Karakter Gwan-sik dalam drama When Life Gives You Tangerines (sumber foto: Netflix)

Gwan-sik dan Standar Baru Laki-laki Sehat Emosional

Kehadiran Gwan-sik memperlihatkan betapa langkanya laki-laki yang bersedia hadir tanpa menguasai, mencintai tanpa mendikte, dan memimpin tanpa menekan.

Drama When Life Gives You Tangerine hadir sebagai jeda, sebuah ruang bernapas yang sederhana, namun signifikan. 

Dalam hitungan hari, drama ini menjadi perbincangan luas karena kemunculan satu sosok laki-laki yang segera dirayakan sebagai “si paling green flag” yaitu Gwan-sik. 

Fenomena ini menarik dicermati bukan sebagai persoalan hiburan semata. Tetapi sebagai cermin bagaimana generasi muda, khususnya perempuan, menegosiasikan ulang kebutuhan akan relasi yang aman dalam konteks budaya yang terus menormalisasi bentuk-bentuk maskulinitas yang tidak sehat. 

Ketika warganet berceloteh “real men don’t exist… kecuali Gwan-sik,” pernyataan itu sesungguhnya menyingkap kelelahan kolektif atas dinamika hubungan yang serba cair, tidak pasti, serta sering dibayangi asimetri emosional yang merugikan perempuan.

Baca Juga: Drama Korea ‘Tempest’: Representasi Perempuan di Kancah Politik Tak Seindah di Layar Kaca

Di tengah dominasi narasi romansa populer yang masih mengglorifikasi laki-laki manipulatif, dingin, atau keras kepala sebagai figur ideal yang “layak dikejar,” Gwan-sik muncul sebagai antitesis terhadap formula tersebut. When Life Gives You Tangerine tidak menawarkan laki-laki chaebol, tidak mengandalkan tropes bad boy who changes for love.” Juga tidak memusatkan romansa pada intensitas konflik. 

Sebaliknya, drama ini memilih menggambarkan realitas yang rapat dengan kehidupan banyak perempuan: rumah tangga yang rentan secara finansial, relasi keluarga yang melelahkan, beban mental yang tidak pernah dibagi rata, dan ruang domestik yang sering membuat perempuan menjadi penyangga utama. 

Di latar keseharian seperti inilah, sosok Gwan-sik memperoleh relevansi politiknya: ia hadir sebagai figur laki-laki yang tidak menjadikan cinta sebagai panggung pembuktian maskulinitas, tetapi sebagai ruang koeksistensi, kerja emosional bersama, dan tanggung jawab yang tidak diucapkan dengan retorika besar.

Kehadiran Gwan-sik ini justru menantang struktur relasi gender yang sering diperkuat oleh media. Secara diam-diam, ia menggeser gagasan tentang apa itu “laki-laki baik”. Ia tidak dominan, tidak agresif, tidak superior; kualitas-kualitas yang masih sering dipuja dalam kultur patriarkal. Sebaliknya, ia tenang, jujur, konsisten, dan peka terhadap kebutuhan emosional pasangannya. 

Cara ia menunjukkan cinta bukan melalui pengorbanan spektakuler, tetapi melalui kehadiran sehari-hari yang stabil. Membantu pekerjaan tanpa diminta, berbicara jelas tanpa membuat pasangan menebak-nebak, mendengarkan tanpa defensif, dan bekerja secara kolektif menghadapi beban hidup. 

Baca Juga: ‘Cinta Tak Seindah Drama Korea’: Dilema Cinta dan Persahabatan yang Saling Menguatkan

Dalam kajian feminis, jenis perhatian ini disebut sebagai care work. Sebuah bentuk kerja reproduktif yang dalam masyarakat patriarkal hampir sepenuhnya ditumpukan kepada perempuan. Gwan-sik, dalam hal ini, melakukan sesuatu yang sederhana namun subversif: ia berbagi kerja perawatan emosional tanpa menganggapnya sebagai ancaman terhadap identitas maskulinnya.

Fenomena Gwan-sik menyoroti kegagalan budaya populer dalam membayangkan laki-laki yang sehat secara emosional. Di tengah kondisi yang selama bertahun-tahun ada standar maskulinitas laki-laki yang hadir tidak dengan kepekaan dan stabilitas emosi. Standar maskulin tersebut bisa dilihat misalnya laki-laki yang tidak meledak-ledak dianggap kurang menarik; laki-laki yang komunikatif dianggap kurang maskulin; laki-laki yang melakukan care dianggap pengecualian, bukan norma. 

Karena itu, ketika Gwan-sik muncul sebagai representasi alternatif, ia segera disambut hangat. Bukan karena ia sempurna. Tetapi karena ia mengisi kekosongan struktural dalam representasi laki-laki yang mendukung kesejahteraan emosional perempuan. 

Bahwa sosok seperti ini begitu dihormati justru mengungkap betapa langkanya laki-laki yang bersedia hadir tanpa menguasai, mencintai tanpa mendikte, atau memimpin tanpa menekan.

Baca Juga: Unheard Voice: Efek Budaya Patriarki yang Tidak Banyak Dibahas di Drama Kingdom

Dalam konteks hubungan modern. Ketika ghosting menjadi kebiasaan, komitmen dianggap opsional, dan komunikasi seringkali dibatasi pada respons singkat di aplikasi pesan, kehadiran figur seperti Gwan-sik terasa hampir utopis. Namun utopis bukan berarti mustahil. Kejujuran, stabilitas, konsistensi, kehadiran faktual sebetulnya banyak dijumpai dalam kehidupan nyata. Tetapi sering tak terlihat karena budaya kita lebih menghargai laki-laki yang dramatis daripada laki-laki yang diam-diam bekerja. Kebaikan harian tidak viral, tidak memiliki sudut kamera indah, dan tidak memproduksi konflik yang menjadi bahan bakar narasi. Padahal, dalam relasi yang setara, justru itulah pondasinya.

Dengan demikian, representasi seperti Gwan-sik bukan sekadar alternatif estetika. Melainkan intervensi politis terhadap bagaimana lingkungan selama ini memproduksi maskulinitas. Ia memberi ruang bagi imajinasi tentang laki-laki yang tidak menjadikan perempuan sebagai tempat pendaratan ego mereka, tetapi sebagai mitra dalam kerja emosional yang setara. 

Representasi seperti ini penting karena ia membongkar akar normalisasi kekerasan emosional yang kerap muncul dalam romansa populer. Sambil membuka peluang bagi hubungan yang tidak mereduksi perempuan menjadi penyembuh luka laki-laki, tetapi memungkinkan perempuan hadir sebagai subjek dengan ruang aman bagi dirinya sendiri.

Pada akhirnya, meski Gwan-sik adalah fiksi, nilai-nilai yang ia hadirkan bukanlah imajinasi. Ia merepresentasikan bentuk maskulinitas yang tidak destruktif, tidak rapuh, dan tidak dibangun dari hierarki gender yang timpang. Laki-laki seperti ini ada, tetapi tidak selalu tampil mencolok. Mereka hadir dalam bentuk seseorang yang tidak membuat kita merasa sendirian. Seseorang yang bertekad tumbuh bersama tanpa menjadikan cinta sebagai kompetisi. 

Dan mungkin, tugas kita bukan sekadar mencari Gwan-sik. Tetapi memperjuangkan struktur sosial yang memungkinkan lebih banyak laki-laki tumbuh dengan cara yang tidak harus bertentangan dengan kemanusiaannya sendiri.

(sumber foto: Netflix)

Fauzahra Afrila

Mahasiswi Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!