Film 'GJLS Ibuku Ibu-Ibu'(sumber foto: Instagram @gjls.ibuku.ibuibu)

‘GJLS Ibuku Ibu-Ibu’: Kapan Film ‘Lucu’ Bisa Bebas dari Pola Humor Seksis dan Ableist?

Film komedi terbaru ‘GJLS: Ibuku Ibu-Ibu’ mendapat sejumlah reaksi dari penonton karena absurditas yang ditampilkannya. Namun, film ini gagal menangkap kompleksitas perempuan dan ibu dalam masyarakat, alih-alih jatuh ke jebakan stereotipe dan maskulinitas toksik berdalih humor.

Sejak dirilis pada 13 Juni 2024, film GJLS: Ibuku Ibu-Ibu yang digarap oleh trio komedian GJLS (Gilang, Julfi, dan Lubis) mencuri perhatian penonton muda. Konon, gaya humornya khas: absurd, over the top, dan penuh improvisasi. 

Film ‘GJLS: Ibuku Ibu-Ibu’ mengisahkan tentang tiga sahabat Gilang, Julfi, dan Lubis (GJLS). Mereka tinggal bersama di sebuah rumah kontrakan sambil menjalani hidup dengan cara mereka yang absurd dan santai. Hidup mereka mulai berubah saat masing-masing ibu mereka datang secara tiba-tiba untuk tinggal bersama mereka selama beberapa hari. Dari situ, ketegangan dan kekonyolan pun dimulai.

Ketiga ibu tersebut, dengan karakter yang sangat berbeda, membawa dinamika baru ke dalam rumah. Ada yang cerewet dan posesif, ada yang protektif berlebihan, dan ada pula yang cuek namun mendalam. Para sahabat ini pun dihadapkan pada berbagai situasi lucu, kekacauan domestik, dan benturan generasi yang membuat mereka harus belajar kembali tentang arti keluarga dan pengorbanan seorang ibu.

Baca Juga: ‘Seribu Bayang Purnama’: Ajak Petani Muda Terapkan Metode Alami, Tapi Perempuan Petani Minim Disorot

Namun, ketika konflik antar ibu mulai muncul dan rahasia-rahasia lama terbongkar, persahabatan dan kesetiaan diuji. Gilang, Julfi, dan Lubis harus menyatukan kekonyolan mereka untuk menciptakan momen spesial yang bisa menyatukan para ibu. Sekaligus membuktikan bahwa mereka memang “anak-anak baik” yang pantas dibanggakan.

Film ‘GJLS: Ibuku Ibu-Ibu’ adalah film yang sarat improvisasi, slapstick, dan humor absurd. Film ini berusaha menyampaikan pesan tentang cinta anak terhadap ibu dalam balutan komedi yang ringan dan kekeluargaan. Banyak pula yang mengatakan bahwa film ini sebaiknya ditonton ‘tanpa terlalu banyak berpikir’, sebab humor yang disampaikan memang dimaksudkan untuk menjadi sesuatu yang ‘absurd’.

Namun di balik tawa yang ditawarkan, film ini menyisakan banyak pertanyaan serius: di mana posisi perempuan dalam narasi ini? Sejauh mana film ini membuka ruang bagi inklusivitas dan penggambaran ibu yang manusiawi?

Maskulinitas dan Representasi Ibu, antara Objek Komedi dan Stereotipe Usang

Sejak awal, film ini menjanjikan “perayaan” ibu dengan premis: tiga sahabat yang berusaha membahagiakan ibu mereka masing-masing. Namun kenyataannya, karakter ibu dalam film ini lebih banyak dijadikan objek lelucon dibandingkan sebagai subjek dengan agensi dan kompleksitas. Para ibu digambarkan karikatural: dari yang cerewet, overprotektif, hingga emosional secara berlebihan. Semua dikemas untuk membangkitkan tawa, bukan empati—karena film ini muncul sebagai komedi.

Penggambaran ini cenderung berbahaya dari kacamata feminisme. Ia melanggengkan konstruksi patriarkal tentang ibu sebagai figur yang emosional, rewel, dan selalu “ada” untuk anak-anaknya tanpa pertimbangan terhadap keinginan dan kebutuhan dirinya sendiri. Tidak ada ruang bagi representasi ibu sebagai perempuan yang utuh dengan ambisi, kerentanan, dan pilihan hidup yang beragam.

Baca Juga: Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’, Merenungi Relasi Gender dalam Romansa Lintas Waktu

Mayoritas adegan komedi di film ini didorong oleh improvisasi maskulin yang minim empati. Canda yang muncul sering kali bertumpu pada penghinaan atau pelecehan terhadap pihak lain. Baik secara verbal maupun visual. Perempuan, termasuk karakter ibu, tidak memiliki agensi untuk membalas atau mendefinisikan dirinya sendiri. Mereka ada untuk ditertawakan, bukan untuk dipahami.

Kritik feminis menyebut gaya humor ini sebagai punching down, yaitu ketika humor dilakukan dengan menjadikan kelompok rentan sebagai target. Film ini menjadi contoh dari komedi yang enggan naik kelas; masih mengandalkan formula lama: laki-laki sebagai penggerak cerita, dan perempuan sebagai objek pasif. Baik secara emosional maupun komikal.

Candaan Ableist: Disabilitas Dijadikan Bahan Tertawaan

Salah satu aspek paling problematik dalam film ini adalah munculnya candaan ableist. Yakni humor yang mendiskreditkan atau mengejek individu dengan disabilitas.

Dalam beberapa adegan, karakter disabilitas digambarkan secara berlebihan, bahkan digunakan sebagai elemen komedi tanpa konteks atau sensitivitas. Efeknya bukan hanya menciptakan tawa yang dangkal. Tetapi juga memperkuat stigma dan diskriminasi terhadap disabilitas.

Masih ada referensi visual dan dialog yang mengasosiasikan kondisi disabilitas dengan sesuatu yang “aneh”, “tidak normal”, atau “bahan bercandaan”. Tidak ada penjelasan, apalagi upaya untuk merepresentasikan karakter disabilitas secara bermartabat. Inilah bentuk kekerasan simbolik dalam budaya populer. Yakni ketika kelompok disabilitas tidak diberi suara, tetapi malah dijadikan lelucon.

Baca Juga: ‘Gowok Kamasutra Jawa’: Perempuan Bukan Sekadar Objek Seksual

Perspektif kritis dari gerakan disabilitas menyebut bahwa humor seperti ini tidak hanya menyakitkan. Tetapi juga mengaburkan perjuangan nyata penyandang disabilitas dalam mendapatkan kesetaraan, aksesibilitas, dan pengakuan. Dalam dunia di mana kelompok disabilitas masih sering terpinggirkan, menjadikan mereka bahan tawa hanyalah bentuk kekuasaan mayoritas atas yang lemah.

Tentu saja ini bukan berarti disabilitas harus ditampilkan sebagai karakter malang yang perlu dikasihani. Alih-alih, agensi individu dan kelompok disabilitas bisa dimunculkan dalam film sebagai subjek yang menghidupkan unsur komedi, tanpa menjadikan mereka sekadar objek lelucon.

Inklusivitas dalam perfilman bukan sekadar soal keberagaman karakter, tapi juga soal perspektif. Bagaimana perempuan berbicara? Apakah mereka punya konflik sendiri? Bagaimana karakter disabilitas ditampilkan—apakah sebagai manusia utuh, atau sekadar pelengkap lelucon? ‘GJLS: Ibuku Ibu-Ibu‘ tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kalau bukan cenderung abai.

Saatnya Komedi Bertanggung Jawab

Komedi seharusnya menjadi ruang subversif. Ia dapat menjadi tempat ketimpangan bisa ditertawakan, bukan diperkuat. Sayangnya, film ini masih terjebak dalam pendekatan yang sudah usang: menjadikan yang lemah sebagai korban humor demi tawa mayoritas. Sementara itu, perempuan dan kelompok rentan kembali harus menonton film yang tidak mengundang mereka sebagai penentu narasi. Hanya sebagai bahan olok-olok.

Sudah saatnya komedian dan sineas Indonesia mulai bertanya: lucu untuk siapa? Dan siapa yang disakiti dalam prosesnya?

GJLS: Ibuku Ibu-Ibu‘ bisa saja menjadi hiburan ringan yang berhasil dari sisi komersial. Tapi dari sisi etika representasi, film ini belum mampu menjadi karya yang progresif dan inklusif. Jika industri film Indonesia ingin tumbuh dan matang, maka humor pun harus belajar tumbuh: dari sekadar lucu menjadi bertanggung jawab.

Kita butuh lebih banyak film yang mampu mengajak tertawa bersama, bukan menertawakan mereka yang selama ini terpinggirkan.

(sumber foto: Instagram @gjls.ibuku.ibuibu)

Salsabila Putri Pertiwi

Redaktur Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!