Namanya Zarifa Ghafari. Ia seorang perempuan yang menjabat sebagai wali kota di Maidan Shahr, ibu kota Provinsi Maidan Wardak, Afghanistan Tengah. Zarifa juga dikenal sebagai wali kota termuda di Afghanistan. Dia kerap diancam oleh kekuasaan Taliban, bukan karena konflik atau pertarungan politik pemerintahan—melainkan karena ia perempuan. Kisahnya direkam dalam film dokumenter ‘In Her Hands’ (2022).
Disutradarai oleh Tamana Ayazi dan Marcel Mettelsiefen, ‘In Her Hands’ menyajikan kisah Zarifa Ghafari, seorang tokoh perempuan muda di Afghanistan. Zarifa berada di tengah situasi negara yang penuh konflik, sistem sosial yang didominasi laki-laki, dan kekuasaan Taliban yang represif. Keberadaan Zarifa sebagai pemimpin perempuan menjadi ancaman bagi pihak-pihak konservatif yang menolak perubahan.
Film ini dengan jelas memperlihatkan kehidupan Zarifa yang dipenuhi ancaman dan tekanan sejak menjabat sebagai wali kota. Taliban mengirimkan surat ancaman yang memintanya meninggalkan kota tersebut. Jika tidak, nyawanya menjadi taruhan. Ancaman itu datang bukan karena korupsi atau konflik politik, melainkan semata-mata karena ia seorang perempuan yang berani tampil di ruang publik. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya budaya patriarki yang mengakar dalam masyarakat Afghanistan.
Afghanistan merupakan salah satu negara dengan tingkat diskriminasi terhadap perempuan yang masih sangat tinggi. Kemiskinan dan budaya patriarki yang mendalam pun memperburuk situasi tersebut. Diskriminasi terhadap perempuan Afghanistan menjadi cerminan bahwa hingga saat ini perempuan belum sepenuhnya dihargai secara utuh dalam berbagai aspek kehidupan. Baik di ranah domestik maupun publik (Rumadul, 2017).
Baca Juga: ‘GJLS Ibuku Ibu-Ibu’: Kapan Film ‘Lucu’ Bisa Bebas dari Pola Humor Seksis dan Ableist?
‘In Her Hands’ tidak hanya menggambarkan perjuangan Zarifa dalam menjalankan tugas sebagai wali kota, yang sering kali ditolak kehadirannya oleh masyarakat sekitar. Film ini juga memotret situasi ruang politik di Afghanistan bagi perempuan. Sempat mulai terbuka bagi perempuan, ruang itu kembali tertutup setelah Taliban merebut kekuasaan pada Agustus 2021. Sebelum kejadian tersebut, tercatat bahwa 28% anggota parlemen Afghanistan adalah perempuan. Namun setelah Taliban berkuasa kembali, angka tersebut merosot tajam hingga 0%. Tidak hanya itu, Kementerian Urusan Perempuan (MoWA) dibubarkan. Mereka menghapus satu-satunya lembaga resmi yang memperjuangkan hak perempuan dalam pemerintahan (Ekanoviarini & Wibowo, 2022).
Bahkan, Taliban juga membatasi hak-hak dasar perempuan di ruang publik. Perempuan dilarang menyampaikan pendapat secara bebas, tidak diperbolehkan bersekolah, bahkan tidak boleh keluar rumah tanpa didampingi mahram. Hal ini mencerminkan struktur masyarakat yang sangat patriarkal. Seluruh institusi dan keputusan penting dikendalikan oleh laki-laki (Rumadul, 2017). Dalam kondisi seperti itu, kehadiran sosok seperti Zarifa adalah bentuk perlawanan yang nyata terhadap sistem yang menindas.
Melalui ‘In Her Hands’, kita melihat cara-cara Taliban mengokohkan kekuasaannya dengan tindakan represif berbasis gender. Mereka menggunakan tafsir agama sebagai legitimasi atas tindakan diskriminatif terhadap perempuan. Taliban mengedepankan ideologi patriarki yang dibalut dengan simbol-simbol agama untuk membatasi gerak perempuan (Nurfahirah, Dewi, & Gustiana, 2022). Dalam situasi seperti itu, Zarifa tidak hanya memilih bertahan, tapi juga melawan dengan berani. Meskipun menghadapi ancaman bom, kehilangan ayah yang sangat dicintainya, dan tekanan sosial dari masyarakat sekitar. Zarifa tetap teguh menyuarakan pentingnya pendidikan dan kesetaraan bagi perempuan Afghanistan.
Baca Juga: ‘Seribu Bayang Purnama’: Ajak Petani Muda Terapkan Metode Alami, Tapi Perempuan Petani Minim Disorot
Kondisi semakin buruk ketika Taliban berhasil merebut Kabul, ibu kota Afghanistan. Zarifa dan keluarganya akhirnya terpaksa meninggalkan negara tersebut demi keselamatan mereka. Namun, sebelum meninggalkan tanah kelahirannya, Zarifa menggenggam segenggam pasir dari Afghanistan dan menyimpannya dalam selendangnya sebuah simbol kesetiaan dan kecintaannya pada tanah air. Saat di Jerman, Zarifa menyaksikan berita tentang unjuk rasa para perempuan Afghanistan yang memprotes pembungkaman hak-hak mereka. Ia merasa bangga melihat keberanian mereka. Tetapi di sisi lain, hatinya diliputi kesedihan karena tidak bisa berada di tengah barisan perempuan-perempuan hebat itu.
Meskipun telah berada di luar negeri, semangat Zarifa tidak padam. Ia memilih kembali ke Afghanistan dan mendirikan Zarifa’s Charity Women’s Food Bank & Education Centre sebagai bentuk nyata perjuangannya. Ia sadar bahwa keputusan itu penuh risiko. Tetapi bagi Zarifa, memperjuangkan harkat dan martabat perempuan Afghanistan adalah hal yang tidak bisa ditawar.
Perjuangan Perempuan Terus Berlanjut
Film ‘In Her Hands’ lebih dari soal menyajikan kisah inspiratif seorang tokoh perempuan. Film ini adalah pengingat bahwa perjuangan perempuan belum usai. Masih banyak ruang yang belum bisa mereka masuki, masih banyak suara yang dibungkam, dan masih banyak hak yang dirampas. Zarifa Ghafari dalam film ini adalah simbol dari sekian banyak perempuan yang tidak menyerah pada keadaan. Melainkan berdiri tegak melawan sistem yang tidak adil.
Secara keseluruhan, ‘In Her Hands’ merupakan film dokumenter yang menyentuh dan membuka mata. Film ini menampilkan keberanian dan keteguhan hati seorang perempuan yang bisa menjadi kekuatan besar yang menginspirasi. Narasi yang dibangun tidak hanya menggambarkan kondisi sosial-politik di Afghanistan. Tetapi juga menyampaikan pesan universal bahwa perempuan berhak hidup aman, bermartabat, dan bebas menentukan arah hidupnya.
Melalui film ini, penonton diajak untuk memahami lebih dalam tentang realitas yang dihadapi perempuan di negara yang dilanda konflik. Juga strategi mereka tetap bisa bangkit dan melawan. ‘In Her Hands’ bukan hanya film, tetapi sebuah pernyataan bahwa masa depan bisa berubah jika ada tangan-tangan perempuan yang berani menggenggamnya.
(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)
(Gambar: IMDB)
Referensi
Ekanoviarini , T. R., & Wibowo, A. (2022). Pelanggaran Hak Perempuan Di Afghanistan Selama kekuasaan Rezim Taliban Berdasarkan Konvensi Cedaw. Reformasi Hukum Trisakti, Vol. 4 No. 2.
Mettelsiefen, M., & Ayazi, T. (Directors). (2022). In Her Hands [Motion Picture].
Nurfahirah, A., Dewi, Y. T., & Gustiana, D. D. (2022). Upaya United Nations Women (UN Women) dalam Menangani Diskriminasi terhadap Perempuan di Afghanistan. Jurnal Transborders Vol. 5 No. 2.
Rumadul, F. A. (2017). Peran United Nations Dalam Menanggulangi Diskriminasi Terhadap Perempuan Di Afganistan. Global Political Studies Journal.





