ditolak gebetan

Ditolak Crush-mu? Itu Bukan Akhir Dari Segalanya

Buat kamu yang pernah ditolak crush-mu, jangan biarkan itu menghentikan semangatmu.

Jatuh cinta memang punya daya tarik yang ajaib, ya? Rasanya kita bisa merasakan semangat baru dalam hidup.

Tiba-tiba, kita menjadi lebih bersemangat dalam sekolah hanya untuk menarik perhatian sang gebetan, padahal sebelumnya tidak begitu rajin. Kemanapun kita pergi, wajahnya selalu terlintas dalam pikiran kita, dan kita berharap bahwa pada saat yang sama, dia juga sedang memikirkan kita.

Khayalan kita berlanjut dengan berbagai skenario tentang kencan romantis, pesta pernikahan nanti ala pesta kebun atau pesta pantai, bahkan membayangkan wajah anak-anak kita kelak akan mirip siapa. Membayangkan semua ini memang sah-sah saja dan menjadi hak kita.

Di balik asyiknya masa-masa naksir crush atau gebetan itu, ada keinginan tambahan yang menyertainya, yaitu ingin memiliki. Rasanya tidak bisa nih kalau tetap dipendam saja, dia juga harus tahu perasaanmu. Pasti akan indah kalau bisa menjalin hubungan dengan orang yang sudah lama kita taksir.

Kalau bisa mengatur perasaaan sih, inginnya bisa jatuh cinta dengan orang yang juga suka sama kita. Tapi kisah cinta yang mulus itu nampaknya bukan untuk semua orang.

Penolakan Sungguh Tidak Menyenangkan

Sudah mencari tahu hobi dan kesukaannya, stalking kesehariannya, memastikan dia sudah punya pasangan atau belum, akhirnya mantap untuk mengungkapkan perasaan. Berbagai skenario pun disusun untuk menyatakan cinta. Walau katanya perempuan dilarang mulai duluan menyatakan cinta, tapi ini bukan jaman Majapahit kan? Perempuan juga berhak menyatakan cinta.

Namun saat hari menyatakan cinta tiba, reaksinya tidak seperti yang kita harapkan. Hanya terucap kata “maaf” sambil berlalu. Duh, kalau bisa sih ingin menghilang saja ya rasanya. Akibat antusias dan rasa percaya diri bahwa cinta akan diterima, reaksi penolakan pun terlupakan dari mitigasi rencana mengungkapkan cinta. Ingatlah bahwa jawaban menolak atau menerima cintamu adalah haknya, dan itu di luar kuasa kita.

Berani Menghadapi Rasa Malu

Faktanya, penolakan memang bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Kita merasa sedih, kecewa, dan mungkin merasa seperti ada yang salah dengan diri kita. Belum lagi bagaimana nanti menahan malu saat bertemu sang crush. Misalnya, kamu bertemu dengan gebetanmu di koridor sekolah setelah pernyataan cintamu ditolak. Rasanya jantung berdebar kencang, dan ingin mencari sekop untuk mengubur diri dalam lubang tanah. Malu memang hal yang wajar dan manusiawi, tapi sebenarnya kamu tak perlu merasa malu hanya karena perasaanmu. Jadilah bangga karena kamu telah berani mengungkapkan apa yang ada di hatimu. Tersenyumlah, anggukkan kepala padanya selayaknya teman biasa.

Ada juga kekhawatiran Ia akan menertawai dan menceritakan pengakuan cintamu kepada teman-temannya sebagai lelucon. Kalaupun ternyata terjadi begitu, ya sudah berarti kamu terselamatkan dari orang yang tidak baik, bukan? Orang yang menertawaimu setelah kamu memberikan perasaan yang tulus padanya, tidak layak untuk mendapatkan cintamu.

Benarkah Cinta Atau Cuma Obsesi?

Atau alih-alih merasa sedih dan putus asa, kamu malah tetap penasaran dan ingin mencoba mendekatinya lagi setelah ditolak. Ini juga sah-sah saja, karena memang ada yang berhasil menjalin hubungan karena pantang menyerah menunjukkan cinta sehingga hatinya luluh.

Dalam keadaan jatuh cinta, emosi bisa sangat meluap-luap. Studi Neurofisiologis tentang cinta romantis menunjukkan bahwa orang yang sedang dilanda cinta yang menggebu-gebu mengalami peningkatan aktivasi di daerah otak yang terkaitan dengan penghargaan dan kesenangan. Daerah-daerah ini melepaskan bahan kimia seperti oksitosin, vasopresin, dan dopamin, yang menghasilkan perasaan bahagia dan euforia yang juga terkait dengan gairah dan kegembiraan seksual. Hal-hal ini kadang bisa membuat kita tanpa sadar mengirim pesan terlalu sering padanya alias spam, atau selalu mengajaknya bertemu dan kencan di luar. Bisa saja ia menjadi takut atau terganggu dengan metode pendekatan yang kamu lakukan itu.

Jangan sampai Ia menjadi tidak nyaman karena obsesimu ya.

Sekarang, mari kita lihat dari sudut pandang crushmu. Coba bayangkan, bagaimana rasanya jika ada seseorang yang terlalu terobsesi dan mengganggumu? Pasti kamu bakalan merasa risih atau tidak nyaman, bukan? Orang yang menolakmu mungkin memiliki alasan yang serupa. Mungkin mereka merasa terintimidasi oleh perhatian yang terlalu berlebihan atau merasa terganggu dengan cara seseorang mengekspresikan perasaan cinta. Jadi, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Bukan berarti ada yang salah denganmu, tetapi mungkin ada ketidakcocokan dalam cara menunjukkan perasaan.

Baca juga: Tips Bedakan Antara Suka, Cinta, dan Jatuh Cinta

Menenangkan Diri dan Mengikhlaskan

Setelah mengalami penolakan, yang pertama sediakan waktu untuk menenangkan diri. Rasanya pasti sulit untuk melepaskan perasaan sedih dan kekecewaan. Coba temukan cara yang membuatmu nyaman. Mungkin itu dengan menulis dalam jurnal, bayangkan bila dirimu di posisinya (empati), mengobrol dengan teman dekat, atau menyalurkan emosi melalui seni. Paling penting, beri dirimu waktu untuk sembuh dan belajar dari pengalaman tersebut.

Menerima kenyataan bahwa dirinya tidak membalas perasaan kita, tentu sangat sakit. Tapi jika kamu bisa mengikhlaskan hal tersebut, artinya kamu sudah jadi orang dewasa!

Walau sehari-hari kita bertemu dengannya, dan merasa sudah sedekat ini, kenapa tidak bisa saling mencintai? Berbesar hatilah, dear. Anggap saja bisa menjadi pasangannya itu kansnya kecil sekali, sama kecilnya seperti peluang bisa pergi ke Planet Mars. Gebetan kita sudah memutuskan tidak ingin bersanding dengan kita, hargailah keputusannya. Kita tidak bisa menjadikan segala sesuatu di dunia ini menjadi milik kita, apalagi terobsesi menaklukkan seorang manusia yang memiliki jiwa dan kehendaknya sendiri.

Ketika kita berhasil menghadapi penolakan dengan besar hati dalam hal cinta, itu dapat membawa manfaat yang jauh lebih luas dalam kehidupan kita nanti. Pengalaman tersebut bisa menjadi pembelajaran berharga yang dapat membantu kita menghadapi tantangan di dunia kerja dan pergaulan. Misalnya saat ide kita ditolak atasan, diabaikan orang lain, atau hubungan yang lainnya, kita tidak mudah berkecil hati. Jadikan penolakan sebagai kesempatan untuk belajar dan tumbuh.

Jadi, untukmu yang pernah merasakan penolakan, jangan biarkan itu menghentikan semangatmu. Jadikan momen itu sebagai pelajaran berharga dan pijakan untuk menemukan cinta yang lebih baik di masa depan.

Ika Ariyani

Kontributor Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!