“Saya nggak setuju (penanaman sawit). Saya takut kekeringan, takut longsor. Kalau saya mah sudah tua, (tapi) nanti anak cucu saya gimana?”
Kalimat itu keluar dari mulut Rohana, warga Desa Cigobang, Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon. Nadanya tidak sedang mencari simpati. Ia mengatakannya usai ikut mencabut pohon kelapa sawit dengan tangan sendiri bersama puluhan perempuan—yang kerap dijuluki ‘emak-emak’—lain, Jumat, 16 Januari 2026. Pernyataannya dikutip media, tapi kegelisahan di baliknya jauh lebih panjang dari sekadar potongan berita.
Hari itu, para perempuan di Cigobang ‘mengamuk’. Mereka mencabuti pohon sawit yang ditanam di lahan seluas sekitar 2,5 hektare. Bukan tanpa sebab: tenggat pencabutan tanaman yang dijanjikan perusahaan seharusnya pada 15 Januari 2026 telah lewat. Negara, seperti biasa, datang terlambat. Maka tubuh-tubuh perempuan itu yang maju lebih dulu.
Di mata mereka, sawit bukan sekadar tanaman. Ia adalah ancaman. Ancaman bagi sumber air, bagi tanah perbukitan yang rawan longsor, bagi musim kemarau yang semakin panjang. Bukit Cigobang bukan ruang kosong; ia adalah kawasan resapan air yang menopang hidup sehari-hari warga. Ketika sawit ditanam, yang dipertaruhkan bukan hanya lanskap, tetapi masa depan. Terutama bagi anak cucu yang kelak akan mewarisi tanah kering dan mata air yang mati.
Menariknya, kegelisahan ekologis ini justru paling lantang disuarakan oleh perempuan. Para ibu atau ‘emak-emak’ yang selama ini dilekatkan pada kerja domestik, urusan dapur, dan sumur, kini berdiri di garis depan konflik lingkungan. Mereka mencabuti sawit bukan karena “emosi”, melainkan karena pengalaman panjang merawat air, tanah, dan kehidupan sehari-hari. Ketika janji tak ditepati dan negara tak hadir, kerja perawatan itu berubah menjadi kerja perlawanan.
Baca juga: ‘Kami Perempuan Tulang Punggung Keluarga’ Buruh Sawit di Sumsel Butuh Perlindungan
Di sinilah aksi ‘emak-emak’ Cigobang tidak bisa dibaca sekadar sebagai keributan lokal. Ia adalah potret ketika perempuan dipaksa mengambilalih peran menjaga bumi dengan tubuh mereka sendiri di tengah abainya kekuasaan. Sebuah praktik nyata dari hal yang selama ini disebut sebagai ekofeminisme, relasi antara perempuan, alam, dan perjuangan melawan sistem yang sama-sama mengeksploitasi keduanya.
Diakui atau tidak, kerja perawatan sering kali tak dianggap sebagai ‘kerja’. Ia hadir dalam bentuk yang terlalu ‘biasa’ untuk dianggap penting. Seperti memastikan air cukup untuk memasak, mengecek sumur saat kemarau mulai panjang, mengatur ulang cucian ketika debit air mengecil, atau menyimpan air di ember karena khawatir esok hari kran tak lagi mengalir. Kerja ini nyaris tak terlihat, tak tercatat, dan tak pernah masuk hitungan ketika kebijakan dibuat. Tapi justru dari kerja inilah para perempuan di Cigobang paling dulu merasakan ada yang salah ketika sawit mulai ditanam di bukit resapan air mereka.
Kekhawatiran mereka bukan lahir dari kajian akademik. Melainkan dari pengalaman sehari-hari yang berulang air yang makin sulit, tanah yang makin rapuh, dan musim yang kian tak bisa diprediksi. Saat krisis ekologis datang, tubuh perempuan menjadi semacam “alarm” pertama bukan karena kodrat, melainkan karena merekalah yang paling sering bersentuhan dengan kerja-kerja perawatan hidup. Ketika sawit mengancam sumber air, yang terancam bukan hanya ekosistem abstrak, tapi dapur, kamar mandi, dan kehidupan sehari-hari.
Di titik inilah ekofeminisme menemukan wujudnya. Bukan sebagai teori besar, melainkan sebagai praktik hidup yang lahir dari tubuh perempuan dan alam yang sama-sama diperas oleh sistem pembangunan yang rakus. Para perempuan di Cigobang mungkin tak pernah menyebut ekofeminisme, tetapi tindakan mereka mencabut sawit dengan tangan sendiri adalah kelanjutan logis dari kerja merawat yang selama ini mereka lakukan secara diam. Ketika merawat tak lagi cukup untuk menjaga kehidupan, kerja perawatan itu berubah menjadi kerja perlawanan.
Baca juga: Lari Dari Kebun Sawit: Perempuan Dan Buruh Migran Terjebak di Malaysia
Namun penting dicatat, kedekatan perempuan dengan alam bukanlah sesuatu yang alamiah. Ia adalah hasil dari pembagian kerja yang timpang, yang menempatkan perempuan sebagai penanggung jawab utama keberlangsungan hidup sehari-hari, sementara negara dan korporasi absen ketika krisis datang. Maka aksi ‘emak-emak’ di Cigobang seharusnya tidak dibaca sebagai kisah heroik semata. Melainkan sebagai tanda bahaya bahwa kerja merawat bumi terus-menerus dibebankan pada tubuh perempuan, sampai suatu hari mereka dipaksa melawan agar kehidupan bisa tetap berjalan.
Para petinggi negara kerap menyampaikan narasi ‘agung’ tentang penanaman sawit. Sawit selalu datang dengan janji yang terdengar rapi, cepat tumbuh, luas hasilnya, jelas untungnya. Ia dibungkus sebagai simbol kemajuan, sebagai solusi ekonomi yang katanya rasional dan tak perlu banyak tanya. Tapi ketika janji-janji itu sampai ke Cigobang, yang para ibu lihat justru bukan kemajuan, melainkan jarak yang makin lebar antara logika pembangunan dan kehidupan sehari-hari warga. Logika sawit bekerja dengan hitungan hektare, produktivitas, dan laba, sementara hidup warga berjalan dengan hitungan ember air, musim kemarau, dan tanah yang harus tetap kokoh agar tidak longsor.
Dalam kajian feminis, cara berpikir seperti ini kerap disebut sebagai logika pembangunan maskulin. Yakni sebuah cara pandang yang mengagungkan ekspansi, kecepatan, dan penguasaan atas alam. Vandana Shiva tokoh ekofeminisme dari India menyebut hal ini sebagai warisan pembangunan modern yang melihat alam semata sebagai sumber daya untuk diekstraksi, bukan sebagai ruang hidup yang punya batas dan relasi. Dalam logika ini, alam diasumsikan selalu tersedia, selalu bisa diperas, selama masih menghasilkan keuntungan. Pertanyaannya bukan lagi apakah alam mampu menanggungnya, melainkan seberapa cepat ia bisa dimanfaatkan.
Baca juga: Sisi Gelap Perkebunan Sawit Perusahaan: Petani Miskin Makin Sengsara
Dalam konteks ini yang menjadi masalah, logika ini nyaris selalu mengabaikan kerja-kerja perawatan yang memungkinkan kehidupan tetap berlangsung. Daya dukung alam diperlakukan seperti catatan kaki, sementara keberlanjutan air, tanah, dan tubuh manusia terutama tubuh perempuan tak pernah benar-benar masuk dalam perhitungan. Padahal, dalam perspektif ekofeminisme, ketika alam dieksploitasi secara berlebihan, dampaknya paling pertama dan paling berat justru dirasakan oleh mereka yang bertugas merawat kehidupan sehari-hari.
Maka ketika sawit dielu-elukan sebagai simbol kemajuan, saya justru ingin bertanya; pembangunan untuk siapa, dan siapa yang diam-diam dipaksa menanggung ongkosnya? Di Cigobang, jawabannya terasa terlalu jelas. Kapital mungkin menang di atas kertas, tetapi kehidupan sehari-hari pelan-pelan dikorbankan bersama air yang menyusut dan kerja perawatan yang terus dipaksa beradaptasi, tanpa pernah diakui sebagai bagian dari pembangunan itu sendiri.
Jika pembangunan terus didefinisikan sebagai angka, kecepatan, dan keuntungan, maka konflik seperti di Cigobang hanya soal waktu. Dan selama kerja merawat bumi tetap dianggap bukan kerja, beban itu akan terus jatuh pada mereka yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Emak-emak Cigobang telah menunjukkan satu hal penting, merawat bukan tanda kelemahan, dan melawan bukan pilihan pertama ia adalah bahasa terakhir yang tersisa ketika kehidupan tak lagi diberi ruang untuk hidup.
(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)






