Zine transportasi umum yang inklusif (sumber: Sanita Deselia)

Apakah Transportasi Publik Kita Sudah Berperspektif Gender dan Inklusi?: Zine Konde Fellas

Lima zine dari Konde Fellas ini menyoroti tentang pengalaman dan refleksi seputar isu transportasi publik. Mulai dari mendesaknya ruang aman, kekerasan berbasis gender yang masih mengintai dan minimnya inklusivitas.

Masih dalam rangkaian edisi khusus #MenagihTransumAman, Tim Konde.co bersama komunitas membership Konde Fellas, menerbitkan zine soal transportasi publik yang berperspektif gender dan inklusi.

Zine bisa menjadi ruang ekspresi untuk menyampaikan cerita, ilustrasi visual, dan analisis kritis, seputar isu transportasi publik yang berperspektif gender dan inklusi. Ini adalah percobaan pertama kami bersama membership Konde.co atau Konde Fellas.

Ruang aman bagi perempuan dan kelompok rentan di transportasi publik itu hal yang mendesak diupayakan. Selain itu, zine ini juga menyoroti isu inklusivitas, keamanan, dan kesetaraan dalam mobilitas sehari-hari. 

Kelima zine ini merefleksikan berbagai hambatan sistemik yang mereka hadapi setiap hari, seperti ketakutan akan pelecehan seksual, ancaman kekerasan berbasis gender termasuk femisida, serta diskriminasi dalam aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. 

Pengalaman dan pemikiran mereka tentang realitas di lapangan transportasi publik, mengingatkan bahwa masih ada banyak tantangan struktural yang belum diatasi. Terlebih, bagi perempuan, orang dengan disabilitas, kelompok minoritas gender dan seksualitas, serta kelas pekerja yang bergantung pada transportasi umum.

Baca Juga: Apakah Transportasi Publik Kita Sudah Berperspektif Gender dan Inklusi?: Hasil Riset Konde.co (1)

Kami ingin menyampaikan bahwa ketimpangan gender dalam transportasi publik bukan hanya tentang angka pelecehan yang terus meningkat, tetapi juga menyangkut absennya kebijakan yang berpihak pada kelompok rentan. Penyediaan gerbong khusus perempuan, misalnya, sering kali hanya menjadi solusi sementara yang tidak mengatasi akar masalah kekerasan seksual, yang seharusnya ditangani dengan pendekatan holistik seperti pendidikan gender, pengawasan ketat, dan sistem pelaporan yang efektif.

Selain aspek keamanan, infrastruktur kota juga masih jauh dari ramah gender dan inklusif. Konde.co dalam Edisi Khusus Transportasi Publik yang terbagi dalam tiga babak sebelumnya yakni Apakah Transportasi Publik Kita Sudah Berperspektif Gender dan Inklusi?: Hasil Riset Konde.co (1), Apakah Transportasi Umum Berperspektif Gender dan Inklusi: Janji Manis Inklusivitas, Masih Bolong Sana- Sini (2), Apakah Transportasi Umum Berperspektif Gender dan Inklusi: Sopir Ngebut Tak Sesuai Trayek, Penumpang Takut Negur (3), menunjukkan bahwa banyak fasilitas publik yang tidak terawat dan tidak merata, mulai dari trotoar sempit dan rusak hingga kurangnya fasilitas pendukung seperti lampu penerangan dan aksesibilitas bagi orang dengan disabilitas.

Minimnya perhatian terhadap kebutuhan ibu hamil, lansia, atau pengguna kursi roda semakin mempertegas bahwa kebijakan transportasi publik belum didesain dengan mempertimbangkan kebutuhan semua lapisan masyarakat. Di kawasan padat penduduk, kondisi halte dan stasiun yang penuh sesak serta kurangnya pemeliharaan memperburuk pengalaman pengguna yang sudah rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan dan pelecehan.

Baca Juga: Transportasi Umum yang Aman untuk Perempuan: Tanggung Jawab Siapa?

Karya ini juga melegitimasi temuan dalam riset sebelumnya yang menunjukkan bahwa aspek keamanan, kenyamanan, dan aksesibilitas dalam transportasi publik masih jauh dari ideal bagi perempuan dan kelompok marginal. Tingginya angka pelecehan seksual, minimnya fasilitas kursi prioritas, serta kurangnya jalur khusus atau sistem pengamanan di beberapa titik transportasi publik. Hal tersebut menjadi bukti bahwa kebijakan yang ada belum cukup untuk memberikan rasa aman dan nyaman yang seharusnya menjadi hak setiap warga negara. 

Dengan hadirnya Zine ini, kami berharap dapat memperkuat wacana kritis tentang keadilan gender dalam kebijakan transportasi dan menuntut tanggung jawab dari pemerintah serta pemangku kepentingan lainnya untuk menciptakan transportasi publik yang benar-benar inklusif, aman, dan berpihak pada kelompok rentan. 

Tentang Zine Konde Fellas: 
  1. Sanita – Aman di Jalan, Nyaman di Kendaraan, Kapan?

Setiap hari, saya keluar rumah dengan tas besar yang isinya bak kantong ajaib—laptop lengkap dengan segala perangkat pendukungnya, dompet, pengecas, payung lipat, bahkan baju ganti. Semua ini atas nama berjaga-jaga. Karena di kota ini, siapa yang tahu? Bisa terik hingga membakar ubun-ubun lalu hujan deras tiba-tiba, bisa pekerjaan menumpuk di luar dugaan. Tapi satu hal yang selalu saya pastikan: tubuh saya yang harus bersiap menghadapi perjalanan yang jauh lebih berat daripada tas di punggung saya.

Naik transportasi publik di Jakarta adalah perjuangan fisik dan mental. Berjalan di trotoar yang sempit, berebut ruang dengan pedagang kaki lima dan pemotor yang tak tahu aturan, menyeberangi jalan lewat jembatan yang tangganya begitu tinggi, panas menyengat, dan jauh dari kata ramah bagi pejalan kaki, lebih-lebih disabilitas dan perempuan. Lalu masuk ke dalam TransJakarta, berdesakan, berdiri berjam-jam, berharap ada yang rela memberi tempat duduk.

Baca Juga: Apakah Transportasi Umum Berperspektif Gender dan Inklusi: Janji Manis Inklusivitas, Masih Bolong Sana- Sini (2)

Dan di antara semua itu, ada yang lebih melelahkan dari sekadar rasa pegal: tatapan liar, bisikan menjijikkan, suara asing yang memanggil perempuan dengan sebutan yang tak pernah mereka minta. Pernahkah mereka yang meneriaki kita dari atas motor itu berpikir bagaimana rasanya berjalan dengan rasa waspada setiap saat?

Sebetulnya, saya suka berjalan kaki. Saya menikmati kota ini dari sisi yang mungkin banyak orang lewatkan. Tapi apakah saya bisa menikmatinya tanpa rasa cemas? Tanpa harus waspada dengan tangan-tangan asing di dalam bus yang berdesakan? Kapan ya, perempuan bisa bepergian dengan rasa aman, tanpa harus selalu memikirkan cara juga daya untuk menghindari bahaya?

Baca Juga: Apakah Transportasi Umum Berperspektif Gender dan Inklusi: Sopir Ngebut Tak Sesuai Trayek, Penumpang Takut Negur(3)
  1. Erfina Cahyanti – Transportasi Umum, Ramah? Untuk Siapa?

“Kota Ramah Disabilitas” sering jadi kata-kata manis dalam pidato para pejabat, tapi kenyataannya di jalanan berkata lain. Saya sering mendengar orang berkata, “Kan sudah ada fasilitasnya,” tapi coba tanyakan pada mereka yang betul-betul menggunakannya—apakah fasilitas itu cukup?

Jembatan penyebrangan yang tinggi tanpa lift, halte bus yang tak punya jalur landai, stasiun yang hanya bisa diakses tangga curam. Transportasi umum seharusnya menjadi solusi mobilitas untuk semua, tapi nyatanya banyak dari kawan disabilitas yang malah semakin terbatas – kalau bukan dibatasi geraknya. Bus antar kota jarang menyediakan kursi prioritas yang benar-benar bisa diakses, dan bahkan jika ada, seringkali justru diduduki oleh orang lain yang merasa “berhak” karena tidak ada yang menegur mereka.

Apakah kota ini benar-benar dibuat untuk semua orang? Atau hanya untuk mereka yang cukup beruntung tidak perlu berpikir dua kali sebelum naik tangga tinggi atau berdesakan di dalam gerbong penuh sesak? 

Baca Juga: Kenapa Papan Informasi di Transportasi Umum Penting? Ini Aksesibel dan Inklusif
  1. Ferisa Salwa Adhisti – Gema Ketakutan di Tengah Kebisingan

Ela masih ingat bagaimana tubuhnya membeku saat itu. Penuh sesak di dalam Trans Jakarta, tangan asing menyentuhnya tanpa ia kehendaki. Dia tidak bisa bergerak, tidak bisa menoleh, tidak bisa berteriak. Hanya bisa menunggu halte berikutnya dan melarikan diri secepat mungkin.

B juga punya cerita. Kali ini bukan tangan, tapi suara. Catcalling dari sopir bus saat dia naik, suara lelaki di sudut gerbong yang berbisik kata-kata kotor, seakan tubuhnya hanya benda untuk dinilai dan dihakimi.

Dan mereka bukan satu-satunya. Berapa banyak perempuan yang punya kisah serupa? Berapa banyak yang memilih diam karena merasa tak ada gunanya melawan? Atau, berapa banyak yang akhirnya mengubah rute perjalanan, menambah ongkos demi tak perlu menghadapi hal yang sama lagi?

Sampai kapan kita membiarkan ini terjadi?

Baca Juga: Minimnya Transportasi Publik Perkotaan, Perspektif Gender Cuma Jadi Impian
  1. M. Rayhan Hanif – Femisida di Lingkungan Transportasi Umum Indonesia

Transportasi publik seharusnya jadi ruang aman, siapa pun bisa bepergian dengan nyaman. Tapi bagi perempuan, ruang aman berubah menjadi ruang yang penuh dengan ancaman.

Kasus pelecehan di bus, kereta, halte, angkot, bukan hal baru. Beberapa kasus bahkan berakhir lebih buruk dari sekadar trauma—ada perempuan yang kehilangan nyawa di fasilitas transportasi publik. 

Beberapa perempuan pulang dengan luka yang tak terlihat, menyimpan trauma yang sulit dihapus. Yang lain bahkan tak pernah pulang. Ada yang kehilangan nyawa di fasilitas transportasi publik karena sistem yang tak pernah benar-benar melindungi mereka.

Sering kali kejahatan ini terjadi di tengah keramaian. Banyak yang melihat, tapi memilih diam. Banyak yang tahu, tapi tak ingin terlibat. Rasa takut, apatis, atau sekadar kebiasaan menormalisasi kekerasan. Sampai kapan kita terus berpura-pura?

Baca Juga: Penumpang KRL Bicara: Ini Alasan Transportasi Umum Buruk Bikin Perempuan Menderita
  1. Zahra Ayu Agustin – Rasanya Commuting 5 Jam/Hari, Nyaman Gak Sih?

Bangun pagi buta, mengejar kereta, berdiri berdesakan hingga tangan mesti bersedekap, lalu pulang saat hari sudah gelap. Lima jam sehari, dihabiskan hanya untuk perjalanan. Bukan untuk menikmati hidup, tapi untuk bertahan hidup.

Stasiun yang biasa digunakan tiba-tiba direncanakan tutup tanpa solusi yang jelas. Trotoar yang sempit semakin dipenuhi parkir liar, memaksa pejalan kaki berebut ruang dengan kendaraan. Catcalling menjadi bumbu harian yang mesti diterima seolah bagian dari rutinitas.

Semua orang seharusnya punya hak yang sama untuk bepergian dengan aman. Semua orang seharusnya bisa berjalan tanpa rasa waspada setiap langkah. Tapi bagi perempuan, kenyataan ini masih jauh dari harapan.

Transportasi publik bagi perempuan bukan sekadar soal berpindah tempat, tetapi juga soal rasa aman dan martabat. 

Baca Juga: Takut dan Tak Bisa Teriak: Pengalaman Pelecehan di Transportasi Umum

Transportasi publik dan sarana penunjangnya adalah cerminan dari siapa yang dianggap penting dalam perencanaan kota. Selama ini, kebijakan transportasi lebih banyak berorientasi pada efisiensi ekonomi dan infrastruktur tanpa mempertimbangkan pengalaman perempuan dan kelompok marginal yang menggunakannya setiap hari. Ruang publik yang seharusnya inklusif justru menjadi arena terjadinya kekerasan, pelecehan, ketimpangan akses, dan diskriminasi.

Berdesakan dalam bus yang penuh tanpa jaminan perlindungan, berjalan di trotoar yang sempit sambil menghindari tatapan dan komentar tak senonoh, atau bahkan mengorbankan waktu dan biaya ekstra demi mencari rute yang lebih aman. Ketidaknyamanan ini adalah bagian dari sistem yang gagal memahami kebutuhan perempuan sebagai pengguna transportasi.

Orang dengan disabilitas menghadapi hambatan serupa. Jalur landai yang tak tersedia, guiding block yang terputus, atau halte yang hanya bisa diakses dengan tangga curam menunjukkan bahwa kota tidak dirancang untuk semua orang. Sementara itu, pekerja informal, kelompok non-biner, dan mereka yang berasal dari kelas ekonomi bawah sering kali menghadapi stigma dan perlakuan diskriminatif di ruang-ruang publik.

Zine ini adalah suara perlawanan terhadap sistem yang mengabaikan pengalaman perempuan dan kelompok marginal dalam transportasi publik. Sebab mewujudkan ruang yang aman dan nyaman bukan hanya soal pembangunan infrastruktur, tetapi juga perubahan perspektif dalam melihat siapa yang berhak atas ruang publik. 

Ruang aman yang bebas dari pelecehan, diskriminasi, dan ketimpangan akses bukanlah kemewahan, tetapi hak dasar yang harus dipenuhi.

Pembuat Zine: Sanita, Erfina Cahya, Ferisa Salwa Adhisti, Zahra Agustin, M. Rayhan Hanif.
Editor Zine: Sophie Trinita
Teks: Terra Istinara, Luthfi Maulana Adhari dan Nurul Nur Azizah

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!