Pada awal Maret 2025, film ‘No Other Land’ menerima penghargaan Oscar kategori Best Documentary Feature Film. Publik kemudian ramai membincangkan capaian ini menjadi simbol “gebrakan perjuangan” bagi penduduk Palestina. Paling tidak, begitulah narasi yang banyak muncul di berbagai pemberitaan dan media sosial.
Film dokumenter ini juga banyak disorot karena menghadirkan “kolaborasi” Palestina-Israel. Ini menjadi pembeda dari banyaknya film yang mengangkat cerita tentang perjuangan penduduk Palestina sebelumnya, yang tak pernah memenangkan penghargaan Oscar. Seperti, Al-Nakba (2008), Born in Gaza (2014), On More Jump (2019), Gaza Fights for Freedom (2019), Farha (2021), dan lainnya.
Ada empat sutradara No Other Land yang berasal dari Palestina dan Israel. Dari Palestina ada Basel Adra dan Hamdan Ballal sebagai penduduk asli Palestina. Mereka mengalami pengusiran dan melakukan aktivisme perjuangan atas hak tanah di Tepi Barat. Ada pula warga Israel, Yuval Abraham (jurnalis) yang ditampilkan berkawan dengan Basel dalam scene film dokumenter dan Rachel Szor.
Film dokumenter berdurasi satu setengah jam itu, banyak berisi rekaman kamera pribadi Basel Adra, seorang aktivis perjuangan Palestina. Disampaikan dengan tambahan narasi tulisan dan percakapan, rekaman itu menyoroti proses penghancuran Masafer Yatta (pemukiman di Tepi Barat), antara tahun 2019 hingga 2023.
Baca Juga: Diam Seribu Kata, Fans Tetap Setia: Fenomena Artis ‘Tone-Deaf’ Soal Gaza Palestina
Sepanjang film, penonton akan lebih banyak diajak melihat interaksi Basel dan Yuval.
Sesekali ada selingan pertanyaan yang mempertanyakan posisi Yuval sebagai orang Israel dalam interaksi mereka, tapi seolah hanya angin lalu. Misalnya saat ada pihak keluarga Basel yang berseru ke Yuval, “Bagaimana bisa kita berkawan (setara), jika saudaramu (dengan relasi kuasa kolonialisme) menghancurkan tempat di tanah kami?”
Selebihnya, film itu banyak berisi potongan video-video yang berisi penghancuran demi penghancuran tempat tinggal keluarga Basel dan Hamdan. Bagaimana warga Masafer Yatta bertahan, bahu-membahu membangun sekolah meski kemudian dihancurkan. Hingga, aksi unjuk rasa perempuan dan anak-anak yang diwarnai kekerasan militer.
Menonton film ‘No Other Land’ memang bisa dilakukan dalam sekali duduk. Tapi, proses penilaian atas kelayakan disebut “mewakili” perjuangan rakyat Palestina, rasanya tak sesederhana itu. Sebab diperlukan melihat persoalan penderitaan Palestina secara struktural dan perjalanan sejarahnya. Yaitu, penjajahan dan pembunuhan besar-besaran secara berencana bangsa atau ras (genosida) Israel terhadap penduduk Palestina.
Minim Soroti Relasi Kuasa Kolonialisme
Film ‘No Other Land’ tampak tak gamblang membongkar relasi kuasa antara Israel dan Palestina. Bahwa ada kolonialisme (penjajahan) atas tanah penduduk Palestina, yang didukung oleh kekerasan militeristik Israel, sejak berdekade-dekade bahkan berabad lamanya.
Pada penggambaran film itu, penonton hanya akan melihat sebatas “adu klaim”. Penduduk Palestina di Tepi Barat yang merasa memiliki hak atas tanah versus militer yang merasa daerah itu adalah tempat latihannya. Meski banyak scene dokumenter yang menunjukkan resiliensi (daya tahan di situasi sulit) penduduk Masafer Yatta termasuk para perempuan dan anak-anak, tapi narasi pengakuan adanya kolonialisme tak muncul dengan kuat.
Pihak Israel yang ditunjukkan berwajah militer bersenjata lengkap dengan bouldozernya, tampak berkali-kali “bebas” melakukan pembongkaran tempat tinggal, pengusiran penduduk, perampasan tanah, kekerasan bahkan pembunuhan. Mereka hanya akan menunda melakukan itu, ketika ada aksi demo atau kedatangan politikus kulit putih yang disorot media.
Penyajian film dokumenter itu, tak terlihat berupaya menyajikan argumen kuat mengapa tindakan militer Israel harus dihentikan. Kecuali, menampilkan scene penderitaan penduduk Palestina yang, entah sampai kapan akan berakhir itu.
Baca Juga: Dari Kapal Madleen ke Jalanan Jakarta: Perempuan Melawan Penindasan di Palestina
Sedihnya lagi, sampai akhir film dokumenter pun, penduduk Palestina masih digambarkan tak punya cukup daya untuk berhasil melakukan perlawanan. Sebab militer bisa kapanpun merangsek dan menghancurkan tempat tinggal mereka. Bahkan, saat film ini sudah tayang dan menang penghargaan Oscar yang jadi sorotan dunia internasional.
Ketimpangan relasi kuasa yang sudah sedemikian sistematis, juga tampak Interaksi Yuval dan Basel beserta keluarganya. Meski keduanya bisa tampak berkawan, tapi ada sekat seperti “tembok tinggi” yang tak bisa dirobohkan antara keduanya.
Sebagai orang Israel, Yuval bisa lalu lalang melintasi perbatasan Tepi Barat. Bisa memilih dan mendapat pekerjaan, melihat dari dekat penghancuran rumah-rumah keluarga Palestina, bahkan mungkin bisa membuat film dengan mereka. Tapi, bisakah berlaku sebaliknya?
Dalam film, Basel sempat menyinggung soal diskriminasi yang dialaminya sebagai Palestina itu. Mulai dari, tak bisanya keluar dari perbatasan Tepi Barat hingga tak ada keleluasaan pekerjaan. Sementara, Yuval dengan leluasanya melenggang dan ditampilkan tanpa ada konsekuensi ancaman dan kekerasan yang terjadi.
Baca Juga: Feminisme di Persimpangan Jalan: Perempuan Palestina dan Persaudaraan Selektif
“Kamu (Yuval) datang ke sini dari luar. Kamu dapat bergerak bebas. Kamu memiliki pekerjaan. Sedangkan, aku (Basel) tidak.”
Satu scene yang menarik juga, saat Yuval mengeluhkan soal postingan beritanya saat meliput ibu korban kekerasan militer di Masafer Yatta, yang tak ramai memperoleh respons dari beritanya. Basel menyindirnya, seperti seolah-olah Yuval hanya antusias jika mendapat banyak tanggapan dari beritanya di 10 hari kebersamaannya dengan Basel.
“Kamu datang 10 hari seolah semuanya ingin berlangsung cepat, sementara ini sudah berlangsung berdekade-dekade,” kata Basel kepada Yuval.
Sementara itu, Basel terus menerus merekam setiap kejadian kekerasan militer dan melakukan siaran langsung di akun media sosialnya. Suatu waktu dia mengambil gambar itu saat serangan ke Masafer Yatta pada pukul 2 pagi. “Soldier in my village”, begitu Basel memberi caption pada video itu.
Tak ada cara lain yang menurut Basel bisa membantunya. Dia hanya punya ponsel dan kamera yang bisa digunakan menyiarkan situasi dan kondisi penduduk Palestina di Masafer Yatta. Jika terjadi apa-apa dengannya pun, paling tidak ada rekaman yang bisa menjadi bukti.
Itu adalah caranya bertahan dan melawan. Sebab kekerasan bahkan kematian, bisa kapanpun terjadi padanya. “Aku tidak punya apa-apa lagi, selain apa yang ada dalam ponselku.”
Dalam laman resminya, Masar Badil, Komunitas Gerakan Jalur Revolusi Alternatif Palestina juga menyatakan sikap tentang film ‘No Other Land’. Mereka mengkritik kemenangan Oscar pada film itu, bukanlah sebagai bentuk kemenangan yang diberikan pada narasi Palestina. Tapi, kemenangan yang diberikan kepada narasi “kerja sama” atau “kolaborasi”.
Objektifikasi Narasi Palestina
Masar Basil menilai, narasi “kerja sama” itu sebagai bentuk normalisasi melalui karakter sutradara Israel, Yuval Abraham. Melalui posisinya dalam sistem Barat dan Zionis, memberikan film itu legitimasi yang diperlukan untuk mencapai panggung Oscar.
Yuval dikatakan sebagai orang Israel yang tinggal di tanah yang disita, datang menceritakan kisahnya yang seolah-olah dia adalah mediator “netral”, menyuarakan penderitaannya dalam kerangka ekspresif yang diizinkan lembaga budaya Barat.
Di sinilah letak inti masalahnya: bukan orang Palestina yang menceritakan rasa sakit dan perlawanannya sebagai protagonis utama, tetapi orang Israel yang memberinya legitimasi keberadaan dalam ruang sinematografi Barat.
“Bagaimana masalah Palestina diperlakukan dari perspektif kolonial, bahkan dalam konteks solidaritas yang diproklamirkan, orang Palestina selalu digambarkan sebagai korban yang membutuhkan seseorang untuk mendefinisikannya dan menerjemahkan penderitaannya ke dalam bahasa yang dipahami Barat, dan bahasa itu hanya bisa menjadi bahasa penjajah itu sendiri,” tulis Masar Badil.
Mereka juga menyoroti pidato Yuval Abraham saat menerima penghargaan Oscar. Yuval mengecam aksi perlawanan pada 7 Oktober 2023, seolah-olah itu adalah awal dari tragedi di Palestina, mereka menganggap itu mengabaikan fakta sejarah bahwa kolonialisme di Palestina telah berlanjut selama lebih dari 75 tahun. Yuval juga tidak menyebutkan soal Nakba dan genosida.
Baca Juga: Google PHK Pekerja Pro-Palestina, AJI Jakarta Serukan Boikot Project Google
Kaitannya itu, menurut mereka, Yuval sudah mengadopsi wacana liberal yang samar-samar yang menolak bentuk-bentuk pembersihan etnis yang paling terlihat, tetapi tidak merujuk pada akarnya. Pidato ini memuaskan pendirian Barat yang mengadopsi narasi bahwa “kedua belah pihak bersalah”, tetapi tidak mewakili narasi Palestina yang sebenarnya. Sebaliknya, mendistorsi dan mereproduksinya sesuai dengan pandangan yang tidak mengganggu sistem yang memberikan film tersebut penghargaannya.
“Mari kita jujur: “No Other Land” menang karena salah satu sutradaranya adalah seorang Yahudi Israel, bukan karena film tersebut mengusung narasi Palestina. Jika film tersebut murni bertema Palestina, film tersebut tidak akan mudah masuk ke Oscar.”
Pernyataannya itu menurutnya bisa ditelusuri, sebab puluhan film Palestina yang mendokumentasikan pembantaian, pembongkaran, dan pemindahan tidak menerima penghargaan ini karena mereka tidak menggunakan “narasi yang tepat”, narasi yang dapat merumuskan tragedi Palestina dengan cara yang tidak akan menantang sistem barat tetapi justru sejalan dengannya.
Masar Badil menekankan, hal yang lebih mengejutkan dari penghargaan itu sendiri adalah pidato yang menyimpang yang menyertai perayaannya. Beberapa orang Palestina dan Arab merayakan kemenangan itu seolah-olah itu adalah kemenangan perjuangan, mengabaikan fakta bahwa narasi Palestina tidak disajikan di sini dengan caranya sendiri (seperti oleh salah satu sutradara Basel Adra), tetapi dalam konteks narator Israel-nya.
“Bagaimana kita bisa merayakan film yang tidak memberi wewenang kepada Palestina untuk menceritakan dan mendefinisikan konteks sejarah dan politik mereka yang sebenarnya, tetapi justru menyoroti visi “simpatisan” Israel yang menentukan apa yang dapat dikatakan dan apa yang tidak dapat dikatakan?”
Distributor AS Tolak Penayangan dan Bungkamnya Penyelenggara Oscar
Dikutip Al Jazeera, film ‘No Other Land’ telah diputar di seluruh dunia dan secara konsisten terjual habis dalam pemutaran independen di Amerika Serikat (AS). Namun, tidak ada distributor AS yang mengambilnya untuk ditayangkan secara nasional. Satu-satunya alasan untuk itu adalah subjeknya: Palestina.
Selama bertahun-tahun, AS memberikan dukungan besar kepada Israel. Baik secara finansial maupun militer. Di forum PBB, dukungan AS untuk Israel juga kerap menjadi penghambat resolusi perdamaian. Banyak negara menyetujui bahwa Palestina seharusnya menjadi negara merdeka dan mengecam aksi kekerasan Israel. Namun, keterlibatan AS sebagai mediator seringkali justru membuat keputusan sulit diimplementasikan.
Selain persoalan distribusi nasional ke AS, kontroversi ‘No Other Land’ juga terjadi usai mendapat penghargaan Oscar. Tiga pekan setelahnya, salah seorang sutradara ‘No Other Land’, Hamdan Ballal mendapat kekerasan militer saat kembali ke rumahnya di Susiya, Tepi Barat. Militer Israel menyerang rumahnya dan memukulinya dengan sadis. Kepalanya berdarah, matanya ditutup dalam keadaan kedua tangan terborgol.
Yuval sempat menyampaikan di X bahwa Academy yang menyelenggarakan Oscar, menolak untuk secara terbuka mendukung Hamdan Ballal saat ia dipukuli dan disiksa oleh tentara dan pemukim Israel.
Baca Juga: Bagaimana Rasanya Peringati Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Di Tengah Konflik di Gaza?
“Beberapa anggota Academy AS – khususnya di cabang dokumenter – mendesak pernyataan, tetapi akhirnya ditolak. Kami diberi tahu bahwa karena warga Palestina lainnya dipukuli dalam serangan pemukim, hal itu dapat dianggap tidak terkait dengan film tersebut, jadi mereka merasa tidak perlu menanggapi,” kata Yuval dikutip The Guardian.
Sementara Hamdan jelas menjadi sasaran karena membuat No Other Land, ia juga menjadi sasaran karena menjadi warga Palestina, seperti banyak orang lain yang setiap hari diabaikan.
“Hal ini, tampaknya, memberi Academy alasan untuk tetap diam ketika seorang pembuat film yang mereka hormati, yang hidup di bawah pendudukan Israel, sangat membutuhkan mereka,” lanjutnya.
Academy awalnya menanggapi insiden tersebut pada hari Rabu, tetapi tidak merujuk langsung kepada Ballal. Surat terbuka yang ditandatangani oleh para aktor, produser, dan pembuat film dokumenter mengkritik pernyataan awal tersebut. Aktor-aktor terkenal yang menandatangani surat tersebut termasuk Mark Ruffalo, Olivia Colman, Emma Thompson, Richard Gere, Susan Sarandon, Joaquin Phoenix, dan Penelope Cruz.
Dua hari usai pernyataan resmi Academy penyelenggara Oscar menuai polemik, mereka memperbarui pernyataan sikapnya.
“Kami dengan tulus meminta maaf kepada Tn. Hamdan Ballal dan semua artis yang merasa tidak didukung oleh pernyataan kami sebelumnya dan ingin memperjelas bahwa Academy mengutuk kekerasan semacam ini di mana pun di dunia… Penargetan Hamdan Ballal bukan hanya serangan terhadap satu pembuat film, ini adalah serangan terhadap semua orang yang berani menjadi saksi dan mengatakan kebenaran yang tidak mengenakkan,” kata Academy.
Baca Juga: Menteri Spanyol Ione Belarra Dipecat, Sebut Netanyahu dan Israel ‘Penjahat Perang’
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, kekerasan militer Israel di Tepi Barat telah menewaskan sedikitnya 870 warga Palestina, termasuk 177 anak-anak, dalam serangan di seluruh Tepi Barat sejak dimulainya perang Gaza terakhir.
Data PBB untuk koordinasi urusan kemanusiaan, rata-rata ada empat insiden sehari. Dari 7 Oktober 2023 hingga 31 Desember 2024, setidaknya tercatat 1.860 insiden kekerasan pemukim di Tepi Barat.






