Ilusi pasar berkedok feminisme

Siapa yang Punya Tubuhku? Obral ‘Feminisme Masa Kini’ adalah Ilusi Pasar

Di era postfeminisme, 'feminisme' dijadikan bungkus ilusi pasar dan 'kebebasan' semu perempuan. Saatnya membongkar konstruksi kapital tersebut.

“Feminisme sedang baik-baik saja, selama ia bisa dijual.”

Terdengar sinis, ya, kalimat itu. Tapi justru di sanalah kita bisa mulai membaca dan mengkritik kondisi ‘feminisme’ hari ini. Mengapa diberi tanda petik? Sebab barangkali, yang sedang kita saksikan adalah kapitalisme yang dibungkus jargon ‘feminisme’ untuk menjual ilusi pasar.

Makna ‘feminisme’ beberapa waktu terakhir seakan-akan terdistorsi. Awalnya, ia muncul sebagai gerakan yang lahir sebagai bentuk resistensi terhadap struktur patriarki dan kapitalisme. Kini ‘feminisme’ justru dijadikan kemasan, dimodifikasi, dan dipasarkan ulang sebagai gaya hidup. Perjuangan untuk kesetaraan diobral dan disulap menjadi proyek estetika, pembentukan citra, dan akumulasi simbol kapital.

Baca Juga: Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’, Merenungi Relasi Gender dalam Romansa Lintas Waktu

Alih-alih menyuarakan kritik terhadap sistem yang menindas, sebagian besar narasi ‘feminisme’ masa ini tampil dalam rupa kosmetik, slogan self-care, dan unggahan ‘healing’ di Bali atau di luar negeri. Validasi sebagai ‘perempuan berdaya’ kini diperoleh lewat isi dompet, merk fashion, dan frekuensi mengunggah ‘me-time’ di Instagram. 

Fenomena ini bukan sekedar tren sosial. Ia adalah ekspresi dari kapitalisme yang sudah menyusup hingga ke level afeksi dan eksistensi perempuan itu sendiri.

Jualan ‘Self-Love’ dan Algoritma di Era Postfeminisme

Dalam dunia yang terlalu akrab dengan media sosial, tubuh perempuan tidak pernah benar-benar menjadi miliknya sendiri. Ia selalu dalam sorotan, jadi metode pembandingan dan konsumsi. 

Di satu sisi, perempuan didorong menjadi subjek otonom yang, konon, bebas memilih. Namun di sisi lain, pilihan itu telah terbingkai oleh algoritma dan industri. ‘Pilihan’ menjelma soal skincare merk tertentu, gaya hidup berkelas, perawatan mahal, hingga narasi produktivitas yang dikemas sebagai bentuk pemberdayaan.

Angela McRobbie dalam The Aftermath of Feminism (2009) menyebut fenomena ini sebagai post-feminist masquerade. Nilai-nilai feminisme dikemas ulang menjadi bentuk konsumsi kultural yang justru memperkuat tatanan kapitalisme patriarkal. Feminisme di ruang-ruang kapital bukan lagi tentang gerakan transformasional, melainkan gaya hidup penuh glitter dan jebakan.

Kini, jargon ‘empowerment’ atau ‘pemberdayaan’ lazim ditemukan—dan dimanfaatkan dalam iklan sabun. Atau, kata ‘self-love’ marak dipakai untuk menjual vitamin, yoga studio, dan layanan terapi berbayar. Dalam ranah ini, tubuh perempuan bukan sekedar tampil, tapi dijual sebagai identitas yang bisa dimiliki, diklik, dan diukur dengan harga.

Baca Juga: ‘Pada Sebuah Kapal’, Novel Pertama Nh Dini yang Angkat Tema Feminisme

Di TikTok dan Instagram, narasi self-love dan pemberdayaan perempuan sering hadir dalam bentuk yang manis dan menggugah. Perempuan diajak ‘mencintai diri sendiri’—dibingkai dalam logika promosi. ‘Cinta’ itu berwujud produk skincare Korea, kopi seharga 45 ribu, feed media sosial berwarna pastel, dan caption bijak yang bisa dikutip ulang. ‘Pemberdayaan’ menjadi paket visual, bukan praksis hidup. Dalam ruangan ini, tubuh perempuan bukan lagi tempat pengalaman, tapi properti algoritma yang laku karena cantik, rapi, dan menjual. 

Ironisnya akun-akun yang justru bicara soal feminisme sebagai gerakan melawan kekerasan struktural, pengalaman buruh perempuan, atau perjuangan akar rumput kerap tertutup oleh algoritma. Hal yang tampak membebaskan, ternyata telah dirancang untuk bisa dijual. Algoritma dibentuk sedemikian rupa untuk menampilkan wujud pasar berkedok ‘feminisme’, alih-alih menyajikan realita feminisme tentang perjuangan yang sebetulnya masih hidup hingga saat ini.

Narasi kebebasan pun berubah bentuk. Ia bukan lagi pembebasan dari struktur opresif, melainkan ilusi pilihan dalam dunia serba visual. Perempuan ‘bebas’ tapi dalam batas yang telah dipoles, difilter, dan diedit. Bebar bersuara, tapi harus tetap manis. Bebas memilih, tapi hanya dari katalog yang sudah ditentukan.

‘Perempuan Ideal’ (Bukan) Imitasi Laki-laki dan Imaji Konsumsi

Obral istilah ‘feminisme’ di era postfeminisme juga membentuk persepsi perempuan pada anggapan bahwa jalan menuju kesetaraan adalah dengan meniru gaya hidup laki-laki. Kerja lembur tanpa batas, mengenakan pakaian maskulin, bahkan bersikap dingin terhadap kehidupan emosional. A Room of One’s Own (1929) karya Virginia Woolf sejak lama telah memperingatkan bahwa kekuatan perempuan tidak harus dibangun di atas imitasi. Perempuan, kata Woolf, membutuhkan ruang, pendapatan, dan bahasa sendiri untuk menulis eksistensinya.

Kini imitasi tak hanya bersifat maskulin. Kapitalisme tak pernah absen menghadirkan skena baru dari ‘perempuan ideal’. Perempuan harus ‘feminim’—lembut dan spiritual—tapi juga tajam, ambisius, dan berpenghasilan. Ia bisa memakai crop top, tapi juga harus ikut seminar pengembangan diri. Ia adalah kombinasi dua sisi yang tampak bebas, padahal dibingkai ketat oleh logika produksi nilai tambah.

Kebebasan hari ini bukanlah pembebasan, melainkan kontrak sosial baru yang lebih halus dan sulit ditolak. Nancy Fraser dalam Feminism, Capitalism and the Cunning of History (2009) menyebut ini sebagai pergeseran feminisme dari kritik sistem menjadi pelengkap sistem. Feminisme, dalam format neoliberal, tidak lagi menggugat kapitalisme. Ia justru menjadi strategi pasar untuk memperluas konsumsi.

Baca Juga: Refleksi Lagu ‘Sepuli Na Jandi’ dari Perspektif Feminisme Dekolonial

Fenomenologi Merleau-Ponty menyebut, tubuh adalah pusat pengalaman manusia. Jika demikian, maka tubuh perempuan dalam masyarakat konsumtif adalah pusat pengalaman yang terus-menerus dikomodifikasi. Ia tak lagi menjadi ruang kesadaran, tapi objek simulasi, perbandingan, dan penilaian.

Ritual kecantikan dan konsumsi yang dijalani sehari-hari bukan murni kehendak bebas. Melainkan bentuk kompensasi terhadap tekanan sosial yang tak kasat mata. Pengetahuan perempuan dikonstruksi ulang. Alhasil, muncul kecemasan bahwa tanpa serum anti-aging, mereka dianggap ‘tua’. Tanpa feed Instagram yang cerah dan ‘alami’, mereka dianggap tak bahagia. Ini adalah bentuk alienasi baru. Perempuan menjauh dari dirinya sendiri demi menjadi perempuan yang ‘layak ditampilkan’.

Simone de Beauvoir juga menyatakan bahwa perempuan, “Tidak dilahirkan, tetapi dijadikan.” Hari ini, pernyataan itu bisa diamini. Jika dulu konstruksi itu dibentuk oleh agama, moral, dan hukum, kini ia dibentuk oleh tren, algoritma, dan estetika kapitalistik.

Membongkar Jeruji ‘Kebebasan’ Pada Feminisme Hari Ini

Feminisme pada hakikatnya adalah soal perlawanan. bell hooks pada bukunya yang berjudul Feminist Theory: From Margin to Center (1984) telah menegaskan bahwa feminisme adalah proyek politik untuk menghapuskan seksisme, eksploitasi, dan penindasan. Tapi dalam versi hari ini, feminisme justru sering menjadi jalan baru untuk memperhalus eksploitasi. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan persuasi lembut dan estetika popular.

Gerakan yang seharusnya lahir dari kesadaran struktural dan praksis politik kini direduksi menjadi motivasi mencintai diri sendiri sambil membeli lebih banyak barang hasil hasutan proyeksi pra kapital. Perempuan diberi pilihan, tapi tidak diberi kuasa untuk menciptakan makna di luar pasar. 

Jika feminisme hanya menjadi cara lain untuk menyesuaikan diri dengan sistem, maka ia telah kehilangan sifat radikalnya. Ia bukan lagi alat pembebasan, melainkan dekorasi dari penjara yang semakin nyaman.

Baca Juga: Mengenal Teori Politik Feminis dan Kontribusinya Mendorong Kebijakan Adil Gender

Kesetaraan sejati bukanlah tentang dia yang paling produktif, paling estetik, atau paling sukses secara finansial. Kesetaraan adalah soal membongkar struktur nilai yang membentuk kehidupan sehari-hari. Kemudian menciptakan ruang untuk eksistensi yang tak ditentukan oleh pasar. 

Perempuan perlu merebut kembali tubuhnya. Bukan sebagai etalase, tapi sebagai ruang pengalaman dan makna. Mereka perlu bertanya kembali: apakah keinginan mereka benar-benar milik mereka? Ataukah semua itu telah diprogram sebagai kebutuhan semu oleh kapitalisme?

Politik feminis yang membebaskan bukan tentang ‘ikut serta’ dalam pesta kapitalisme. Ia bukan soal menjadi lebih kompeten di dalam sistem, tetapi soal mengubah sistem itu sendiri. Dan itu tidak selalu nyaman, tak selalu cantik, produktif, dan layak jual. 

Barangkali kita memang sedang berada dalam perta kapitalisme yang gemerlap tapi sunyi. Namun perlu diingat bahwa jalan keluar tidak selalu berupa seminar, caption motivasi, atau serum pencerah wajah. Kadang, seperti ibu-ibu Muslimatan NU yang berucap sambil menata kerudungnya:

Wis, sing penting ati waras. Wong wedok kuwat dudu sing pinter dandan, tapi sing iso ora gumunan ning urip.

Saya rasa, itu jauh lebih subversif daripada slogan ‘empowerment berbayar.

MH. D. Hermanto

Mahasiswa Filsafat UINSUKA. Menulis dan melukis di GASEBU Pembebasan.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!