Di dunia video game, kita mengenal banyak tokoh antagonis dan villain yang ikonik. Misalnya dalam seri Resident Evil.
Namun, ada dua tokoh yang kian menyita menyita perhatian saya: Mother Miranda dan Lady Alcina Dimitrescu. Kehadiran mereka menyisakan narasi yang jauh lebih dalam dibanding sekadar villain pembunuh berdarah dingin.
Di balik tindakan brutal dan wujud menyeramkan mereka, tersembunyi luka keibuan yang mengakar. Mereka bukan sekadar monster. Mereka adalah ibu yang kehilangan dan, di dalam kehilangan itu, mereka tersesat.
Ibu saya sering menekankan: ibaratnya, seorang ibu tidak terima ketika melihat anaknya sekadar digigit semut. Apa lagi kalau sampai kehilangan sang anak, tentu dukanya luar biasa. Barangkali perumpamaan itulah yang dapat menggambarkan latar belakang karakter Mother Miranda, tokoh antagonis dengan peran jahatnya sendiri. Meskipun demikian, Mother Miranda bukanlah korban, melainkan pelaku kejahatan.
Baca Juga: Pesan Keragaman ‘Spider-Man: No Way Home’: Tak Semua Berambut Pirang dan Berkulit Putih
Tentu tulisan ini bukan bermaksud untuk mengglorifikasi kejahatan atau membenarkan tindakan seperti yang dilakukan Mother Miranda. Sebaliknya, artikel ini bertujuan mengajakmu melihat lebih dalam akar dari tindakan ekstrem yang dilakukan tokoh tersebut: bentuk cinta seorang ibu yang berubah menjadi obsesi destruktif. Dengan kita memahami latar belakang duka dan kehilangan yang ia alami sebagai seorang ibu, bukan berarti kita membenarkan pilihannya untuk menyakiti banyak orang, dalam konteks ini, pada cerita di video game.
Mother Miranda: Kegilaan yang Berakar dari Duka
Kita mulai dari Mother Miranda dari game Resident Evil. Ia adalah sosok ibu yang kehilangan anak satu-satunya dan memilih menjadikan ilmu pengetahuan sebagai jalan menuju pengingkaran kematian. Dalam proses itu, ia kehilangan nurani.
Mother Miranda menjadikan anak-anak sebagai objek eksperimen dan merusak kehidupan banyak orang. Melihat tokoh seperti Mother Miranda bukan soal menaruh simpati. Tetapi sebagai refleksi: bahwa bahkan cinta, jika kehilangan arah, bisa menjadi kekuatan yang menghancurkan.
Mother Miranda adalah biang keladi dari krisis biohazard di Resident Evil Village. Namun, sebelum ia menjadi ilmuwan sinting yang terobsesi dengan kehidupan abadi, ia adalah seorang ibu yang kehilangan anak perempuannya yang berusia 10 tahun. Namanya Eva, kematiannya akibat terjangkit flu Spanyol.
Baca Juga: ‘Joko Anwar’s Nightmares and Daydreams’: Bukti Tidak Mudah Menggabung Isu Sosial dan Superhero
Kehilangan Eva menghancurkan Miranda. Duka itu pun berubah menjadi obsesi. Dengan memanipulasi biologi dan eksperimen transhumanisme, Miranda mencoba menciptakan ‘wadah’ sempurna untuk kebangkitan Eva. Ia menculik anak perempuan dari berbagai penjuru dan memperlakukan mereka sebagai ‘kelinci percobaan’. Salah satunya adalah Rosemary, anak dari karakter utama, Ethan Winters.
Namun, di balik semua kekejian itu, motivasi Miranda tetaplah bersifat maternal. Ia tidak mengejar kekuasaan politik, bukan pula balas dendam personal. Ia hanya ingin satu hal: yaitu mengembalikan anaknya. Dari sini, saya menyimpulkan bahwa bagi seorang ibu yang patah, dunia bisa terbakar asal anaknya hidup kembali.
Lady Dimitrescu: Ibu yang (Sebenarnya, Mungkin) Tidak Pernah Berniat Jahat
Selain Mother Miranda, ada pula sosok Lady Alcina Dimitrescu (sering disingkat Lady D). Ia adalah sosok bangsawan vampir bertubuh raksasa yang mencuri perhatian publik saat Resident Evil Village dirilis pertama tahun 2021 lalu.
Menurut saya, Lady D termasuk ke dalam sosok antagonis yang kompleks. Ia memang brutal, haus darah, dan membunuh tanpa ampun. Tetapi ia juga seorang ‘ibu’ bagi ketiga putri angkatnya: Bela, Cassandra, dan Daniela.
Baca Juga: The Marvels: Kolaborasi 3 Superhero Perempuan yang Penuh Kejutan
Anak-anak perempuan itu bukan darah dagingnya. Mereka eksperimen Miranda yang disebut ‘gagal’. Namun, Lady D menerima mereka, membesarkan mereka, dan melindungi mereka dengan sepenuh hati. Ia bahkan murka ketika mereka disakiti. Dalam potret kelam ini, kita melihat gambaran kasih sayang keibuan yang tetap eksis bahkan dalam lingkungan yang tidak manusiawi.
Meskipun publik mengenal Lady D sebagai monster, ia tidak pernah melakukan semua kekejian itu demi dirinya sendiri. Ia membunuh demi bertahan hidup, dan demi menjaga ‘anak-anak’nya. Bukankah itu refleksi dari banyak ibu yang, dalam sistem yang menindas, dipaksa membuat pilihan ekstrem demi keluarganya?
Kontras Konsep Keibuan: Mother Miranda versus Lady Dimitrescu dan ‘Ibu Tersakiti’ Lainnya
Baik Mother Miranda dan Lady Dimistrecu tampil sebagai figur ‘ibu’ dalam lanskap kelam Resident Evil Village. Akan tetapi, konsep keibuan Mother Miranda dan Lady D sesungguhnya berdiri di dua kutub yang sangat berbeda:
Mother Miranda adalah ibu biologis yang kehilangan anak kandungnya, Eva. Duka yang mendalam membuatnya menolak kenyataan dan terjerumus dalam obsesi menciptakan kehidupan kembali. Dalam matanya, anak-anak lain tak lebih dari wadah percobaan, yaitu hanya alat untuk mengembalikan Eva. Kasih keibuannya bersifat eksklusif, obsesif, dan tidak mengenal batas moral. Ia membunuh bukan untuk melindungi, melainkan untuk menciptakan ulang sesuatu yang telah tiada, tanpa memperhitungkan penderitaan orang lain.
Sementara itu, Lady D menjadi ibu bukan karena darah, tetapi karena pilihan. Tiga perempuan yang disebut sebagai hasil eksperimen gagal pun diterimanya sebagai anak. Ia menyayangi, membesarkan, dan melindungi mereka seperti keluarga sejati.
Baca Juga: Virgo and The Sparkling: Superhero Remaja yang Ringan Tapi Klise
Kekejamannya memang nyata, namun didorong oleh insting protektif, bukan ambisi pribadi. Kasihnya bersifat inklusif, dan meski tetap menakutkan, ia tidak sepenuhnya kehilangan seluruh nurani. Bahkan kastil kediamannya ia buat sedemikian hangat dan aman untuk melindungi ketiga putrinya yang rentan terhadap suhu dingin akibat kegagalan eksperimen Mother Miranda tersebut.
Kasih sayang ini paling nyata terlihat ketika satu per satu putri angkatnya dibunuh oleh Ethan Winters. Kemarahan dan duka Lady D tumpah ruah bukan sebagai reaksi seorang villain yang kehilangan aset, tetapi sebagai jeritan seorang ibu yang anak-anaknya direnggut secara brutal.
Dalam dialognya yang penuh emosi dan kemarahan, ia berteriak: “You’ll pay for what you’ve done! (Kau akan membayar atas apa yang kau lakukan!)” Sebuah ungkapan duka yang menyala dalam kemarahan. Namun puncak ekspresi keibuannya justru muncul ketika ia berseru dengan getir, “How much blood and sweat do you think it took to raise those daughters?! (Berapa banyak darah dan keringat yang pikirmu dibutuhkan untuk membesarkan anak-anak itu?!)” Kalimat ini menyibak sisi terdalamnya: bahwa di balik tubuh monster yang haus darah, ada seorang ibu yang pernah berjuang, merawat, dan mencintai.
Begitu pun dari sisi Bela, Cassandra, dan Daniela. Mereka tidak hanya memanggil Lady D sebagai ibu. Ketiga anak perempuan itu benar-benar hidup dari dan untuknya. Ketiganya sangat loyal, seolah tak pernah membayangkan dunia tanpa sang ibu agung. Mereka menggantungkan hidup sepenuhnya pada perlindungan Lady D dan kenyamanan kastil yang telah dibangun untuk menjaga mereka dari ancaman luar.
Baca Juga: Sudah Lama Tak Ada Film Superhero Perempuan, Kini Muncul ‘Sri Asih’
Hubungan mereka bukan hanya soal darah atau kekuasaan. Tetapi tentang rasa memiliki yang mendalam, yang dibalas dengan kesetiaan tanpa syarat dari ketiganya. Sedangkan di mata Mother Miranda, ketiga putri Lady D tidak lebih dari produk gagal yang rapuh di balik kekuatan dan tragis di balik keberingasan, serta tidak bisa membantunya menjadi inang untuk Eva.
Inilah perbedaan mendasarnya: Mother Miranda mencintai satu anak secara obsesif dan menjadikan yang lain sebagai alat. Sedangkan Lady D mencintai anak-anak yang bukan darah dagingnya, dan memperlakukan mereka dengan rasa memiliki yang tulus. Di balik dua wajah ‘ibu villain’ ini, kita melihat bahwa kasih tanpa kendali akal bisa membawa kehancuran. Sementara kasih yang tetap memelihara empati, meski dalam wujud yang mengerikan, masih menyisakan sisi kemanusiaan.
Fenomena ini tidak hanya ada di dunia game. Wanda Maximoff alias Scarlet Witch dalam film ‘Doctor Strange in the Multiverse of Madness’ juga memperlihatkan bahwa cinta ibu bisa melampaui batas nalar dan moral. Setelah kehilangan anak-anaknya (yang sebenarnya hasil realitas ciptaan), Wanda menjadi sosok yang mengancam semesta demi mengklaim kembali peran keibuannya.
Wanda, seperti Mother Miranda, tidak digambarkan sebagai haus kekuasaan. Ia haus akan peran keibuan yang direnggut darinya. Ia mengatakan dengan lantang: “I’m not a monster. I’m a mother.” Pernyataan ini bukan pembenaran, tetapi pengakuan. Ia tahu ia telah berubah—walaupun tidak lebih baik daripada sebelumnya. Namun perubahan itu terjadi karena ia mencoba mengisi lubang kehilangan yang terlalu dalam untuk dijelaskan oleh logika manusia.
Narasi Ibu dalam Tubuh Villain: Mengapa Kita Perlu Memperhatikan?
Mengapa penting membahas “ibu” dalam tubuh villain seperti ini? Sebab dunia, baik nyata maupun fiksi, sering kali tidak memberi ruang aman untuk kesedihan perempuan.
Ketika ibu berduka, mereka dituntut untuk tegar. Ketika mereka rapuh, mereka dicap gagal. Pun ketika mereka melawan dunia demi anaknya, mereka dijuluki “gila”, “monster”, atau “berlebihan”. Padahal, narasi-narasi seperti Mother Miranda, Lady D, hingga Wanda Maximoff justru memperlihatkan betapa kuat dan radikalnya kasih ibu. Bahwa ketika dunia mencabut hak mereka sebagai ibu, mereka bisa menjadi kekuatan yang menakutkan. Tidak melulu karena mereka jahat, tetapi karena cinta mereka tidak diberi tempat untuk sembuh.
Tokoh-tokoh tersebut memang fiksi. Tetapi kisah mereka merefleksikan betapa dunia kerap gagal memahami duka perempuan, terutama duka seorang ibu. Di sinilah pentingnya perspektif gender dalam membaca narasi pop culture. Karena di balik figur “villain“, kadang tersembunyi sosok ibu yang hanya ingin didengar, dimengerti, dan diberi ruang untuk berduka akibat kehilangan anaknya.
Narasi ini penting untuk dibaca bukan agar kita sekedar ‘membela’ sang villain, tapi agar kita mencegah dunia nyata menciptakan lebih banyak “Mother Miranda” atau “Wanda Maximoff” yang lahir dari kehilangan namun tidak diberi ruang untuk sembuh.
(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)
(sumber foto: Resident Evil Wiki)






