Genji Monogatari ditulis oleh Murasaki Shikibu sekitar tahun 1000 Masehi. Buku yang sering dianggap sebagai karya sastra terbesar Jepang ini punya nilai utama pada kemampuannya merekam secara teliti realitas sosial istana Heian yang sangat timpang gender.
Karya ini lahir dari tangan seorang perempuan bangsawan yang memiliki akses langsung ke ruang-ruang privat istana, tempat para perempuan menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda dari citra romantis yang sering dibayangkan pembaca modern. Shikibu adalah saksi hidup yang mengalami sendiri bagaimana sistem pernikahan politik dan hierarki istana membentuk nasib perempuan-perempuan di sekitarnya.
Novel ini menceritakan kisah Pangeran Genji yang tampan dan berbakat, tetapi jika dibaca dengan cermat, Genji hanyalah alat naratif untuk mengupas mekanisme kekuasaan yang sebenarnya bekerja melalui tubuh dan emosi perempuan.
Setiap perempuan yang ditemui Genji—baik istri resmi, selir, maupun perempuan yang diperkosanya—hadir dalam narasi sebagai cermin yang memantulkan ambisi politik dan psikologis laki-laki. Melalui tokoh-tokoh tersebut, pembaca dapat melihat bagaimana kehidupan perempuan dibentuk oleh tatanan sosial yang memberi laki-laki kuasa lebih besar atas tubuh, hubungan, dan pilihan hidup mereka.
Baca Juga: ‘Spotlight’, Cerita Jurnalisme Investigasi Bongkar Kekerasan Seksual dan Kuasa Gereja Katolik
Inilah yang membuat karya ini begitu istimewa: Shikibu menggunakan medium fiksi untuk melakukan kritik sosial yang tidak mungkin ia sampaikan secara langsung karena posisinya sebagai perempuan istana yang harus patuh pada aturan. Karya ini juga dapat dibaca melalui perspektif feminis karena menempatkan pengalaman perempuan dan ketimpangan relasi kuasa sebagai bagian penting dari narasinya, meskipun istilah dan kerangka feminisme modern tentu lahir jauh setelah karya tersebut ditulis.
Ia menyampaikan perlawanan melalui narasi, dengan menempatkan penderitaan perempuan di pusat cerita sementara kemewahan dan kejayaan laki-laki menjadi latar belakang yang justru memperkuat ironi.
Pada tulisan ini, saya akan membahas tiga dimensi eksploitasi yang didokumentasikan Shikibu. Pertama, bagaimana sistem pernikahan yome-iri menjadikan tubuh perempuan sebagai komoditas politik. Kedua, bagaimana emosi perempuan dimanipulasi dan dikendalikan sebagai sarana kekuasaan. Ketiga, bagaimana proses internalisasi nilai-nilai patriarki membuat perempuan sendiri menjadi pelaku dan pembela penindasan yang menimpa mereka.
Ketiga dimensi ini menunjukkan bahwa kekuasaan atas perempuan tidak berhenti pada tubuh, tetapi juga dapat bekerja melalui emosi, kesadaran, dan keinginan.
Sistem Yome-Iri dan Reduksi Tubuh Perempuan Menjadi Komoditas Politik
Sistem yome-iri yang berlaku di istana Heian merupakan sebuah mekanisme politik yang dirancang untuk memindahkan loyalitas dan sumber daya dari satu klan ke klan lain melalui tubuh perempuan.
Ketika seorang putri bangsawan dinikahkan dengan putra klan lain, ia secara fisik dan sosial dipindahkan ke rumah suami, membawa serta koneksi politik, harta, dan potensi keturunan yang menjadi aset keluarga suami.
Dalam praktik ini, tubuh perempuan berfungsi sebagai jembatan aliansi, tetapi ia sendiri kehilangan hak untuk menentukan dengan siapa ia hidup, di mana ia tinggal, dan bagaimana ia menjalani kehidupan sehari-harinya.
Shikibu menggambarkan fenomena ini melalui berbagai tokoh perempuan yang dinikahkan bukan karena cinta atau pilihan pribadi, tetapi karena kepentingan ayah atau saudara laki-laki mereka yang ingin memperkuat posisi politik di istana.
Tokoh Aoi no Ue, istri resmi Genji, adalah contoh paling jelas. Ia berasal dari klan Fujiwara yang kuat, dan pernikahannya dengan Genji adalah langkah strategis untuk menyatukan dua kekuatan politik besar di istana. Aoi no Ue tidak pernah digambarkan memiliki hasrat atau keinginan terhadap Genji. Ia hanyalah pion dalam papan catur kekuasaan yang digerakkan oleh laki-laki di belakangnya.
Baca Juga: ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’ Janji Pendidikan Berujung Kekerasan Seksual oleh Tentara Jepang
Konsekuensi dari reduksi ini adalah hilangnya pengakuan atas hak-hak dasar perempuan, termasuk hak atas keamanan fisik dan hak atas ekspresi emosional yang sah. Ketika Genji melakukan berbagai pelanggaran seksual terhadap perempuan-perempuan lain, tidak ada satu pun institusi di istana yang memprosesnya sebagai kejahatan karena secara hukum dan sosial, perempuan tidak dianggap sebagai pemilik tubuhnya sendiri.
Dalam tatanan sosial yang menempatkan perempuan dalam relasi kuasa dengan laki-laki, tubuh perempuan tidak sepenuhnya diposisikan sebagai miliknya sendiri. Karena itu, tindakan laki-laki terhadap tubuh perempuan dapat berlangsung dalam relasi kuasa yang membuat kehendak perempuan sulit diakui, termasuk dalam hubungan perkawinan maupun hubungan seksual.
Pemikiran ini selaras dengan analisis tentang bagaimana sistem hukum patriarki selalu dibangun di atas asumsi bahwa laki-laki adalah subjek dan perempuan adalah objek, sehingga perlindungan hukum hanya berlaku untuk laki-laki sedangkan perempuan hanya dilindungi sejauh melindungi kepentingan laki-laki.
Dengan demikian, apa yang terjadi pada Aoi no Ue, Yūgao, dan perempuan-perempuan lain dalam novel merupakan produk logis dari sebuah sistem yang secara fundamental tidak mengakui kemanusiaan perempuan.
Namun, perempuan dalam situasi tersebut tidak serta-merta kehilangan seluruh agensinya. Justru menarik untuk melihat bagaimana mereka bernegosiasi dengan keterbatasan yang diberikan oleh tatanan sosial tersebut. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana perempuan merespons situasi di mana mereka tidak memiliki kendali atas tubuh dan nasib mereka sendiri, dan apakah ada ruang bagi mereka untuk menunjukkan perlawanan?
Pengendalian Emosi Perempuan sebagai Sarana Kuasa Laki-Laki
Ketika tubuh perempuan telah direduksi menjadi komoditas, langkah berikutnya dalam mekanisme penindasan adalah mengendalikan emosi dan ekspresi psikologis perempuan, karena emosi yang tidak terkendali dapat mengganggu stabilitas sistem politik yang mengandalkan kepatuhan.
Shikibu menunjukkan dengan sangat cermat bagaimana perempuan-perempuan dalam novel tidak diizinkan untuk menunjukkan kemarahan, kecemburuan, atau kesedihan secara terbuka tanpa menghadapi konsekuensi sosial yang berat, seperti dicap sebagai “perempuan jahat” atau dirasuki roh jahat.
Tokoh Rokujō adalah ilustrasi paling dramatis dari dinamika ini. Ia adalah perempuan cerdas, berstatus tinggi, dan sangat mencintai Genji, tetapi ketika Genji mengabaikannya dan lebih memperhatikan perempuan lain, Rokujō tidak memiliki saluran legitimasi untuk mengekspresikan sakit hatinya.
Dalam budaya istana Heian, perempuan yang menunjukkan kecemburuan dianggap tidak anggun dan melanggar kode etik kehalusan, sehingga emosi negatif harus ditekan demi menjaga citra sebagai perempuan berbudi luhur.
Baca Juga: Film ‘Testament of Youth’: Perempuan, Peperangan, dan Peran yang Tak Terekam Sejarah
Shikibu menggambarkan tekanan emosi yang terpendam ini sebagai roh jahat yang keluar dari tubuh Rokujō dan membunuh saingan-saingannya, sebuah metafora yang sangat kuat tentang bagaimana penindasan emosional mengubahnya menjadi kekuatan destruktif yang merusak orang lain dan akhirnya merusak diri sendiri.
Namun, kemarahan Rokujō juga dapat dibaca sebagai bentuk agensi yang muncul dalam ruang yang sangat terbatas. Saat perempuan tidak memiliki bahasa sosial yang sah untuk menyatakan kemarahan atau penolakannya, emosi tersebut justru muncul dalam bentuk yang dianggap mengerikan, irasional, atau berbahaya.
Dari perspektif sosiologi pengetahuan, ini menunjukkan bahwa institusi sosial tidak hanya mengatur tindakan eksternal tetapi juga menembus ke dalam kesadaran dan perasaan manusia, membentuk apa yang boleh dan tidak boleh dirasakan oleh individu dalam posisi tertentu. Genji sendiri, sebagai laki-laki, bebas menunjukkan kemarahan, kesedihan, atau bahkan kekerasan tanpa kehilangan statusnya, sementara perempuan harus selalu menjaga ekspresi wajah dan kata-kata mereka agar tidak mengganggu ketenteraman laki-laki di sekitar mereka. Dengan mengendalikan emosi perempuan, laki-laki memastikan bahwa perempuan tetap dapat diprediksi, patuh, dan tidak mengancam tatanan kekuasaan yang ada.
Shikibu dengan cerdik menunjukkan bahwa apa yang disebut sebagai “keanggunan perempuan” sebenarnya adalah mekanisme pengendalian sosial yang dipuji karena hasilnya adalah kepatuhan, bukan karena nilai intrinsiknya. Perempuan yang berhasil menekan emosi dan menunjukkan ketenangan dipuji sebagai perempuan ideal, sementara perempuan yang gagal menahan perasaannya dicap gila atau kerasukan, sehingga tekanan sosial ini bekerja secara ganda, yaitu menghukum ekspresi emosi dan sekaligus mengklaim bahwa ketiadaan emosi adalah kebajikan.
Baca Juga: ‘Don’t Tell the Grown-Ups’, Dekolonisasi Imajinasi Anak dari Patriarki
Persoalannya bukan semata-mata apakah perempuan mampu mengendalikan emosinya, tetapi siapa yang menentukan emosi seperti apa yang dianggap pantas bagi perempuan. Namun, apakah perempuan-perempuan ini benar-benar bahagia, atau mereka hanya belajar untuk tidak mendengarkan suara hati mereka sendiri?
Internalisasi Nilai Patriarki dan Cara Perempuan Melihat Dirinya
Dimensi paling mendalam dari eksploitasi yang diungkap Shikibu adalah proses di mana perempuan-perempuan dalam novel secara aktif menerima dan bahkan merayakan peran mereka yang tertindas, sehingga penindasan tidak perlu kekuatan eksternal karena telah menjadi bagian dari kesadaran mereka sendiri.
Proses ini tidak berarti perempuan menjadi penyebab dari penindasan yang mereka alami. Sebaliknya, internalisasi menunjukkan bagaimana sebuah tatanan sosial dapat membentuk cara seseorang memahami dirinya sendiri, menilai perilakunya, bahkan menentukan apa yang ia anggap sebagai keinginan dan kebahagiaan.
Proses ini disebut internalisasi, dan Shikibu menggambarkannya dengan sempurna melalui tokoh Murasaki no Ue, yaitu perempuan yang dibesarkan sendiri oleh Genji sejak usia anak-anak untuk menjadi “perempuan ideal” versinya. Genji mengambil Murasaki no Ue dari keluarganya, mendidiknya dengan nilai-nilai yang ia inginkan, mengajarinya puisi dan kaligrafi, dan membentuk karakternya sehingga ia menjadi sangat bergantung secara emosional dan psikologis pada Genji.
Yang tragis adalah Murasaki no Ue sendiri tidak melihat proses ini sebagai penindasan, justru ia merasa beruntung karena diperhatikan dan dididik oleh pangeran tampan, dan ia mencintai Genji dengan tulus meskipun cinta itu tumbuh dari kurungan dan manipulasi sejak kecil.
Baca Juga: ‘Perempuan yang Menangis pada Bulan Hitam’ Tunjukkan Patriarki Tak Selalu Berwajah Laki-laki
Di sinilah persoalan Murasaki no Ue menjadi lebih rumit. Perasaannya kepada Genji tidak harus dianggap palsu hanya karena hubungan itu dibentuk dalam ketimpangan kuasa.
Justru persoalannya terletak pada bagaimana keinginan itu sendiri dibentuk. Jika sejak kecil seseorang dididik untuk menjadi pasangan ideal bagi orang yang memiliki kuasa atas dirinya, seberapa bebas ia menentukan apa yang ia inginkan?
Ketika Genji kemudian menikahi perempuan lain dan mulai mengabaikannya, Murasaki no Ue mengalami kesedihan yang mendalam, tetapi ia tidak pernah mempertanyakan hak Genji untuk berbuat demikian atau mempertanyakan sistem yang memungkinkan hal itu terjadi.
Ia justru menyalahkan dirinya sendiri karena tidak cukup cantik atau tidak cukup menarik, memperkuat pola pikir bahwa kegagalan hubungan adalah kesalahan perempuan, bukan kegagalan sistem atau kegagalan laki-laki dalam memenuhi komitmennya.
Shikibu dengan sangat cermat menunjukkan bahwa sistem patriarki cukup memerlukan institusi-institusi sosial seperti pendidikan, agama, dan adat yang secara terus-menerus menanamkan nilai bahwa kebahagiaan perempuan terletak pada pengabdian kepada laki-laki.
Dengan cara ini, perempuan menjadi agen penindasan mereka sendiri, memonitor perilaku mereka sendiri, menghukum diri mereka sendiri ketika melanggar norma, dan merasa bangga ketika berhasil menyesuaikan diri dengan tuntutan sistem.
Baca Juga: Novel ‘The Handmaid’s Tale’, Tubuh Perempuan Dirampas dan Dijadikan Alat Prokreasi
Namun, menyebut perempuan sebagai “agen penindasan mereka sendiri” tidak berarti mereka memiliki kuasa yang setara dengan laki-laki atau bebas memilih untuk berada dalam posisi tersebut. Agensi mereka justru bekerja di dalam batas-batas yang telah dibentuk oleh struktur sosial.
Sebuah bentuk kekuasaan yang cukup sempurna karena tidak terlihat, tidak perlu diterapkan secara paksa, dan bahkan menghasilkan rasa puas pada korban karena mereka merasa telah mencapai kebajikan.
Murasaki no Ue meninggal dalam kesedihan yang tenang, tanpa pernah menyadari bahwa kesedihannya adalah akibat langsung dari sistem yang ia bela dan cintai, dan tanpa pernah mempertanyakan apakah mungkin ada cara hidup lain di luar peran sebagai istri yang setia.
Tokoh ini mengajarkan kita bahwa penindasan tidak selalu berbentuk kekerasan fisik atau paksaan terbuka, ia juga dapat berbentuk kasih sayang yang bersyarat, pujian yang membuat korban bergantung, dan pendidikan yang membentuk hasrat sehingga korban menginginkan apa yang merugikannya.
Shikibu, melalui Murasaki no Ue, memperlihatkan bahwa bahaya terbesar dari ketidaksetaraan adalah ketika ketidaksetaraan itu telah menjadi “normal” dan “alamiah” di mata mereka yang paling dirugikan, sehingga upaya perubahan harus dimulai dengan membongkar kesadaran yang telah terbentuk selama generasi.
Dari semua tokoh dalam novel, Murasaki no Ue adalah yang paling tragis karena ia adalah perempuan yang paling dicintai, tetapi justru cinta itulah yang menjadi belenggu terkuat yang mencegahnya melihat kebenaran tentang posisinya dalam tatanan kekuasaan.
Membaca Kembali Relasi Kuasa dalam Genji Monogatari
Genji Monogatari adalah dokumen perlawanan yang ditulis dalam bahasa fiksi, dan melalui tiga lapis eksploitasi yang didokumentasikannya—reduksi tubuh perempuan menjadi komoditas politik, pengendalian emosi sebagai instrumen kuasa, dan internalisasi nilai patriarki oleh korban itu sendiri—Shikibu telah membangun kritik sosial yang tidak kalah tajamnya dengan tulisan-tulisan feminis modern tentang relasi kuasa dan ketidaksetaraan gender.
Karya ini dapat dibaca melalui perspektif feminis bukan karena Shikibu harus ditempatkan sebagai feminis dalam pengertian modern, melainkan karena pengalaman perempuan yang ditampilkannya membuka ruang untuk melihat bagaimana tubuh, emosi, dan keinginan dibentuk oleh relasi kuasa.
Karya ini juga mengingatkan kita bahwa sistem patriarki tidak beroperasi hanya melalui undang-undang atau lembaga formal saja, juga terutama melalui praktik-praktik sehari-hari yang tampaknya netral seperti pernikahan, pendidikan, dan tata krama, yang secara halus tetapi konsisten membentuk kesadaran dan membatasi kemungkinan hidup perempuan.
Kekuasaan bahkan dapat bekerja ketika ia tidak lagi terasa sebagai paksaan, melainkan sebagai sesuatu yang dianggap wajar, pantas, atau bahkan diinginkan.
Baca Juga: Stereotip Bikin Gen Z Dianggap Gak Layak Jadi Manajer di Kantor
Dengan menempatkan pengalaman subjektif perempuan sebagai pusat narasi, Shikibu membalik hierarki pengetahuan istana yang biasanya hanya mencatat prestasi laki-laki dan mengabaikan penderitaan perempuan, sehingga ia memberi kita warisan berupa metode kritis untuk membaca segala bentuk narasi kuasa.
(Editor: Luthfi Maulana Adhari)
(sumber foto: IndoLiterasi)






