FIlm 'Dark Nuns' tentang feminisme dibalut eksorsisme (sumber foto: IMDB)

‘Dark Nuns’: Sentil Dominasi Patriarki dan Angkat Feminisme dalam Balutan Ritual Eksorsisme

Dark Nuns, horor supranatural yang tawarkan perspektif baru atas ritual eksorsisme. Lewat karakter utamanya film yang dibintangi Song Hye Kyo ini patahkan stereotipe gender tokoh perempuan dalam genre horor dan sentil dominasi patriarki dalam Gereja Katolik.

Aku berlari menyusuri deretan toko di dalam salah satu mall, bergegas berburu dengan waktu. Jadwal menonton film di bioskop menjadi alasanku. Aku menatap angka-angka kecil yang berkedip di layar handphoneku: pukul 14.00 WITA.

Sepuluh menit kemudian, pintu teater tiga terbuka. Penonton menghamburkan diri ke dalam teater dan duduk sesuai nomor tiket yang digenggam masing-masing. Tak seperti sebelumnya, aku memilih berjalan santai menuju kursi paling atas di deretan “A”. Film pun dimulai setelah berbagai iklan film-film yang bakal tayang.

Sepanjang 1 jam 54 menit, aku menyaksikan Song Hye Kyo sebagai seorang biarawati keren dalam The Priest 2: Dark Nuns. Sebagai penikmat film horor, tentu saja aku menghadapi berbagai emosi dan pertanyaan saat menyaksikannya.

Sinopsis Film The Priest 2: Dark Nuns

Film The Priest 2: Dark Nuns yang diperankan Song Hye Kyo tayang perdana 24 Januari 2025, di bioskop Indonesia dan Korea Selatan. Ini menjadi salah satu film horor supranatural paling ditunggu di awal 2025. Selain merupakan spin-off dari The Priest, film ini juga menampilkan artis cantik yang dijuluki bintang Hallyu dan Korea’s sweethearts, Song Hye Kyo. Sebagai penggemar dan penikmat film, menantikan akting sang artis setelah satu dekade hiatus dari layar lebar membuatku sangat bersemangat.

Film Dark Nuns bercerita tentang seorang biarawati muda, Suster Junia, yang diperankan Song Hye Kyo. Ia memiliki kemampuan mengusir roh jahat yang unik. Meski belum ditahbiskan dan menghadapi rintangan rumit birokrasi gereja, Suster Junia tidak gentar mengusir iblis untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang dirasuki.

Suster Junia ditemani Suster Michaela, seorang residen psikiatris yang awalnya skeptis terhadap hal-hal supranatural. Keduanya memulai perjalanan berbahaya dalam misi menyelamatkan Hee Joon, remaja laki-laki yang dirasuki roh jahat.

Film ini menggabungkan elemen horor dan drama dengan apik, memberikan pengalaman menonton yang menegangkan dan emosional. Dark Nuns juga mengeksplorasi tema iman, kekuatan batin, dan pentingnya menghadapi ketakutan. Song Hye Kyo sungguh memukau memerankan karakter Suster Junia dalam menghadirkan monolog puitis yang memberi warna dan jiwa film ini.

Mengenal Suster Junia dan Suster Michaela

Meski merupakan film horor supranatural, Dark Nuns tidak menampilkan jumpscare dan adegan-adegan berdarah-darah untuk menakuti penonton. Bahkan sosok iblis dalam film ini tidak ditampilkan secara detail seperti film the Nun, Conjuring, Insidious, Hereditary, atau Medium. Dark Nuns lebih memfokuskan pada proses pengusiran setan dengan nuansa mistis dan supranatural.

Meski begitu, film ini memiliki keunikan dan daya tarik bagi penikmatnya. Karakter Suster Junia yang diperankan Song Hye Kyo dianggap berbanding terbalik dengan peran-peran sang aktris selama ini. Suster Junia merupakan karakter kompleks dengan sisi gelap dan emosional. Seorang biarawati berani dan teguh, tetapi menyimpan banyak rahasia dan pergolakan batin pada saat yang sama. Dalam seni peran, ini menjadi tantangan bagi Song Hye Kyo yang perannya kebanyakan sebagai gadis ceria dan polos.

Untuk mendalami perannya, Song Hye Kyo belajar bahasa Latin, merokok dan mempelajari berbagai ritual pengusiran setan. Ia mampu memerankan Suster Junia yang blak-blakan, suka mengumpat, merokok, dan tidak selalu mengenakan pakaian biarawati yang lengkap. Jelas bertolak belakang dengan citra biarawati sebagai sosok yang sabar, penyayang, ramah, dan penuh kasih.

Baca Juga: Paus Leo XIV Hadapi Keterbatasan Mereformasi Gereja Katolik, Tetapi Fransiskus Sudah Buka Jalan

Suster Junia tidak digambarkan sebagai sosok suster ideal dan sempurna. Ia memiliki masa lalu kelam dan luka batin yang mendalam. Gambaran itu justru membuatnya tampak lebih manusiawi, ketimbang sosok suci dan tanpa cela, atau dianggap sebagai perempuan yang saleh dan berdedikasi kepada Tuhan.

Selain Suster Junia, ada karakter Suster Michaela yang juga dianggap tak kalah unik dan memberi kesegaran dalam film Dark Nuns. Joen Yeo Bin adalah artis muda berbakat yang memerankan karakter Suster Michaela. Menariknya, Song Hye Kyo sendirilah yang merekomendasikannya untuk memerankan Suster Michaela.

Sebagai seorang residen psikiatri yang skeptis terhadap fenomena supranatural, Suster Michaela lebih percaya pada penjelasan ilmiah. Ia cenderung menganalisis situasi dari sudut pandang ilmiah dan mempertanyakan hal-hal yang tidak dapat dijelaskan secara rasional. Bukti dan penjelasan logis adalah dua hal yang ia tuntut sebelum mempercayai sesuatu. Kehadiran Suster Michaela dianggap sebagai representasi konflik antara sains dan keyakinan. Melalui karakternya, penonton diajak melihat hal-hal dari berbagai sudut pandang dan merenungkan kemungkinan adanya kekuatan yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehat.

Sebagai psikiater, pemikiran logis dan rasional menjadi bagian dari dirinya. Namun, sebagai biarawati, ia juga memiliki keyakinan kuat pada Tuhan. Perjuangan Suster Michaela dalam menyeimbangkan kedua hal tersebut dimulai ketika ia turut serta membantu Suster Junia dalam misinya. Hal unik lain dari Suster Michaela adalah keberanian dan kerendahan hatinya mengakui bahwa ada hal-hal yang tidak ia ketahui. Ia tidak malu untuk bertanya dan belajar dari orang lain. Hal ini menjadi kualitas dirinya yang sangat mengagumkan.

Terlepas dari kepribadian mereka yang kontras, keduanya harus bekerja sama untuk mengatasi berbagai rintangan dalam misi mereka menyelamatkan anak tersebut. Alih-alih saling menegasikan pilar-pilar pengetahuan baik bersandar pada rasionalitas maupun supranatural, dalam proses eksorsisme justru saling menguatkan.

Keunikan Film Dark Nuns

Berbeda dari kisah The Priest, Dark Nuns menampilkan iblis yang lebih kuat dan kasus kesurupan yang lebih rumit. Meskipun merupakan spin-off dari film The Priest, keduanya tidak tersambung secara langsung dan memiliki kisah yang berdiri sendiri. Jadi penonton yang menonton Dark Nuns tanpa menyaksikan The Priest tidak akan kebingungan. Namun, bagi yang telah menonton The Priest, tentu memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap film ini.

Jika film The Priest bercerita tentang dua pendeta Katolik yang bekerja sama mengusir iblis yang merasuki tubuh manusia, Dark Nuns mengambil sudut pandang biarawati dalam ritual pengusiran roh jahat. Meskipun sama-sama mengangkat tema eksorsisme, Dark Nuns menyuguhkan tema yang lebih kompleks. Dengan fokus pada karakter biarawati, pendekatan visual yang khas, dan eksplorasi tema yang lebih dalam, Dark Nuns menjanjikan tontonan yang menegangkan sekaligus menggugah.

Dari misi penyelamatan yang dilakukan Suster Junia dan Suster Michaela, penonton dapat belajar tentang keberanian, keyakinan, pengorbanan dalam menghadapi kegelapan. Para biarawati dalam film ini rela mengorbankan diri mereka sendiri untuk menyelamatkan orang lain dari bahaya. Hal ini mengingatkan penonton tentang nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan pengorbanan dalam kehidupan. Film ini juga menyajikan perenungan tentang kebenaran, keimanan, dan takdir melalui berbagai misteri dan rahasia gelap yang tersembunyi di balik tembok biara.

Baca Juga: Laporan Pelecehan Seksual di Gereja Katolik Jerman Segera Dirilis

Film Dark Nuns terasa berbeda dari kebanyakan film eksorsisme karena adanya unsur lain yang ditampilkan selain kekuatan atau Otoritas Gereja. Tidak hanya mengandalkan ritual pengusiran setan oleh agama Katolik, tetapi juga menggabungkan praktik-praktik kepercayaan spiritual tradisional Korea. Seperti tarot dan perdukunan—praktik non-Katolik—sehingga memberikan sentuhan yang unik dan berbeda.

Meskipun menimbulkan kontroversi, mengintegrasikan ritual pengusiran setan dalam ajaran Katolik dengan elemen tarot dan perdukunan ini telah memperkenalkan sentuhan baru pada genre pengusiran setan di Korea Selatan. Terutama setelah terjadinya peningkatan ketertarikan masyarakat Korea Selatan terhadap praktik perdukunan pasca meledaknya film Exhuma 2024 lalu.

Adegan yang mencolok menampilkan Suster Michaela menggunakan kartu tarot memprediksi nasib mereka dalam menjalankan misi dan mengungkap misteri yang tersembunyi. Adegan lainnya adalah saat para biarawati memegang salib dan melafalkan doa-doa, sementara karakter lain melakukan ritual perdukunan melalui tabuhan drum dan lantunan teks-teks suci.

Baca Juga: Sebanyak 330.000 Anak Diduga Jadi Korban Pelecehan Seksual Gereja Katolik di Prancis

Terlepas dari metode yang berbeda, tokoh-tokoh religius dalam film ini bersatu dalam keputusasaan mereka untuk menyelamatkan anak laki-laki yang kerasukan. Keterlibatan dukun dan penggunaan tarot ini bukan hanya menunjukkan adanya kekuatan spiritual di luar agama Katolik, tetapi juga dari kepercayaan tradisional. Selain juga menunjukkan kekayaan budaya dan kepercayaan spiritual yang ada di Korea.

Meski tidak menampilkan sosok iblis menyeramkan dan adegan-adegan mengejutkan, Dark Nuns sangat layak ditonton dan diambil banyak pelajaran darinya.

Perjalanan Menemukan Eksorsis di Makassar

Mobil dan motor berdesakan di jalan raya. Suara-suara bising menjadi tanda denyut jantung kota tidak stabil. Motorku, satu di antara banyak kendaraan lainnya yang ikut berdesakan, melaju mantap di sela-sela jalan sempit diantara kendaraan lain.

Di persimpangan, pandanganku menangkap bangunan bersejarah dengan arsitektur bergaya Eropa klasik. Dominasi warna krem dan putih makin menambah kesan sederhana pada bangunan yang tidak lagi muda itu. Ke sanalah tujuanku siang itu, Gereja Paroki Hati Yesus yang Mahakudus.

Sejak menonton Dark Nuns, ketertarikanku pada eksorsisme makin bertambah. Aku menelusuri sebanyak mungkin informasi mengenai eksorsisme. Terlebih sebagai seorang muslim, praktik eksorsis atau pengusiran roh, setan, atau jin dalam tradisi Islam bukan hal tabu dan mudah disaksikan. Ritual pengusiran roh atau setan biasa dilakukan meski tak dikenal dengan istilah eksorsisme.

Secara garis besar tujuannya sama, yaitu mengusir pengaruh jahat yang bersemayam dalam tubuh seseorang atau suatu tempat dengan pembacaan doa serta ayat-ayat suci. Dalam beberapa kesempatan, penggunaan air suci atau yang telah dibacakan ayat suci atau mantra juga digunakan sebagai media pengusiran.

Baca Juga: Pernyataan Keprihatinan Ormas Katolik Terkait Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral Makassar

Aku menatap Gereja Katedral Makassar ini dengan pikiran dan pertanyaan berkecamuk. Bangunan ini merupakan salah satu bangunan ikonik dan bersejarah di Sulawesi Selatan. Didirikan pada 1900 sebagai pengganti gereja pertama di Fort Rotterdam yang tidak lagi memadai menampung jumlah jemaat yang makin banyak. Ini menjadikan Gereja Paroki Hati Yesus yang Mahakudus sebagai gereja tertua yang masih digunakan hingga saat ini di Makassar.

Di gereja yang sedang direnovasi ini, seorang staf gereja, Pele, menjelaskan sejarah dan makna dari beberapa ornamen di dalam gereja. Seperti penggunaan kaca patri pada jendela dengan potongan kisah-kisah Yesus dan muridnya di masa lampau yang menghiasi beberapa sudut gereja. Ia pun turut mengajak untuk masuk ke gereja dan melihat proses renovasi.

“Karena gereja ini adalah salah satu cagar budaya di Makassar, kami tidak diizinkan melakukan renovasi besar-besaran hingga mengubah keseluruhan bangunan,” jelasnya sambil menunjukkan buku tipis yang berisi sejarah singkat Gereja.

Memasuki gereja sekali lagi membawaku pada momen saat menghadiri International Multifaith Youth Assembly dua belas tahun lalu. Kegiatan itu mempertemukanku dengan banyak orang muda dari berbagai negara yang tertarik dan mendukung isu toleransi beragama. Kami mengunjungi beberapa tempat ibadah di Makassar, salah satunya adalah katedral. Di ruangan yang sama saat ini aku berdiri, dua belas tahun lalu, kami berdialog dengan uskup yang saat itu masih dijabat oleh Mgr. Johannes Liku, mengenai ajaran Katolik dan cinta kasih Yesus.

Baca Juga: Kekerasan Seksual Di Gereja, Pembina Putra Altar Divonis 15 Tahun Penjara

Pele menjelaskan beberapa motif atau gambar pada kaca-kaca patri yang berwarna-warni dan makna sejumlah simbol yang ada di dalam gereja. Sesekali ku timpali dengan pembahasan mengenai eksorsisme yang ingin ku ketahui lebih jauh.

Sayangnya, tidak mudah menemukan seseorang yang bisa memberikan banyak informasi mengenai proses eksorsisme. Baik Katedral Makassar, maupun gereja-gereja Katolik lainnya menyampaikan isu eksorsisme menjadi isu khusus yang tidak semua orang mempelajarinya dalam liturgi. Gereja terkesan berhati-hati dalam menanggapi isu eksorsis karena pertimbangan mengenai kemungkinan terkait kesehatan mental hingga kerahasiaan.

Mengenal Eksorsisme Dalam Ajaran Katolik

Dalam ajaran Katolik, ibadat pengusiran setan (eksorsisme) adalah bagian dari kepercayaan/keimanan. Istilah eksorsisme berasal dari bahasa latin yaitu, exorcista (pengusir roh-roh, pengusiran setan) dan exorcizo (mengusir roh-roh).

Menurut tradisi gereja, eksorsisme dibagi kedalam tiga jenis, yaitu eksorsisme dalam arti sempit yang bermakna pembebasan seseorang yang kerasukan setan. Eksorsisme baptisan yang berarti tanda berakhirnya pengaruh setan atas jiwa manusia sebelum baptisan. Dan usaha-usaha untuk menjauhkan kuasa jahat setan atas benda-benda atau tempat berupa doa-doa pribadi serta doa kelompok yang isinya permohonan agar Allah menjauhkan umat-Nya dari kuasa kegelapan.

Pada zaman Gereja Perdana, para Apologet menggunakan seruan rasuli berupa, “Dalam nama Yesus, keluarlah dari …,” untuk menggantikan kuasa jahat dengan kuasa Yesus melalui ritus pengusiran setan. Tradisi eksorsisme mengandung perintah tegas kepada roh-roh jahat, oleh sebab itu ditetapkan sebagai fungsi kerasulan.

Baca Juga: Jangan Lupakan Kasus Angelo, Kekerasan Seksual Anak Di Lingkungan Gereja

Ritus pengusiran setan dilakukan untuk membebaskan seseorang dari pengaruh roh jahat melalui kewenangan rohani Yesus yang Dia percayakan kepada gereja-Nya. Oleh karena itu, ritual ini dilakukan harus sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh gereja. Eksorsisme dinyatakan sebagai salah satu tugas dan peran imamat. Melalui tahbisan suci, seorang imam Katolik menerima rahmat dan kuasa Roh Kudus untuk melaksanakan tugas-tugas sakramental, termasuk eksorsis.

Imam yang telah ditunjuk oleh uskup setempat (keuskupan) harus memiliki izin khusus resmi dari uskup Diosesan untuk melaksanakan eksorsis. Izin ini hanya diberikan kepada imam yang telah memenuhi syarat tertentu. Seperti memiliki kesalehan, pengetahuan mendalam mengenai teologi, psikologi, dan medis, serta memiliki kebijaksanaan, integritas hidup yang menonjol, dan pengalaman pastoral yang cukup untuk menangani kasus-kasus kompleks. Imam juga harus mampu membedakan antara masalah kejiwaan dan masalah spiritual.

Izin eksorsisme yang dikeluarkan oleh uskup ini merupakan simbol bahwa imam tersebut bertindak secara resmi dan dalam wewenang Gereja Katolik. Tanpa surat izin ini, eksorsisme dianggap tidak sah dan tidak memiliki kekuatan dalam konteks gerejawi. Dengan surat izin ini pula, seorang imam mendapatkan dukungan penuh dari gereja dalam melaksanakan tugas eksorsisme. Berupa doa, bimbingan, dan sumber daya lain yang diperlukan, serta perlindungan bagi imam dari potensi tuntutan hukum atau penyalahgunaan wewenang.

Baca Juga: Gereja Swedia Miliki Lebih Banyak Pendeta Perempuan: Keberhasilan Kesetaraan Gender

Eksorsisme melibatkan doa-doa khusus, bacaan Kitab Suci, dan penggunaan simbol-simbol agama. Dalam prosesnya, eksorsisme dapat dilakukan dengan kolaborasi antara imam, profesional kesehatan mental, dokter, dan keluarga individu yang bersangkutan. Hal ini untuk memberikan dukungan optimal kepada individu yang sedang dirasuki. Imam akan memimpin proses ini dengan penuh kehati-hatian dan mengikuti panduan yang telah ditetapkan oleh Gereja Katolik.

Bukan hanya sebagai bagian dari pelayanan pastoral, eksorsisme dalam Gereja Katolik juga mengingatkan umat tentang adanya kekuatan jahat yang dapat memengaruhi kehidupan manusia. Oleh karena itu, Gereja Katolik menekankan pentingnya doa, sakramen, dan praktik spiritual lainnya untuk melindungi diri dari pengaruh roh jahat.

Feminisme dan Dominasi Patriarki dalam Balutan Ritual Eksorsis

Hal unik lain dari film ini adalah adanya isu feminisme dan penggambaran dominasi patriarki dalam lingkup Gereja Katolik. Meski disajikan secara halus dan tersirat, isu ini dapat terlihat jelas.

Kehadiran film Dark Nuns makin menambah daftar panjang film eksorsis yang menyuguhkan kemampuan dan keberanian perempuan ketika menghadapi situasi sulit. Alih-alih tampil sebagai individu yang lemah dan kerap menjadi korban. Tokoh utama biarawati dalam film ini adalah contoh perempuan yang bukan hanya berjuang melawan iblis, tetapi juga melawan stereotipe gender di kalangan birokrasi gereja.

Film ini menawarkan perspektif baru mengenai perempuan dalam ajaran agama dan perfilman bergenre horor yang kerap didominasi stereotipe gender. Suster Junia adalah salah satu contoh perempuan yang berada di lingkungan patriarki. Meskipun memiliki kemampuan melakukan ritual eksorsis, ia diremehkan hingga ditolak oleh pastor lain. Hal ini mencerminkan adanya struktur patriarki dalam institusi keagamaan yang membatasi peran dan wewenang perempuan.

Baca Juga: Inilah Cerita Para Korban Kekerasan Seksual di Lingkungan Gereja: Dengarkan

Terlebih statusnya yang masih belum ditahbiskan menunjukkan bahwa Suster Junia masih dalam masa percobaan atau pelatihan. Ia belum mengucapkan kaul atau janji untuk setia kepada Tuhan, sehingga masih memiliki kebebasan untuk meninggalkan biara jika merasa tidak cocok atau belum siap.

Status inilah yang dinilai pastor sebagai “tidak memiliki kewenangan dan legitimasi” yang cukup dalam melaksanakan eksorsis, mengingat aturan eksorsis yang ketat. Peran biarawati dalam ritual eksorsisme tidak diatur secara memadai.

Seorang biarawati hanya dibolehkan berperan sebagai pendoa selama ritual eksorsisme berlangsung. Mereka dapat memberikan pelayanan pastoral dan dukungan emosional, mendengarkan keluhan, dan memberi perasaan tenang dan aman kepada orang yang kerasukan sebelum, selama, dan sesudah eksorsisme. Ini menunjukkan batasan yang diterapkan kepada perempuan dalam konteks keagamaan.

Birokrasi rumit dan aturan ketat inilah yang mendorong Suster Junia mencari bantuan dari seorang dukun dan menggunakan pembacaan tarot. Pada akhirnya, ia memilih melakukan ritual dengan caranya sendiri. Berbagai adegan mengeksplorasi bahwasanya karakter yang bersedia menantang tabu dan stereotipe gender, serta bersatu melawan kejahatan, dapat menemukan cara yang berbeda untuk menyelamatkan nyawa.

Baca Juga: Kejahatan Seksual Terjadi di Gereja, Pembina Putra Altar Pelakunya

Penggambaran karakter Suster Junia dan Michaela tidak hanya pada aspek keberanian dalam menghadapi kekuatan jahat. Melainkan juga memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk melakukan eksorsisme. Hal ini sejalan dengan pentingnya pemberdayaan perempuan dalam berbagai bidang, termasuk dalam konteks keagamaan yang sering kali didominasi laki-laki.

Secara keseluruhan, film The Priest 2: Dark Nuns menampilkan isu yang relevan dan ringan. Karena itu menarik untuk dibahas dalam forum manapun tanpa meninggalkan sinematografi, audio yang segar, dan hal-hal unik lain.

Peran Perempuan dalam Gereja Katolik

Isu feminisme yang disentil secara halus dalam film Dark Nuns mengingatkanku pada protes yang dilakukan oleh para aktivis dari sebuah organisasi advokasi perempuan katolik, Women’s Ordination Conference, beberapa jam sebelum prosesi Konklaf dimulai pada 7 mei 2025 lalu. Mereka mengkritik prosesi pemilihan Paus dan penentuan masa depan umat katolik yang hanya melibatkan laki-laki. Protes tersebut juga sebagai bentuk penyampaian harapan agar gereja segera melibatkan perempuan dalam berbagai bagian kehidupan gereja termasuk pemilihan paus.

Feminisme dan ajaran agama belakangan memang menjadi isu yang sering diperbincangkan. Meskipun kadang tidak selalu bertentangan, tetapi isu ini begitu kompleks. Ajaran agama sering kali dikritik karena dianggap melegitimasi ketidakadilan gender. Sementara beberapa kaum konservatif agama menolak feminisme karena dianggap sebagai produk Barat yang bertentangan dengan nilai-nilai religius.

Ajaran Katolik dan narasi Injil dengan jelas mengajarkan kesetaraan gender: bahwa semua orang, baik laki-laki maupun perempuan, diciptakan dengan hak-hak dasar dan martabat yang sama di hadapan Allah. Yesus bahkan memberikan contoh nyata sepanjang pelayanan-Nya. Ia berinteraksi dengan perempuan sebagai sesama dan menentang norma-norma sosial yang merendahkan martabat manusia serta praktik diskriminatif yang terjadi pada zaman itu.

Baca Juga: ‘The Six Triple Eight’: Perempuan Kulit Hitam Dobrak Stigma hingga Rasisme di Militer

Dalam budaya yang memarginalkan perempuan, Yesus malah menyambut mereka sebagai murid, teman percakapan, dan pembawa kebijaksanaan yang mendalam. Injil Lukas (10: 38-42) menceritakan afirmasi Yesus terhadap hak Maria (dan Marta) untuk terlibat dalam diskusi teologis. Ini adalah sebuah tindakan yang menantang peran gender tradisional saat itu.

Namun karena Gereja Katolik memiliki tradisi teologis dan hierarkis yang kuat, tidak jarang ajaran gereja dianggap patriarkis. Hal ini juga dipengaruhi oleh pemahaman tradisional gereja terkait peran perempuan. Misalnya posisi sebagai imam, perempuan tidak diperbolehkan berdasarkan argumen bahwa Yesus hanya memilih laki-laki sebagai rasul.

Vatikan, melalui Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa larangan ini bersifat definitif dan tidak bisa diubah dalam Ordinatio Sacerdotalis (1994). Struktur kepemimpinan gereja, mulai dari imam, uskup, kardinal hingga paus, semuanya laki-laki. Karena itu dianggap tidak mencerminkan kesetaraan dan justru membatasi peran dan keterlibatan perempuan dalam gereja.

Gerakan advokasi perempuan terus memperjuangkan adanya kesamaan kesempatan dalam gereja dengan menolak penafsiran ajaran gereja yang patriarkis. Larangan bagi perempuan menjadi imam dalam Gereja Katolik dianggap sebagai “teologi usang” dan mendesak para kardinal untuk meninjau kembali peran perempuan dalam gereja.

Baca Juga: Seksisme Terjadi Pada Penangkapan Mahasiswi Dan Kisah Para Ibu Maternal Activism Membela Perjuangan Anaknya

Mereka juga mengangkat tokoh perempuan dalam Alkitab. Seperti Bunda Maria, Bunda Teresa, Santa Theresia, Santa Hildegard, Santa Clara, hingga Santa Maria Magdalena. Tujuannya untuk menggambarkan peran perempuan dalam membesarkan dan menyebarluaskan ajaran Yesus melalui pelayanan kasih yang sama besarnya dengan laki-laki.

Di masa kepemimpinan mendiang Paus Fransiskus, isu kesetaraan gender ini, sekali lagi mendapat perhatian. Sebagai pemimpin Vatikan semasa hidup, Fransiskus menyatakan perempuan memiliki peran yang besar dalam kelangsungan hidup gereja. Meski tetap mempertahankan ajaran menolak tahbisan Imamat perempuan, tetapi ia mempraktikkan kesamaan kesempatan bagi perempuan untuk menjabat posisi-posisi penting dalam gereja. Seperti Akolit dan Lektor dalam liturgi gereja.

Fransiskus juga mengangkat enam perempuan untuk duduk dalam Dewan Ekonomi Vatikan. Yakni dewan penting yang mengawasi aktivitas ekonomi dan administrasi Vatikan dan beberapa posisi strategis di lembaga-lembaga yang sebelumnya didominasi laki-laki.

Baca Juga: The Last Supper, Perjamuan Terakhir Yesus dan Muridnya, Maria Cuma Tampil Sekilas

Suster Raffaella Petrini bahkan menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai wakil Gubernur Kota Vatikan pada 2021 lalu. Langkah resmi Paus dianggap sebagai pengakuan atas keterlibatan tetap perempuan dalam pelayanan liturgis dan jalan menuju pelayanan gereja yang inklusif. Hal ini disambut baik meski tak sedikit pula yang mengkritik keputusan Fransiskus.

Kini, sepeninggal Paus Fransiskus dan terpilihnya Paus Leo XIV sebagai pemimpin umat katolik yang baru, isu kesetaraan terhadap perempuan diharapkan makin terlihat. Keterlibatan perempuan-perempuan yang telah ada sebelumnya terus dilanjutkan hingga suara-suara perempuan juga ikut serta didengarkan dalam penentuan masa depan gereja.

Dark Nuns: Refleksi

Klimaks dari film ini sebenarnya terletak di adegan menjelang akhir film. Kerja sama, keteguhan, dan keyakinan ditunjukkan ketika Suster Junia dan Michaela merapalkan doa-doa. Sementara ritual yang dilakukan oleh murid sang dukun juga berlangsung di tempat yang sama.

Meski sang iblis berusaha memecah ketiganya, tetapi mereka kembali bersatu dalam doa dan ritual masing-masing. Entah doa siapa yang dikabulkan diantara ketiganya, atau ritual dari kepercayaan mana yang paling kuat. Yang jelas, Hee Joon berhasil diselamatkan secara dramatis. Bahkan Suster Junia mengorbankan dirinya.

Baca Juga: Membuka ‘Topeng’ Maskulinitas Toksik, Upaya Merobohkan Ilusi Kejantanan

Meski mengorbankan jiwanya, tetapi ia memberikan kehidupan baru bagi Hee Joon pascakerasukan. Karakter Suster Michaela pun mengalami peningkatan dari segi keberanian dan keimanan. Ia akhirnya melanjutkan misi Suster Junia dalam membantu siapa saja yang kerasukan roh jahat.

Sebagai penikmat film horor yang penuh dengan adegan brutal dan jumpscare, film Dark Nuns sempat membuat kecewa dan sedikit menurunkan antusiasme selama menonton. Tentu saja karena film ini lebih seperti kisah sedih dibalik upaya penyelamatan remaja laki-laki yang sedang kerasukan roh jahat. Namun ketika melihat film ini dari sudut pandang lain, maka banyak hal yang bisa dipelajari. Karena itu film ini tetap layak dan sangat direkomendasikan untuk ditonton.

Glosarium:

·         Otoritas Gereja: Kekuatan dan hak yang dimiliki oleh gereja, khususnya oleh imam, untuk melakukan tindakan spiritual seperti eksorsisme sesuai dengan ajaran dan pedoman gereja.

·         Eksorsisme: Proses atau ritual yang dilakukan untuk mengusir roh jahat atau setan dari seseorang atau tempat, biasanya dilakukan oleh seorang imam yang berwenang.

·         Ritual: Kegiatan formal yang memiliki makna spiritual, biasanya melibatkan doa dan simbol-simbol tertentu.

·         Doa: Komunikasi dengan Tuhan yang dilakukan oleh umat Katolik, yang berfungsi sebagai sumber kekuatan spiritual dan dukungan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam proses eksorsisme.

·         Sakramen: Tindakan atau ritual yang dianggap sebagai tanda dari rahmat Tuhan, seperti baptisan dan komuni, yang memainkan peran penting dalam kehidupan spiritual umat Katolik.

·         Praktik Non-Katolik: Aktivitas atau ritual yang tidak sesuai dengan ajaran Katolik, seperti perdukunan, yang dianggap berbahaya dan tidak diterima dalam iman Katolik.

·         Apologet: orang-orang yang mempertahankan atau membela suatu keyakinan, terutama keyakinan agama

(Editor: Anita Dhewy)

(sumber foto: IMDB)

Zakia

Pecinta puisi, film horor, dan penggemar buku-buku bertema kesehatan mental, sejarah, dan Gender. Seorang BTS-ARMY yang menikmati musik sebagai pereda kecemasan dan peningkat kebahagiaan. Penyuka diskusi sebagai cara mengeksplorasi pengetahuan.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!