Album ‘Man’s Best Friend’ Sabrina Carpenter, Ini Pemberdayaan atau Stereotipe Demi Estetika Pasar?

Rilisan terbaru penyanyi Sabrina Carpenter, ‘Man’s Best Friend’, menuai kontroversi soal peran gender. Apakah ia metafora atau pelanggengan stereotipe perempuan?

Sudah mendengarkan rilisan album terbaru penyanyi Sabrina Carpenter, ‘Man’s Best Friend’? Album tersebut lahir di tengah era pop modern; ketika simbol seksual dan satire sering dihadirkan dan diklaim sebagai kebebasan berekspresi. Beberapa kalangan memuji album terbaru Sabrina Carpenter karena produksinya yang berkilau dan kemampuan Sabrina menulis lirik yang jenaka dan berani. Karyanya juga sekaligus mengundang kontroversi tentang cara perempuan direpresentasikan di masyarakat lewat budaya pop modern. 

Kadang butuh kemahiran membaca satire untuk melihat karya seperti Man’s Best Friend dari sudut pandang yang berbeda. Mulai dari sampul album, lirik lagu, hingga visual panggung penampilannya. Gambar depan sampul albumnya yang paling menuai perdebatan: Sabrina bersimpuh di bawah sepasang kaki laki-laki. Sebagian menilai itu sebagai sarkasme tentang relasi gender. Namun, saya hendak berargumen: tidak semua ekspresi seksual atau sarkasme otomatis berarti pemberdayaan. Ada momen-momen dalam album tersebut yang, alih-alih ‘membebaskan’, justru berisiko menyudutkan salah satu pihak dalam dinamika gender. Serta “melanggengkan” stereotipe yang justru merugikan.

Kontroversi Sampul Album: Metafora atau Pelanggengan Peran Submisif?

Album Man’s Best Friend resmi diluncurkan pada tanggal 29 Agustus 2025. Informasinya langsung disampaikan melalui halaman Instagram Sabrina. Album ini disebut sebagai karya yang lahir dari momen kreatif tanpa tekanan. Sabrina mengungkapkan bahwa proses penggarapan kali ini menjadi salah satu paling menyenangkan dan berkesan dalam hidupnya. 

Secara musikal, Man’s Best Friend menampilkan campuran disco-pop, funk, dan synth yang sangat catchy. Produksinya bisa dikatakan rapi dan Sabrina berkolaborasi dengan produser ternama untuk memproduksi album ini.

Namun, kontroversi terbesar bermula dari sampul album Man’s Best Friend. Fotonya menampilkan Sabrina dengan pose yang mengombinasikan kesan dominan dan submisif antara laki-laki dan perempuan. Dia berlutut pada seorang laki-laki, sementara tangan laki-laki tersebut memegang rambutnya. 

Penampilan visual itu mungkin dimaksudkan sebagai metafora. Namun, pembacaannya dapat berbeda-beda bagi publik. Sebagian pihak melabelkan hal tersebut sebagai satire terhadap budaya objektifikasi. Sabrina sendiri menyebutnya sebagai metafora dan menolak tuduhan dehumanisasi.

Baca juga: Lagu Nadin Amizah dan Idgitaf Bantu Perempuan Berdamai Dengan Diri Sendiri

Sementara itu, banyak pengamat dan penggemar justru melihatnya sebagai representasi visual yang mengulang ‘gaya’ lama. Perempuan dimunculkan sebagai objek yang ‘tunduk’ dan dipertontonkan untuk ‘dinikmati’ tubuhnya’.

Hal Itu menimbulkan pertanyaan fundamental. Ketika karya seni menggunakan simbol perempuan submisif yang lekat akan sejarah patriarki, siapa yang benar-benar memperoleh manfaat dari simbol itu? Sang perempuan atau sistem yang telah lama memonetisasi dan mengeksploitasi citra perempuan?

Kita perlu membedakan antara provokasi yang membongkar struktur dan provokasi yang sekedar mengambil estetika. Imajinya mungkin tampak estetis, tapi tidak cukup menunjukkan bahwa perempuan di sana sedang memegang kendali narasi. Atau paling tidak, ia bukan hanya menjadi “subjek yang menampilkan kepatuhan” untuk tujuan komersial.

Humor Seksual dan Fetishisasi

Kritik substantif juga muncul pada lirik lagu yang berkali-kali menempatkan perempuan dalam posisi biologis atau seksual yang eksplisit. Kadang ia hadir sebagai cara berdaya, tetapi di lain sisi terasa seperti pengulangan fetishisasi. Misalnya penggunaan humor seksual yang tidak memberi ruang nuansa bagi pengalaman perempuan yang kompleks.

Salah satunya dalam lagu ‘Manchild’ yang sempat dirilis saat awal musim panas tahun ini. Lagu ini menggambarkan seorang laki-laki dengan cara pikir yang belum dewasa, meski usia dan fisik tidak demikian. Hal ini membuat perempuan tidak nyaman saat menjalin hubungan, sebab laki-laki tersebut jadi ‘kekanak-kanakan’ baginya.

Namun, dalam lirik lagu ‘Manchild’, Sabrina terkesan ‘menyalahkan’ ibu sang laki-laki terkait pengajaran terhadap anaknya yang belum dewasa dalam berpikir itu. Lirik, “I choose to blame your mom,” menggambarkan hal itu.

Di sisi lain, kritik ini bukan menolak seksualitas perempuan. Ini lebih mempertanyakan cara seksualitas itu ditampilkan dengan kata lain. Seksualitas bisa menjadi alat pemberdayaan jika perempuan, misalnya, dikisahkan memegang kendali narasi seksualnya sendiri, menentukan kapan, bagaimana, untuk siapa.

Jika penyajiannya lebih mengandalkan trope humor seks yang mengundang tawa atau kecurigaan, penonton bisa saja menafsirkan kembali pesan itu sebagai pembenaran fetish atau stereotipe. 

Beberapa kritik pun menyentil hal tersebut. Ini menunjukkan adanya garis tipis antara “bergurau dengan seksualitas” dan memproduksi kembali wacana yang merendahkan.

Antara Solidaritas atau Estetika

Dalam penampilan berbagai lagu yang termuat di album ‘Man’s Best Friend’, Sabrina memilih estetika panggung yang teatrikal. Video dan penampilannya di VMAs menghadirkan penampil drag dan set yang intens secara visual. Beberapa pengamat memuji aksi ini sebagai solidaritas konkret terhadap komunitas trans dan kelompok marginal, serta langkah yang jelas dan progresif. 

Di sisi lain, penampilan tersebut juga dinilai mempromosikan visual yang menampilkan perempuan sebagai subjek seksual. Muncul kekhawatiran bahwa solidaritas terhadap kelompok marginal tersebut bisa jadi bersifat instrumental atau sekedar estetika. Tanpa refleksi mendalam atas cara perempuan sendiri direpresentasikan dalam sebuah karya.

Solidaritas dan representasi kelompok rentan adalah sesuatu yang interseksional dan semestinya inklusif. Dukungan terhadap suatu kelompok marginal tentu patut diapresiasi, tapi tak otomatis membenarkan segala representasi artistik yang dipertanyakan dari kelompok lain. Ini mengingatkan bahwa konsistensi representasi adalah bagian dari etika artistik.

Baca juga: Lirik Lagu Cengeng Mendominasi Pasar Lagu Indonesia, Menihilkan Perjuangan Perempuan

Bicara feminisme berarti juga harus membedah konteks tentang yang berkuasa, yang diuntungkan, dan yang disuarakan. Dalam beberapa bagian Man’s Best Friend ada kecenderungan meminjam retorika ‘pemberdayaan’. Kata-kata seperti “bold”, “unapologetic”, dan “sexual agency” bermunculan. Tapi tanpa memberikan ruang struktur yang lebih dalam pada lagu-lagu dalam album tersebut. Misalnya, pengalaman perempuan rasial minoritas, kelas ekonomi bawah, atau yang hidup di lingkungan dengan risiko berbeda, ketika melihat estetika yang sama.

Kritik feminis yang tajam menuntut lebih dari sekadar kebebasan yang tersirat. Jika yang dituntut adalah pengakuan atas sejarah eksploitasi citra perempuan dan upaya sadar untuk membalikkan atau mengatasi pola tersebut, sesuatu pada album ini terasa belum konsisten. 

Kritik Pop yang Lebih Inklusif

Menilai sebuah album pop besar seperti ‘Man’s Best Friend hari ini butuh keberimbangan. Apresiasi musik penting, tapi kritik etis yang inklusif juga tak bisa diabaikan.

Sampul dan materi visual, misalnya, harus dibaca sebagai teks secara kritis. Dengan demikian, riset bisa dilakukan demi mengenali sosok yang diuntungkan oleh simbol yang hadir di dalamnya. Sebuah karya seni atau produk media juga sudah tak bisa lagi diterima tanpa syarat. Penilaiannya harus memisahkan apresiasi produksi—seperti musik, aransemen, dan penampilan—dengan evaluasi soal representasi. Selain itu, diskusi dengan konteks harus terus dihidupkan. Terkait penyajian seksual dalam sebuah karya, adakah ia bersifat subversif atau sekadar melanggengkan estetika pasar? Diskusi ini harus memasukkan suara-suara perempuan dan kelompok rentan agar tidak ada yang merasa ‘disudutkan’, apa lagi diobjektifikasi.

‘Man’s Best Friend’ adalah karya pop yang berhasil memancing perdebatan; itu nilai artistik yang penting. Nilai estetika tidak bisa serta-merta membebaskan karya dari tanggung jawab representasi. Dari perspektif feminis, album ini mengandung momen-momen yang justru berpotensi tidak ‘memberdayakan’ bila ditelaah lebih jauh/ Bukan tidak mungkin, ia mengulang struktur antara perempuan dan laki-laki yang sering hadir di dalam masyarakat patriarki.

Kritik ini bukan serangan personal terhadap Sabrina Carpenter. Tentu dia berhak bereksperimen dalam karyanya. Namun ini dapat menjadi pengingat bahwa kita semua (artis, industri, dan publik) harus cukup kritis dalam melihat sebuah narasi pemberdayaan yang lebih konsisten, inklusif, dan reflektif. Tanpa menyudutkan gender yang lebih rentan dan justru menyampaikan pesan yang ambigu dalam karyanya.

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

Sumber data 

https://people.com/mtv-vmas-2025-sabrina-carpenter-best-album-award-11805145

https://www.newyorker.com/magazine/2025/09/15/mans-best-friend-review-sabrina-carpenter

https://www.teenvogue.com/story/sabrina-carpenter-mans-best-friend-cover-discourse-drama-explained

https://ejournal.amirulbangunbangsapublishing.com/index.php/jpnmb/article/download/142/119/954

Foto: You Tube Sabrina Carpenter

Ayu Puspita Lestari

Mahasiswa semester akhir jurusan Akuntansi dari Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!