ford dan Ferguson menyimpulkan bahwa lelucon seksis menciptakan kebencian terhadap perempuan. Pada dasarnya, jika seseorang bercanda tentang perempuan dan mendapatkan tawa yang diinginkan, kelompok misoginis yang sudah bermusuhan terhadap perempuan akan melihat ini sebagai “lampu hijau sosial” untuk pandangan mereka. 

Studi ini membuktikan bahwa laki-laki yang menerima seksisme memiliki toleransi yang lebih besar terhadap pelecehan seksual. Dalam laporan lain, laki-laki misoginis juga merekomendasikan pengurangan dana yang lebih besar kepada organisasi perempuan di universitas mereka setelah menonton adegan komedi yang seksis dibandingkan dengan netral. 

Studi lainnya — dan yang paling serius dari semuanya — menemukan bahwa laki-laki yang menerima seksisme menyatakan kesediaan yang lebih besar untuk memperkosa seorang perempuan setelah terpapar pada lelucon seksis.

Bell hooks, seorang feminis pernah mengkritik humor eksis seperti ini. “Lelucon seksis, lelucon pemerkosaan, dan lelucon misoginis tentang kekerasan ditertawakan sebagai cara untuk menghindari dan meremehkan ketidaknyamanan dan kegelisahan seseorang terhadap konten tersebut”. 

Baca Juga: Praktik Seksisme di Sekitar Kita: Ini Bom Waktu Yang Siap Meledak

Jadi, ketika sebagian besar komedi yang didominasi laki-laki, yang ada dan berkembang di dunia patriarki, meremehkan dan mengabaikan agresi seksual dan kekhawatiran perempuan terhadap komedi seksis, hal tersebut sangat berbahaya.

Faktanya, lanjut bell hooks lagi, karena kita hidup di dunia di mana wacana yang berpusat pada maskulin merupakan norma yang berlaku. Maka, agresi seksual sebenarnya dapat dijadikan bahan lelucon sebagai cerminan klise dari realitas.

Dalam panggung komedi, hal-hal seksis dan menyinggung bisa dibungkus dengan dalih “hanya candaan”. Lalu, bagaimana memahami suatu jokes itu seksis atau tidak?

Jika kita ragu apakah lelucon bisa mengarah ke hal seksis, ada beberapa ukuran yang bisa digunakan untuk menilai:

Apakah lelucon ini menghina dan merendahkan perempuan dan kelompok rentan? Apakah itu mengkotakkan perempuan dalam peran gender? Lelucon ini mereduksi perempuan hanya sebatas tubuh mereka? Apakah itu merujuk pada mereka sebagai objek atau benda? Apakah perempuan digambarkan hanya dari perspektif laki-laki? Lelucon itu mencakup kekerasan terhadap perempuan? dan apakah lelucon itu digunakan untuk mendukung toxic masculinity dan agresi?

Komedian yang melontarkan humor seksis tentu bisa berdalih dengan “aku hanya bercanda” namun penilaian terhadap seksisme dalam suatu candaan tidak bisa dinormalisasi dan seharusnya dihentikan. 

*Catatan Redaksi: Artikel ini ditambahkan hak jawab Patra Gumala pada Selasa (6/2/2024) untuk menampilkan penjelasan soal konten parkiran khusus perempuan yang telah tayang di akun Youtube Total Politik ‘Dear Feminis SJW, Patra Mau Ngomong Nih Soal Parkiran Perempuan..’ .

Ika Ariyani

Kontributor Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!