Anuja (9) dan saudara perempuannya, Palak, duduk bersebelahan menjahit kain yang membentang di mesin pabrik. Di sekelilingnya ada beberapa anak perempuan yang juga tampak mengerjakan bagiannya.
Di sebrang ruangan lain, bos pabrik tengah menelepon klien. Dia meyakinkan pesanannya segera selesai. ‘Gadis-gadis itu bekerja siang dan malam,” ucapnya.
Tak hanya ada satu pekerja anak seperti Anuja, pabrik itu mempekerjakan sebanyak 24 anak perempuan. Supaya tak dianggap pekerja ilegal, identitas usia mereka dipalsukan.
Selama 14 jam mereka bekerja di depan mesin jahit. Dalam sehari, mereka hanya diberi waktu 15 menit untuk istirahat ke toilet dan makan. Upah yang diterima pun relatif kecil, sebagai gambaran 400 rupee (Rp 75 ribu) bagi mereka adalah besar.
Suatu hari, Anuja dipanggil menghadap bos. Ada seorang guru laki-laki, Mishra, sedang mencari Anuja yang sudah beberapa waktu bolos sekolah. Dia mengingatkan jika hari Selasa pukul 8 pagi adalah kesempatannya ikut ujian beasiswa asrama.
Palak termasuk yang mendukung Anuja ikut ujian. Dia memberi tau Anuja apa itu beasiswa asrama sampai mencari cara mendapatkan 400 rupee untuk mendaftar ujian beasiswa itu.
Itu mereka lakukan dengan menjual tas, yang diam-diam dibuat Palak dengan tekun dari perca sisa kain di pabrik. Mereka menjajakan tas-tas itu di pasar sampai ke pengunjung toko modern.
Meski sempat dikejar-kejar petugas keamanan, Anuja akhirnya bisa menjual tasnya dan dapat 800 rupee. Jumlah uang yang sudah cukup besar bagi mereka gunakan untuk nonton bioskop dan makan enak, serta sisanya yang mestinya bisa untuk membayar uang pendaftaran ujian.
Baca Juga: ‘1 Kakak 7 Ponakan’, Kisah Kerja Perawatan dan Pengorbanannya
Di tengah upaya Palak membuat Anuja mau mengikuti ujian. Bos pabrik menginginkan Anuja tetap bekerja di tempatnya. Dia memanggil Anuja diam-diam dan mengiming-iminginya uang besar sebagai juru hitung pabrik. Dengan syarat, Anuja mesti datang ke ruangannya hari Selasa pukul 8 pagi. Sama dengan waktu semestinya ujian beasiswa asramanya.
Anuja yang memikirkan kakaknya, Palak, butuh uang banyak untuk pernikahan mulai terlihat bimbang. Dalam scene yang ditunjukkan, Anuja tetaplah anak-anak dengan kepolosan dan kebingungannya. Hidup di tengah kemiskinan struktural, tanpa akses pendidikan yang layak, menjadikannya anak-anak seperti Anuja mesti bertahan hidup dengan ikut bekerja.
Palak dan Anuja yang hidup serba keterbatasan, hanya bisa saling mengandalkan satu sama lain. Sebab mereka hidup sebatang kara tanpa orang tua di sebuah petak rumah semi-permanen yang tampak rapuh.
Meski tumbuh dengan tanpa mengenyam pendidikan, sosok Palak bisa dikatakan terdidik. Dia juga feminis, bukan hanya terlihat saat teguh memperjuangkan hak perempuan untuk pendidikan. Tapi, kritik sosialnya pada ketidakadilan terhadap perempuan yang ada di sekitarnya.
Salah satu dialog Palak dengan Anuja misalnya saat mereka membaca kolom ‘pencarian jodoh’ di koran. Anuja membacakan Palak, ada seorang laki-laki yang menjuluki dirinya Mr. Handsome, sedang mencari calon pendamping dengan syarat ‘perempuan yang tak ambisius dengan masa depan’. Dengan lantang, Palak mengatakan:
“Tak boleh ambisius? Jika perempuan itu tak ambisius, lantas siapa lagi?”
“Memangnya laki-laki kerjanya becus?”
Baca Juga: Film ‘Room’, Perjuangan Perempuan Bebas dari Ruang Saksi Trauma Kekerasan Seksual
Film pendek yang disutradarai Adam J Graves ini, seolah menyentil sistem patriarki yang selama ini terus meminggirkan perempuan di India melalui sosok Palak. Penyorotan gambar di sepanjang film yang muram, juga menggambarkan suramnya realitas kemiskinan dan eksploitasi pekerja anak di sana.
Namun, berhasilkah Anuja lepas dari tembok pabrik yang mengeksploitasinya? Manakah yang dipilih Anuja: janji bayaran besar bos atau ujian beasiswa? Bisakah Palak dan Anuja berbahagia setelahnya? Tonton kelanjutan kisahnya di Netflix.
Realitas Kemiskinan dan Jerat Eksploitasi Pekerja Anak
Anuja adalah gambaran dari jutaan anak yang bekerja keras siang dan malam tak hanya di India, tapi di berbagai belahan dunia.
Di India, pernah ada RUU yang dikecam karena membolehkan anak-anak di bawah 14 tahun bekerja kepada “usaha keluarga”. Di satu sisi, mengurangi jumlah pekerjaan yang dilarang bagi anak berusia 15-18 tahun. Pemerintah mengklaim, kebijakan itu bisa membantu keluarga miskin mendapatkan penghasilan dan memberikan anak kesempatan terampil.
Tak hanya di India, Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat, sekitar 160 juta anak di seluruh dunia masih dipekerjakan. Di Sub-Sahara Afrika, sebanyak 72 juta anak dilaporkan terkena dampaknya. Meskipun sudah sejak 2002 silam, Hari Menentang Pekerja Anak Sedunia dicanangkan tiap tanggal 12 Juni.
ILO juga menemukan, konflik, krisis, dan pandemi Covid-19 menyebabkan peningkatan jumlah pekerja anak di dunia. Kemiskinan menjadi salah satu faktor yang menjadikan lebih banyak keluarga memaksa jutaan anak untuk menjadi pekerja.
Melansir DW, seruan Aksi Durban atau ‘The Durban Call to Action” yang diadopsi pada Konferensi Global ke-5 untuk penghapusan pekerja anak pada 2022 lalu, memang ditetapkan sebagai ‘pedoman membalikkan keadaan pekerja anak’ di bawah kerangka hukum, akses pendidikan menyeluruh, dan pemberantasan kemiskinan. Namun, pertumbuhan ekonomi yang tidak signifikan, memaksa anak tetap harus bekerja.
Baca Juga: ‘The Substance’, Ketika Standar Kecantikan Media Hadirkan Diri yang ‘Liyan’ dan Menghancurkan Tubuh Perempuan
Dampak dari situasi ini, hak-hak tumbuh kembang anak terampas, kesempatan mereka untuk bersekolah terganggu, serta membahayakan mental, fisik dan moral. Parahnya lagi, jika banyak pekerja anak yang bekerja dengan situasi eksploitatif dengan upah sangat murah.
Film Anuja yang berdurasi 22 menit ini, dibuat dengan dukungan kolaborasi dari The Salaam Baalak Trust, sebuah organisasi nirlaba, yang meriset film ini secara mendalam. Sajda Pathan, tokoh utama film yang diangkat dari kisah nyata ini, adalah salah satu anak yang berada di bawah pengawasan lembaga ini.
Anuja menjadi film pendek yang berhasil masuk dalam daftar Oscar kategori Film Pendek Aksi Langsung Terbaik. Hadirnya Anuja di Netflix, memungkinkan penonton di lebih dari 190 negara bisa menyaksikan film ini.
Sederet tim produser yang mendukung Anuja di antaranya, Suchitra Mattai, Mindy Kaling, Guneet Monga Kapoor, Krushan Naik, Aaron Kopp, Devananda Graves, Michael Graves, Ksheetij Saini, dan Alexandra Blaney. Ada pula Produser Eksekutif seperti Priyanka Chopra dan Anita Bhatia.
(Sumber Gambar: Bollywood Info Indonesia)






