Film ‘Testament of Youth’: Perempuan, Peperangan, dan Peran yang Tak Terekam Sejarah

Bukan sekadar tentang Perang Dunia I, ‘Testament of Youth’ menguak cerita perempuan di tengah kondisi peperangan: kehilangan, kerja perawatan, dan pembatasan gender. Nyatanya, perempuan dalam situasi perang tidak hanya tinggal dan menunggu dalam diam di rumah—mereka punya peran yang kerap tak dilihat.

“Dunia ini gila dan kita semua adalah korbannya; itu adalah satu-satunya cara untuk melihatnya. Para pemuda yang hancur dan sekarat ini, dan begitu juga aku, adalah yang harus menanggung akibat dari suatu keadaan yang tak seorang pun dari kami kehendaki atau menyebabkan keadaan itu terjadi.”

Film Testament of Youth dibuka dengan adegan perayaan usainya perang. Vera Brittain menerobos lautan manusia yang bersorak-sorai, memeluk orang-orang terkasih mereka dengan penuh haru, serta merayakan berakhirnya peperangan dengan terompet dan minuman. Namun, di tengah keramaian itu, Brittain justru berlari memasuki sebuah kapel. Di sana, ia kembali mengingat kehidupannya dan orang-orang yang ia sayangi sebelum perang merenggut nyawa dan mengubah kehidupan mereka selamanya.

Testament of Youth merupakan film yang diangkat dari memoar Vera Brittain dengan judul yang sama. Brittain adalah seorang penulis, feminis, dan pasifis—seorang yang menganut ideologi antiperang—yang bertugas sebagai Perawat Sukarelawan atau VAD (Voluntary Aid Detachment) selama Perang Dunia Pertama. Memoarnya menceritakan perjalanan hidupnya sejak sebelum Perang Dunia Pertama pecah hingga perang berakhir. Di dalamnya, Brittain tidak hanya bercerita tentang kehilangan, tetapi juga tentang perjuangannya untuk mendapatkan pendidikan, membuktikan bahwa dirinya layak duduk di bangku universitas, melawan tekanan masyarakat terhadap peran gender yang kaku, hingga akhirnya memilih bergabung sebagai perawat sukarelawan dan menyaksikan secara langsung kekejian perang.

Mereka yang Muda dan Tidak Pernah Menua

Agustus 1914. Perang Dunia I pecah.

Satu per satu, dimulai dari tunangan Brittain, kemudian para sahabat laki-lakinya, hingga adik laki-lakinya, mereka mendaftarkan diri dalam Ketentaraan Inggris. Setiap hari, di sela-sela waktu senggangnya, Brittain membeli koran untuk membaca daftar nama para tentara yang gugur di medan perang. Ia hidup dalam kecemasan bahwa tunangan, sahabat-sahabat, dan adiknya akan berubah menjadi sekadar nama lain dalam daftar kematian tersebut.

Ketika korban semakin banyak berjatuhan dan perang kian memburuk, Brittain harus berhadapan dengan dilema yang pahit. Kehidupannya sebagai mahasiswa di Universitas Oxford mulai terasa seperti berada di alam mimpi, sementara orang-orang terus berguguran di medan perang dan kehidupan masyarakat sipil menjadi semakin tidak stabil. Baginya, terus duduk di bangku universitas dan mempelajari Sastra Inggris ketika begitu banyak orang kehilangan nyawa terasa tidak adil. Brittain kemudian bertekad untuk turut mengambil bagian dalam perang dan membantu mereka yang menjadi korban.

Salah satu karakter dalam film ini mengatakan, “Para laki-laki pergi berperang, dan para perempuan tetap tinggal dan merajut.” Namun, kalimat tersebut sama sekali tidak menggambarkan sosok Brittain. Ia menyadari bahwa perang memiliki dampak yang merusak, baik bagi mereka yang terlibat secara langsung maupun mereka yang berada jauh dari garis depan. Sebagai perempuan, Brittain tidak memiliki kesempatan untuk menjadi tentara di garis depan peperangan. Karena itu, ia memilih menjadi seorang perawat. Peran tersebut menjadi salah satu ruang yang tersedia baginya untuk tetap terlibat, alih-alih hanya berpangku tangan ketika orang-orang di sekitarnya menjadi korban perang.

Pilihan tersebut juga memperlihatkan bagaimana gender menentukan ruang gerak seseorang di tengah situasi perang. Brittain ingin berkontribusi, tetapi pilihan yang tersedia baginya dibatasi oleh identitasnya sebagai perempuan. Ia tidak dapat mengambil peran yang sama dengan laki-laki di medan perang, tetapi ia menemukan cara lain untuk melawan dampak perang melalui kerja perawatan.

Baca juga: Film ‘Turang’ Soroti Sunyi Perempuan dalam Sejarah Perjuangan Bangsa

Dalam memoarnya yang reflektif, Brittain menulis:

“…bahwa pertama-tama aku membayangkan dengan perasaan penuh suka cita yang kekanakan di mana perempuan tidak lagi dipandang sebagai makhluk kelas kedua yang dianggap tidak penting sebagaimana saat ini, namun sebagai yang setara dan pendamping laki-laki yang dihormati.”

“Aku ingin membuktikan bahwa aku kurang-lebih mampu mempertahankan diri dengan cara bekerja, dan sebagian karena, aku bukanlah laki-laki dan tidak bisa pergi ke garis terdepan peperangan, aku ingin melakukan yang terbaik.”

Sementara Brittain bekerja keras sebagai perawat, kabar buruk akhirnya datang. Tunangannya meninggal dalam perang. Kehilangan tersebut menjadi titik balik besar dalam hidupnya. Pengalaman Brittain kemudian semakin kompleks ketika ia mengabdi di Prancis dan harus merawat para tahanan perang Jerman. Di hadapannya, batas antara “kawan” dan “musuh” menjadi semakin kabur. Mereka semua adalah pemuda yang ketakutan, jauh dari rumah, dan kehilangan nyawa untuk sebuah perang yang bahkan tidak mereka mulai.

Pada akhirnya, Brittain juga menerima kabar bahwa beberapa sahabat dan adiknya meninggal dunia dalam perang. Kehilangan datang satu demi satu, hingga perang tidak lagi menjadi sesuatu yang hanya ia baca dari koran. Perang telah masuk ke dalam kehidupan pribadinya dan mengubah cara pandangnya terhadap dunia.

Kita sering mendengar narasi bahwa laki-laki adalah para pahlawan, bahwa merekalah yang berkorban dalam peperangan, sementara perempuan tetap tinggal dengan aman di rumah. Narasi semacam ini mengabaikan kenyataan bahwa perang juga memiliki dampak yang sangat besar terhadap perempuan. Selain berbagai kejahatan perang yang menimpa perempuan, mereka yang ingin turut terlibat dalam perang dan membantu korban juga sering kali menghadapi rintangan, penolakan, serta pembatasan karena jenis kelamin mereka.

Baca juga: Film ‘Civil War’, Kisah Jurnalis Perempuan Lawan Ketakutan dan Trauma Perang

Brittain menyaksikan sendiri bagaimana perang justru memberikan berbagai tanggung jawab baru kepada perempuan. Mereka harus siap menghadapi kekejaman perang sekaligus melindungi diri, merawat para tentara, mengambil alih pekerjaan yang ditinggalkan laki-laki, menjaga rumah, dan membantu negara. Perempuan hadir dalam berbagai peran: dokter, perawat, ibu rumah tangga, pekerja kasar, relawan, hingga pekerja militer.

Namun, perang juga mengungkap kenyataan yang pahit dan kontradiktif. Ketika situasi genting membuat perempuan dituntut memikul tanggung jawab dalam skala besar, agensi mereka tetap dibatasi. Mereka dibutuhkan ketika tenaga mereka diperlukan, tetapi tidak selalu diakui sebagai subjek yang memiliki kemampuan untuk menentukan sendiri peran mereka.

Brittain menulis:

“Kurangnya para dokter, […] pastilah merupakan sebuah masalah yang luar biasa besar–tetapi ketika para dokter perempuan yang begitu mereka butuhkan sekarang memulai pelatihan mereka, segala rintangan yang mungkin ada ditempatkan di jalan mereka.”

Kontradiksi ini menjadi salah satu hal penting dalam pengalaman Brittain. Ketika kebutuhan akan tenaga medis meningkat, perempuan sebenarnya dibutuhkan. Namun, ketika mereka mencoba memasuki ruang yang sebelumnya didominasi laki-laki, mereka justru menghadapi berbagai hambatan.

Ketika para perempuan menolak hanya menjadi penonton peperangan dari pinggiran dan ingin turut terlibat, mereka ditolak. Brittain sedang tenggelam dalam pekerjaannya di tengah perang yang semakin memburuk ketika sekelompok perempuan tenaga medis menawarkan bantuan. Namun, bantuan mereka justru ditolak dan mereka diperintahkan untuk kembali ke rumah dan berdiam diri.

Menurut Brittain dalam memoarnya, “Aku tidak tahu bahwa ketika sekelompok perempuan tenaga medis yang nantinya mengorganisasi Scottish Women’s Hospitals (Rumah Sakit Perempuan Skotlandia) di Prancis dan Serbia telah menawarkan jasa mereka kepada Kementerian Perang di tahun 1914, mereka diberitahu bahwa satu-satunya hal yang dituntut dari perempuan adalah mereka pulang ke rumah dan tetap diam.”

Baca juga: Film ‘Oppenheimer’: Kisah ‘Bapak Bom Atom’ dan Penyesalan Dampak Buruk Perang

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa persoalan perempuan dalam perang bukan sekadar soal apakah mereka ikut bertempur atau tidak. Persoalannya juga menyangkut siapa yang dianggap memiliki kapasitas untuk mengambil keputusan, bekerja, menyelamatkan orang lain, dan berkontribusi terhadap masyarakat. Perempuan dapat dituntut untuk mengambil alih berbagai pekerjaan ketika keadaan membutuhkannya, tetapi pada saat yang sama masih dianggap tidak layak menentukan sendiri bagaimana mereka ingin berkontribusi.

Sebagai perawat, Brittain bekerja keras siang dan malam dan harus tidur secara bergiliran. Ketika perang akhirnya usai, ia sedang mengepel lantai rumah sakit. Di luar sana, orang-orang bersorak-sorai merayakan kemenangan. Brittain kemudian berjalan keluar dan menerobos lautan manusia yang sedang merayakan berakhirnya perang.

Namun, bagi Brittain, suasana tersebut terasa seperti berada dalam alam mimpi. Ia memang dapat berdiri di sana dan menyaksikan berakhirnya peperangan, tetapi sebagian dari dirinya seolah tertinggal di masa lalu, bersama kematian orang-orang yang ia cintai. Perang mungkin telah berakhir secara politik dan militer, tetapi tidak serta-merta berakhir di dalam diri orang-orang yang mengalaminya. Brittain menulis dalam memoarnya:

“…sangat sulit dipercaya bahwa tidak begitu jauh dari sini para pemuda telah dibantai dengan begitu keji, dan tubuh malang mereka yang rusak ditumpuk bersama-sama lalu dijejalkan tanpa adanya pemisahan dalam kuburan massal yang mengerikan yang dibuat secara tergesa-gesa, seolah mereka hanyalah hama tak bernama. Begitu sulit dipercaya.”

Brittain merupakan saksi dari kengerian nyata dalam peperangan. Ia melihat bagaimana perang membuat manusia kehilangan nyawa, kehilangan orang-orang terkasih, dan kehilangan kehidupan yang sebelumnya mereka kenal. Tangannya basah oleh darah mereka yang ia rawat, sementara pikirannya dihantui ingatan tentang mereka yang akhirnya gugur.

Baca juga: Perempuan Tak Berani Terjun ke Medan Perang? Itu Mitos, Lihat Keberanian Perempuan di Konflik Ukraina-Rusia

Karena itu, kemenangan perang bagi Brittain terasa semu. Perayaan yang berlangsung di jalanan tidak serta-merta menghapus kenyataan bahwa begitu banyak orang telah mati dan begitu banyak kehidupan berubah selamanya. Memoarnya kemudian membawa kita pada dua pertanyaan sederhana tetapi mendasar: “Siapa sesungguhnya yang menang dalam perang?” dan “Apakah kemenangan itu sepadan dengan segala kematian yang ada?”

Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika perang dilihat bukan hanya dari perspektif negara atau kemenangan militer, tetapi dari pengalaman manusia yang harus menanggung akibatnya. Bagi mereka yang kehilangan orang-orang tercinta, tidak selalu ada kemenangan yang dapat dirayakan.

Ketika perang berakhir, peperangan di dalam diri Brittain sendiri ternyata tidak ikut berakhir. Ia masih berduka atas segala kehilangan dan terpaku di antara masa lalu yang dipenuhi kematian orang-orang terkasih serta harapan akan masa depan yang lebih baik. Ia kemudian kembali ke universitas dan mengganti jurusan kuliahnya dari Sastra Inggris ke Sejarah Modern. Pilihan tersebut memperlihatkan keinginannya untuk memahami pengaruh politik dan sejarah yang telah menyebabkan terjadinya peperangan di dunia.

Catatan Brittain merekam pemikirannya:

“…untuk menanggung ketakutan dan kesedihan dan kelelahan yang ditimbulkan pada diri saya, serta menjadi saksi dalam kepedihan yang tak berdaya dalam kematian, bukan hanya orang-orang yang mengisi kehidupan pribadi saya, tetapi juga begitu banyak laki-laki pemberani yang tidak mengeluh yang telah aku rawat dan tidak mampu aku selamatkan. Tetapi bahkan itu pun belum cukup. Kini, ini adalah tugas saya untuk mencari tahu segala sesuatu tentang perang ini, dan mencoba untuk mencegahnya, sejauh yang dapat dilakukan oleh satu orang, agar tidak menimpa orang lain di masa yang akan datang.”

Dari sini, pengalaman personal Brittain berkembang menjadi kesadaran politik. Kehilangan tidak membuatnya berhenti pada duka, tetapi mendorongnya untuk mencari tahu mengapa perang terjadi dan bagaimana perang dapat dicegah agar tidak kembali menimpa orang lain.

Baca juga: Yang Bisa Kita Lakukan Di Hari Perdamaian Internasional: Stop Kekerasan dan Perang

Dalam mempertahankan kegiatannya di bidang kepenulisan dan politik, Brittain juga memiliki pemikiran kritis mengenai persoalan perempuan. Baginya, salah satu persoalan dalam feminisme berkaitan erat dengan masalah ekonomi. Ia mempertanyakan bagaimana perempuan dalam pernikahan tetap dapat mempertahankan identitas dan ambisi pribadinya. Bagaimana seorang perempuan dapat memiliki keluarga, tetapi pada saat yang sama tetap memiliki ruang untuk mengembangkan intelektualitas, bekerja, dan mengejar kariernya sendiri?

Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa perjuangan perempuan tidak berhenti ketika mereka memperoleh akses terhadap pendidikan atau pekerjaan. Ada persoalan lain yang mengikuti: bagaimana perempuan dapat mempertahankan kemandirian ketika struktur sosial masih menempatkan mereka terutama sebagai istri dan pengurus rumah tangga.

Dalam Testament of Youth, Brittain mendiskusikan persoalan tersebut dengan calon suaminya.

“…jadi aku ingin memecahkan masalah ini tentang bagaimana seorang perempuan yang sudah menikah, tanpa kekayaan yang melimpah, bisa memiliki anak dan tetap mempertahankan kemandirian intelektual dan spiritualnya sekaligus memiliki waktu untuk mengejar karirnya sendiri.”

Ia juga menulis:

“…sebuah perjuangan baru melawan tradisi yang melekatkan identitas seorang istri dengan keterkungkungan dapur dan di balik empat dinding rumah, melawan prasangka…”

Pertanyaan Brittain terasa penting karena memperlihatkan bahwa kebebasan perempuan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan untuk memasuki ruang publik, tetapi juga dengan kemampuan untuk mempertahankan diri di dalamnya. Perempuan tidak semestinya harus memilih antara keluarga dan intelektualitas, antara menjadi ibu dan memiliki karier, atau antara kehidupan domestik dan kebebasan berpikir.

Brittain kemudian menikah dengan George Caitlin, seorang ilmuwan politik, filsuf, dan intelektual sosialis. Ia mempertahankan nama gadisnya setelah menikah. Mereka dikaruniai dua anak, John dan Shirley. Putri mereka, Shirley Williams, kemudian menjadi seorang politikus Inggris terkemuka.

Baca juga: Kekerasan Seksual Masih Jadi Strategi Menebar Teror Dalam Perang

Pada akhirnya, Testament of Youth bukan hanya kisah tentang seorang perempuan yang kehilangan orang-orang terkasih dalam perang. Memoar dan film ini juga memperlihatkan bagaimana perang bekerja melalui tubuh, pekerjaan, relasi sosial, dan kehidupan sehari-hari. Brittain mengalami perang bukan sebagai tentara di garis depan, melainkan sebagai perempuan yang berada di antara ruang domestik, pendidikan, kerja perawatan, dan politik.

Pengalaman tersebut sekaligus membongkar anggapan bahwa perempuan hanya menjadi korban pasif dalam peperangan. Brittain memilih untuk terlibat, bekerja, merawat, menulis, mempertanyakan, dan kemudian menggunakan pengalaman tersebut untuk memahami serta melawan kondisi yang memungkinkan perang terjadi. Namun, pilihan itu tidak selalu hadir tanpa hambatan. Ia harus berhadapan dengan norma gender yang menentukan pekerjaan apa yang dianggap pantas bagi perempuan dan sejauh mana perempuan boleh mengambil keputusan atas hidupnya sendiri.

Karena itu, Testament of Youth pada akhirnya bukan hanya cerita tentang bagaimana perang menghancurkan kehidupan. Ia juga merupakan cerita tentang bagaimana seorang perempuan berusaha merebut kembali agensinya di tengah situasi yang membatasi pilihan-pilihannya. Perang memang berakhir, tetapi bagi Brittain, pekerjaan untuk memahami kekerasan, mempertanyakan struktur yang melahirkannya, serta memperjuangkan dunia yang lebih adil justru baru dimulai.

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

Bibliografi: 

Vera Brittain. (2020). Testament of Youth. Prabhat Prakashan. 

1 “The world was mad and we were all victims; that was the only way to look at it. These shattered, dying boys and I were paying alike for a situation that none of us had desired or done anything to bring about.” (Part II: 8. Between the Sandhills and the Sea the Last Post) 

Baca juga: ‘Momoye, Mereka Memanggilku’: Militerisme dan Perbudakan Seksual di Era Perang Asia Timur Raya

2 “…that I first visualized in rapt childish ecstasy a world in which women would no longer be the second-rate, unimportant creatures that they were now considered, but the equal and respected companions of men.” (Part I: Forward from Newcastle the War Generation: Ave) 

3 “I wanted to prove I could more or less keep myself by working, and partly because, not being a man and able to go to the front, I wanted to do the next best thing.” (Part I: 5. Camberwell Versus Death Triolet)

4 “The shortage of doctors, I commented, must be tremendous problem–yet when the women doctors they are crying out for now began their training, every possible obstacle was put in their way.” (Part I: 4. Learning Versus Life Villanelle) 

5 “I did not know that when the group of medical women who later organized the Scottish Women’s Hospitals in France and Serbia had offered their services to the war office in 1914, they had been told that all that was required of women was to go home and keep quiet.” (Part I: 4. Learning Versus Life Villanelle) 

6 “…very hard to believe that not far away men were being slain ruthlessly, and their poor disfigured bodies heaped together and crowded in ghastly indiscrimination into quickly provided common graves as though they were nameless vermin. It is impossible.” (Part I: 3. Oxford Versus War) 

Baca juga: Dipaksa Pergi dari Kampung: Stop Pembunuhan di Papua, Rumah Kami Bukan Zona Perang

7 “…to endure the fear and sorrow and fatigue that it brought me, and to witness in impotent anguish the death, not only of those who had made my personal life, but of the many brave, uncomplaining men whom I had nursed and could not save. But even that isn’t enough. It’s my job, now, to find out all about it, and try to prevent it, in so far as one person can, from happening to other people in the days to come.” (Part III: 10. Survivors Not Wanted the Lament of the Demobilized) 

8 “…so I want to solve the problem of how a married woman, without being inordinately rich, can have children and yet maintain her intellectual and spiritual independence as well as having time for the pursuit of her own career.” (Part III: 12. Another Stranger Hédauville. November 1915.) 

9 “…a new fight against the tradition which identified wifehood with the imprisoning limitations of a kitchen and four walls, against prejudices…” (Part III: 12. Another Stranger Hédauville. November 1915.) 

Vera Mary Brittain. Poetry Foundation. https://www.poetryfoundation.org/poets/vera-mary-brittain 

Vera at Oxford. Vera Brittain. https://verabrittain.org/vera-at-oxford/ 

Foto: imdb.com

Nadia Hana Abraham

Seorang penulis dan sarjana Sosiologi. Ia memiliki minat pada sastra dan kajian feminisme.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!