Ketika pertama kali membuka halaman-halaman novel karya Okky Madasari berjudul “Entrok” (2010), saya pikir saya hanya akan membaca catatan sejarah tentang represi Orde Baru. Namun, saya salah.
Membaca Entrok bukan sekadar membaca fiksi; bagi saya, ini adalah proses berkaca pada cermin retak yang menunjukkan wajah perempuan Indonesia dari masa ke masa—termasuk wajah saya sendiri.
Saya merasa seperti Marni, tokoh perempuan dalam Entrok, yang bermandikan keringat demi sekeping koin. Sekaligus merasa seperti Rahayu, anak Marni, yang sesak napas karena dogma. Di dalam novel ini, Okky tidak hanya bercerita tentang kemiskinan; ia bercerita tentang konstruksi sosial yang membelenggu tubuh perempuan, dimulai dari sepotong pakaian dalam.
Mari kita bicara tentang Marni. Bagi sebagian orang, ia adalah representasi perempuan sebelum istilah “feminisme” atau “pemberdayaan” menelisik ke ruang-ruang percakapan sehari-hari.
Bagi Marni, kemiskinan adalah penjara yang nyata. Di Singget, sebuah desa yang dikepung oleh tradisi dan keterbatasan, Marni tumbuh dengan satu obsesi yang mungkin terdengar remeh bagi kita hari ini: memiliki entrok (bra).
Bagi Marni remaja, payudara yang hanya dibalut kain lusuh adalah simbol kerentanan. Entrok adalah kemewahan sekaligus “bukti” bahwa ia bukan sekadar kuli angkut yang bisa dipandang sebelah mata. Saat saya memposisikan diri sebagai Marni, saya merasakan betul betapa menyakitkannya menjadi perempuan yang berada di posisi itu, dipinggirkan. Tanpa harta, tanpa pendidikan, dan tanpa perlindungan, tubuh perempuan hanyalah dipandang sebagai komoditas, bahkan beban.
Baca Juga: Dari Kapal Madleen ke Jalanan Jakarta: Perempuan Melawan Penindasan di Palestina
Marni memilih untuk tidak menyerah pada nasib kemiskinannya. Ia bekerja melampaui batas kemampuan tubuhnya. Ia menjadi “perempuan kuat” dalam arti yang paling harfiah dan paling getir. Namun, di sinilah letak kritik Okky Madasari: ketika seorang perempuan berhasil berdaya dengan dirinya secara ekonomi, dunia di sekitarnya—yang didominasi oleh laki-laki dan sistem yang patriarki—akan selalu mencari cara untuk menjatuhkannya.
Marni kaya, tapi ia tetap dianggap “liyan” karena ia perempuan. Terlebih, saat dia memilih jalan spiritualitas yang berbeda dengan orang kebanyakan yaitu melalui sesaji. Padahal, bagi Marni, sesaji adalah bentuk syukurnya kepada bumi yang telah memberikannya hidup ketika manusia lain hanya memberinya penghinaan.
Saya pun bertanya-tanya, bukankah kita masih sering melakukan hal yang sama pada hari ini? Kita begitu mudah menghakimi pilihan spiritual perempuan lain hanya karena tidak sesuai dengan standar moralitas mainstream yang kita anut.
Lalu muncul Rahayu, anak perempuan Marni. Jika Marni adalah representasi dari insting bertahan hidup yang purba, Rahayu adalah representasi dari logika dan iman yang terinstitusi. Rahayu adalah hasil “jerih payah” Marni agar anaknya tidak berakhir menjadi kuli seperti dirinya.
Rahayu sekolah, Rahayu pintar, dan Rahayu menjadi religius. Namun, di sinilah tragedi itu bermula.
Baca Juga: Diskusi Diintimidasi, Aksi Direpresi: Apakah Kita Kembali ke Era Orde Baru?
Sebagai pembaca perempuan, saya merasa sangat sesak saat melihat keretakan hubungan ibu dan anak ini. Rahayu dengan segala pendidikan “modern”-nya justru menjadi orang pertama yang menghakimi ibunya sendiri. Ia memandang sesaji ibunya sebagai dosa besar, sebagai “kotoran” yang harus dibersihkan.
Okky Madasari dengan sangat cerdas menunjukkan bahwa pendidikan terkadang bisa menjadi pisau bermata dua. Ia bisa membebaskan, tapi ia juga bisa membangun tembok baru. Rahayu terjebak dalam hitam-putih agama yang kaku. Ia lupa bahwa uang yang membiayai sekolahnya dan sajadah yang ia gunakan untuk bersujud adalah hasil dari keringat ibunya yang ia anggap “berlumur dosa” itu.
Saya merasa seperti Rahayu saat saya duduk di bangku kuliah, merasa lebih tahu dari orang tua saya, merasa paling benar dengan segala teori dan dogma yang saya telan bulat-bulat.
Dalam kacamata feminisme, patriarki sedang bekerja mengadu perempuan vs perempuan. Makanya, kita bisa melihat betapa perempuan dikonstruksikan untuk menjadi “polisi moral” bagi perempuan lain, bahkan bagi ibu kita sendiri, tanpa pernah benar-benar mencoba memahami luka yang mereka bawa dari masa lalu.
Baca Juga: Moetiah, Gerwani yang Dibunuh Atas Nama Politik Orde Baru
Di satu sisi, hal tersebut juga merupakan bentuk pelanggengan kekerasan struktural yang halus: bagaimana institusi (sekolah dan agama) sering kali mencabut akar empati kita demi kepatuhan pada aturan.
Hal yang mencolok, musuh terbesar dalam Entrok adalah soal “sepatu lars”─simbol militerisme Orde Baru yang merembes hingga ke sumur-sumur rumah penduduk.
Marni, meski mandiri secara ekonomi, tidak pernah benar-benar memiliki uangnya. Ia harus menyuap oknum tentara, ia harus memberi “sumbangan” yang dipaksakan, dan ia harus tunduk pada birokrasi yang predator.
Di sini, Okky Madasari memberikan kritik tajam: dalam sistem yang korup, perempuan adalah sasaran empuk. Tubuh dan keringat perempuan diperas untuk menghidupi mesin kekuasaan yang maskulin dan bengis.
Hal ini mengingatkan saya pada konsep “Ibuisme Negara” yang digagas oleh akademisi Julia Suryakusuma dalam karyanya “State Ibuism: The Social Construction of Womanhood in New Order Indonesia” (2011). Negara mendefinisikan perempuan hanya sebagai pelengkap, sementara di sisi lain, negara juga bertindak sebagai “bapak” otoriter yang menindas kedaulatan ekonomi perempuan seperti Marni.
“Entrok-entrok” yang Terus Bermunculan
Membaca ulang kisah mereka membuat saya bertanya: apakah kita sudah benar-benar merdeka? Secara fisik, mungkin kita tidak lagi dipaksa menyetor uang kepada sersan desa. Namun, “entrok-entrok” baru terus bermunculan.
Hari ini, entrok itu berbentuk standar kecantikan di media sosial yang memaksa kita “menyangga” citra diri agar diterima publik. Ia hadir dalam tuntutan untuk menjadi career woman sekaligus ibu rumah tangga yang sempurna tanpa cela—sebuah eksploitasi tenaga perempuan yang dibungkus dengan narasi “perempuan hebat”.
Marni mengajarkan saya tentang ketangguhan yang tak tergoyahkan. Ia adalah bukti bahwa perempuan bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol. Namun, ia juga merupakan pengingat bahwa materi saja tidak cukup jika kita tidak memiliki posisi tawar di mata hukum dan sosial.
Rahayu mengajarkan saya tentang integritas dan keberanian untuk berkata “tidak” pada ketidakadilan. Namun, ia juga menjadi cermin bagi kesombongan intelektual kita. Ia mengingatkan kita bahwa keberagaman perspektif—termasuk cara seseorang memeluk spiritualitas—adalah sesuatu yang harus dihormati, bukan dihakimi.
Novel Entrok bukan sekadar memoar tentang masa lalu yang kelam. Ia adalah “alarm” yang terus berbunyi. Okky Madasari berhasil memotret bagaimana patriarki, militerisme, dan fanatisme agama bekerja sama untuk saling memojokkan perempuan ke sudut ruangan yang sempit.
Sebagai pembaca yang mencoba ‘menjadi’ mereka, saya merasa luka Marni dan Rahayu adalah luka kolektif kita. Kita masih sering diminta “tahu diri”. Kita masih sering dianggap sebagai warga negara kelas dua dalam pengambilan keputusan besar. Dan yang paling menyedihkan, kita masih sering saling menjatuhkan antarsesama perempuan karena perbedaan cara pandang atau latar belakang.
Baca Juga: ‘Orde Baru Itu Masih Ada, Hanya Berganti Jas’: Film ‘Eksil’ Ceritakan Nasib Diaspora Penyintas 1965
Jika ada satu hal yang bisa kita pelajari dari Entrok, itu adalah bahwa perjuangan perempuan tidak pernah linier. Perjuangan itu melingkar, kadang maju, kadang mundur, dan sering kali harus dimulai lagi dari titik yang sama. Marni telah mendapatkan entrok-nya, dan Rahayu telah menemukan suaranya.
Sekarang, pertanyaannya adalah: apa yang sedang kita perjuangkan hari ini? Apakah kita akan terus menjadi korban dari sistem yang menindas, ataukah kita akan mulai menjahit identitas kita sendiri—sebuah kedaulatan yang tidak bisa didikte oleh negara, agama, maupun tradisi yang membelenggu?
Saya menutup buku ini dengan dada yang berat, namun dengan mata yang lebih terbuka. Entrok adalah sebuah tamparan yang kita butuhkan agar kita tidak lagi tertidur dalam kenyamanan yang semu.
Selama masih ada “sepatu lars” yang menginjak hak-hak manusia, dan selama masih ada perempuan yang merasa malu atas tubuhnya sendiri, maka kisah Marni dan Rahayu belum benar-benar selesai.
Kita adalah kelanjutan dari cerita itu. Dan kita punya pilihan untuk menulis perjuangan dan perlawanan perempuan atas penindasan.






