Apa jadinya ketika kelas pekerja, gen Z pula, memberi ultimatum kepada pemberi kerja untuk memenuhi hak mereka? Ditambah lagi, ini terjadi di industri hiburan K-pop. Hal tersebut sedang dilalui girl group NewJeans.
Berkonflik dengan perusahaan HYBE dan ADOR, NewJeans menceritakan pengalaman mereka didiskriminasi karena membela salah satu eks-petinggi perusahaan. Mereka juga memberikan kesaksian pada anggota dewan pemerintah, serta menuntut agar hak-hak mereka sebagai pekerja dipenuhi dan memberikan ultimatum kepada pejabat perusahaan.
Tidak hanya itu, di luar industri K-Pop di Korea Selatan, tindakan NewJeans juga menimbulkan pro dan kontra. Grup yang terdiri dari anggota perempuan berusia 18-20 tahun itu dianggap berani speak up, sekaligus dilihat sebagai generasi ‘pembangkang’. Bagaimana pun, NewJeans ‘menggebrak’ industri hiburan Korea Selatan yang sudah lama diketahui eksploitatif dan tidak melihat pekerja seni sebagai buruh. Seperti apa kisahnya?
Konflik Petinggi Perusahaan Berujung Diskriminasi
NewJeans saat ini berkasus melawan ADOR, agensi mereka di bawah HYBE sebagai perusahaan induk. Perkara ini mulai bergulir ketika HYBE melakukan penyelidikan internal terhadap Min Hee Jin, mantan CEO ADOR, di bulan April 2024. Hee Jin dituding berusaha memisahkan ADOR dan NewJeans dari HYBE. Setelah membantah tuduhan tersebut, Hee Jin dipecat oleh HYBE dari posisinya sebagai CEO pada Agustus 2024.
Konflik antara para petinggi perusahaan pun membuat para anggota NewJeans bersuara. Mereka menuntut agar Min Hee Jin kembali diangkat menjadi CEO karena pemberhentiannya yang mereka anggap ‘tidak manusiawi’. Lebih lanjut, mereka juga membahas bagaimana mereka diperlakukan sebagai anak tiri di HYBE.
Hal tersebut disinggung para anggota NewJeans—Minji, Hanni, Danielle, Haerin, dan Hyein—lewat siaran langsung di YouTube pada 11 September. Siaran tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan staf perusahaan. Mereka merasa, konflik antara para petinggi perusahaan juga membebani NewJeans selama berbulan-bulan. Kekhawatiran para anggota juga dirasa tidak didengar akibat perseteruan tersebut.
Mereka pun menjabarkan berbagai insiden yang membuat mereka merasa disisihkan oleh perusahaan. Salah satu anggota NewJeans, Haerin (18), menyebut bahwa video para anggota saat masih menjadi trainee, termasuk informasi medis mereka yang seharusnya rahasia, baru-baru itu bocor ke publik. Ia mengaku terkejut atas kejadian tersebut.
Baca Juga: Bukan Cuma Nostalgia: Welcome Back 2NE1, ‘Ratu K-Pop’ yang Gebrak Standar Kecantikan Korea!
“Bagaimana bisa perusahaan, yang seharusnya melindungi kami, membolehkan informasi seperti itu bocor?” ucap Haerin pada 11 September 2024 dalam siaran yang kini dihapus. The Straits Times mengutip sebagian dari isi siaran langsung mereka saat itu. “Saya khawatir informasi aneh atau palsu mengenai kami mungkin dapat menyebar di masa depan.”
Ia juga mengatakan, kendati mereka bersama orang tua mereka dan Min Hee Jin telah menyampaikan hal tersebut kepada HYBE, perusahaan tersebut tidak menindaklanjuti laporan mereka.
Anggota lainnya, Hanni (19), juga menceritakan kejadian yang membuatnya menduga NewJeans dikucilkan di perusahaan tempat mereka bernaung. Suatu hari, perempuan berdarah Vietnam-Australia itu berpapasan dengan grup idol K-pop lain di gedung HYBE. Ia menyapa mereka, tapi lalu mendengar manajer grup tersebut menyuruh mereka untuk mengabaikannya.
“Mengatakan itu di depan saya, mengetahui sepenuhnya bahwa saya bisa mendengarnya. Kenapa saya mesti melalui sesuatu seperti itu?” tukas Hanni. Bahkan, tambahnya, ketika ia mengadu pada pimpinan baru ADOR, ia justru diberitahu bahwa tidak ada bukti yang dapat membantunya.
Bukannya menerima kejujuran cerita Hanni, pimpinan tersebut malah membuatnya merasa jadi pembohong. Kejadian itu membuat Hanni sadar, tidak ada satu pun yang mampu melindungi mereka di dalam perusahaan.
Hal lain yang disadari NewJeans adalah dugaan HYBE menyabotase proses produksi karya grup tersebut. Pertanyaan tentang hal ini muncul dalam benak mereka setelah mengetahui salah satu sutradara video musik mereka diminta untuk menghapus konten-konten terkait NewJeans di akun media sosial resmi mereka. Padahal, konten tersebut dibuat untuk Bunnies, kelompok penggemar NewJeans.
“Kami hanya bekerja keras untuk mimpi-mimpi kami. Salah kami apa?” kata Danielle.
Baca Juga: (G)I-DLE Dobrak Standar Kecantikan dan Patriarki Lewat Musik
Kasus pun terus bergulir. Setelah menyampaikan situasi NewJeans di siaran langsung, Hanni ‘NewJeans’ dipanggil sebagai saksi rujukan dalam audit Komite Lingkungan dan Perburuhan Korea Selatan tanggal 15 Oktober 2024. Kesaksian tersebut merupakan bagian dari investigasi yang lebih luas terhadap budaya tempat kerja di industri hiburan. Fokusnya pada pelecehan dan tindakan perlindungan artis.
Dalam kesaksiannya, Hanni menyatakan bahwa HYBE dan para manajer seniornya merugikan NewJeans. ia menceritakan kembali beberapa insiden ketika dirinya dan grupnya didiskriminasi oleh staf. Kim Joo Young, CEO ADOR saat ini, juga dipanggil untuk bersaksi di sidang tersebut. Dirinya mengatakan bahwa ia akan bekerja sama dalam investigasi atas insiden tersebut.
NewJeans juga diketahui mengirim surat kepada ADOR pada 13 November. Isinya menyatakan bahwa mereka akan mengakhiri kontrak eksklusif mereka dengan perusahaan tersebut, jika mereka tidak memperbaiki semua pelanggaran besar dalam kontrak eksklusif mereka dalam waktu 14 hari.
Kemudian pada tanggal 28 November, lima anggota NewJeans mengumumkan pemutusan sepihak kontrak eksklusif mereka dengan ADOR. Ini berdasarkan dugaan pelanggaran yang sebelumnya diberitahukan kepada perusahaan.
Idol K-Pop Juga Buruh, Butuh Perlindungan yang Jelas
Konflik petinggi perusahaan adalah satu hal. Namun, pernyataan para anggota NewJeans juga memicu pertanyaan: apakah artis K-Pop adalah pekerja—atau buruh? Bukankah pemberi kerja seharusnya melindungi buruh? Bagaimana pengaturan relasi kerjanya selama ini?
Pertanyaan itu muncul setelah para penggemar marah atas hal yang terjadi pada NewJeans. Mereka melaporkan kasus itu sebagai kekerasan di tempat kerja kepada Kementerian Tenaga Kerja dan Buruh Korea Selatan.
Namun, kasus ditutup tanggal 20 November karena, menurut perwakilan pemerintahan, idola K-Pop ‘tidak termasuk karyawan di bawah regulasi negara’. Sebab, artis K-Pop terikat kontrak eksklusif dengan perusahaan. Kontrak tersebut menyatakan penghasilan mereka bersifat ‘profit sharing’ alih-alih diupah seperti pekerja pada umumnya yang diatur dalam undang-undang. Selain itu, kementerian mengutip struktur pendapatan dan status kontraktor independen sebagai alasan mereka tidak memenuhi syarat untuk perlindungan pekerja.
Hal itu memang sempat disinggung Hanni dalam testimoninya di bulan Oktober. “Saya mengerti bahwa kontrak artis dan trainee mungkin berbeda [dari pekerja biasa],” ucapnya. “Namun kami semua manusia.”
Baca Juga: Upah Tak Cukup, 76 Persen Buruh Terjerat Hutang Rentenir Modern
Hal ini pun membuka diskusi baru mengenai definisi buruh dan relasi kerja di industri K-pop. Banyak yang melihat bahwa keputusan kementerian adalah bukti bahwa industri hiburan minim perlindungan formil bagi para artis dan penampil di dalamnya. Pertanyaan mengenai definisi buruh pun muncul. Rupanya, masih banyak yang menganggap ‘buruh’ hanya berarti ‘pekerja kasar’ alih-alih ‘orang yang bekerja pada majikan / atasan untuk dibayar’.
Warganet pun menyebut bahwa kontrak eksklusif tersebut seharusnya tidak lantas menjadi pembenaran atas eksploitasi dan kekerasan terhadap artis. Ini juga membuat hubungan kerja antara artis dan perusahaan lebih seperti konsep ‘kemitraan’, ‘kerja lepas’, dan ‘gig ekonomi’, yang belakangan dikritik karena minimnya perlindungan bagi ‘mitra’ kerja.
Para kritikus berpendapat, putusan ini semakin mengungkap eksploitasi sistemik khususnya dalam industri hiburan. Sebab nyatanya, para idola harus memenuhi jadwal yang melelahkan tanpa perlindungan hukum yang jelas. Status kerja di bawah ‘kontrak eksklusif’ itu membuat mereka kadang harus bekerja seharian penuh tanpa waktu istirahat. Bukan sekadar buruh, idola K-Pop dijadikan objek komoditas pula oleh perusahaan.
Para ahli dan penggemar telah menyerukan reformasi perlindungan pekerja hiburan untuk mengatasi kontrak dan kondisi kerja yang tidak adil. Tagar #IdolsAreWorkers pun sempat bertengger di trending topic. Isinya menuntut pengakuan artis dan pekerja seni sebagai buruh untuk mendapatkan perlindungan seperti pekerja yang diakui dalam undang-undang.
NewJeans dan Stigma Kelas Pekerja Gen Z: Pembangkang atau Berani Speak Up?
Langkah yang diambil NewJeans, mulai dari speak up soal diskriminasi sampai memberi ultimatum pada perusahaan, membuat banyak orang terkejut. Salah satu alasannya, hal itu dilakukan para anggota grup yang masih sangat muda.
Meski banyak yang mendukung mereka, tak sedikit penggemar K-Pop maupun orang awam yang menilai tindakan NewJeans ‘keterlaluan’. Beberapa menilai mereka ‘tidak paham etika dan budaya kerja’, ‘pembangkang’, dan ‘sok idealis’. Apa lagi ketika mereka mengultimatum petinggi perusahaan untuk mengembalikan CEO lama dan memenuhi hak-hak NewJeans. Mereka pun dihujat karena dianggap ‘kurang ajar’ terhadap pemberi kerja.
Ketika NewJeans memutuskan kontrak sepihak dengan ADOR pun, banyak yang merasa mereka berpikir pendek. Beberapa orang berpendapat, seharusnya NewJeans tak melakukan hal itu dengan pertimbangan jumlah nominal kompensasi yang harus mereka bayarkan kepada perusahaan. Ada pula yang menyebut mereka sekadar ‘bocah’ yang ‘tidak paham bagaimana hukum bekerja’.
Bagi saya, yang menarik adalah pendapat itu justru muncul dari orang-orang yang termasuk generasi milenial, X, bahkan boomer. Setidaknya jika berasumsi bahwa mereka juga bekerja, ini seperti membuktikan bagaimana kelas pekerja gen Z kerap dilekatkan stigma. Juga bagaimana generasi yang lebih tua cenderung menormalisasi relasi kuasa dalam budaya kerja yang toxic. Alhasil, upaya-upaya memutus rantai beracun itu dilihat sebagai pembangkangan.
Baca Juga: Stop Sebut Buruh Migran ‘Pahlawan Devisa’, Ini Konstruksi Patriarki di Era Surplus Pekerja
Beberapa stigma dan stereotipe bermunculan terkait etos kerja gen Z. Mulai dari dianggap kurang punya motivasi dan inovasi, kurang profesional, keterampilan berkomunikasi dan berorganisasi buruk, dan sebagainya. Gen Z dalam kelas pekerja dianggap sebagai generasi yang ‘malas’ dan ‘pembangkang’.
Melansir The Conversation, gen Z memang punya beberapa ekspektasi atas tempat dan lingkungan kerja mereka. Bekerja, bagi mereka, bukan cuma soal gaji. Tapi juga soal kontribusi pada tujuan yang lebih tinggi. Nilai-nilai yang mereka pertimbangkan antara lain fokus pada sumber daya manusia, menghargai kontribusi, mengutamakan kesejahteraan, dan sejalan dengan misi yang dipercaya.
Kasus NewJeans juga menimbulkan perdebatan karena hal itu. Benarkah mereka pemalas? Atau jangan-jangan, lingkungan kerjanya yang tidak dapat mengapresiasi mereka. Benarkah mereka kurang ajar? Atau selama ini, buruh kesulitan mengakses hak-hak mereka karena ketimpangan relasi kuasa dan penguasa yang sewenang-wenang?
Kembali lagi, gen Z yang bekerja mengadopsi nilai-nilai tertentu yang membentuk persepsi mereka terhadap lingkungan kerja. Mereka mengharapkan pemberi kerja mampu setidaknya melindungi dan menjamin hak-hak mereka sebagai pekerja. Ketika pemberi kerja gagal melindungi, bahkan merampas hak mereka, tentu mereka merasa hal itu harus diungkap. Mereka juga cenderung mendukung lingkungan kerja yang lebih fleksibel; jika pejabat perusahaan berbuat salah, mungkin ia harus di-call out.
Terlepas dari konflik para pejabat perusahaan, NewJeans setidaknya membuka mata banyak orang bahwa buruh punya hak untuk bicara. Kelas pekerja tak seharusnya diam atas diskriminasi dan penindasan. Mungkin bukan yang pertama, tapi NewJeans berhasil mengguncang status quo dalam industri K-Pop dan kerja-kerjanya yang eksploitatif dan kerap tak manusiawi kepada para artis. Sudah waktunya mengakui bahwa, pada akhirnya, kita semua yang bekerja untuk dibayar adalah buruh, dan kita semua berhak mendapatkan hak dan perlindungan sebagai sesama manusia.
Seperti lirik lagu NewJeans, yang bagian akhirnya dimodifikasi oleh penggemar: “I got nothing to lose—but my chains!”
(sumber foto: Instagram @newjeans_official)






