Dear para perempuan,
Saat kamu berani bermimpi besar, bagaimana dunia merespon mu?
Siapa yang berjalan bersamamu dan siapa yang mulai mundur, bahkan mencelamu?
Apakah ambisimu dirayakan, atau justru dianggap ancaman yang harus dijinakkan?
Di dunia yang serba patriarkis ini, ambisi perempuan tidak dilihat sama seperti bagaimana masyarakat merayakan ambisi laki-laki. Dalam sistem ini, laki-laki dianggap sebagai gender yang superior yang akan lebih banyak diuntungkan dalam akses, legitimasi, dan penerimaan sosial ketika mereka memiliki ambisi.
Ambisi laki-laki tidak hanya dianggap wajar, tetapi juga dirayakan. Laki-laki dilekatkan pada narasi kejantanan, yang mana dia berhak dan sudah seharusnya mengambil peran-peran strategis, produktif, dan menguntungkan.
Kejantanan laki-laki kemudian dipandang sebagai modal yang dapat meraih keuntungan, baik secara ekonomi, sosial, dan politik.
Situasi ini dianggap menjadi penyebab fragile masculinity atau maskulinitas rapuh pada laki-laki di masyarakat kita. Fragile masculinity hadir karena adanya ketimpangan tidak sehat di masyarakat yang akhirnya bisa berdampak besar. Kondisi ini akhirnya membentuk persepsi tentang siapa yang lebih berhak memiliki mimpi tinggi. Akhirnya, perempuan yang dianggap gender kedua, memiliki akses dan penerimaan yang terbatas terkait ambisinya, sedangkan laki-laki dianggap patut punya ambisi dan mimpi besar.
Baca juga: Perempuan Bekerja, Upaya Memutus Ketergantungan dan Menumbuhkan Kemandirian
Ambisi perempuan kerap dipandang sebagai ancaman, karena mengganggu tatanan gender dan dianggap mematikan ilusi superioritas laki-laki, seperti mungkin kita familiar dengan pernyataan ini:
“Jangan terlalu mandiri dong, kita harus jaga harga diri cowok!”
“jangan mimpi ketinggian, nanti nggak ada laki-laki yang kuat nunggu kamu!”
“Jangan terlalu fokus dengan karir, laki-laki akan enggan memilih kamu!
“Kalau mau bermimpi maka harus tau batasan, biar laki-laki tetap bertahan!”
Pernyataan di atas sekilas dianggap cukup normal. Akan tetapi, apa kita sadar kalau pernyataan tersebut selalu hadir ketika kita, para perempuan, sedang memilih dirinya, tubuhnya, suaranya, dan pilihannya? Apakah laki-laki dengan ambisi besar mendapatkan pernyataan yang sama?
Situasi di atas menjadi ‘wajar’ karena tanpa sadar kita menginternalisasikan budaya patriarki dan terjerat sistem kapitalisme di kehidupan kita.
Lalu terjadilah fragile masculinity atau maskulinitas rapuh, yaitu sebuah situasi yang membuat laki-laki merasa dalam kekuatan yang utuh atau sempurna.
Perempuan Ambisius Dianggap Mengancam Kejantanan Laki-Laki
Budaya patriarkilah yang kemudian membentuk dan membesarkan konstruksi sosial yang menempatkan gender dalam relasi yang hierarkis, yaitu satu dianggap dominan, sementara yang lainnya dianggap subordinat.
Dalam sistem ini, posisi dominan dilekatkan pada laki-laki, sedangkan posisi lebih rendah dilekatkan pada perempuan. Konstruksi tersebut kemudian menciptakan tuntutan berlapis bagi laki-laki untuk selalu lebih unggul, lebih kuat, lebih maskulin, dan selalu berada di garis terdepan.
Sistem yang tidak setara ini bukan hanya merugikan perempuan, namun juga merugikan laki-laki. Standar yang kaku dan tidak realistis ini, membentuk laki-laki secara sadar atau tidak sadar mempraktikan toxic masculinity, yaitu merasa harus terus mempertahankan dominasi dan kejantanannya.
Dari praktik inilah kemudian muncul fragile masculinity yang timbul sebagai dampak ketika laki-laki yang tak bisa kuat dan sempurna, kemudian merasakan gagal menjadi ‘jantan’ atau tidak menjadi ‘laki-laki sesungguhnya’.
Rasa ‘kejantanan’ atau nilai dirinya bergantung pada validasi eksternal, seperti harus lebih unggul dari perempuan, harus dominan, harus dibutuhkan, harus memimpin, harus lebih kuat secara ekonomi, emosi, atau sosial. Dan akhirnya, ketika realitas ini tidak sesuai, akhirnya rasa kejantanan itu runtuh.
Laki-laki dengan Fragile Masculinity Akan Melukai Kita Secara Perlahan
Bentuk normalisasi standar peran gender yang timpang membuat kita dengan atau tanpa sadar melekatkan dan dilekatkan dengan praktik-praktik fragile masculinity tersebut.
Dengan demikian, patriarki membentuk struktur yang menciptakan luka kolektif dan relasi kuasa yang tidak sehat bagi semua, khususnya perempuan. Luka dari fragile masculinity ini pun berdampak langsung padaku.
Misalnya, ini juga kerap terjadi. Seorang laki-laki yang mengkhianati karena pasangannya selalu menyebut mimpi besarnya adalah pergi jauh, belajar dengan merdeka, dan menikmati dunia. Laki-laki itu akhirnya menjadikan mimpi besar perempuan sebagai alasan untuk berkhianat karena sebenarnya ia tak mendukung perempuan pasangannya untuk pergi dan membebaskan pilihannya.
Dia hadir, tapi tidak benar-benar mendukung.
Dia datang, tapi tidak benar-benar mengulurkan tangan.
Dia duduk, tapi tidak benar-benar mendengarkan.
Dia tetap tinggal, tapi diam-diam berlari mencari perempuan lain yang bisa dia gapai ketika mimpiku sudah terwujud.
Dia memang tidak secara eksplisit mengucapkan pernyataan di atas,
tapi dia juga tidak benar-benar menginternalisasikan konsep kesetaraan dalam dirinya.
Seperti yang diutarakan sebelumnya, fragile masculinity tidak melulu berwujud tindakan yang agresif. Ia juga muncul melalui tindakan defensif yang didasari ketakutan, rasa tidak aman, dan keraguan diri dalam memenuhi tuntutan peran tradisional laki-laki. Sikap ini akhirnya banyak berdampak pada perempuan, terutama perempuan yang dianggap ambisius– yang dianggap melukai ego laki-laki dan akhirnya dia memilih pergi bahkan berkhianat.
Baca juga: Kenapa Takut Pada Kebaya? Laki-Laki Berhak Menolak Maskulinitas Kaku
Kata ‘perempuan ambisius’ ini pun sering dikonotasikan negatif, seolah-olah ambisi perempuan adalah sifat yang mengancam ego maskulin laki-laki. Padahal, perempuan tentu boleh memiliki ambisi. Ambisi adalah sifat manusia yang universal tidak melihat jenis kelaminnya. Perempuan yang berambisi berarti sadar akan pilihannya, memiliki arah, dan fokus terhadap masa depan dan dampaknya bagi orang-orang di sekitar. Akan tetapi, bagi laki-laki dengan fragile masculinity, ambisi ini sering dipersepsikan sebagai ancaman dan hal yang dianggap ‘merugikan’ hubungan.
Akhirnya, fragile masculinity bisa menimbulkan masalah dalam hubungan percintaan. Laki-laki dengan fragile masculinity akan merasa terancam oleh kelebihan dan pertumbuhan pasangannya. Rasa terancam ini bisa menjelma menjadi sikap defensif, penarikan diri, kontrol, kemarahan, merendahkan pasangan, hingga kekerasan. Dalam hal ini, pasanganku akhirnya melakukan kekerasan psikis– yaitu perselingkuhan.
Bersama Laki-Laki dengan Fragile Masculinity: Cinta Menjadi Simbol Kejantanan?
Ketika bersama laki-laki dengan fragile masculinity, hubungan kita tidak lagi menjadi setara.
Dia akan menyihir kita untuk sepakat bahwa perempuan memang harus lebih penurut, lebih lembut, dan lebih membersamai. Kita akan sering bertemu dengan praktik-praktik seperti menuntut perempuan untuk bergantung pada dirinya.
Hal ini karena standar maskulinitas pada laki-laki membuatnya merasa utuh ketika perempuan bergantung pada dirinya. Ketergantungan ini kerap dijadikan tolak ukur ‘nilai diri’, misalnya dengan meminta perempuan tidak bekerja sebagai bentuk validasi atas perannya sebagai ‘tulang punggung keluarga’, atau menuntut perempuan untuk bersikap pasif, menunggu, dan menggantungkan pemenuhan kebutuhannya terhadap laki-laki tersebut.
Ketika perempuan mampu menyelesaikan persoalannya sendiri, laki-laki dengan fragile masculinity dapat merasa malu, tidak berguna, dan tidak dihargai. Padahal, relasi yang setara bukanlah tentang ketergantungan sepihak, melainkan tentang partnership— hubungan yang memberi ruang bagi kedua belah pihak untuk mandiri, sekaligus saling mendukung dan membersamai tanpa menuntut hilangnya otonomi satu sama lain. Bersama laki-laki dengan hubungan yang sehat, kemandirian perempuan justru dipandang sebagai kekuatan, kelebihan, dan fondasi bagi hubungan yang saling menguatkan.
Oleh karena itu, menunjukan sisi lemah dapat menjadi sebuah rasa malu bagi laki-laki dengan fragile masculinity. Ia akan merasa harus selalu menjadi sosok yang kuat. Hal ini menjadi representasi atas simbol kejantanan dirinya.
Pada hubungan percintaan, laki-laki dengan fragile masculinity akan selalu menunjukan sisi diri yang kuat dan cenderung bersikap tertutup terkait masalah yang sedang dihadapi. Baginya, itu adalah bentuk menjaga harga diri, namun tanpa sadar hal tersebut membuat iklim pada hubungan menjadi tidak sehat, terbatas, dan tertutup.
Baca juga: Di Balik Romantis Film Ancika, Ada Bad Boy dan Maskulinitas Toksik
Dan akhirnya, muncul kebutuhan untuk terus mengambil peran secara dominan. Fragile masculinity pada dunia patriarki ini membuat pilihan laki-laki menjadi terbatas dan kaku. Pilihan tersebut seakan terbatas menjadi hitam dan putih. Bahwa ketika tidak menjadi dominan, berarti dia lemah. Bahwa ketika perempuan tersebut mengambil peran, maka dia tidak dihargai. Konsep ini akhirnya membuat hubungan menjadi timpang dan tidak sehat. Perempuan akan dibuat merasa bersalah, merasa egois, dan merasa berlebihan ketika menjadi sosok yang mandiri. Dan laki-laki akan merasa berhak untuk menuntut, menyalahkan, dan bertindak buruk atas konsekuensi dari perempuan yang mengambil peran kejantanannya.
Bagaimana Ambisi Perempuan Sebagai Ancaman Maskunilitas
Sebagai perempuan, kita sudah terpinggirkan secara sistemik ketika pertama kali dilahirkan di dunia yang patriarkis ini. Dunia patriarkis menuntut kita, para perempuan, untuk menjadi sosok manusia yang semu. Sosok yang harus mampu bertahan hidup tapi harus sesuai tuntutan dari standar manusia yang dianggap sebagai gender superior– yaitu laki-laki.
Apalagi di dunia yang patriarki ini, menuntut kita untuk mampu bertahan hidup, tapi ketika pertahanan hidup ini membentuk kita menjadi perempuan mandiri, kita justru disalahkan dan dianggap berlebihan. Kita, sebagai perempuan, diekspektasikan bertahan dengan berdamping bersama laki-laki, menggantungkan hidup kita, dan memposisikan diri kita tidak jauh lebih tinggi dari laki-laki.
Apalagi hidup sebagai perempuan yang tidak memiliki privilese. Kita harus berusaha 10x lipat lebih keras agar bisa meraih kelayakan hidup terlebih untuk meraih impian besar kita. Untuk perempuan yang tidak banyak memiliki akses untuk hidupnya, berambisi menjadi satu-satunya yang kita punya.
Akhirnya, ketika perempuan memilih untuk mewujudkan mimpi-mimpinya, justru pilihan ini berpotensi membuat seseorang pergi dan berkhianat. Seakan bermimpi bagi perempuan itu berlebihan, mengganggu, dan egois. Seakan seharusnya mimpi bagi perempuan memiliki batas– tidak boleh terlalu lama, terlalu dalam, dan terlalu tinggi.
Fragile masculinity akhirnya melihat ambisi perempuan sebagai sesuatu yang salah. Membuat perempuan mempertanyakan kembali kelayakan dirinya, pilihannya, dan tujuan hidupnya. Akibatnya, ambisi perempuan bukan dirayakan, melainkan dicurigai, dilawan, atau bahkan dihukum melalui pengucilan, delegitimasi, maupun kekerasan simbolik dalam relasi personal. Laki-laki dengan fragile masculinity akan membuat perempuan menguburkan mimpinya agar tetap dianggap ‘baik’ oleh laki-laki tersebut.
Melawan Patriarki Sebagai Kerja Kolektif
Fragile masculinity bukan permasalahan individual semata, kita juga perlu melihat ini sebagai sebuah permasalahan struktural dari sistem sosial, budaya, dan politik. Konsep ini terus bertahan karena banyak dari kita tidak tahu, tidak mengerti, atau bahkan sudah menyadari tetapi tidak memiliki ruang dan kuasa untuk bertindak.
Dengan menyadari ini, maka kita memahami pentingnya peran kolektif untuk mengikis budaya maskulinitas yang tidak sehat. Beberapa langkah yang bisa kita lakukan bersama antara lain:
- Membentuk kesadaran kritis di sekitar kita
Hal ini seperti membuka ruang diskusi, edukasi, dan refleksi tentang maskuliinitas di banyak ruang. Baik di ruang keluarga, pertemanan, komunitas, hingga di ruang publik. Upaya ini membuat kita lebih peka terhadap pola-pola kekerasan, kontrol, dan dominasi yang sering dianggap ‘normal’.
- Menentang narasi gender yang kaku
Kita stop narasi dan praktik-praktik dari standar “laki-laki harus lebih kuat dan hebat, dan perempuan harus menjadi pengikut dan pendukung yang sadar diri.’, Mengkritisi dan menolak standar maskulinitas beracun dapat meluruhkan batasan akan ekspresi emosi, agresi, dan nilai-nilai kontrol dan kuasa laki-laki atas orang lain.
- Menciptakan ruang aman untuk berekspresi
Dimulai dari hubungan terdekat, dukung ruang-ruang untuk laki-laki dan semua gender mengekspresikan emosi, kerentanan, kebutuhan dirinya tanpa stigma dan kekerasan dalam bentuk apapun.
- Memperkuat solidaritas dan keberpihakan bagi para korban
Ketika ada seseorang di sekitarmu yang mendapatkan dampak buruk dari praktik fragile masculinity, berhenti menyalahkan bahwa dirinyalah penyebab laki-laki tersebut berbuat demikian. Sadarkan bahwa kita adalah subjek yang utuh dan otonom untuk berhak memilih tujuan hidupnya.
Untuk Perempuan yang Menolak Mengecilkan Diri
Semoga aku, kamu, dan kita semua bisa hidup beriringan dan berdampingan.
Tanpa ada yang perlu merasa terluka atas pilihan dari mimpi-mimpi kita.
Tanpa ada yang perlu melukai melihat kita bertumbuh.
Tanpa ada yang perlu merasa takut ketika kita berhasil menggapai mimpi.
Kamu boleh bermimpi seluas apapun.
Kamu tetap boleh menghidupi mimpimu di umur 15, 25, 55, dan berapapun.
Tidak ada yang berhak berkata “cukup”, “jangan”, atau “tidak boleh” selain dirimu sendiri.
Kamu berhak berbangga diri menjadi perempuan yang ambisius.
Karena budaya patriarki tidak memberikan kita ruang untuk itu.
Budaya patriarki terlalu takut terhadap perempuan yang sadar akan pilihannya.
Budaya patriarki terlalu takut terhadap perempuan yang tahu apa yang dia inginkan,
dan takut kepada perempuan yang berani berjalan menggapai pilihannya dengan sadar.
Upayamu untuk tetap bermimpi adalah upayamu untuk turut melawan patriarki.
Aku sempat bersedih dan marah karena dihianati laki-laki karena alasan mimpi-mimpiku.
Namun kini aku sadar bahwa aku bukan sedang kehilangan tapi sedang diselamatkan.
Aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk mendekatkanku dengan mimpiku, dan ditinggalkan oleh pasangan dengan fragile masculinity ternyata sebuah jawaban dari doa tersebut.
Untuk Laki-Laki yang Juga Dilukai Patriarki
Untuk kamu dan semua laki-laki yang terbebani dengan standar tidak rasional dari budaya patriarki, I pray for your heal and courage. Tidak apa-apa untuk bilang kalian tidak kuat, tidak tahu, dan tidak bisa. Tidak ada manusia yang bisa selalu kuat, selalu memimpin, selalu bisa unggul dari pasangannya, dan selalu selalu lebih hebat dari siapapun.
Rasa lelah, takut, dan bingung kalian dalam memenuhi ekspetasi sosial adalah luka yang sangat jarang diakui, tetapi valid dan nyata.
I hope you heal from what patriarchy did to you.
Dari tuntutan untuk menekan emosi.
Dari rasa berbeda karena memilih menjadi lembut.
Dari ketakutan dianggap bukan laki-laki utuh karena menjadi jujur terhadap diri sendiri.
You are allowed to be a whole, imperfect human.
You will always be loved, even if you do not fit traditional norms of men.
Keberadaanmu tetap bermakna, cintamu tetap utuh bahkan ketika kamu tidak sesuai standar yang diharapkan patriarki.
Semoga dunia ini bisa lebih ramah dan setara bagi kita semua.
A world where no one has to shrink themselves just to be loved.
(Editor: Luviana Ariyanti)






