Serial Suara Hati Istri, Perempuan Diobjektvikasi Jadi Lemah dan Tak Berdaya

Menjadikan perempuan menjadi sosok yang terpinggirkan dan pasif adalah bagian dari male gaze yang melanggengkan nilai patriarki.

“Kumenangis membayangkan…”

Siapa yang familiar dengan soundtrack lagu ikonik yang sering kita dengar di TV ini?  Lagu berjudul ‘Hati yang Kau Sakiti’ ini identik dengan Serial Suara Hati.  

Serial Suara Hati bisa dikatakan memang “berumur panjang”, karena sudah memiliki pangsa pasarnya sendiri yakni ibu-ibu pekerja domestik. Serial inipun dengan cerdik  ditayangkan menjelang siang, waktu di mana pakaian sudah tergosok rapi, lantai-lantai sudah berkilap wangi, dan makan siang yang sudah rampung tersusun rapi di meja makan. 

Rasa lelah membuat para ibu-ibu ingin tontonan ringan, alurnya tak rumit, di mana setiap episode punya ceritanya masing-masing, tidak perlu capek-capek mengingat apa yang terjadi di episode sebelumnya, agar bisa menyambungkan dengan apa yang terjadi di episode sekarang. Dan yang terpenting dari itu semua adalah relevansinya dengan kehidupan mereka sehari-hari. 

Namun sayangnya, cerita yang dikemas ini selalu berfokus pada kehidupan Ibu Rumah Tangga (IRT) yang rapuh, rentan, dan kerap mengalami perlakuan jahat dari suami mereka masing-masing.

Baca Juga: Sinetron ‘Suara Hati Istri’ Langgengkan Stereotip Perempuan

Sebagai seorang penikmat film atau series, jelas sekali serial ini menurutku jauh dari kata berkualitas. Jalan cerita yang luar biasa miskin dan pengulangan (repetitif), akting yang seadanya, serta pengambilan gambar yang masih perlu banyak dievaluasi. Tapi kendati demikian, saya juga tidak akan menganggap remeh selera ibu-ibu yang menonton serial ini. 

Sayapun contohnya cenderung memilih film yang saya rasa punya keterikatan emosi dengan perasaan saya pada saat itu. Contohnya saat saya sedang patah hati karena diputusin, saya akan menonton film yang bisa menvalidasi perasaan saya.

Tapi mengapa kerentanan, kelemahan, dan kerapuhan serta perlakuan buruk suami terhadap istri yang mereka saksikan di layar kaca bisa membuat mereka merasa memiliki keterikatan emosi dengan perasaan mereka? Mengapa bentakan, kekerasan, bahkan perselingkuhan bisa menvalidasi perasaan mereka? 

Mengingat kasus KDRT yang terus bertambah dan lingkungan sekitar yang terlampau maskulin dan patriarkis, mungkin serial ini akan terus relevan. Bahkan bisa dibilang mereka jadi “nyaman” dan betah saat menonton serial ini. Mungkin fokus mereka saat menonton  serial ini adalah, “bagaimana menjadi istri yang baik dan tabah”, alih-alih “mengapa perempuan selalu diperlakukan tidak adil?” 

Baca Juga: Sinetron “Suara Hati Istri” Indosiar Diprotes Aktivis Perempuan; Langgengkan Perkawinan Anak

Serial ini sama sekali tidak menawarkan penyelesaian. Sebab Ia hanya berkutat pada kepasrahan terhadap tindak tanduk suami, yang sayangnya seringkali menyakiti istri. Ironisnya lagi, penyiksaan terhadap istri dalam serial seringkali ditunjukkan baru terhenti setelah si pelaku kekerasan mati. Pilihan jalan cerita lain, datangnya sosok pangeran penyelamat yang akan menyelamatkannya dari jurang penyiksaan. 

Pada intinya dalam ‘Suara Hati Istri’, kita digiring jika ingin menjadi “istri baik” maka harus pasrah, penurut, dan sabar. Saya jadi semakin mengerti mengapa victim blaming terhadap korban KDRT, maupun KDRT itu sendiri masih subur dan sukar hilang. Media ini mengatur bagaimana perempuan baik seharusnya berlaku menurut sudut pandang laki-laki (male gaze).

Memang pengambilan gambar yang mengobjektifikasi tubuh perempuan jarang terjadi dikarenakan kebijakan sensor yang lumayan ketat, serta embel-embel agama yang akan pudar kalau membawa unsur erotis. 

Saya jadi teringat dengan sinetron putri duyung yang diperankan oleh Ayu Azhari. Bagaimana pergerakan kamera di sinetron ini menjadikan tubuh Ayu sebagai objek pasif untuk memuaskan fantasi birahi laki-laki, dan menjadikan Ayu sebagai sosok perempuan yang “bodoh”, sukar berbicara, dan dependan terhadap sosok laki-laki yang menjadi “tuannya”. Dalam  hal ini male gaze dalam serial suara hati istri tidak hadir dalam pemuasan nafsu birahi lelaki, melainkan ego laki-laki.

Baca Juga: Kapan Sinetron Bisa Semenarik Drakor? Ceritanya Melantur Dan Stereotyping Perempuan

Seorang kritikus film dan filmmaker feminis asal Inggris, Laura Mulvey, mempopulerkan istilah male gaze dalam esai ciamiknya berjudul Visual Pleasure and Narative Cinema (1975). Mulvey bergulat dengan politik seksual dan ketidakseimbangan kekuasaan yang mencolok antara perempuan dan laki-laki. Mulvey berpendapat bahwa kebanyakan film mengadopsi sudut pandang laki-laki heteroseksual. Bagaimana kamera  dengan sengaja dan berlama-lama mengarahkan lensanya ke arah tubuh perempuan untuk daya tarik erotis.

Serial hati istri seringkali tidak dikaitkan dengan male gaze, karena male gaze bagi sebagian orang hanya berpusat pada bagian tubuh perempuan yang diobjektifikasi kamera. Padahal dengan menjadikan perempuan menjadi sosok yang terpinggirkan dan pasif juga adalah bagian dari male gaze yang tidak terelakan. 

Hal ini membuktikan kalau serial ini mengadopsi sudut pandang laki-laki yang selalu menjadikan perempuan sebagai objek. Ia dianggap tidak berdaya, lemah dan patut untuk diselamatkan. Mengingat serial ini, tulisan ini berupaya membawa pembaca untuk mereflesikan dan semakin menyadari bahwa male gaze masih hidup dan subur di kancah pertelevisian Indonesia dalam bentuk yang tidak terlalu disadari.

Serial Suara Hati Istri Langgengkan Pola Pikir Patriarki

Memanglah benar bahwa konsumen utama dari Serial Suara Hati Istri adalah ibu rumah tangga yang mencari hiburan setelah lelah mengerjakan pekerjaan domestiknya sepanjang hari. 

Jarang sekali suami mencari hiburan dari serial ini, jelas saja serial ini isinya hanya tangisan yang bagi mereka jauh dari kata maskulin. Selain itu pekerjaan yang mereka kerjakan membuat mereka sukar untuk menonton serial yang disajikan menjelang siang, karena biasanya pekerjaan baru rampung menjelang malam. 

Tapi serial suara hati istri dengan persuasi “mencuci otak” istri mereka agar terus menjadi sosok yang pasif, penurut, dan pasrah. Dikarenakan itulah definisi “istri yang baik” dan sesuai dengan ajaran agama. 

Meski suami patriarki tidak menjadi konsumen langsung, tapi dia kemudian menjadi pihak yang secara tidak langsung yang paling diuntungkan, karena karakter istri mereka terbentuk lewat serial ini. Dimana mereka bisa terus melanggengkan dominasi mereka, dan menikmati peran istri mereka yang pasif dan penurut. 

Mereka tidak perlu menonton film yang pemerannya seorang patriark yang memiliki istri banyak, penurut, dan dominan yang menjadi male gaze pemuas ego mereka. Mereka sudah merasakannya langsung. Dominasi ini menghasilkan relasi kuasa yang menjadikan perempuan sebagai objek yang tidak bisa apa-apa. 

Baca Juga: Kamus Feminis: Apa Itu Male Gaze? Objektifikasi Perempuan di Media untuk Penuhi Hasrat Laki-Laki

Dan bahayanya relasi kuasa ini bisa membawa perempuan menjadi korban KDRT, marital rape, hingga femisida. Namun tetap saja karena serial ini perempuan akan di-gaslight untuk terus sabar dan tidak melaporkan kekerasan yang dialaminya.

Dalam hal ini Messias complex berkaitan erat dengan Male Gaze yang ada dalam serial Suara Hati Istri. Ia selalu menawarkan penyelesaian dengan menjadikan laki-laki sebagai penyelamat.

Sebagai mahkluk yang dianggap lemah, perempuan dinilai tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Pandangan ini menciptakan dinamika kekuatan di mana penyelamat alias laki-laki mengambil peran aktif dan berkuasa, sedang perempuan memainkan peran pasif dan dependan. 

Alhasil di dunia nyata, perempuan mengambil itu sebagai sebuah contoh yang patut diikuti. Mereka jadi percaya, bahwa perempuan memang seharusnya diam saja menunggu diselamatkan. Contohnya saja kebanyakan perempuan enggan untuk melakukan pekerjaan maskulin atau perbuatan yang dianggap maskulin karena menganggap itu adalah tugas laki-laki. Dalam kehidupan pernikahan juga misalnya, perempuan enggan mengambil keputusan, karena keputusan biasanya diambil oleh sosok aktif dan dominan bernama laki-laki. Perempuan jadi kehilangan “kediriannya” dan agensinya. Ia terus-terusan berdiri di belakang bayang-bayang lelaki yang dianggapnya sebagai penyelamat itu. 

Baca Juga: Kamus Feminis: Apa Itu Stereotipe Gender? Perempuan Digeneralisir dan Dibatasi Kebebasannya

Kritikku terhadap serial Suara Hati Istri, ini bisa menjadi serial yang bagus sekali jika mau menawarkan solusi yang memberdayakan perempuan. Contohnya berani melapor, dan speak up. Karakter istri yang ditampilkan juga harus lebih berdaya dan menyadari bahwa yang bisa menyelamatkannya hanya dirinya sendiri saja. 

Di sisi lain, penting juga upaya mengikis male gaze dalam produksi serial ini dengan lebih melibatkan perempuan dalam produksi. Tak hanya keterwakilan fisiknya, tapi juga perspektifnya. Sebab di lapangan, kita masih sering melihat bagaimana produksi serial semacam ini, di belakangnya kebanyakan laki-laki yang minim perspektif gender. 

Saya yakin di luar sana banyak perempuan lain seperti saya, yang muak dengan kekerasan dan patriraki yang  memaksa mereka untuk pasif dan tunduk. Suara Hati Istri bisa menjadi suatu aksi kolektif di mana di tiap episodenya menayangkan perjuangan dari pada istri-istri ini. Itu bakal lebih baik lagi, di tiap akhir acara ditampilkan nomor telpon pusat pengaduan atau lembaga layanan yang menangani KDRT. 

Jika itu semua dilakukan, bukannya tak mungkin serial Suara Hati Istri justru menjadi media perlawanan kolektif. Perempuan tidak hanya pasrah dengan kekerasan, tapi merebut agensinya, melaporkan, dan bersolidaritas. 

(Editor: Nurul Nur Azizah)

(Sumber Gambar: Indosiar)

Ruth Maria Artauli

Seorang mahasiswi UNPAD.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!