Tren lagu 'Ain't in LA' karya ADELA (sumber foto: Instagram @adelajergova)

Tren Lagu ADÉLA ‘Ain’t in L.A.’ Buktikan Perempuan Keren Bisa Ada di Mana Saja

Tren ‘the baddest bitch ain’t in L.A.’ dari lagu ADÉLA menjadi suara bagi perempuan untuk menunjukkan siapa diri mereka, dari mana mereka berasal, dan mimpi apa yang ingin mereka perjuangkan.

Media sosial, seperti TikTok, berpotensi menjadi wadah untuk menunjukkan versi terbaik dari diri seseorang. Perempuan memperlihatkan gaya berpakaian, perubahan penampilan, pencapaian, perjalanan, sampai hal-hal kecil yang membuat mereka merasa percaya diri. 

Di tengah berbagai tren yang datang dan pergi, ada sesuatu yang menarik dari cara perempuan menggunakan lagu ‘Ain’t In L.A.’ milik ADÉLA.

Belakangan, lagu ‘Ain’t in L.A’ menjadi bagian dari tren video di TikTok dan platform media sosial lainnya. Potongan lagu tersebut muncul dalam berbagai video perempuan yang sedang menunjukkan dirinya sendiri. 

Ada yang memperlihatkan pakaian yang mereka kenakan, wajah yang mereka banggakan, pekerjaan yang mereka jalani, kota tempat mereka tinggal, perjalanan yang mereka lakukan, hingga hal-hal sederhana yang membuat mereka merasa cukup dengan dirinya sendiri.

Baca Juga: Tren TikTok “There’s a Man” Membuka Mata Kita tentang Misogini yang Dianggap Biasa
https://www.tiktok.com/@920jel/video/7684989562925468936?is_from_webapp=1&sender_device=pc

Di balik tren ini, ada satu kalimat yang terasa seperti sebuah pernyataan: “The baddest bitches ain’t in L.A.” Los Angeles selama ini sering dibayangkan sebagai pusat industri hiburan. Tempat orang-orang datang untuk mengejar mimpi besar, popularitas, dan kesuksesan. Kota ini juga kerap menjadi simbol kehidupan yang glamor, penuh peluang, sekaligus menjadi tempat yang dianggap melahirkan orang-orang “keren”.

Namun, ADÉLA justru membalik anggapan tersebut. Perempuan dengan mimpi, gaya, kemampuan, cerita, dan kehidupannya yang menarik tidak hanya berada di tempat yang selama ini dianggap sebagai pusat perhatian. Mereka bisa berada di mana saja.

Tren ini juga bisa menjadi antitesis dari imaji “perempuan keren” di mata umum. Selama ini, gambaran tentang “perempuan keren” sering kali dibentuk melalui standar tertentu. Perempuan seolah harus cantik dengan cara tertentu, berpakaian dengan cara tertentu, berada di kota tertentu, memiliki pekerjaan tertentu, atau hidup dalam lingkungan yang dianggap keren agar bisa mendapatkan pengakuan. Standar tersebut kemudian membuat keberadaan perempuan seolah harus selalu memenuhi ukuran yang sudah dibuat oleh orang lain.

Padahal, melalui lirik “the baddest bitches ain’t in L.A.”, ADÉLA seperti ingin mengatakan bahwa perempuan keren tidak harus berada di Los Angeles. Mereka tidak harus tinggal di kota besar, bekerja di industri populer, atau memiliki kehidupan yang terlihat sempurna di media sosial.

Baca Juga: Tren Chat Mokondo di Tiktok: Produk Baru Mutasi Patriarki

ADÉLA sendiri datang dari Bratislava, Slovakia. Ia meninggalkan negaranya untuk mengejar karier musik. Dia lalu menjadikan pengalaman tersebut bagian dari cerita dalam “Ain’t In L.A.”. Musik videonya pun dibuat di Bratislava, kota kelahirannya. 

Pada September 2026, lagu tersebut bahkan mencapai posisi ketujuh dalam Spotify Daily Top Songs Global, menjadi pencapaian pertama ADÉLA di jajaran 10 besar global. Namun, cerita di balik lagu ini tidak hanya tentang pencapaian musik.

ADÉLA menciptakan ‘Ain’t In L.A.’ setelah menemukan foto ibunya ketika berusia 18 tahun. Dari foto tersebut, ia melihat seorang perempuan muda yang memiliki mimpi, tetapi mungkin tidak pernah mendapatkan perhatian sebesar yang menurut ADÉLA layak diterimanya.

Ia kemudian menulis lagu itu untuk sang ibu dan perempuan-perempuan lain yang mungkin tidak pernah mendapatkan sorotan besar, tetapi tetap memiliki sesuatu yang ingin mereka capai. Karena itu, lagu ini terasa dekat dengan banyak perempuan. Ia tidak sedang mengatakan bahwa semua perempuan harus menjadi terkenal atau mendapatkan perhatian dari dunia.

Justru sebaliknya. ADÉLA seperti ingin mengatakan bahwa perempuan tetap bisa memiliki mimpi, bahkan ketika mimpi itu tidak selalu mendapatkan panggung besar. Perempuan tetap bisa merasa bangga terhadap dirinya sendiri meski tidak tinggal di tempat yang dianggap sebagai pusat dunia. Mereka tetap bisa merayakan pencapaian kecil, perjalanan hidup, pekerjaan, penampilan, maupun identitas yang mereka miliki.

Baca Juga: Di Balik Drama Buah-Buahan AI di TikTok: Hiburannya Absurd dan Misoginis

Maka ‘Ain’t In L.A.’ terasa lebih dari sekadar lagu tentang Los Angeles. Ada pertanyaan sederhana yang kemudian muncul. Mengapa seseorang harus berada di tempat tertentu agar dianggap keren, berhasil, atau layak diperhatikan?

Respons pendengar di media sosial menunjukkan bagaimana makna lagu tersebut kemudian berkembang dan bertemu dengan pengalaman personal masing-masing orang. 

Salah satu pengguna X menuliskan, “Liriknya… kayak relate sekali, harus keluar rumah biar bisa sukses.” 

Kalimat sederhana tersebut menarik karena memperlihatkan bagaimana sebuah lagu dapat bertemu dengan pengalaman hidup seseorang. Bagi sebagian orang, meninggalkan rumah atau kota asal memang terasa seperti bagian dari perjalanan untuk mendapatkan kesempatan lebih besar untuk tumbuh.

Ada anggapan bahwa seseorang harus pergi jauh untuk bisa berhasil. Ada pula keyakinan bahwa dari mana seseorang berasal akan menentukan seberapa besar peluangnya untuk sukses. Kota besar dianggap memiliki lebih banyak kesempatan, sementara daerah asal atau kota kecil sering diposisikan sebagai tempat yang harus ditinggalkan jika seseorang ingin mengejar mimpi.

Padahal, kenapa harus begitu? Tidak semua orang memiliki kesempatan atau keinginan untuk meninggalkan tempat asalnya. Tidak semua orang harus pindah ke kota besar untuk membuktikan bahwa dirinya memiliki kemampuan. 

Bahkan, bagi sebagian orang, bertahan dan membangun kehidupan di tempat asal justru merupakan bentuk keberanian tersendiri.

Baca Juga: Benarkah Laki-laki Kurang Ekspresif Dalam Relasi Pertemanan? Membaca Stigma Maskulin Lewat Tren TikTok

Melalui tren TikTok, lagu ‘Ain’t In L.A.’ terasa lebih dari sekadar lagu yang cocok digunakan sebagai latar video. Lagu tersebut digunakan perempuan untuk menunjukkan penampilan, cara berpakaian, pencapaian, perjalanan, lingkungan tempat tinggal, bahkan sekadar menunjukkan dirinya sendiri.

Sekilas, hal tersebut mungkin terlihat sederhana. Hanya video pendek di media sosial. Namun, ada makna lain ketika perempuan memilih untuk memperlihatkan dirinya sendiri dan mengatakan bahwa keberadaannya layak dilihat.

Mengambil sedikit ruang untuk diri sendiri juga merupakan salah satu bentuk pemberdayaan yang sering kali kita lupakan.

Di sinilah women empowerment menjadi menarik untuk dibicarakan. Pemberdayaan perempuan tidak selalu harus hadir melalui sesuatu yang besar atau serius. Ia tidak selalu harus berbentuk keberhasilan di ruang politik, kepemimpinan di tempat kerja, atau pencapaian yang dapat ditulis dalam daftar prestasi.

Kadang, pemberdayaan muncul dari keberanian untuk mengatakan, “Aku juga punya sesuatu untuk ditunjukkan.”

Ada perempuan yang menunjukkan pekerjaannya, yang memperlihatkan kota tempat ia tumbuh. Atau yang membagikan gaya berpakaian yang membuatnya nyaman dan perjalanan yang berhasil ia lakukan. Ada pula yang sekadar menikmati dirinya sendiri tanpa merasa harus mengikuti standar orang lain. Bentuknya berbeda-beda karena setiap perempuan memiliki pengalaman yang berbeda.

Baca Juga: Objektifikasi Perempuan Lewat Tren TikTok “PoV Unboxing Mahar” Tidak Lucu, Stop Humor Seksis!

Perbedaan pengalaman tersebut justru membuat ‘Ain’t In L.A.’ menarik jika dilihat melalui perspektif multikultural. Lagu yang sama tidak harus memiliki satu makna untuk semua perempuan. Tempat tinggal, budaya, kelas sosial, lingkungan, serta pengalaman hidup dapat memengaruhi cara seseorang memahami sebuah karya.

Bagi seorang perempuan, “menjadi keren” mungkin berarti berani tampil dengan pakaian yang ia sukai. Sedangkan untuk perempuan lain, mungkin berarti berhasil mendapatkan pendidikan yang selama ini ia perjuangkan. Bagi yang lain, bisa saja berarti memiliki pekerjaan yang membuatnya mandiri. Sementara bagi perempuan lainnya, keberanian mungkin sesederhana memiliki kebebasan untuk menentukan hidupnya sendiri.

Dengan kata lain, menjadi perempuan yang “keren” tidak memiliki satu bentuk. Ia tidak harus mengikuti standar perempuan yang datang dari satu kota, satu budaya, atau satu industri. Perempuan dari negara mana pun, kota besar maupun kota kecil, dapat memiliki definisi sendiri tentang kesuksesan, keberanian, kecantikan, kebebasan, dan kebahagiaan.

Menariknya, perjalanan lagu ini di media sosial juga bersinggungan dengan isu yang lebih luas. Dalam unggahan akun ADÉLA Diary, ADÉLA disebut mengunggah ulang tren TikTok yang menggunakan ‘Ain’t In L.A.’ untuk menyoroti Palestina.

Baca Juga: Tren TikTok “I Couldn’t Resist, She Provoked Me”: Anjing Saja Bisa, kok Laki-laki Tidak?

Jika dibaca dari sini, pemberdayaan perempuan seharusnya tidak berhenti pada pemikiran bahwa “aku berhak menjadi diriku sendiri”. Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting. Bagaimana dengan perempuan yang hidup dalam keadaan yang membuat mereka bahkan sulit menentukan hidupnya sendiri? Sebab, tidak semua perempuan tumbuh dengan kebebasan yang sama.

Ada perempuan yang memperjuangkan kebebasan untuk memilih pekerjaan. Juga yang berjuang agar bisa mendapatkan pendidikan. Ada perempuan yang ingin keluar dari lingkungan yang membatasi mimpinya. Atau yang kehidupannya dibentuk oleh konflik dan situasi politik sehingga persoalan tentang keamanan, rumah, keluarga, pekerjaan, dan masa depan menjadi bagian dari perjuangan sehari-hari. Pengalaman-pengalaman tersebut tidak bisa disamakan begitu saja.

Perempuan tidak hidup dalam kondisi sosial yang seragam. Kesempatan untuk menentukan pilihan juga dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk tempat seseorang tinggal, kondisi ekonomi, budaya, keluarga, lingkungan sosial, dan situasi politik di sekitarnya. Karena itu, ketika berbicara tentang pemberdayaan perempuan, penting untuk tidak menganggap pengalaman satu kelompok perempuan sebagai pengalaman semua perempuan.

Tidak seharusnya pula pengalaman mereka dipaksa menjadi satu cerita. Justru perbedaan tersebut mengingatkan kita bahwa pembicaraan tentang perempuan tidak boleh hanya berpusat pada pengalaman perempuan tertentu yang paling populer kita lihat di media sosial. 

Ketika algoritma terus memperlihatkan perempuan dengan kehidupan yang terlihat sempurna, kita perlu mengingat bahwa ada banyak perempuan lain yang menjalani perjuangan yang tidak selalu terlihat kamera.

Baca Juga: “Join Live, Buat Beli Beras untuk Istri”: Eksploitasi Perempuan dan Kemiskinan di Layar TikTok

Pada akhirnya, mungkin pesan dari ‘Ain’t In L.A.’ bukan hanya tentang bagaimana perempuan ingin dilihat oleh dunia. Ia juga bisa dibaca sebagai pengingat bahwa perempuan berhak menentukan sendiri apa yang membuat hidup mereka berarti.

Tidak ada satu kota yang menjadi pusat dari seluruh mimpi perempuan. Tak ada satu gaya hidup yang dapat menjadi ukuran bagi seluruh perempuan. Tidak ada pula satu bentuk kesuksesan yang harus diikuti semua orang.

Perempuan bisa berada di Los Angeles, Bratislava, Jakarta, Flores, Papua, atau kota kecil mana pun dan tetap memiliki mimpi, kemampuan, cerita, serta kehidupan yang layak dirayakan.

Sebab, the baddest bitches ain’t in L.A. Mereka bisa ada di mana saja. Dan mungkin, yang lebih penting, mereka tidak perlu menunggu dunia mengatakan bahwa mereka keren untuk mulai percaya bahwa dirinya memang berharga.

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

(sumber foto: Instagram @adelajergova)

Phoebe Lukito Als Luo Zi Yi

Reporter magang Konde.co dan Mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!