Sineas perempuan di balik layar perak mengukuhkan representasi dan inklusi. (Foto: Indonesiana.tv)

Perempuan di Balik Layar Perak: Mengukuhkan Representasi, Resistensi, dan Suar Suara Inklusi

Sinema dibuat untuk merepresentasikan realitas. Dalam konteks tersebut, dengan demikian perspektif perempuan berperan penting dalam membentuk narasi yang lebih inklusif dan representatif dalam film. Para sineas perempuan pionir di Indonesia seperti Ratna Asmara, Sofia WD, dan Ida Farida telah menyalakan obor hadirnya perspektif perempuan dan cerita-cerita yang kerap terpinggirkan ke layar perak. Program Layar Cerita Perempuan adalah salah satu program progresif yang digagas Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek untuk semakin memperkuat perjuangan pengarustamaan perspektif perempuan dalam industri film. Karya-karya yang lahir dari Program Layar Cerita Perempuan dapat ditonton di https://layarceritaperempuan.indonesiana.tv.

Sineas perempuan menghadirkan pandangan dan pengalaman yang berbeda, menawarkan cerita dengan nuansa dan sensitivitas yang kerap terlewatkan oleh sutradara laki-laki. Serta memperkaya kreativitas di belakang dan di depan layar. Keberagaman perspektif ini sangat penting untuk menciptakan karya-karya dan ekosistem film yang sarat inklusivitas. 

Namun, perjalanan perempuan dalam perfilman Indonesia tidak selalu mudah. Dari masa ke masa, sineas perempuan menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari ketiadaan ruang aman dan potensi kekerasan seksual, kurangnya dukungan finansial, hingga keterbatasan akses terhadap teknologi dan sumber daya. 

Menyadari pentingnya perspektif perempuan dalam perfilman, berbagai program dan inisiatif kini hadir untuk mendukung sineas perempuan. Salah satunya adalah program turunan dari Dana Indonesiana yaitu  Layar Cerita Perempuan. Program pendukungan tersebut bertujuan untuk mendorong produksi film-film yang melibatkan perempuan sebagai kreator dan mengangkat isu-isu perempuan. Dalam perjalanannya, hal tersebut akan memicu peningkatan kualitas perfilman dan memperkuat ekosistem film di Indonesia. Sebagaimana sempat disampaikan oleh Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek pada peringatan Hari Film Nasional pada 30 Maret 2024 lalu. “Terus meningkatnya kualitas produksi perfilman Indonesia berpengaruh pada makin tingginya kepercayaan masyarakat pada kreativitas seni anak bangsa.”

Sejarah Perfilman Indonesia dari Perspektif Perempuan

Sejarah perfilman Indonesia mencatat nama-nama perempuan hebat yang menjadi pionir r salah satu sektor industri kreatif tersebut. Ratna Asmara, sutradara perempuan pertama di Indonesia, memulai kariernya di bidang perfilman tidak lama setelah kemerdekaan Indonesia  dengan film Sedap Malam (1950). Karya yang mengisahkan perjuangan hidup seorang jugun ianfu ini menjadi tonggak penting dalam sejarah perfilman Indonesia sebagai bukti kemampuan sineas perempuan dalam  menciptakan cerita-cerita berkualitas yang sarat dengan pesan sosial. Ratna Asmara lantas menjadi seorang pionir yang membuka jalan bagi perempuan lain di industri film.

Sofia WD adalah figur lain yang tak kalah penting dalam sejarah perfilman Indonesia. Selain dikenal sebagai aktris, Sofia juga seorang sutradara yang aktif pada era 1950-an hingga 1970-an. Karya-karya Sofia WD sering kali berfokus pada kehidupan sosial dan peran perempuan dalam masyarakat. Melalui film-filmnya, ia berusaha mengangkat isu-isu yang relevan dan memberikan suara kepada perempuan, menunjukkan kekuatan dan ketahanan mereka dalam menghadapi berbagai tantangan.

Kemudian pada era 1980-an, muncul Ida Farida sebagai sutradara perempuan yang berani mengangkat isu-isu sosial yang sering kali dihindari oleh arus utama. Ida Farida memilih untuk tidak mengikuti tren industri yang cenderung menghindari topik-topik sensitif dan kontroversial. Film-filmnya mengeksplorasi kompleksitas kehidupan perempuan dalam masyarakat patriarkis, memberikan pandangan yang mendalam dan kritis tentang peran dan hak perempuan di Indonesia.

Baca Juga: Reni Yuniastuti dan Menari dalam Hening: Menyulam Kekuatan Perempuan, Disabilitas, dan Sinema

Ketiga sutradara perempuan tersebut memiliki satu kesamaan: mereka berani melawan arus dan menghadirkan perspektif yang berbeda dalam karya-karyanya. Melalui film-film mereka, Ratna Asmara, Sofia WD, dan Ida Farida menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam menciptakan narasi yang lebih kaya dan beragam.

Dalam konteks yang lebih luas, kontribusi mereka tidak hanya terbatas pada dunia perfilman. Karya-karya mereka membantu mengubah pandangan masyarakat tentang perempuan dan peran mereka dalam berbagai aspek kehidupan lewat representasi alternatif. Mereka membuka jalan bagi generasi sineas perempuan berikutnya untuk terus berkarya dan berkontribusi dalam industri film. Warisan mereka adalah bukti bahwa perempuan memiliki tempat yang sah dalam industri perfilman.

Pengalaman Reni Yuniastuti sebagai Sineas Perempuan

Di masa kini, Reni Yuniasuti, seorang produser dari Remen Film, adalah contoh nyata dari sineas perempuan yang memanfaatkan peluang untuk membawa perubahan dalam industri film Indonesia. Bersama Aditya Sanjaya, Reni mendirikan Remen Film di Magelang pada 2005. Mereka memulai perjalanan dengan sebuah film dokumenter untuk tugas akhir yang kemudian memenangkan kategori film amatir terbaik di Festival Film Dokumenter (FFD).

Perjalanan Reni di industri film tidak selalu mudah, tetapi ia tidak pernah merasa mengalami diskriminasi sebagai perempuan. Reni tetap fokus pada keberagaman dan kekuatan yang dimiliki oleh perempuan yang terlihat dalam karya-karyanya.

Salah satu proyek terpenting Reni adalah Menari dalam Hening (2023) salah  film yang didanai oleh Dana Indonesiana melalui proyek Layar Cerita Perempuan tahun 2023. Film pendek ini mengangkat kisah remaja perempuan disabilitas yang berhasrat menjadi penari gombyong, cerita yang menunjukkan komitmen Reni dalam menciptakan ekosistem narasi yang inklusif. Proses produksi film ini penuh tantangan, terutama dalam hal komunikasi karena melibatkan pemeran tuli.

“Jadi, di awal-awal produksi itu, kami sempat diskusi, pertama adalah teman-teman takut komunikasinya tidak tersampaikan dengan baik dengan Tuli. Karena saya yang minta kalau pemerannya ini benar-benar Tuli.”

Baca Juga: Peran Ibu dalam Pelestarian Anyaman Bambu

“Saya menggaris bahwa ini adalah film inklusi. Ketakutan itu saya redakan, saya sampaikan bahwa nanti ketika syuting, mulai dari praproduksi reading, kita akan menggunakan juru bahasa isyarat untuk mendampingi dan menyambungkan komunikasi kami sebagai dengar dengan Tuli,” cerita Reni pada Konde.co.

Keberhasilan Menari dalam Hening menunjukkan bagaimana representasi suara kelompok yang terpinggirkan mampu menjadi suar. Dalam proses kreatif pembuatan filmnya, Reni mengajak rekan-rekannya untuk bersama-sama menciptakan  ekosistem produksi film yang inklusif sejak dalam pikiran. Hal tersebut terlihat dari tim produksi yang kemudian belajar bahasa isyarat karena film garapannya.

“Teman-teman memanfaatkan waktu itu untuk disela-sela belajar bahasa isyarat. Ya, sedikit-sedikit akhirnya teman-teman sudah belajar bahasa isyarat,” tambah Reni.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa inklusivitas bukan hanya tentang cerita yang diangkat, tetapi juga tentang proses di balik layar. Film ini menjadi bukti akan keberanian Reni dan Remen Films untuk mengangkat kisah-kisah yang jarang terdengar, serta mengembangkan ekosistem representasi yang lebih inklusif dalam dunia perfilman.

Layar Cerita Perempuan sebagai Bagian dari Penguatan Ekosistem Film

Layar Cerita Perempuan adalah bagian dari Penguatan Ekosistem Film, salah satu dari 10 Program Minimum Kebudayaan yang bertujuan untuk mendukung dan mendorong produksi film yang mengangkat cerita-cerita perempuan serta perspektif-perspektif yang relevan dengan isu-isu gender. 

Melalui program ini, Dana Indonesiana memberikan dukungan finansial dan platform bagi  sineas perempuan untuk menciptakan karya-karya yang kreatif sekaligus inklusif.

Program yang berjalan sejak 2022 ini terus  memberikan angin segar bagi sineas-sineas perempuan di Indonesia. Tidak hanya memberikan dukungan finansial, tetapi juga menyediakan ruang bagi mereka untuk mengeksplorasi dan menyampaikan cerita-cerita yang sering kali terpinggirkan.

Proses produksi Menari dalam Hening” menunjukkan bagaimana Dana Indonesiana dapat digunakan untuk mengembangkan kebudayaan lokal dengan cara-cara yang inovatif. Program ini diharapkan dapat menjawab tantangan seperti finansial yang sering kali menjadi hambatan utama bagi para sineas di Indonesia, sebagaimana cerita Reni.

Baca Juga: Upaya Mahima Merajut Warisan dan Masa Depan Lewat Singaraja Literary Festival

“Itu sangat membantu, karena teman-teman di lokal juga pasti punya ide yang menarik dengan lokalitasnya, ya. Jadi, di media merealisasikan ide itu dalam bentuk film.” 

“Karena, ya, memang terus terang, hampir sama rata-rata benturannya kan adalah dana. Kalau fiksi, dananya kan lumayan. Apalagi dengan alat perawatannya sekarang. Perawatan film yang mendekati standar, itu kan lumayan juga anggarannya. Jadi, Dana Indonesiana itu cukup bantu untuk merealisasikan ide-ide teman-teman film di, ya, di lokal-lokal, begitu,” jelas Reni.

Reni berharap bahwa program Dana Indonesiana terus berlanjut dan semakin banyak mengangkat tema-tema perempuan dari sudut pandang sesilangan. Sebab baginya, film lokal memiliki potensi besar untuk mencerminkan keberagaman budaya dan sosial di Indonesia. Dengan terus mendukung sineas perempuan melalui Dana Indonesiana, diharapkan industri film Indonesia dapat menjadi lebih beragam dan mampu mengupayakan perubahan sosial lewat perspektif yang progresif. 

“Adanya Dana Indonesiana ini memang membentuk ekosistem di lokal-lokal, membangun ekosistem yang positif, ide-ide tentang perempuan tergali, masih banyak lagi yang perlu dieksplorasi, perlu diangkat tentang komunikasi, tentang kekuatan, banyak lagi,” harapnya.Film Reni dan film tentang perempuan lainnya dalam program Layar Cerita Perempuan dapat ditonton di https://layarceritaperempuan.indonesiana.tv.

(Peliputan ini merupakan kerja sama Konde.co dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)

Luthfi Maulana Adhari

Staf program Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!