Beberapa waktu lalu, seorang teman berdiskusi dengan saya tentang simbolisme tulang rusuk pada perempuan. Konon, Hawa berasal dari tulang rusuk Adam. Namun analogi itu lantas dimaknai sebagai simbol bahwa perempuan adalah ‘bagian pelengkap’ dari laki-laki—sosok yang dianggap ‘utuh’. Kawan saya merasa resah karena simbol tersebut tidak lagi dipahami sekadar sebagai metafora. Melainkan seolah menjadi dasar pembenaran atas peminggiran posisi perempuan.
Ketika perempuan didefinisikan sebagai bagian yang berasal dari tulang rusuk laki-laki, makna bahwa seluruh manusia diciptakan dari tanah pun seakan memudar. Analogi Hawa yang berasal dari tulang rusuk Adam terus melahirkan beragam tafsir yang tidak selalu netral.
Simbol tulang rusuk sering dimaknai sebagai bentuk pelengkap. Namun, ketika pelengkap dipahami bukan sebagai pendamping yang sejajar, melainkan sebagai subordinat, makna simbol itu bergeser menjadi legitimasi dominasi. Perempuan kemudian dipandang sebagai sosok ideal yang sabar dan patuh. Sementara hak serta keberadaannya sebagai individu kurang diperhitungkan. Simbol yang semestinya mengandung makna protektif justru kerap dimanfaatkan dalam relasi kuasa sosial.
Dalam perspektif psikologi analitik, Carl Jung menjelaskan konsep anima dan animus sebagai sisi feminin dalam diri laki-laki dan sisi maskulin dalam diri perempuan. Keduanya bukan persoalan jenis kelamin biologis, melainkan unsur psikis yang saling melengkapi dalam proses menuju keutuhan diri. Ketertarikan pada pasangan sering kali dipengaruhi oleh proyeksi aspek ini, yang terbentuk melalui pengalaman dan budaya.
Baca Juga: Stop Normalisasi KDRT: Jangan Pura-Pura Sayang Istri, Namun Sejatinya Menyakiti
Seorang laki-laki yang menemukan ketenangan melalui figur perempuan dalam mimpinya dapat dipahami sedang berhubungan dengan anima, yaitu sisi kelembutan dalam dirinya. Sebaliknya, perempuan yang belajar menegaskan keputusan sedang mengaktifkan animus, sisi ketegasan batiniah. Dalam kerangka ini, simbol tulang rusuk seharusnya dapat dibaca bukan sebagai tanda subordinasi, melainkan sebagai metafora keterhubungan dan keseimbangan psikologis.
Namun, relasi antar-manusia tidak hanya ditentukan oleh dinamika batin. Martin Buber menegaskan bahwa hubungan yang autentik dibangun dalam pola I–Thou (saya-anda), bukan I–It (saya-itu). Ketika seseorang diperlakukan sebagai objek, relasi berubah menjadi fungsional dan timpang. Dalam kenyataan sosial, pola I–It masih kerap muncul. Termasuk dalam cara perempuan diposisikan sebagai pelengkap atau fungsi tertentu dalam kehidupan laki-laki.
Secara filosofis, manusia setara sebagai subjek. Perbedaan peran tidak seharusnya berujung pada hierarki nilai. Ketika simbol tulang rusuk dibaca secara literal dan hierarkis, ia berpotensi mengukuhkan relasi yang tidak dialogis. Sebaliknya, jika dimaknai sebagai simbol keterhubungan, ia justru dapat mengarah pada relasi yang saling mengakui.
Baca Juga: Hari Perempuan Internasional 2026: Perempuan Bersatu Lawan Penghancuran Atas Tubuh
Menghargai perempuan sebagai subjek berarti memandangnya sebagai pribadi yang utuh, bukan sekadar simbol ideal atau pelengkap. Dalam relasi yang dialogis, laki-laki dan perempuan hadir sebagai pribadi yang saling berhadapan, bukan saling menguasai. Tanpa memandang gender, setiap manusia memiliki martabat yang sama untuk diperlakukan secara adil dan setara.
Secara teoretis, sebagaimana dikemukakan oleh George Lakoff dan Mark Johnson, bentuk-bentuk metafora yang hadir dalam perpaduan bahasa merefleksikan cara berpikir manusia secara menyeluruh. Metafora tidak lagi dipahami sebagai gaya bahasa, kiasan, atau sekadar makna literal, melainkan sebagai sarana yang memungkinkan manusia memahami konsep-konsep abstrak, yaitu memaknai hal-hal yang secara langsung belum dapat diproses oleh pikiran. Dengan demikian, metafora menjadi semacam definisi atau deskripsi konseptual yang tersirat dalam satu kata atau kalimat.
Pada hakikatnya, konsep tulang rusuk dapat dipandang sebagai bentuk metafora yang membantu proses pemahaman tersebut. Secara fisik, tulang rusuk memang merupakan bagian tubuh, tetapi ketika dimaknai secara metaforis, ia melahirkan beragam penafsiran. Tulang rusuk dapat dimaknai sebagai sesuatu yang melengkapi, sekaligus merepresentasikan fenomena dominasi dalam ketimpangan gender. Melalui metafora, manusia membangun kerangka berpikir yang memiliki tujuan, arah, dan kemungkinan untuk tersesat.
Baca Juga: Putus dengan Teman Ternyata Sama Menyakitkan dengan Putus Cinta
Contoh lain dapat dilihat pada perdebatan. Dalam kerangka metaforis tertentu, perdebatan memunculkan efek berupa keinginan untuk menang, ketegangan, upaya menjatuhkan lawan, serta kategori menang dan kalah. Hal ini menunjukkan bagaimana metafora membentuk kerangka berpikir manusia sehingga aktivitas tersebut dipahami sebagai proses yang berorientasi pada tujuan dan hasil. Di Indonesia, metafora serupa pada pepatah “air yang tenang menghanyutkan” yang memberikan pengertian tentang bagaimana yang awalnya netral menjadi pembenaran pada relasi kuasa. Namun, ketika makna perdebatan dibalik menjadi sesuatu yang menyenangkan, kerangka berpikir yang muncul justru bersifat harmonis, indah, menggembirakan, dan saling menyesuaikan.
Dalam konteks ini, persoalan utama bukan terletak pada keberadaan simbol, melainkan pada cara simbol tersebut dipahami dan direproduksi dalam kesadaran kolektif. Bahasa, sebagai ruang tempat metafora hidup, turut membentuk cara manusia memandang realitas sosial. Ketika metafora tentang perempuan terus diulang dalam kerangka pelengkap atau subordinat, maka kerangka berpikir yang lahir pun cenderung mengarah pada relasi yang timpang. Sebaliknya, ketika metafora dibaca sebagai keterhubungan yang setara, ia membuka kemungkinan bagi terbentuknya relasi yang dialogis dan saling mengakui.
Baca Juga: Feminis Selalu Marah-Marah? Bagaimana Tidak, Pengalaman Hidup Perempuan Ditindas Patriarki
Di titik ini, membaca ulang simbol tulang rusuk menjadi sebuah kerja reflektif. Ia bukan lagi sekadar kisah asal-usul, tetapi cermin bagi cara manusia memahami diri dan orang lain. Metafora dapat membatasi, tetapi juga dapat membebaskan, bergantung pada kesadaran yang menyertainya. Dengan menyadari bahwa setiap metafora adalah konstruksi konseptual, manusia memiliki ruang untuk menafsirkan ulang makna yang selama ini diterima sebagai sesuatu yang final.
Perempuan, dengan demikian, tidak lagi hadir sebagai bagian yang diceritakan, melainkan sebagai subjek yang turut menceritakan. Relasi yang terbangun bukan relasi antara yang utama dan yang melengkapi, tetapi antara dua pribadi yang sama-sama utuh. Pada titik inilah simbol menemukan kembali makna terdalamnya: bukan sebagai penentu posisi, melainkan sebagai pengingat akan keterhubungan yang setara dalam kemanusiaan.
Daftar Pustaka
Buber, M. (1970). I and Thou. Scribner.
Lakoff, George & Johnson, Mark. 2003. Metaphors We Live By. Chicago: University of Chicago Press.
Jung, C. G. (1981). The archetypes and the collective unconscious. Princeton University Press.






