Pembalut menstruasi

Menstruasi Perempuan Bukan Hal Tabu: Sebut Saja Pembalut, Bukan “Roti Jepang”

Stop stigmatisasi terhadap perempuan yang sedang menstruasi. Turut dorong kebijakan yang memperjuangkan hak kesehatan reproduksi dan seksualitas (HKSR) bagi perempuan.

Beberapa bulan lalu, warganet ramai membincangkan tentang penemuan Pandawara. Kelompok anak muda yang populer dengan aksi kepedulian lingkungan melalui media sosial itu, menemukan tumpukan sampah pembalut di sungai. Dalam videonya yang viral, Pandawara mengangkat pembalut-pembalut itu dan meletakkannya secara berjejer.

Sampah pembalut ditemukan dalam keadaan terbuka. Hal lain yang juga disoroti adalah tentang darah yang masih ada di dalam pembalut. Pandawara juga menyinggung cara membuang pembalut yang menurutnya baik, yakni dengan memasukkan pembalut bekas pakai ke dalam plastik dan mengikatnya.

Dalam berbagai kontennya, Pandawara memang dikenal dengan kontennya yang identik dengan kata kebaikan, kebersihan, dan keikhlasan. Konsistensi mereka dalam menyusur dan membersihkan berbagai wilayah juga tidak diragukan. Hanya saja, khusus untuk satu unggahan mengenai pembuangan pembalut tersebut tampaknya perlu ditinjau lebih dalam.

”Kok bisa, sih, ada cewek sejorok ini?” Itulah yang tertulis di bagian atas video milik Pandawara. Kalimat itu dilengkapi dengan emoji muka muntah.

Baca Juga: Melalui Pembelajaran Kontekstual, Ignatia Rini Purwati Mengajar tentang Menstruasi dan Mimpi Basah Tanpa Bayang-Bayang Tabu

Meletakkan Perempuan yang jorok sebagai satu-satunya pihak bersalah adalah yang yang perlu dikritisi. Lewat instragram @ceritanupi, Nupi mencoba berbagi pandangan lain.

”Pembalut yang hanyut di sungai itu belum tentu dibuang langsung oleh si wanita, loh,” tutur Nupi.

Nupi menyoroti sistem pengumpulan sampah yang berantakan dan minim dana. Ini bisa dilihat dari armadanya, akhirnya banyak petugas sampah yang membuang ke sungai karena dana distribusinya tidak cukup. Jadi, persoalan utamanya bukan sesederhana mencuci pembalut atau membungkus dengan plastik rapat-rapat. Karena sejatinya, kedua langkah itu sama-sama menghasilkan sampah.

Nupi bilang kalau akar masalahnya ada di sistem pengumpulan sampah yang tidak beres. Selain itu, pembalut sekali pakai juga menjadi akar persoalan. Ada baiknya bila mengganti ke produk reusable.

https://www.tiktok.com/@ceritanupi/video/7491650931717721349

 Dalam kontennya di media sosial, Nupi cukup sering mengampanyekan penggunaan pembalut yang dapat dipakai berulang. Baginya, penyelesaian sebuah masalah dapat diatasi dengan meninjau akar masalah, yakni dengan meminimalisir sampah. Akan jadi ironi, bila hanya menyalahkan dan memberi label pada perempuan sebagai wanita jorok tanpa memperhatikan hulu persoalan.

Pembahasan kali ini, berkaitan dengan pembalut. Hanya saja kita akan mengulik hal yang lebih sederhana, yakni tentang bagaimana pembalut diucapkan. Saya pribadi memuji bagaimana Pandawara dan Nupi tetap menggunakan kata pembalut untuk merujuk benda tersebut. Hanya saja, kita pasti tidak asing dengan istilah lain yang sering menggantikan pembalut, yakni roti jepang.

Stop Stigma Perempuan Menstruasi

Penyebutan “Roti Jepang” yang masih dilanggengkan untuk pembalut ini tak lepas dari period poverty. Ini adalah situasi darurat menstruasi yang dibebankan pada stigma terhadap perempuan saat menstruasi. Bermula dengan adanya stigma-stigma buruk bahwa perempuan yang sedang menstruasi itu kotor dan lemah. Perempuan yang sedang menstruasi juga dianggap hal yang tabu dan salah. 

Stigma ini kemudian membentuk paradoks dan membatasi gerak-gerik perempuan yang sedang menstruasi. Produk-produk yang semestinya menjadi fasilitas pendukung menstruasi pun justru dinilai sebagai hal yang memalukan, termasuk memberikan sebutan “Roti Jepang” untuk pembalut. 

Saya jadi ingat pengalaman sebelas tahun lalu. Untuk pertama kalinya, saya membeli sesuatu yang apabila menyebutnya pun harus disamar-samarkan. Sehalus mungkin. Mamak bilang saya dapat menyebutnya “Roti Jepang”.

”Beli itu, Bang” Telunjuk saya menunjuk sesuatu yang berwarna merah muda. Saya masih tak sanggup menyebutnya dengan nama samaran seperti arahan Mamak, sebab belum paham alasannya.

Baca Juga: Vagina Perempuan Gatal Ketika Menstruasi Karena Air Sumur Kotor Akibat Tambang

Abang penjaga warung kali ini memberikan gestur yang cukup berbeda. Ia yang biasanya melontarkan hal-hal lucu, bahkan kini enggan menatap saya.

”Plastik hitamnya cuma ada yang besar kali kek gini, gak papa lah, ya.” Ia menunjukkan plastik hitam yang tampaknya muat untuk menampung 5 kg beras. 

Saya jadi ingat bahwa Mamak juga berpesan kalau baiknya meminta plastik hitam. Ternyata Abang penjaga warung sudah paham pesan Mamak, bahkan sebelum saya menyampaikannya. Jadilah saya menenteng sesuatu yang mereka sebut “Roti Jepang” dengan plastik hitam yang teramat besar.

Mamak juga menceritakan hal tersebut kepada Nantulang (istri paman) yang kala itu sedang berkunjung. Kemudian, Nantulang bilang bahwa saya harus membersihkan “Roti Jepang” itu persis sebersih ketika sebelum digunakan. Tujuannya agar tidak ada makhluk halus yang dapat menghisap sisa darah.

Hari itu, saya mengeluarkan darah banyak sekali. Namun, alih-alih berpikir soal darah yang keluar serta seluruh larangan yang menyebalkan, perhatian saya lebih tersita pada setiap kali Mamak, Nantulang, dan penjaga kedai memperlakukan apa yang disebut “Roti Jepang”.

Maka kini setelah 11 tahun berlalu saya mengerti, bahwa aturan soal roti jepang tidak seharusnya ada. Hal ini juga termasuk penyebutan roti jepang itu sendiri sebagai penyamaran dari kata pembalut.

Apa yang orang-orang bayangkan tentang roti, terkhusus roti jepang? Boleh jadi, dalam pandangan banyak orang roti adalah sesuatu yang harum, lembut, cenderung manis, dan sering dipajang dari balik etalase kaca.

Baca Juga: Film ‘Tiger Stripes’ Gejolak Remaja Lawan Mitos Menstruasi

Lalu, apa yang kebanyakan orang bayangkan tentang pembalut? Kebanyakan orang berpikir pembalut sebagai produk yang siap menampung sesuatu hal yang najis, sehingga harus disembunyikan lewat plastik hitam.

Roti jepang sangat mudah untuk disebutkan sebab menciptakan pemaknaan yang bernilai positif, sedangkan pembalut terkesan menciptakan pemaknaan yang bernilai negatif.  Kontras pemaknaan yang tercipta antara pembalut dan roti jepang menjadi persoalan. Bagaimana mungkin wujud ujaran dari makanan roti jepang dapat menggantikan peran kata pembalut?

Di sisi lain, banyak orang memakai kata roti jepang untuk merujuk benda pembalut, sedangkan tidak ada orang yang menjadikan pembalut sebagai wujud ujaran dari makanan roti jepang. Peran yang sedang dikerjakan oleh kata roti jepang untuk menyebut benda pembalut termasuk ke dalam eufemisme atau penghalusan kata.

Gorys Keraf bilang, eufemisme asalnya dari bahasa Yunani yakni (eupheimizein), yang artinya menggunakan kata-kata yang baik dengan tujuan yang baik pula. Dalam bahasa Indonesia, eufemisme disebut sebagai penghalusan kata. Salah satu tujuannya yaitu agar sesuatu yang diungkapkan dapat menjadi lebih halus sebagai ganti dari acuan sebelumnya yang dianggap lebih hina. Dengan kata lain, wujud ujaran pembalut dianggap perlu digantikan oleh roti jepang karenakan kata pembalut dianggap sebagai sesuatu yang hina.

Lewat Buku Dikuasai Kata-kata, Achmad San mengutip artikel milik Agus Mulyanto yang berjudul Bahasa Sebagai Representasi Budaya, dapat dipahami bahwa bahasa suatu bangsa mampu mencerminkan pengetahuan sekaligus merefleksikan pola sikapnya. Melalui kata pembalut kita dapat melihat bagaimana bentuk diskriminasi yang dialami perempuan. Pembalut bahkan butuh kata lain yang dapat mewakilinya agar ia tidak disebut secara gamblang. Pembalut seakan harus disembunyikan sedemikian rupa, baik benda maupun wujud ujarannya.

Baca Juga: Period Poverty: Sediakan Pembalut, Stop Stigma Sebagai Perempuan Kotor karena Menstruasi

Lebih mirisnya lagi, diskriminasi itu dilanggengkan sedari para remaja perempuan mengalami masa pubertas. Ketidaktahuan mereka atas dirinya sendiri dipelihara oleh lingkungan sedemikian rupa hanya karena alasan tabu. Mulai dari rumah, warung dekat rumah, tetangga sekitar, hingga saudara mendukung penggunaan kata roti jepang untuk merujuk benda pembalut. Artinya, lingkungan sekitar mendukung diskriminasi terhadap benda sesederhana pembalut.

Andai semua orang memiliki pandangan seperti Nupi, mungkin para orang tua akan mengajarkan anak mereka. Bahwa pembalut tidak seharusnya disamarkan ketika akan disebut. Bahwa ada pembalut yang dapat dipakai berulang sehingga bisa meminimalisir sampah. Menstruasi adalah hal alamiah bagi seorang perempuan, sekaligus darah yang keluar adalah darah yang sama dengan awal mula pembentukan tubuh manusia.

Atas semua yang terjadi pada perempuan lewat kata pembalut, kita tidak boleh lupa bahwa bahasa hanyalah alat. Bahasa memang bisa mengaburkan kata yang berujung pada diskriminasi. Namun, bahasa memiliki ciri arbitrer atau manasuka seperti apa yang disampaikan Soeparno, yang mengakibatkan sesuatu kata bisa mengalami penyesuaian sesuai dengan kesepakatan penutur dan mitra tutur.

Maka, kita bisa membuat kesepakatan untuk menerima bahwa bayi-bayi lucu berasal dari tempat yang sama dengan darah menstruasi. Itu artinya, darah menstruasi tak ada bedanya dengan segumpal darah yang menjadi muasal kita semua. Akhirnya, benda pembalut sebagai penampungnya tidak perlu disamar-samarkan ketika akan diucapkan.

(Editor: Nurul Nur Azizah)

Feninda Rahmadiah

Mahasiswa yang sedang belajar di LPM Ekspresi.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!