Keibuan kini telah berkembang menjadi sebuah pertunjukkan visual yang dikurasi dengan hati-hati. Harus menampilkan citra ibu yang penuh kebahagiaan. Tubuh yang tetap bugar setelah melahirkan. Serta rumah tangga yang selalu tampak harmonis.
Media sosial, terutama Instagram, menjadi ruang utama bagi para insta-mom atau ibu selebriti untuk membangun gambaran keibuan yang ideal. Namun, seberapa nyata keibuan yang mereka tampilkan? Apakah gambaran tersebut benar-benar mencerminkan pengalaman keibuan yang sesungguhnya ataukah hanya sebuah ilusi yang diciptakan oleh media?
Dengan kemampuannya yang menyajikan gambar dan video secara estetis, Instagram mendorong penggunanya untuk mengemas kehidupan mereka dalam bentuk yang menarik dan inspiratif. Dalam konteks keibuan, ini berarti menampilkan momen-momen indah bersama anak-anak. Berbagi kiat pengasuhan yang tampak sempurna, serta memperlihatkan bagaimana seorang ibu tetap bisa merawat diri di tengah kesibukannya.
Baca Juga: Mengurus Anak Itu Berat, Realitanya Tak Perlu Disembunyikan
Dengan jumlah pengikut yang besar, para ibu selebriti menjadi simbol keibuan modern yang tampak tak bercela. Mereka memperlihatkan bagaimana seorang ibu tetap tampil menarik, menjaga kebugaran, mengurus rumah tangga, dan memiliki kehidupan sosial yang aktif. Seakan-akan menjadi ibu bukanlah sesuatu yang melelahkan, melainkan sebuah perjalanan penuh kebahagiaan yang bisa dinikmati dengan mudah. Paling tidak ini untuk memenuhi tuntutan masyarakat atas peran ibu dalam konstruksi sosial selama ini.
Namun, kenyataannya, keibuan bukanlah sekadar rangkaian momen yang bisa difilter dan diedit agar terus-menerus tampak sempurna. Di balik unggahan yang indah, ada kelelahan emosional, kurang tidur, serta tantangan mental yang seringkali tidak terlihat oleh publik.
Banyak ibu di dunia nyata yang merasa kesulitan untuk menyeimbangkan berbagai tanggung jawab mereka. Mulai dari merawat anak, mengelola pekerjaan rumah tangga, hingga mengurus diri sendiri. Sayangnya, citra keibuan yang harus ditampilkan di Instagram sering kali harus mengabaikan aspek-aspek ini. Sehingga menciptakan ekspektasi sosial yang tidak realistis.
Fenomena ini berkaitan erat dengan konsep hiperrealitas yang dikemukakan oleh filsuf Jean Baudrillard. Dalam dunia hiperrealitas, representasi menjadi lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Artinya, gambaran keibuan yang ditampilkan di Instagram bukan hanya sekadar idealisasi. Tetapi juga membentuk persepsi tentang bagaimana seorang ibu “seharusnya” menjalani hidupnya. Dalam skenario ini, batas antara realitas dan simulasi menjadi kabur.
Baca Juga: Kanca Wingking: Kerja Perawatan Itu Bukan Cuma Urusan Perempuan
Apa yang ditampilkan sebagai “kehidupan ibu yang bahagia” justru menggantikan kenyataan itu sendiri. Para ibu yang melihatnya mulai merasa bahwa jika mereka tidak bisa mencapai standar tersebut. Berarti ada sesuatu yang salah dengan cara mereka menjalani peran sebagai ibu.
Selain itu, Instagram tidak hanya membentuk ekspektasi sosial tentang keibuan, tetapi juga menanamkan budaya konsumsi di kalangan ibu. Ibu selebriti sepertinya diharuskan untuk tidak hanya berbagai pengalaman mereka dalam mengasuh anak. Tetapi juga mempromosikan berbagai produk yang dikaitkan dengan keibuan. Dari perlengkapan bayi premium, makanan organik, hingga suplemen kesehatan, semua dipasarkan sebagai bagian dari gaya hidup ibu modern yang sukses.
Dengan kata lain, seorang ibu yang baik tidak cukup hanya mencurahkan kasih sayang kepada anaknya. Tetapi juga harus memastikan bahwa mereka menggunakan produk-produk terbaik yang mendukung perkembangan anak.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana konsumsi telah menjadi bagian dari identitas keibuan. Bagi ibu-ibu yang mengikuti insta-mom di media sosial, keibuan ideal bukan lagi hanya tentang pengorbanan dan kerja keras. Tetapi juga tentang membeli barang-barang yang dapat memperkuat citra mereka sebagai ibu yang baik.
Dalam konteks ini, peran ibu dikomodifikasi: pengasuhan bukan lagi sekadar tugas domestik, tetapi juga menjadi arena di mana status sosial dan citra diri dipertaruhkan. Hal ini berpotensi menciptakan kesenjangan sosial karena tidak semua ibu memiliki akses terhadap barang-barang mahal yang dipromosikan oleh para ibu selebriti.
Baca Juga: Surga (Tak Cuma) di Bawah Telapak Kaki Ibu, Narasi ‘Ibu Sempurna’ Abaikan Rumitnya Kehidupan Perempuan
Selain dorongan konsumsi, media sosial juga membentuk pemahaman baru tentang perawatan diri dalam konteks keibuan. Narasi tentang pentingnya “me time” dan keseimbangan hidup semakin banyak muncul dalam unggahan ibu selebriti. Mereka menampilkan diri sedang berolahraga, menjalani perawatan kulit, atau menikmati momen istirahat sambil tetap terlihat modis dan bersemangat.
Di satu sisi, ini bisa menjadi pesan positif bahwa seorang ibu tidak harus mengorbankan diri sepenuhnya untuk keluarga. Namun, di sisi lain, ini juga menciptakan tenanan baru bahwa seorang ibu yang baik tidak hanya mengasuh anak dengan penuh cinta. Tetapi juga harus menjaga tubuh ideal, merawat wajah, dan tetap produktif.
Realitanya, tidak semua ibu memiliki kemewahan untuk bisa meluangkan waktu bagi diri mereka sendiri. Banyak ibu menghadapi tekanan ekonomi, harus bekerja penuh waktu, atau tidak memiliki sistem dukungan yang cukup untuk bisa menikmati perawatan diri seperti yang ditampilkan di media sosial. Namun, ketika mereka terus-menerus melihat gambaran ibu yang tampak mampu “mengatur semuanya” dengan baik. Mereka mulai merasa bahwa ada yang kurang dalam diri mereka.
Media sosial menciptakan standar baru yang semakin sulit dicapai dengan menampilkan bahwa ibu yang sukses bukan hanya ibu yang mencintai anak-anaknya. Tetapi juga yang tetap cantik, sehat, dan mampu mengelola semua aspek kehidupannya dengan sempurna.
Baca Juga: Marriage is Scary: Respons Langgengnya ‘Ibuisme’ di Era Kini
Dalam konteks ini, Instagram bukan hanya menjadi tempat berbagi pengalaman, tetapi juga menjadi sarana yang memperkuat norma-norma sosial tertentu tentang peran perempuan. Jika dahulu keibuan dikaitkan dengan pengorbanan dan kerja keras, kini ia semakin dipengaruhi oleh gagasan neoliberal tentang pencapaian individu. Seorang ibu dianggap sukses jika ia mampu mengelola dirinya sendiri baik, tanpa mengeluhkan tantangan yang dihadapinya.
Hal ini juga semakin memperkuat pandangan bahwa keberhasilan seorang ibu semata-mata ditentukan oleh usahanya sendiri, tanpa mempertimbangkan faktor-faktor struktural seperti kondisi ekonomi, dukungan sosial, atau beban kerja yang tidak merata dalam rumah tangga.
Kesadaran akan ilusi keibuan di media sosial menjadi sangat penting agar para ibu tidak terjebak dalam ekspektasi yang tidak realistis. Daripada membandingkan diri dengan standar yang diciptakan oleh media sosial, para perempuan perlu memahami bahwa keibuan sejati tidak selalu tampak indah seperti di Instagram.
Keibuan adalah perjalanan yang penuh dengan dinamika, tantangan, dan ketidaksempurnaan, dan itu adalah sesuatu yang wajar. Tidak semua momen harus terlihat sempurna, tidak semua hari harus berjalan sesuai rencana, dan itu tidak menjadikan seorang ibu kurang baik dari ibu lainnya.
Baca Juga: “Please Look After Mom”, Ternyata Kita Tidak Terlalu Dekat Dengan Ibu
Lebih jauh lagi, sebagai pengguna media sosial, penting bagi kita untuk lebih kritis terhadap konten yang kita konsumsi. Apa yang tampak di layar seringkali hanyalah satu sisi dari cerita, bukan keseluruhan realitas. Para ibu yang terlihat selalu bahagia di Instagram mungkin juga mengalami kelelahan, kecemasan, atau tekanan yang tidak mereka tunjukkan ke publik. Dengan memahami bahwa media sosial hanya menampilkan versi terbaik dari kehidupan seseorang, kita bisa lebih bijak dalam menilai diri sendiri dan tidak terjebak dalam tekanan untuk memenuhi standar yang tidak realistis.
Pada akhirnya, menjadi ibu bukanlah tentang mencapai kesempurnaan, melainkan tentang bagaimana setiap ibu menjalani perannya dengan cara yang paling sesuai dengan dirinya sendiri dan keluarganya.
Keibuan sejati tidak terletak pada citra yang tampak sempurna di media sosial, tetapi dalam keseharian yang penuh makna, baik dalam suka maupun duka.






