Siapa tidak tahu film ‘500 Days of Summer’? Popularitas film ini salah satunya tampak dari diskursus serupa yang kerap muncul dan menimbulkan perdebatan di internet: soal siapa yang sebenarnya bersalah dalam plot film tersebut. Di media sosial, khususnya platform X, ada yang beranggapan bahwa sang tokoh utama Summer-lah yang memiliki kepribadian avoidant dan merupakan tokoh “jahat”. Ada pula yang beranggapan bahwa ini semua salah Tom karena memproyeksikan Summer sebagai Manic Pixie Dream Girl untuk menyelamatkan hidupnya yang membosankan.
Fenomena Manic Pixie Dream Girl (MPDG) yang hadir dalam film ‘500 Days of Summer’ memunculkan diskursus online rutin mengenai perdebatan tokoh yang dianggap bersalah. Banyak orang merasa memiliki ‘Summer’ mereka masing-masing dalam kehidupan percintaannya. Namun, tanpa sadar mereka sedang melakoni peran Tom di dunia nyata. Summer dinilai sebelah mata, tentu saja karena banyak penonton yang gagal memahami persepsinya. Ini juga karena narasi yang diberikan Tom. Ditambah adegan-adegan yang terasa lebih personal dan membuat penonton lebih dekat dan memahami karakter Tom. Tetapi, bagaimana dengan persepsi Summer? Adakah alasan tersendiri atas semua tindakan dan keputusannya?
Ini memperjelas fakta bahwa sampai saat ini perempuan masih lekat dengan stigma objek fantasi dengan standar yang tidak masuk akal. Bahkan diromantisasi dalam budaya pop. Manic Pixie Dream Girl (MPDG) hadir untuk mengobati kesunyian, memberikan warna dalam kehidupan tokoh utama yang membosankan. Juga sebagai pemantik perkembangan karakter dari suatu tokoh. Sering dikaitkan dengan kepribadian yang ringan, menyenangkan, unik dan terkesan misterius.
Baca Juga: Gwan-sik dan Standar Baru Laki-laki Sehat Emosional
Namun, hal ini bukan dalam artian yang menyenangkan. Tokoh MPDG dituntut untuk terus tampil tanpa beban, tidak kompleks dan selalu menjadi manusia yang menyenangkan. Ketika perannya telah selesai seringkali ia disingkirkan dari narasi karena dianggap tidak lagi relevan. Sebab sejak awal perannya memang dirancang untuk hidup orang lain. Padahal, perempuan bukanlah suatu alat untuk mencapai kehidupan yang penuh petualangan dan wadah character development yang ketika sudah kadaluarsa langsung disingkirkan.
Kerap kali ketika membaca buku atau menonton film yang menyisipkan peran MPDG, muncul pertanyaan. Mengapa selalu tokoh perempuan yang digambarkan tanpa beban, tanpa kompleksitas, namun terkesan dalam tetapi juga dangkal dalam satu waktu? Apakah laki-laki selalu menginginkan perempuan yang terlihat palsu? Karakter palsu yang ringan dan tanpa beban, memberikan petualangan dan kerap memperkenalkan hal baru, apakah dianggap lebih menarik daripada harus membedah sisi emosional seorang perempuan yang kerap dinyatakan rumit?
Tapi dapat dipahami bahwa tentunya representasi MPDG bukanlah dari sudut pandang netral lintas gender. MPDG lahir berdasarkan sudut pandang maskulin yang berpusat pada laki-laki atau male centered. Sedangkan perempuan hanyalah peran katalis pembawa perubahan untuk menyulap kehidupan laki-laki menjadi lebih bergairah dan penuh warna. Bahkan dalam film dan karya sastra, perempuan tidak diberikan ruang untuk menjadi manusia yang kompleks dan apa adanya, mereka terus dituntut untuk menebarkan untung dimanapun peran yang dilakoninya.
Baca Juga: Drama Korea ‘Tempest’: Representasi Perempuan di Kancah Politik Tak Seindah di Layar Kaca
Dalam struktur tersebut jelas bahwa kebutuhan emosional laki-laki diperlakukan sebagai pusat atau konflik utama. Sedangkan kompleksitas batin perempuan direduksi menjadi latar pendukung yang kerap diabaikan ketika fungi peran mereka telah selesai. Bahkan seperti film ‘500 Days of Summer‘ yang memunculkan perdebatan di mana-mana. Sebagian besar menyalahkan Summer tanpa mempertimbangkan sudut pandang dan batasan yang sejak awal telah dinyatakan. Summer diberi label sebagai perempuan ‘‘jahat“ yang menaruh harapan palsu karena gagal memenuhi ekspektasi romantis Tom. Padahal, Tom membangun fantasi sepihak tanpa melihat summer sebagai individu yang memiliki kompleksitas serta pilihannya sendiri.
Ketika ekspektasi dan fantasi itu runtuh, kemarahan dan kekecewaan Tom berubah menjadi narasi yang hadir dan mengambinghitamkan Summer atas runtuhnya ekspektasi Tom. Kebutuhan emosional Tom bukanlah tanggung jawab Summer untuk memenuhi ekspektasi Tom. Perempuan tidak memiliki responsibilitas atas perkembangan karakter, pemenuhan kebutuhan emosional dan pengisi kekosongan di sela-sela hari yang membosankan untuk laki-laki.
Selain ‘500 Days of Summer’, Narasi Manic Pixie Dream Girl dapat dijumpai dalam berbagai karya film maupun buku, seperti novel ‘Paper Town’ karya John Green. Ia dengan gamblang menggambarkan tokoh MPDG yaitu Margo Roth Spiegelman sebagai titik perubahan pada hidup Quentin si tokoh utama. Lalu Ramona Flowers di film ‘Scott Pilgrim vs. the World’ yang dikonstruksikan sebagai “hadiah” yang harus dimenangkan. Juga memberikan sentuhan warna bagi hidup sang tokoh utama. Lagi-lagi, tokoh-tokoh perempuan tersebut harus berperan sebagai katalis dan pengisi hari-hari yang membosankan. Menunjukan bahwa budaya pop kita saat ini memiliki fantasi yang tidak sehat terhadap perempuan.
Baca Juga: ‘Cinta Tak Seindah Drama Korea’: Dilema Cinta dan Persahabatan yang Saling Menguatkan
Di luar skrip dan layar, fenomena MPDG ini tidak hanya sebatas tokoh fiktif belaka, namun juga merupakan refleksi atas ekspektasi publik khususnya laki-laki terhadap perempuan untuk selalu ceria, menyenangkan, menjadi pendengar yang baik, tanpa tuntutan, tanpa beban emosional, pembawa perubahan, dan lainnya. Ketika perempuan menunjukan dirinya sebagai individu yang kompleks seperti menunjukan kemarahan, kelelalahan, kebutuhan untuk dimengerti dan didengarkan, kata menarik seakan hilang dan berganti ejaannya menjadi merepotkan. Seakan-akan perempuan adalah mahkluk paling rumit dan melelahkan. Maka ketika perempuan terus diasosiasikan dengan peran penyelamat emosional, ekspektasi serupa kerap terbawa hingga hubungan personal antar individu. Perempuan diharapkan mampu mengisi kekosongan, memahami tanpa diminta dan tetap hadir tanpa menuntut timbal balik yang setara. MPDG merupakan cermin atas relasi yang timpang dan normalisasi ekspektasi gender.
Jika perempuan harus selalu tampil menyenangkan tanpa diberikan ruang untuk terlihat rapuh, marah dan egois, kini bukan lagi mengapa representasi MPDG itu bermasalah, tetapi siapa yang sebenarnya diuntungkan dari fantasi ini? dan siapa yang harus terus mengorbankan perannya agar fantasi tersebut tetap hidup?
Kritik terhadap MPDG tidak ditujukan kepada karakter perempuan itu sendiri melainkan pada cara industri memberikan framing kepada perempuan dengan standar yang tidak menganggap perempuan sebagai seorang individu, melainkan alat pemenuhan kebutuhan emosional laki-laki. Padahal, karakter perempuan juga berhak berperan sebagai subjek yang memiliki konflik dan kompleksitas sebagai individu serta kehidupan yang setara. Sehingga ekspektasi gender yang dielu-elukan oleh publik dapat diredam. Meskipun hanya lewat karakter fiktif yang nyatanya memberikan efek reflektif terhadap fenomena yang saat ini sedang dihadapi.
(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)
(Sumber Gambar: screen-queens.com)





