Membebaskan Perempuan Iran Tapi dengan Mengebom? Lagi-Lagi Rakyat Jadi Korban Perang Amerika-Israel Versus Iran

Serangan Amerika dan Israel terhadap Iran menyasar fasilitas publik dan menyebabkan jatuhnya korban jiwa di kalangan masyarakat sipil.

Ribuan orang berkumpul memadati alun-alun dan jalanan kota Minab, Provinsi Hormozgan, yang terletak di Iran Selatan untuk mengikuti pemakaman massal. Mereka memakai pakaian berwarna gelap sebagian membawa foto anak-anak yang tewas.

Hari itu Selasa 3 Maret 2026 Iran menggelar upacara pemakaman bagi 165 siswa dan staf Sekolah Dasar putri Shajareh Tayyebeh yang tewas akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel.

Serangan terhadap fasilitas publik tersebut berlangsung tak lama setelah Amerika dan Israel mengumumkan serangan gabungan terhadap Iran. Kejadian ini merupakan serangan paling mematikan dalam perang melawan Iran yang menargetkan warga sipil.

Beberapa hari sebelumnya, tepatnya Sabtu pagi di pekan terakhir bulan Februari sekitar pukul 10 waktu setempat, suasana belajar di Sekolah Dasar putri Shajareh Tayyebeh berubah menjadi kekacauan.

Suara ledakan terdengar setelah sebuah rudal menghantam gedung sekolah, sebagaimana laporan sejumlah media lokal seperti dikutip Al Jazeera. Hantaman rudal menyebabkan bangunan gedung hancur dan atap sekolah runtuh. Akibatnya anak-anak dan para guru terjebak di bawah reruntuhan.

Para murid yang tewas berusia antara 7 hingga 12 tahun. Selain korban tewas terdapat juga korban yang terluka sebanyak 95 orang seperti dilaporkan media pemerintah.

Serangan yang digambarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai “operasi tempur besar-besaran” tersebut menyasar sejumlah lokasi di Iran, termasuk ibukotanya, Teheran. Ledakan pertama kali terdengar di ibu kota saat warga Iran berangkat bekerja di hari pertama minggu itu.

Baca juga: Perang Iran-Israel: Ingatkan Tiap Perang Selalu Perempuan dan Anak Jadi Korban

Dalam waktu singkat serangan tersebut menyebar dengan cepat ke seluruh negeri. Serangan juga dilaporkan di berbagai kota di 24 provinsi, termasuk kota suci Qom, serta Karaj, Isfahan, dan Kermanshah.

Serangan pada Sabtu pagi tersebut juga menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei serta anggota keluarganya. Sejumlah petinggi senior Iran juga tewas, termasuk Menteri Pertahanan Amir Nasirzadeh.

Serangan-serangan ini terjadi di tengah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran mengenai program nuklir dan rudal balistik Iran. Dan setelah berminggu-minggu ancaman yang meningkat dari Trump serta delapan bulan setelah Amerika dan Israel melancarkan Perang 12 Hari melawan Iran.

Momentum serangan yang berlangsung di tengah proses negosiasi menurut Dina Yulianti Sulaeman, pengamat Timur Tengah sekaligus dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran menunjukkan motivasi Amerika Serikat bukan menghentikan proyek nuklir Iran seperti klaimnya selama ini.

Pasalnya menurut Dina, Iran sudah mau duduk di meja perundingan. Bahkan sebelum serangan dilancarkan, Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi menyatakan Iran sudah sepakat mengambil langkah signifikan dalam menghentikan penimbunan materi nuklir. Langkah ini menurutnya menandai terobosan besar dalam negosiasi tidak langsung dengan Amerika.

Badr Albusaidi menjelaskan Iran sepakat untuk tidak lagi menimbun uranium yang diperkaya dan akan mengurangi stok yang ada ke tingkat terendah, serta mengonversinya menjadi bahan bakar permanen. Iran juga menjanjikan mereka tidak akan pernah memiliki bahan nuklir yang dapat digunakan untuk membuat bom.

“Ketika perundingan masih berjalan, Amerika justru melakukan serangan, artinya masalahnya bukan nuklir,” kata Dina kepada Konde.co, Kamis 5 Maret 2026.

Kalau merujuk pada pidato Trump saat deklarasi perang, Dina menjelaskan, secara terang Trump menyebut kesalahan Iran adalah membantu Hamas. Yakni organisasi politik dan militan Palestina yang berupaya membebaskan Palestina dari pendudukan Israel melalui perlawanan bersenjata dan sosial.

Baca juga: Kematian Karena Jilbab Terjadi Lagi di Iran, Kali Ini Menimpa Armita Geravand

“Menurut saya akar masalahnya di situ. Sementara soal nuklir atau demokrasi atau ham itu adalah kamuflase saja. Tapi sebenarnya akarnya adalah Iran membantu para pejuang Palestina, sehingga serangan ini dilakukan berdua, Israel dan Amerika Serikat,” paparnya.

Amerika Serikat dalam serangan ini menurut Dina posisinya adalah membantu Israel. Sementara pihak yang sangat berkepentingan atas penggulingan rezim di Iran adalah Israel. Iran sendiri sudah memberikan dukungan penuh pada perjuangan rakyat Palestina sejak 1979.

Berbeda dengan negara-negara lain, Dina menambahkan dukungan Iran kepada Palestina bukan hanya bantuan kemanusiaan tetapi juga persenjataan dan alih teknologi. Ini membuat Palestina sekarang bisa memproduksi senjata sendiri. Hal ini bagi Israel dianggap sebagai ancaman besar. Sementara kebijakan luar negeri Amerika memandang bahwa ancaman terhadap Israel dianggap sebagai ancaman bagi Amerika. Situasi inilah yang menjadi alasan utama serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Pandangan serupa disampaikan Ani Widyani Soetjipto, pengajar Hubungan Internasional dan Kajian Gender Universitas Indonesia. Menurutnya Israel memiliki kepentingan paling besar terkait serangan terhadap Iran. Sementara Amerika Serikat posisinya membantu Israel dengan janji kalau pemimpin tertinggi Iran mati, maka akan ada pergantian rezim yang akan berdampak baik bagi kawasan Timur Tengah atau Asia Barat. Artinya jalan Israel untuk menduduki Palestina makin terbuka

Jadi alasan utama serangan Israel ke Iran adalah soal Palestina. Iran konsisten sejak dulu hingga sekarang sebagai pendukung Palestina dalam melawan agresor Israel yang paling tangguh di kawasan timur tengah.

“Jadi perang ini bukan perang agama, Islam vs Kristen, Sunni vs Syiah. Bukan pula soal demokrasi dan nondemokrasi, tetapi soal settler colonialism Israel yang didukung Amerika untuk memperluas kekuasaan di seluruh wilayah Timur Tengah,” kata Ani kepada Konde.co, Rabu 4 Maret 2026.

Serangan Israel terhadap Iran, Ani menambahkan harus dilakukan karena jika solusi dua negara antara Israel dan Palestiwa terwujud, maka Israel akan terancam. Ancaman tersebut bukan hanya datang dari Iran tetapi juga Palestina dan kelompok-kelompok gerilyawan yang bersimpati kepada Palestina. Seperti Hamas, Hizboulah, Houti, dll, yang ada di sejamlah negara di kawasan Timur Tengah atau Asia Barat, yakni Lebanon, Turki, Kuwait, dsb, yang semua antizionis.

Senada Ahmad Rizky Umar, peneliti di Departemen Politik Internasional, Universitas Aberystwyth, Inggris, menjelaskan serangan Amerika dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 adalah lanjutan dari Perang 12 Hari yang berlangsung pada Juni 2025.

“Jadi, ini memang spesifik antara Israel dengan Iran. Di ujung baru kemudian Amerika Serikat melakukan intervensi dengan mengebom fasilitas nuklir Iran,” kata Umar kepada Konde.co, Kamis 5 Maret 2026.

Serangan yang terjadi saat ini, Umar menambahkan, merupakan kombinasi dari perang urat saraf yang sudah terjadi sebelumnya, sebagai lanjutan dari perang 12 hari kemarin. Setelah perang 12 hari di 2025, ada sejumlah peristiwa yang mengikuti. Seperti adanya proposal perdamaian yang menyelesaikan sebagian masalah di Gaza. Di dalam negeri Iran sendiri muncul demonstrasi besar-besaran untuk menumbangkan rezim Republik Islam Iran.

Berbagai peristiwa tersebut menurut Umar merupakan bagian dari perang urat saraf yang kemudian mengondisikan serangan yang terjadi akhir Februari kemarin. Serangan ini dalam pandangan Umar sebetulnya adalah puncak dari perang urat saraf untuk menumbangkan rezim.

Setelah perang dengan Israel pada Juni 2025, Umar menjelaskan, ternyata rezim Republik Islam Iran malah makin kuat. Dalam arti mereka masih melakukan pengembangan nuklir dan tetap melakukan produksi rudal serta drone. Hal ini dianggap sebagai ancaman oleh perintah Amerika Serikat dan Israel, sehingga pada akhirnya tahun ini mereka melakukan invasi.

Meskipun sebelumnya, Umar mengungkapkan, sebetulnya ada proses negosiasi yang dimediasi oleh Oman. Perundingan tersebut sebenarnya sudah lebih maju dalam arti Iran sudah menyepakati untuk tidal lagi melakukan pengembangan nuklir dan berkomitmen untuk tidak menimbun bahan nuklir yang bisa digunakan untuk membuat bom.

Situasi ini sudah bisa diprediksi sebelumnya. Namun ada beberapa hal yang tidak bisa diprediksi. Misalnya adalah bahwa Iran kemudian melakukan eskalasi secara regional. Ini membuat semua orang kaget karena tidak ada persiapan sebelumnya, terutama di negara-negara yang menjadi pangkalan militer Amerika Serikat.

“Yang tidak diprediksi sebelumnya adalah bahwa invasi Amerika dan Israel dilakukan dengan menarget Ali Khamenei. Hal lain yang juga tidak diprediksi adalah retaliasi atau pembalasan yang dilakukan oleh Iran, yang tidak hanya menyasar Amerika Serikat, tetapi juga terhadap Israel,” beber Umar.

Ia menambahkan dalam banyak hal, targeted killing seorang presiden atau kepala negara menjadi hal yang tabu dalam politik internasional. Kecuali dalam kondisi perang, Itupun bukan untuk melakukan pembunuhan berencana terhadap pemimpin tertinggi negara. Karena hal ini akan menyusahkan dalam proses negosiasi.

Sementara Dina juga mencatat beberapa poin penting terkait aksi balasan yang dilakukan Iran atas serangan Amerika dan Israel. Pada serangan yang terjadi di Juni 2025, Israel mengebom kantor Kementerian Pertahanan Iran dan mengakibatkan tewasnya sejumlah komandan militer Iran pada hari pertama serangan. Tewasnya para komandan militer ini diharapkan akan menimbulkan kekacauan sistem pertahanan Iran. Namun tidak sampai 24 jam Iran melakukan suksesi dan menggelar serangan balasan yang berlangsung selama beberapa hari hingga akhirnya Israel meminta bantuan kepada Amerika Serikat.

Trump kemudian memerintahkan pengeboman terhadap situs nuklir Iran. Serangan tersebut dibalas Iran dengan mengebom pangkalan militer Amerika di Doha. Amerika dan Israel kemudian menghentikan serangan dan perang berakhir.

Sementara pada Serangan di Februari 2026, Dina melihat baik Amerika maupun Israel sudah habis-habisan dan siap dengan segala risikonya. Ibaratnya keputusan kali ini seperti sekarang atau tidak sama sekali. Bahwa pemeirntahan Iran harus digulingkan. Karena itu menurutnya strategi yang dipakai jadi berbeda.

“Sekarang mereka nekat untuk membunuh pemimpin tertinggi Ayatullah Khamenei. Mereka mengira dengan dibunuhnya Ayatullah Khamenei, struktur politik Iran akan hancur dan perubahan rezim bisa segera terjadi,” ujar Dina.

Namun ternyata prediksi mereka keliru. Israel justru melakukan pembalasan yang terjadi 2,5 jam sejak serangan pertama diluncurkan. Hal ini menurut Dina menunjukkan bahwa sistem pemerintahan di Iran tidak bergantung pada satu figur. Jadi bahkan ketika pemimpin tertingginya gugur, dengan segera bisa konsolidasi dan melakukan serangan balasan.

Kematian Ali Khameine menurut Dina tidak akan berpengaruh terhadap perubahan rezim di Iran. Sebaliknya, kematian tersebut justru akan memperkuat solidaritas atau persatuan di dalam negeri. Dina tidak menutup mata atas protes dan demonstrasi yang digelar terkait masalah ekonomi atau aturan soal jilbab. Namun menurut Dina demonstrasi tersebut yang pada awalnya damai kemudian ditunggangi, sehingga ada yang melempar bom, membakar gedung, dan sebagainya.

Ia tak menampik adanya rasa tidak puas diantara masyarakat, tetapi kultur masyarakat Iran ketika menghadapi pihak luar apalagi Amerika Serikat dan Israel yang membunuh pemimpin yang mereka hormati, justru membuat mereka jadi makin solid. Menurutnya pengambil kebijakan di Amerika dan Israel tidak paham dengan kultur masyarakat Iran.

Sementara Ani menambahkan perlu diingat bahwa serangan Israel ke Iran dibantu Amerika dengan menggunakan pangkalan militer atau fasilitas militer yang berada di Uni Emirate Arab (UEA), Qatar, Kuwait, dll, untuk serangan udara dengan rudal dan laut dengan pengiriman kapal induk.

Karena itu ketika Iran melakukan perlawanan balik, serangannya ditujukan ke negara tetangganya yang ada fasilitas militer dan logistiknya Amerika. Sementara israel dan amerika juga menyerang Lebanon yang mendukung Iran dan Palestina yang dianggap ikut melindungi gerilyawan Hizbullah, Hamas, dll.

Dengan kondisi tersebut menurut Ani, kalau perang hanya terjadi antara Israel dan Amerika dengan negara di kawasan Timur Tengah, maka tidak akan berlangsung lama. Pasalnya ketika Selat Hormuz ditutup, maka urat nadi ekonomi Amerika dan dunia, terutama pasokan bahan bakar minyak, akan terdampak keras.

Selain itu tidak ada lagi negara yang aman bagi warga Amerika di Timur Tengah atau Asia Barat karena Iran bersumpah akan menargetkan semua orang Amerika dan fasilitas militer dan nonmiliter Amerika.

“Yang terjadi kemudian kapal perang Amerika tidak bisa mengisi BBM, pasukan mereka tidak bisa istirahat, peralatan perang yang rusak tidak bisa direparasi karena tidak ada negara yang mau jadi lokasi singgah,” ujar Ani.

Sementara, Ani menambahkan, Amerika sekarang mulai membujuk negara Eropa lain dan NATO untuk ikut perang melawan Iran. Sejauh ini Inggris dan Spanyol menyatakan tidak bersedia, sedang Prancis dan Jerman bersedia. Negara yang tidak mau mendukung diancam dengan tarif tinggi. Kalau kemudian banyak negara terlibat dan mendukung Amerika dan Israel, maka perang akan berlangsung panjang.

Narasi Pembebasan Perempuan

Narasi yang juga muncul terkait serangan terhadap Iran adalah pembebasan bagi perempuan dan rakyat Iran secara luas. Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu misalnya, dalam pidatonya terkait serangan Israel ke Iran pada 13 Juni 2025, ia menyampaikan bahwasanya, “Perjuangan Israel bukanlah melawan Anda […] perjuangan kita adalah melawan musuh bersama kita, rezim pembunuh yang menindas dan memiskinkan Anda.”

Dengan kata lain Netanyahu mendefinisikan pengeboman terhadap perempuan, laki-laki, dan anak-anak Iran sebagai “kesempatan” bagi mereka untuk “bangkit” melawan rezim. Ia bahkan menggunakan slogan perlawanan perempuan Iran, “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan” (“Zan, Zendegi, Azadi”) yang melambangkan perjuangan melawan penindasan, patriarki, dan otoritarianisme. Slogan ini menjadi seruan global pasca kematian Mahsa Amini pada 2022, untuk menuntut otonomi tubuh, hak perempuan, dan kebebasan sipil.

Dina Sulaeman menilai narasi tersebut merupakan propaganda Amerika Serikat karena alasan yang selalu dipakai Amerika untuk menyerang Iran selama ini adalah masalah kebebasan, terutama perempuan karena di Iran berlaku kewajiban memakai jilbab. Alasan ini bukan hanya muncul kali ini tetapi sudah sejak tahun 1979, secara retoris lewat pidato-pidato dari para pemimpin Amerika.

Padahal, Dina menjelaskan kewajiban jilbab di Iran tidak diatur dalam undang-undang, tetapi menjadi semacam aturan sosial. Meski begitu menurutnya implementasinya tidaklah represif. Ketika terjadi pergantian kekuasaan dari era monarki menjadi Republik Islam terdapat perubahan budaya. Pemerintah memang mendorong perempuan-perempuan untuk berjilbab sehingga kalau ada perempuan yang jilbabnya kurang rapi, misalnya kasus Mahsa Amini, maka ada petugas yang memperingatkan dan menasihati.

Namun menurut Dina, Mahsa Amini ketika itu tiba-tiba pingsan karena punya penyakit dan dibawa ke rumah sakit lalu beberapa waktu kemudian meninggal. Ia mengungkapkan ada CCTV yang menunjukkan kejadian tersebu. Namun kejadian ini kemudian di-blow up media, seolah-olah kesannya perempuan betul-betul tertindas di sana.

Sementara temuan Misi Pencari Fakta PBB (UNFFM) dalam laporannya pada Maret 2024 menyimpulkan bahwa kematian Mahsa Amini melanggar hukum dan merupakan hasil dari “kekerasan fisik” yang ditimbulkan selama dalam tahanan polisi moralitas Iran.

Di sisi lain, Dina menjelaskan dari aspek pendidikan, perempuan Iran banyak yang mengenyam pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi. Partisipasi perempuan mencapai sekitar 70% di bidang ilmu dasar dan kedokteran, serta dominasi mahasiswi di universitas negeri.

Dari aspek tersebut, Dina mengungkapkan perempuan Iran memiliki kebebasan untuk bersekolah dan berkarier. Hanya saja memang yang dipersoalkan selalu kewajiban berjilbab. Sementara menurutnya mengenakan jilbab terkait dengan faktor budaya. Karena itu kalau Amerika mengatakan, bahwa nanti akan ada perubahan pada perempuan, pertanyaannya kenapa mereka justru mengebom?

“Kenapa solusinya membombadir Iran dan menghancurkan fasilitas publik, bahkan sekolah. Sekolah yang isinya anak-anak SD. Inikan sangat kontradiktif antara klaim dengan tindakan yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Jadi saya pikir narasi perubahan bahwa akan lebih baik kalau Amerika datang, bahwa lebih baik kalau Reza Pahlevi datang kembali ke Iran, saya pikir itu hanya propaganda dan tidak berdasarkan data-data yang valid terkait Iran,” tegasnya.

Sementara itu, Ahmad Rizky Umar mengatakan dirinya tidak melihat narasi pembebasan perempuan dalam perang kali ini. Amerika dan Israel tidak peduli dengan hak perempuan, mereka menggunakan isu tersebut untuk menyerang rezim Republik Islam Iran.

Apalagi kalau melihat fakta bahwa sekolah, apalagi sekolah untuk anak perempuan ikut menjadi sasaran serangan. Sementara sesungguhnya sekolah putri termasuk objek yang dilindungi dalam hukum internasional.

“Kalau argumennya adalah untuk membebaskan perempuan, mereka pasti tidak akan melakukan serangan di dekat fasilitas sekolah. Karena mereka tahu akan ada risiko bahwa korbannya akan menjadi lebih banyak,” ucap Umar.

Dari pernyataan Trump dalam pidatonya, Umar mengatakan ada tiga tujuan dari serangan terhadap Iran. Yang pertama untuk menyerang struktur politik Republik Islam Iran. Yang kedua untuk melemahkan kapasitas persenjataan Iran, terutama rudal. Dan yang ketiga adalah untuk menyerang fasilitas-fasilitas Iran. Ia melihat sejauh ini hanya ada tiga alasan, pembebasan perempuan tidak termasuk dalam tiga alasan tersebut, Jadi sepertinya hanya gimmick.

Sementara itu menghadapi serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, Umar melihat respons organisasi internasional maupun negara-negara lain sangat terfragmentasi. Dalam banyak hal, biasanya serangan Israel terhadap Iran akan menimbulkan kecaman dari negara-negara Arab, terutama negara-negara teluk, termasuk Turki dan Saudi Arabia yang sekarang makin dekat dengan Iran.

“Mereka biasanya akan melakukan tekanan terhadap Israel. Tetapi sekarang mereka tidak melakukan itu karena mereka kemudian diserang oleh rudal dan drone Iran. Sehingga tekanan terhadap Israel dari negara-negara Arab yang biasanya sangat getol untuk menekan Israel secara diplomatik, sekarang tidak ada,” jelas Umar.

Dulu ketika perang 12 hari pada Juni 2025, Umar menjelaskan, setelah serangan Israel ke Qatar untuk menarget Khaled Mashal salah satu pemimpin Hamas, negara-negara Arab kemudian mengancam Iran untuk menarik dan menghentikan intelligence sharing. Namun hal ini tidak terjadi pada perang yang sekarang.

Sementara itu, baik Rusia maupun China, yang punya comprehensive strategic partnership dengan Iran juga tidak melakukan dukungan secara militer. Kalaupun ada dukungan, terbatas dalam banyak hal untuk benar-benar melindungi beberapa fasilitas nuklir yang dikembangkan bersama antara Iran dengan Rusia.

Sedang China dalam banyak hal tidak banyak memberikan dukungan. Meskipun sekarang baik Cina maupun Rusia sudah mendorong proses mediasi agar Iran dan Israel mau berunding secara diplomatik, yang tidak mungkin terjadi dalam beberapa hari ke depan. Pasalnya di sisi lain negara-negara Eropa pada akhirnya juga terfragmentasi. Karena beberapa negara seperti Jerman dan Inggris pada akhirnya setuju memberikan ruang bagi Amerika Serikat untuk menggunakan fasilitas militer mereka di Timur Tengah.

Jadi saat ini masing-masing negara punya posisi masing-masing. Bahkan Indonesia tidak mengeluarkan kecaman keras terhadap Iran. Di sisi lain organisasi internasional menurut Umar perannya sangat tergatas.

“PBB dalam banyak hal tidak melakukan apa-apa untuk mediasi. Yang cukup menonjol adalah peran Rafael Grossi, Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA), badan nuklir PBB. Ia berulang kali menegas bahwa Iran tidak melakukan pengembangan sejata nuklir. Meskipun dia memberi perhatian bahwa Iran melakukan pengembangan terhadap program yang di luar batas normal,” tutur Umar.

Jadi bisa dilihat bahwa ada diskusi organisasi internasional untuk menyelesaikan masalah sementara respons negara-negara lain dan komunitas internasional terhadap Iran terfragmentasi. Karena itu menurut Umar bisa jadi pada akhirnya akan berujung pada diplomasi dan konsesi dengan difasilitasi oleh China atau Rusia.

Sementara itu Dina berpendapat serangan Amerika dan Israel terhadap Iran membawa dampak politik di tataran global. Pertama, tatanan internasional sudah diobrak-obrik dan seolah-olah PBB tidak berdaya.

“PBB makin kelihatan menjadi lembaga yang tidak bisa diandalkan untuk menciptakan perdamaian dunia. Karena adanya hak veto, sementara pelaku kejahatannya sekarang adalah Amerika Serikat. Jadi bagaimana PBB mau mengeluarkan keputusan yang akan merugikan Amerika ketika Amerika ada di dalamnya,” jelas Dina.

Kedua, negara-negara Arab, ia menambahkan justru menjadi basis pangkalan militer Amerika Serikat. Pertanyaannya kenapa rezim-rezim Arab justru mengizinkan Amerika untuk menyerang negara sesama Muslim. Ia melihat hal ini menandakan bahwa negara-negara tersebut betul-betul terhegemoni oleh Amerika Serikat. Mereka inferior terhadap Amerika.

Bahkan Indonesia pun, Dina mengungkapkan secara resmi tidak mengucapkan bela sungkawa. Ini menunjukkan betapa takutnya pemerintah Indonesia terhadap Amerika. Tentu saja ini menjadi sangat memprihatinkan.

Ketiga, seharusnya ada kesadaran bahwa kalau perang berlanjut maka yang akan rugi semuanya. Jadi menurut Dina, seharusnya kita berhenti untuk takut pada Amerika. Karena kita semua yang rugi. Cadangan migas Indonesia hanya tinggal 20 hari. Harga-harga kebutuhan pokok berpotensi naik ketika BBM naik. Seharusnya dengan kesadaran bahwa kita pun jadi rugi, kita harus menghentikan perang dan ini menjadi kepentingan nasional kita semua.

“Bukan cuma Indonesia, pemerintah negara-negara dunia harus melakukan upaya yang berdampak supaya bisa menyelesaikan atau bisa memaksa Trump dan Netanyahu untuk menghentikan serangannya ke Iran.

Feminis Iran Serukan Akhiri Perang

Sementara itu feminis Iran menyerukan agar perang segera diakhiri. Mereka menolak baik Republik Islam Iran maupun serangan militer Amerika-Israel. Bagi mereka tidak ada yang namanya “perang yang baik”. Mereka mengecam baik pembantaian ribuan rakyat Iran dalam rangkaian aksi demonstrasi oleh rezim otoriter maupun agresi militer para penjahat seperti Trump dan Netanyahu.

Pernyataan para feminis yang tergabung dalam Kelompok Pembebasan Feminis Iran (Iran’s Feminist Liberation Group) dan sejumlah perempuan tahanan politik berikut ini disampaikan pada Juni 2025. Yakni setelah serangan udara Israel terhadap Iran pada 13 Juni 2025 yang berlanjut dengan Perang 12 Hari, seperti dikutip situs Libcom. Namun pernyataannya masih kontekstual untuk situasi saat ini.

Kelompok Pembebasan Feminis Iran menyerukan untuk memprioritaskan deeskalasi. Mereka menyarankan untuk menghindari narasi yang diawali dengan slogan seperti “Iran mempunyai hak untuk membela diri” yang sering kali merupakan propaganda pemerintah Iran. Atau slogan “Israel akan membebaskan Iran dan tidak akan menyerang warga sipil” yang kerap merupakan propaganda Zionis.

“Pernyataan-pernyataan seperti itu sering menyembunyikan atau membenarkan kekerasan negara. Sebaliknya, kita harus selalu fokus pada warga sipil, bukan negara,” katanya.

Mereka juga menyarankan publik internasional untuk selalu mengecek informasi yang didapat. Pasalnya banyak sekali misinformasi yang beredar di internet. Karena itu sebelum membagikan info apapun secara online, cek dahulu kebenarannya lewat media yang punya reputasi atau jurnalis yang terpercaya. Unggahan viral tidak selalu akurat, meskipun secara emosional menarik.

Para feminis ini juga mengingatkan publik untuk tidak melupakan tahanan politik. Di Iran, banyak tahanan politik, termasuk mereka yang berada dalam deret tunggu hukuman mati, berada dalam bahaya besar setiap hari.

“Selama Perang Iran-Irak, ribuan orang dieksekusi pada tahun 1988 dengan dalih konflik. Jangan biarkan sejarah terulang kembali,” tegasnya.

Mereka juga menyerukan untuk berhati-hati terhadap idealisasi segala bentuk kekuasaan negara. Penentangan terhadap satu rezim yang menindas tidak berarti dukungan untuk rezim lain.

“Semua pemerintah harus dimintai pertanggungjawaban, baik itu Israel, Amerika Serikat, Iran, atau negara lain mana pun. Antiimperialisme yang autentik membutuhkan pertanyaan yang konsisten terhadap semua bentuk penindasan.”

Para feminis ini juga mengajak publik internasional untuk fokus pada suara mereka yang terkena dampak langsung. Karena itu penting untuk memperkuat orang-orang yang berada di garis depan, bukan para influencer yang mengambil alih narasi.

“Temukan dan dukung aktivis akar rumput, jurnalis independen, dan orang-orang yang berbicara dari pengalaman mereka sendiri.” serunya.

Mereka juga mengingatkan bahwa perempuan dan laki-laki Iran terjebak di antara dua bentuk kekerasan. Banyak orang di Iran menentang rezim Islam dan pada saat yang sama takut akan intervensi militer asing.

“Mereka tidak ingin digunakan sebagai pion dalam permainan geopolitik. Solidaritas sejati berarti mendukung tuntutan mereka atas kebebasan, tanpa keterlibatan militer,” tegasnya.

Para feminis juga mengajak publik internasional untuk tidak mengabaikan perjuangan lain yang sedang berlangsung, terutama perjuangan melawan genosida di Palestina. Sambil bersolidaritas dengan rakyat Iran, perlu untuk terus menyuarakan penolakan terhadap kekejaman di Palestina, Sudan, Ukraina, dan ketidakadilan di dunia.

“Perjuangan-perjuangan ini tidak bersaing satu sama lain, tetapi saling terkait melalui sistem penindasan, militerisme, dan kekerasan negara yang sama. Solidaritas haruslah bersifat interseksional,” tandasnya.

Sementara sejumlah perempuan tahanan politik yang berada di penjara Evin, di Teheran menyerukan diakhirinya perang, mengutuk serangan Israel terhadap Iran, dan sekaligus menolak rezim teokratis dan otoriter di Iran, yang bertanggung jawab atas ribuan kematian para pembangkang.

Mereka menekankan perlunya perjuangan akar rumput untuk menggulingkan rezim, sambil menolak intervensi asing. Dalam salah satu pernyataannya, empat tahanan politik, yakni Reyhanna Ansari, Sakineh Parvaneh, Verisheh Moradi, dan Golrokh Irai menyatakan bahwa kebebasan sejati Iran hanya akan tercapai melalui perlawanan yang meluas dan kekuatan gerakan sosial.

Mereka dengan tegas menolak meletakkan harapan dengan bergantung pada pemerintah asing yang membawa kebebasan atau demokrasi bagi rakyat Iran. Mereka juga mengutuk keras serangan Israel terhadap Iran yang mengakibatkan korban jiwa di kalangan warga sipil dan penghancuran infrastruktur.

“Pembebasan kita, pembebasan rakyat Iran dari kediktatoran yang memerintah negara ini hanya mungkin melalui perjuangan massa dan dengan mengandalkan kekuatan sosial. Bukan dengan bergantung pada kekuatan asing atau menaruh harapan pada mereka,” katanya.

“(Yakni) kekuatan-kekuatan yang selalu membawa kehancuran bagi negara-negara di kawasan ini melalui eksploitasi dan penjajahan, dengan memicu perang dan pembunuhan untuk mengejar keuntungan yang lebih besar, tidak akan memberi kita jalan keluar kecuali kehancuran dan eksploitasi baru,” pungkasnya.

Dalam pesan terpisah, tahanan politik Anisha Asadollahi, Nahid Khodabakhashi, dan Nasrin Javadi menulis surat untuk rakyat Iran. Mereka memulai surat mereka dengan memberi hormat kepada “rakyat yang tertindas dan mencari keadilan”. Mereka menyatakan, “Perang tidak akan pernah menguntungkan rakyat.” Rakyatlah—yang tidak punya peran dalam memulai perang ini—yang selalu membayar harganya.

Para perempuan tahanan politik ini menyebut diri mereka sebagai “sandera pemerintah” yang ditahan tanpa perlindungan di balik pintu besi. Namun, bahkan dari dalam penjara pun mereka menyatakan keprihatinan mendalam terhadap orang-orang di luar, dan menyerukan perlawanan kolektif terhadap perang.

Konteks Internal Iran yang Mendorong Gelombang Protes

Di dalam negeri rezim Iran telah menghadapi gelombang protes massal. Berbagai kalangan, dari pedagang, mahasiswa, buruh, hingga kelompok minoritas etnis, turun ke jalan-jalan ikut berpartisipasi dalam demonstrasi besar-besaran di seluruh penjuru negeri. Mereka menyuarakan ketidakpuasan terhadap kondisi ekonomi dan represi negara.

Rezim merespons dengan tindakan kekerasan yang sangat brutal, menewaskan sekitar 6.000 orang hingga 30.000 orang menurut berbagai taksiran. Represi ini, untuk saat ini, berhasil meredam perlawanan rakyat. Namun, kondisi yang memicu protes tersebut masih terus eksis tanpa adanya tanda-tanda perubahan.

Sementara itu, presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengerahkan kekuatan armada lautnya di kawasan tersebut, mengancam akan melancarkan serangan terhadap rezim Iran. Houshang Sepehr, editor situs web Solidarité Socialiste avec les Travailleurs en Iran dalam wawancaranya dengan Ashley Smith dari Tempest seperti dikutip dari Indopregress menjelaskan akar pemberontakan yang terjadi di Iran.

Menurutnya ada dua faktor yang berbeda yang harus dipertimbangkan untuk memahami pemicu utama gelombang pemberontakan yang berlangsung di Iran. Yakni faktor konjungtural dan struktural.

Houshang menjelaskan faktor konjungtural yang menjadi pemantik gerakan adalah merosotnya nilai tukar mata uang Iran, Rial, secara drastis terhadap dolar AS Situasi ini kian memperburuk laju inflasi yang sudah sangat tinggi. Kondisi ini berdampak pada berbagai lapisan masyarakat secara luas dan mendorong keadaan menuju titik kritis. Bahkan para pedagang di pasar tradisional—yang selama berpuluh-puluh tahun merupakan penyokong utama Republik Islam serta loyal terhadap para ulama dan pemerintah—turut turun ke jalan menyuarakan protes.

Sebagai respons terhadap kemerosotan usaha dan ketidakpastian yang membuat kegiatan ekonomi sulit diprediksi, sejumlah pedagang di Tehran melancarkan aksi mogok dan berunjuk rasa di pasar-pasar tradisional. Aksi protes ini dengan cepat menjalar ke kalangan mahasiswa di berbagai universitas di Tehran maupun kota-kota besar lainnya, yang berujung pada penutupan sejumlah institusi pendidikan tersebut.

Di kota-kota itu, kelas pekerja juga menggelar aksi demonstrasi. Yang cukup mencolok, hanya sehari setelah para pedagang pasar tradisional melakukan pemogokan, rezim mengalah dan mengabulkan seluruh tuntutan mereka.

Dengan demikian, para pedagang menghentikan keterlibatan mereka dalam perjuangan tersebut. Akan tetapi, kalangan pekerja tetap melanjutkan perlawanan karena permasalahan yang mereka hadapi jauh lebih mendalam. Salah satu pemicunya adalah kemarahan atas kebijakan pemerintah yang mencabut subsidi bahan bakar dan kebutuhan pokok lainnya, serta menghapus nilai tukar mata uang khusus untuk barang-barang impor. Kebijakan ini menyebabkan lonjakan harga pangan secara tiba-tiba, sehingga masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Namun, akar pemberontakan ini sesungguhnya jauh lebih dalam dari sekadar penyebab-penyebab langsung tersebut.

Faktor-faktor struktural yang telah membuat kehidupan menjadi tak tertahankan bagi sebagian besar rakyat turut berperan besar dalam memunculkan gerakan ini. Kebijakan neoliberal yang diterapkan rezim telah menciptakan tingkat kesenjangan sosial yang luar biasa parah. Upah yang sangat rendah tidak mampu mengimbangi melambungnya harga kebutuhan pokok.

Para pekerja hidup dalam lingkungan ketidakpastian kerja yang sangat tinggi. Angka pengangguran merebak di mana-mana. Seluruh lapisan masyarakat merasakan ketidakamanan sosial. Dan ketika seseorang berani bersuara atau melakukan protes, mereka harus berhadapan dengan tindakan represif negara yang sangat brutal.

Hal yang paling mencolok pada tahap awal protes ini adalah peran signifikan yang dimainkan oleh warga di kota-kota kecil. Mereka menghadapi tekanan kemiskinan ekonomi yang jauh lebih berat. Aksi protes secara perlahan merambat dari kota-kota kecil menuju kota-kota besar. Mengingat skala protes yang begitu luas di seluruh Iran, kelompok minoritas nasional pun turut berpartisipasi secara masif. Mulai dari Kurdistan hingga Baluchistan, masyarakat ikut bergabung dalam gerakan protes nasional. Aksi-aksi protes ini umumnya berbentuk demonstrasi, yang sebelum terjadinya penindasan berdarah, terkadang juga berujung pada bentrokan dengan aparat keamanan negara.

Selain itu, terjadi pula aksi-aksi pemogokan. Pemogokan ini lahir dari rangkaian aksi buruh yang terus bergulir. Mogok kerja dan unjuk rasa di jalanan—bersama dengan aksi-aksi dari berbagai segmen angkatan kerja lainnya—yang mengusung tuntutan serikat pekerja dan perbaikan ekonomi berlangsung hampir setiap hari di berbagai penjuru Iran.

Hanya beberapa hari sebelum aksi mogok para pedagang pasar dimulai, enam ribu pekerja kontrak di industri minyak dan gas Assaluyeh menggelar aksi besar dan bersejarah yang menuntut penghapusan sistem kerja kontrak.

Hampir setiap sektor masyarakat bergerak. Misalnya, di ibukota Tehran, ketika demonstrasi publik sedang berlangsung di beberapa kawasan, para pensiunan di bagian lain kota terus mengadakan pertemuan jalanan mingguan. Seiring dengan berkembangnya gerakan, semakin banyak orang yang bergabung dengan gelombang protes yang melanda kota.

Keterangan foto: Para pelayat memegang potret siswa selama upacara pemakaman bagi anak-anak yang tewas setelah sebuah sekolah dasar di provinsi Hormozgan, Iran, menjadi sasaran serangan AS dan Israel, pada 3 Maret 2026 di Minab, Iran. Sumber: Anadolu/Agency via Al Jazeera.

Anita Dhewy

Redaktur Khusus Konde.co dan lulusan Pascasarjana Kajian Gender Universitas Indonesia (UI). Sebelumnya pernah menjadi pemimpin redaksi Jurnal Perempuan, menjadi jurnalis radio di Kantor Berita Radio (KBR) dan Pas FM, dan menjadi peneliti lepas untuk isu-isu perempuan
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!