Pernikahan Tanpa Keluhan: Pentingnya Mendengar Suara Perempuan

Sejak kecil saya diajarkan pernikahan adalah fase yang harus dijalani berikut norma dan tradisi yang mengikutinya. Beranjak dewasa saya melihat dan mendengar perempuan-perempuan di sekitar saya berkeluh-kesah tentang kehidupan pernikahannya lantaran tak ada ruang untuk bersuara.

Pernikahan atau relasi personal adalah topik yang kerap jadi bahan obrolan. Secara umum masyarakat menganggap pernikahan sebagai puncak perjalanan hidup seseorang. Di kalangan perempuan, ada anggapan bahwa menikah adalah tujuan akhir yang membahagiakan. Sebuah pencapaian yang seolah menjadi keharusan, baik bagi diri sendiri maupun bagi keluarga.

Namun, apakah pernikahan benar-benar membawa kebahagiaan atau justru menjadi sebuah beban yang harus dijalani tanpa keluhan? Pertanyaan ini sering muncul dalam benak saya, apalagi saat mendengarkan cerita dari para perempuan di sekitar saya. Terutama ibu dan bibi yang sering membicarakan pernikahan dengan nada keluhan yang tak pernah habis.

Sejak kecil, saya diajarkan bahwa pernikahan adalah hal yang harus dicapai, bahwa menjadi seorang istri adalah langkah penting yang membawa kedewasaan dan kebahagiaan. Namun, saat mendekati usia 30 tahun dan masih belum menikah, saya mulai mempertanyakan definisi kebahagiaan dalam pernikahan.

Mengapa begitu banyak perempuan yang sudah menikah ketika berbicara tentang pernikahan mereka seolah-olah itu adalah pekerjaan yang tak ada habisnya? Mengapa obrolan tentang mencari pasangan yang baik, menjadi istri yang baik, selalu berakhir dengan keluhan betapa beratnya menjalani peran itu?

Ini bukan masalah kecil, ini adalah refleksi yang mendalam tentang bagaimana pernikahan dipahami dan diterima dalam masyarakat kita. Seolah-olah, menjadi istri adalah peran yang harus dijalani tanpa suara, tanpa kesempatan untuk berbicara tentang ketidakpuasan atau kebutuhan pribadi.

Inilah yang saya sebut dengan “pernikahan tanpa keluhan”, sebuah konsep yang penuh dengan ketidakadilan. Pasalnya perempuan sering kali dipaksa untuk menerima peran sebagai istri tanpa ruang untuk mengungkapkan perasaan atau berbicara tentang hal yang mereka inginkan dalam hubungan tersebut.

Pernikahan Tanpa Keluhan

Pernikahan tanpa keluhan bukanlah pernikahan yang bebas masalah. Sebaliknya, ia adalah pernikahan yang tidak memberi ruang bagi suami maupun istri, untuk berbicara dengan bebas.

Mengapa kita, perempuan, selalu diajarkan untuk menjadi pasangan yang “baik” dalam pernikahan, tetapi tidak diberi kesempatan untuk mendefinisikan kebahagiaan bagi diri kita? Mengapa kita selalu diberitahu tentang betapa pentingnya menjadi istri yang baik, tetapi tidak diajarkan bagaimana membangun pernikahan yang saling mendukung, mendengarkan, dan memahami?

Ketika berbicara tentang pernikahan, sering kali yang muncul adalah norma sosial yang menuntut perempuan untuk memenuhi peran tertentu. Sayangnya tanpa ada ruang untuk penyesuaian diri atau kebebasan dalam memilih.

Perempuan diharapkan untuk menjadi ibu rumah tangga yang sempurna, istri yang selalu siap melayani, tanpa mempertanyakan apakah peran ini sesuai dengan aspirasi dan kebahagiaan mereka. Dalam budaya patriarki, peran ini dianggap sebagai panggilan hidup yang mulia. Anggapan ini kerap mengabaikan realitas bahwa di balik peran tersebut terdapat banyak pengorbanan yang tak terlihat.

Saya sering mendengar dari ibu dan bibi keluhan mereka yang merasa terbebani oleh pekerjaan rumah tangga yang seolah-olah tidak pernah berakhir. Mereka mengeluh tentang rutinitas yang sama setiap hari—dari memasak, membersihkan rumah, mengurus anak, hingga memenuhi harapan sosial sebagai istri yang sempurna. 

Namun, anehnya, keluhan ini tidak pernah dibahas lebih lanjut. Seolah-olah ada semacam kesepakatan tidak tertulis bahwa perempuan harus “bersyukur” atas peran mereka, bahwa mengeluh adalah sesuatu yang tidak pantas dan tanda tak bersyukur. Pernikahan seharusnya menjadi tempat yang aman untuk berbagi perasaan, bukan ruang yang penuh dengan ketidakpuasan yang terpendam.

Apa Itu ‘Pernikahan yang Baik’?

Dari perbincangan tersebut, pertanyaan yang kemudian muncul dalam benak saya adalah apa sebenarnya yang dimaksud dengan “pernikahan yang baik”? Proses refleksi membawa saya pada kesimpulan bahwa pernikahan yang baik bukanlah pernikahan yang sempurna tanpa konflik. Sebaliknya ia adalah pernikahan yang mampu memberi ruang bagi kedua belah pihak untuk berbicara, mengutarakan perasaan, dan berbagi aspirasi tanpa merasa tertekan oleh norma-norma sosial yang ada.

Dalam sebuah pernikahan yang sehat, baik suami maupun istri memiliki hak yang sama untuk didengar, untuk berkomunikasi secara terbuka, dan untuk mengatur kehidupan rumah tangga mereka bersama-sama. Tanpa keharusan untuk mengikuti peran yang sudah ditentukan sebelumnya oleh masyarakat.

Pernikahan tanpa keluhan adalah pernikahan yang memberi ruang bagi perempuan untuk berbicara tanpa rasa takut atau malu. Ia adalah pernikahan yang memberi kebebasan untuk tak selalu memenuhi harapan orang lain, melainkan kebahagiaan dan kesejahteraan kedua belah pihak.

Jika pernikahan tidak memberikan ruang tersebut, maka bagaimana kita bisa mengharapkan perempuan merasa bahagia dalam hubungan tersebut? Bagaimana kita bisa mengharapkan pernikahan menjadi sarana untuk kebahagiaan bersama, jika salah satu pihak merasa tertekan dan tidak dihargai?

Baca juga: Dear Anak Muda, Gak Usah FOMO dengan Pernikahan Anak ala Tiktoker Gus Zizan

Sebagai seorang perempuan, saya merasa sangat penting untuk membicarakan topik ini karena saya tahu banyak perempuan di luar sana yang mungkin merasa terperangkap dalam peran yang mereka tidak pilih. Kita tidak bisa terus-menerus mengabaikan suara perempuan hanya karena mereka dianggap tidak pantas mengeluh atau berbicara tentang ketidakpuasan dalam pernikahan.

Pernikahan seharusnya menjadi pilihan yang dibuat dengan kesadaran penuh, bukan sebuah kewajiban sosial yang harus dipenuhi tanpa memperhatikan kebutuhan dan kebahagiaan diri sendiri.

Saya ingin hidup dalam dunia dengan perempuan tidak dipaksa untuk menerima peran-peran yang membatasi karena dianggap sebagai “norma” atau “tradisi”. Saya memimpikan dunia dengan perempuan dan laki-laki berdiri sejajar dalam pernikahan, saling mendukung, berbagi beban, dan bersama-sama menciptakan kehidupan yang penuh kebahagiaan dan keseimbangan.

Pernikahan tanpa keluhan bukanlah pernikahan yang bebas dari tantangan. Melainkan pernikahan yang memberi kebebasan untuk berbicara, untuk mengungkapkan perasaan, dan untuk menciptakan kehidupan bersama yang adil dan bahagia.

Bagaimana Pandangan Feminis?

Sementara itu berkaca dari para feminis, pandangan mereka tentang pernikahan cukup beragam. Sebagian besar feminis menganggap pernikahan sebagai institusi patriarki memperkuat ketidaksetaraan gender dan membatasi otonomi perempuan. Bahkan beberapa feminis menolak lembaga pernikahan. Sementara yang lain berusaha mereformasi atau mengeksplorasi bentuk-bentuk alternatif dari sebuah relasi.

Feminis yang mengkritik dan menolak lembaga pernikahan melihat institusi ini sebagai sarana untuk melanggengkan peran gender tradisional. Yakni perempuan diharapkan menjadi ibu rumah tangga dan pengasuh, sementara laki-laki diharapkan menjadi pencari nafkah. Sebuah kondisi yang dirasakan dan dialami oleh ibu, bibi dan mungkin perempuan-perempuan lain di luar sana.

Para feminis juga berpandangan pernikahan dapat memperparah ketimpangan relasi kuasa antara pasangan. Dengan posisi tawar perempuan cenderung lemah karena mengalami ketergantungan finansial, beban emosional, dan bentuk eksploitasi lainnya.

Pernikahan juga dipandang bisa membatasi kebebasan perempuan. Selain itu secara umum pernikahan terkait erat dengan relasi heteroseksual, sehingga mengecualikan individu LGBTQ+ dan meminggirkan struktur keluarga yang beragam.

Sementara feminis yang berpandangan bahwa institusi pernikahan bisa direformasi dan ada peluang bagi munculnya model hubungan alternatif punya sejumlah argumen. Mereka meyakini sangat mungkin untuk menciptakan pernikahan yang menantang norma dan nilai patriarki. Pernikahan yang didasarkan pada kesetaraan, rasa hormat dan pengambilan keputusan bersama mungkin untuk diwujudkan.

Selain itu sejumlah feminis juga menganjurkan model hubungan alternatif, seperti nonmonogami konsensual, yang memprioritaskan otonomi dan kebebasan individu. Sedang sebagian yang lain menekankan pada pentingnya hak dan kesempatan yang sama bagi masing-masing individu.

(Editor: Anita Dhewy)

Nurul Husnul Humaerah

Lahir di Bantaeng saat ini berdomisili di Sulawesi Barat. Seorang Guru di siang hari, penulis galau di malam hari. Para pembaca bisa berinteraksi melalui IG @nhhumaerah.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!