Hari menjelang sore saat saya tiba di rumah Mami Yuli di daerah Depok, Jawa Barat. Rumah yang juga menjadi shelter bagi para transpuan yang sedang membutuhkan tersebut berada di perkampungan yang mayoritas warganya beragama Islam. Seorang laki-laki mempersilakan masuk. Dinding ruang tamu penuh dengan foto-foto Yuli saat wisuda.
Ada foto-foto saat ia wisuda S1 Ilmu Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Islam Attahiriyah, Jakarta. Ada juga foto-foto wisuda Magister Ilmu Hukum dari Universitas Tama Jagakarsa, Jakarta. Tak ketinggalan foto-foto yang mengabadikan momen wisuda Doktor Ilmu Hukum dari Universitas Jayabaya, Jakarta.
Yuli adalah transpuan pertama yang meraih gelar doktor ilmu hukum di Indonesia. Ia mendobrak stigma atau label negatif yang kerap disematkan pada transpuan sebagai orang yang tidak berpendidikan, putus sekolah, bodoh hingga berakhir dengan hidup di jalanan sebagai pekerja seks atau pengamen.

“Aku merupakan terobosan pertama yang bisa meraih edukasi tinggi. Harapan aku 20 tahun atau 25 tahun mendatang ada 5.000 transpuan Indonesia yang punya gelar doktor dan mereka bisa menjadi pejabat negara. Ini akan membuat perbedaan,” tegas mami Yuli pada Konde.co, Jumat 17 Juli 2026.
“Kenapa sekarang ini transpuan tertindas dan termarginalkan? Karena mereka bodoh. Akar persoalannya karena mereka lari dari rumah sejak usia dini hingga berpuluh-puluh tahun tidak memiliki pendidikan atau edukasi yang cukup. Sementera mereka butuh hidup. Itu yang membuat di kota-kota besar mereka melakukan pelacuran atau menjadi pengamen jalanan. Jadi diskriminasi tetap ada,” tambahnya.
Saat wisuda doktor, Yuli sempat menangis lantaran kedua orang tuanya sudah meninggal jadi tidak bisa menyaksikan momen tersebut. “Waktu wisuda S3 aku menangis karena orang tua sudah nggak ada. Saya tidak bisa membuktikan kepada mereka bahwa aku bisa dan tidak memalukan mereka lagi,” ucapnya.
Baca juga: Transpuan Jadi Korban Terbanyak: Catatan Kelam Kekerasan Terhadap LGBT 2021-2023
Yuli lahir dan besar di Kabupaten Asmat, Papua Selatan karena kedua orang tuanya ditugaskan sebagai guru katolik di sana. Mereka berasal dari Maluku dan pada zaman kolonial Belanda ditunjuk untuk mengajar di Papua. Yuli anak ketujuh dari sebelas bersaudara yang tumbuh dalam keluarga dengan nilai dan tradisi katolik yang kuat.
Ia merasa ada yang beda dengan dirinya saat berusia 10 tahun karena merasa punya ketertarikan dengan teman sebaya yang sejenis. Namun di era 1970-an di Asmat isu atau informasi tentang LGBTQ+ sama sekali tidak ada. Sebagai seorang guru, Yuli merasa ibunya paham bahwa anaknya beda.
“Ibu memberi saya “ruang”, dalam arti bahwa anak ini tidak boleh disamakan dengan anak lain, dia lemah,” jelas Yuli.
Namun saat duduk di bangku SMP dan SMA, Yuli tertekan lantaran harus masuk ke asrama katolik yang punya aturan ketat. Asrama tersebut dikelola oleh para suster, bruder dan pastor dari Belanda yang biasa mendidik dengan sangat keras dan disiplin. Selama sekolah dan tinggal di asrama, Yuli beberapa kali dipanggil suster atau guru sekolah dan menasihatinya.
“Kamu itu laki-laki tidak boleh berperilaku seperti perempuan, nanti dimarahi Tuhan Yesus,” begitu biasanya nasihat yang ia terima.
Yuli merasa mereka seperti melakukan terapi-terapi sederhana untuk mendorong dirinya harus berperilaku seperti laki-laki. Tekanan makin ia rasakan saat teman-temannya juga orang-orang di sekitarnya mempersoalkan perilakunya yang dianggap seperti perempuan. Dalam situasi demikian Yuli berhasil lulus SMA dan masuk 5 besar lulusan terbaik sehingga mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Pulau Jawa. Yuli memilih masuk Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta.
Baca juga: Shelter Berbasis Komunitas bagi Transpuan: Bekerja Tanpa Imbalan, Bahu-Membahu untuk Keberlanjutan
Setelah pekan orientasi mahasiswa baru, ada kakak kelas—transpuan juga—yang mengajaknya ke Taman Lawang, tempat kumpul transpuan (waria) di Jakarta. Tak lama Yuli mendapat kabar bapaknya di kampung meninggal. Yuli kemudian stres dan tidak bisa fokus kuliah hingga nilainya turun dan ia tidak lagi mendapat beasiswa. Ia kemudian memutuskan berhenti kuliah karena tidak ada yang membiayai.
Saat Yuli berkumpul dengan para transpuan di Taman Lawang ia merasa nyaman. Namun Yuli mengaku menjadi transpuan tidaklah mudah. Selain stigma, diskriminasi dan kekerasan dari masyarakat, di kalangan internal transpuan juga ada gap. Ada perbedaan perlakuan terhadap transpuan yang cantik, mulus, berambut panjang, dan berpakaian bagus dengan transpuan yang dianggap tidak cantik, berbadan kekar, dan berkulit hitam seperti dirinya.

Di era 80-an tersebut, transpuan yang cantik bisa mejeng di lokasi strategis dan menjadi tontonan mobil-mobil yang melintas di seputar Taman Lawang hingga menimbulkan kemacetan. Sementara transpuan seperti dirinya diusir dari sana dan disuruh pindah dekat rel kereta api. Meski sudah dua bulan di sana, tetapi Yuli tidak juga mendapatkan tamu. Bahkan ia mengalami perundungan dari sesama transpuan, seperti dikatai jelek, hitam, dan sebagainya.
Untuk bertahan hidup, Yuli menjadi tukang cuci. Di sana ada kamar-kamar kecil yang disewakan, ia menjadi buruh cuci handuk-handuk bekas orang pakai. Akhirnya ia berpikir kalau bertahan terus di Taman Lawang, ia bisa mati kelaparan. Akhirnya Yuli memutuskan pindah ke Blok M. Namun di Blok M banyak preman dan ia disuruh ke Prapanca, tempat transpuan biasa kumpul, tak jauh dari kawasan Blok M.
Baca juga: Rully Mallay, Pengelola Rumah Aman Transpuan Mendapat SK Trimurti Award
Namun di Prapanca, ia mengamati kehidupan transpuan di sana sangat keras. Para mami yang menjadi mucikari sangat galak. Transpuan baru yang datang ke sana akan dipukuli dahulu. Ia bahkan menyaksikan sendiri dua transpuan dari Manado dan Ambon dipukuli hingga kepalanya berdarah. Yuli mengajak beberapa transpuan untuk melawan. Ia menyerang mami di sana hingga terluka dan polisi datang. Yuli dan teman-temannya segera lari. Akhirnya Yuli menjadi “penguasa” wilayah Prapanca.
Yuli membantu teman-teman transpuan yang menghadapi masalah. Ia mengurus permasalahan yang mereka hadapi. Langkah yang ia lakukan mendapat apresiasi dari Ketua Waria DKI Jakarta dan kemudian menetapkan Yuli sebagai Ketua Waria Jakarta Selatan. Ia menolong waria yang bermasalah dengan preman, yang sakit, atau menghadapi permasalahan lainnya.
Seiring berjalannya waktu, Yuli merasa hidup yang ia jalani makin keras, menjadi seorang waria itu tidak mudah. Sementara orang dengan gampang mengatakan menjadi waria itu karena ikut-ikutan atau karena pengaruh lingkungan. Bagi Yuli hal itu tidak benar, karena dari pengalamannya kalau bukan dari hati sendiri, mana mungkin seorang laki-laki apalagi yang berasal dari Indonesia Timur memakai rok mini siang hari untuk ditonton segitu banyak orang. “Kalau bukan dari hati nggak mungkin bisa,” tegasnya.
Yuli kemudian mendapat kabar ibunya meninggal karena mendengar ada yang mengatakan melihat anaknya mengemis di lampu merah. Padahal ia lagi menonton dangdut. Kakaknya yang menjadi Kapolres di Sorong, Papua, marah dan mencarinya ke Jakarta. Ia dipaksa pulang ke Sorong dan rambutnya digunduli. Yuli dianggap memalukan keluarga gara-gara kelakuannya hingga menyebabkan orang tuanya meninggal.
Yuli lari dari Sorong kembali ke Jakarta dengan menumpang kapal barang. Ia memutuskan kembali ke Jakarta dan hidup sebagai transpuan. Keputusannya membuat dirinya tidak lagi dianggap sebagai keluarga. Yuli merasa nyaman menjadi dirinya yang sekarang.
Baca juga: Pameran ‘Ruang Rasa’, Transpuan Memaknai Trauma dan Keberanian
Hampir 20 tahun Yuli hidup dijalan sebagai pekerja seks yang tidak laku. Ia hanya bisa mengandalkan tenaganya untuk membela teman-temannya yang menghadapi masalah hingga ia dijadikan ketua gangster di jalanan. Dari situ Yuli mendapat upeti dari teman-temannya yang ditolong untuk menyambung hidup.
Dalam situasi itu, ada satu waktu, Yuli merasa capek hidup di jalan. Ia merasa tidak ada akhirnya. Yuli mengaku ia bukan tipe orang yang menjadi waria untuk mencari kepuasan atau menjual diri di jalan.
“Saya menjadi waria dan turun di jalan hanya pengen mencari jawaban kenapa aku bisa begini? Dengan menjadi waria, apa sebenarnya ending yang aku dapat? Ternyata nggak dapat jawaban,” ujarnya.
Yang ia dapatkan justru kecewaan demi kecewaan. Air matanya bahkan sudah kering menangisi kehidupan. Berpuluh tahun hidup di jalan dan menangisi kehidupan.

Satu hari ia bertemu seorang transpuan yang menjadi penarik becak dan punya anak buah. Ia mengajak Yuli ke gereja namun ditolak. Dalam perjalanan hidupnya Yuli punya kepahitan, ia pernah marah pada Tuhan. Ia mempertanyakan kenapa dari sebelas bersaudara hanya dirinya yang mengalami hidup seperti ini? Ia lahir dari orang tua yang benar-benar patuh menjalankan agama, tetapi kenapa ia bisa seperti ini?
Meski ia marah pada Tuhan, temannya itu selalu menasihati dan mengajaknya ke gereja, hingga akhirnya ia mau ke gereja.
Yuli dikenalkan pada Romo Hadrianus Wardjito, SCJ yang bertugas di Paroki Cilandak, Jakarta Selatan. Yuli lalu menyampaikan keinginannya untuk berubah. Romo Wardjito itu pun menanggapi, “Yang bisa mengubah hidupmu adalah kamu sendiri. Bagaimana kamu bisa keluar dari kepahitan, kamu sendiri yang harus berjuang,” ujar Yuli, kenangnya.
Baca juga: Feby Damayanti: Bagaimana Hidup Transpuan di antara Janji Capres dan Caleg
Wardjito kemudian mengajak Yuli terlibat dalam kegiatan gereja dan mengenalkannya dengan Ketua Lingkungan pada komunitas gereja tempat dia tinggal. Ia juga meminta Yuli meninggalkan kehidupan jalanan dan menyarankan Yuli menjadi tukang cukur rambut keliling. Tentu bukan hal yang mudah, dari awalnya menerima upeti, kini harus berkeliling menawarkan jasa. Apalagi saat berkeliling ia dikata-katai ‘banci, banci’ oleh anak-anak.
Kiprah Yuli membela transpuan yang menghadapi persoalan makin dikenal luas hingga ketika ada pemilihan Ketua Waria Indonesia, Yuli menjadi salah satu kandidat yang dicalonkan. Ia akhirnya terpilih sebagai ketua.
Sebagai ketua, ia mulai berjalan dari nol. Dari mulai membentuk organisasi hingga mengurus segala persyaratan akta notaris dan persyaratan lain. Meski sulit, Yuli merasa beruntung karena punya mentor seorang romo yang memberikan pandangan-pandangannya.
Akhirnya, pada tahun 2005, ia berhasil membentuk Forum Komunikasi Waria Indonesia dan kepengurusannya. Yuli kemudian melihat persatuan antar transpuan makin jadi.
Dengan tantangan yang semakin banyak, Yuli kemudian menata organisasi dan membangun komunikasi dengan berbagai lembaga yang fokus pada isu advokasi dan isu HIV/AIDS. Melalui lembaga ini, ia mendorong negara untuk membuat kebijakan perlindungan kepada kelompok-kelompok rentan seperti transpuan. Jelas, upayanya itu mendapat penolakan yang tak sedikit.
Yuli pun memperhatikan para transpuan lansia yang umumnya tidak terurus saat meninggal karena sebagian besar mereka tidak punya identitas. Ketika para transpuan meninggal, masyarakat menyerahkannya kepada pihak polisi, selanjutnya polisi menyerahkannya kepada LSM dan mereka kemudian dikubur masal.
“Ini membuat saya merasa alangkah parahnya kondisi teman-teman transpuan ini. Mereka ditolak di sana, ditolak di sini. Situasi ini menggerakkan saya untuk menjadikan tempat (rumah) ini sebagai shelter. Termasuk kita mencoba melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa menolong teman-teman lansia,” jelasnya.
Baca juga: 15 Transpuan Seroja Karnaval Kostum Daur Ulang Sampah: Lawan Krisis Iklim Dan Diskriminasi
Satu kali Yuli membaca informasi tentang seleksi komisioner Komnas HAM. Ia pun mendaftar dan berharap bisa memperjuangkan hak-hak transpuan yang selama ini sering diabaikan negara dengan menjadi komisioner.
Saat mendaftar Yuli diantar teman-teman warianya sebanyak 3 angkot hingga mengundang perhatian media massa dan publik secara luas. Tahap demi tahap seleksi ia ikuti dan berhasil lolos hingga tahap akhir, fit and proper test di Komisi III DPR RI. Namun di tahap akhir ini Yuli gagal lolos sebagai komisioner karena sebagian besar fraksi di DPR menolaknya.
Yuli kemudian memutuskan untuk melanjutkan kuliah pasca gagal menjadi komisioner Komnas HAM setelah mengikuti serangkaian seleksi. Pada tahap akhir yakni fit and proper test di Komisi III DPR, hanya Fraksi PDIP yang mendukung, lainnya menolak. Hingga akhirnya Yuli tidak lolos seleksi.

Oleh mentornya, mendiang romo Hadrianus Wardjito, SCJ, Yuli disarankan untuk melanjutkan kuliah. Saat mendaftar seleksi komisioner komnas HAM, Yuli menggunakan ijazah SMA.
“Kamu jangan kecewa karena menurut saya, kamu ini sudah berhasil tapi cuma tertunda saja. Kalau kamu punya niat mau menolong teman-temanmu, kamu harus kuliah. Tapi saya sarankan karena di komisi III kamu banyak ditolak fraksi berbasis agama mayoritas, jadi kamu cari universitas dengan basis agama itu,” ujar Wardjito seperti dituturkan Yuli.
Wardjito beralasan supaya Yuli belajar dan tahu penyebab dirinya mengalami penolakan. Yuli kemudian mendaftar ke Universitas Islam Attahiriyah, Jakarta Selatan. Tak gampang buat Yuli yang katolik dan transpuan untuk bisa kuliah di kampus tersebut. Meski tidak terang-terangan menolak, tetapi kampus menekankan bahwa universitas tersebut berbasis agama Islam, jadi ia disarankan mendaftar di kampus lain.
Baca juga: ‘Salon Rumah Puan’ Bercerita Tentang Hitam Putih Kehidupan Para Transpuan
Setelah tujuh kali mendapat respons yang kurang lebih sama, Yuli kemudian menemui rektor, Dr. Hj. Siti Suryani Thahir. Akhirnya rektor memberikan rekomendasi untuk Yuli bisa kuliah di kampus itu.
Sebelum masuk ke kampus, ia diingatkan agar menerima konsekuensi negatif karena kampusnya berbasis agama dan mahasiswa banyak yang belum paham. Namun, Yuli bersikukuh tetap mau kuliah di kampus itu.
Yuli pun juga minta izin untuk berpakaian perempuan. Rektor mengizinkan dengan catatan harus sopan, misalnya dengan memakai celana panjang dan blazer yang rapi.
Benar saja, setelah Yuli diterima dan mulai kuliah, ia mendapat stigma, diskriminasi dan perundungan. Misalnya, sebelum kuliah dimulai, saat ia masuk ke dalam kelas, mahasiswa yang telah ada di dalam kelas kemudian keluar. Begitu juga ketika ia masuk ke kantin, pembeli yang sedang makan atau minum terlihat buru-buru pergi meninggalkan kantin.
Sekitar empat bulan Yuli mengalami perlakuan semacam itu. Ia lalu minta pertimbangan pada Wardjito, romo pembimbing rohaninya, apakah sebaiknya ia mengundurkan diri. Romo yang bertugas di Gereja Santo Stefanus Paroki Cilandak itu menyarankan agar Yuli menggunakan strategi dengan menunjukkan kemampuannya di kelas.
“Kamu harus vokal di kelas,” kata Wardjito, seperti diungkapkan Yuli.
Yuli mencoba saran mentornya tersebut. Ia mencatat dan menyimak paparan dosen-dosennya dan aktif bertanya. Kebetulan ia juga diuntungkan oleh momen ketika mengikuti seleksi komisioner Komnas HAM. Pasalnya banyak stasiun TV yang memberitakan tentang kiprahnya dan ada beberapa mahasiswa yang mengenalinya karena jarak waktunya tidak lama.
Lambat laun Yuli bisa diterima dan berteman baik dengan teman-teman seangkatannya. Ia juga menunjukkan prestasi di kelas dan mampu menyelesaikan kuliah dalam waktu 3,5 tahun dan diwisuda pada Juli 2010. Tanpa minta pertimbangan dari kampus, Yuli nekat memakai kain, kebaya dan konde saat wisuda.
Baca juga: Sejarah Istilah ‘Transpuan’ dan Perjuangan Keadilannya
Yuli sempat panas dingin saat urutan wisudawan yang dipanggil ke depan mendekati nomornya, apalagi saat itu hadir puluhan alim ulama. Ia bertanya pada temannya, Beti, yang duduk di sebelahnya, bagaimana kalau ia melepas saja kondenya. Namun temannya melarang. “Jangan, biarain aja, udah tanggung,” katanya seperti ditirukan Yuli. Untuk menenangkan diri Yuli akhirnya berdoa dan berserah pada Tuhan.
“Saya berdoa, ‘Ya Tuhan kalau saya sampai dipermalukan berarti Tuhan saya juga malu. Tuhan kuatkan saya,’” ucapnya dalam hati.
Saat nomornya dipanggil, disebutkan bahwa ia seorang transgender. Dan ketika ia maju ke depan, wartawan-wartawan masuk ke dalam dan mengambil foto. Rektor yang mewisuda adalah orang yang sama yang memberi rekomendasi sehingga Yuli bisa mendaftar dan sang rektor masih mengenalinya. Para hadirin bertepuk tangan. Yuli diminta untuk konferensi pers dengan wartawan di luar ruangan agar tidak mengganggu jalannya wisuda.
Selesai wisuda, saat hendak pulang naik angkutan umum, wartawan sebuah TV menawari untuk mengantar pulang. Ternyata mereka hendak mewawancarainya untuk acara “Liputan 6 Petang’. Begitu sampai di rumah, lampu-lampu sorot sudah siap, tetangga kiri kanan rumah berdatangan untuk menonton. Prestasi Yuli sebagai transpuan yang meraih gelar Sarjana Ilmu Hukum jadi perbincangan masyarakat.
Yuli lalu melanjutkan studinya dengan mengambil magister ilmu hukum di Universitas Tama Jagakarsa, Tanjung Barat. Ia sempat ragu terkait biaya kuliahnya, tetapi Romo Wardjito meyakinkannya kalau Tuhan akan menuntun jalannya.
Satu hari Yuli dihubungi Kedutaan Prancis di Indonesia dan diundang ke Hotel Borobudur, Jakarta, bersama beberapa transpuan lain. Mereka sedang menyeleksi tiga film dokumenter tentang transpuan yang akan dilombakan di Festival Film Douarnenes, Prancis untuk mewakili Indonesia. Salah satu dari transpuan yang diundang akan dihubungi untuk berangkat ke Prancis.
Baca juga: Dari Dimata-matai Hingga Dipersekusi, Echa Waode Bicara Soal Kondisi LGBT
Esoknya Yuli ditelepon dan diminta untuk bersiap ke Prancis. Setelah urusan administrasi beres, Yuli berangkat ke Douarnenes, Prancis. Selama dua pekan di sana ia berbicara dan berbagi tentang kehidupan transpuan di Indonesia dan aktivitasnya. Film yang diikutkan dalam lomba itu mendapat penghargaan dan Yuli mendapat hadiah sejumlah uang.
“Nominalnya lumayan besar. Dari situ saya bisa membayar kuliah S2 sampai selesai,” tuturnya.
Yuli menyelesaikan kuliah S2-nya selama 2,5 tahun dan diwisuda pada September 2015. Tak berhenti di situ, Yuli kemudian lanjut mengambil studi doktoral. Sang mentor kembali menyemangati, “Kamu belum selesai, lanjut lagi ambil S3,” katanya. “Tuhan akan membimbing, kamu,” tambahnya saat Yuli melontarkan kebimbangannya.
Yuli bertekad menekuni ilmu hukum bahkan hingga jenjang akademik tertinggi karena melihat begitu banyak persoalan yang terjadi dalam komunitas transpuan. Ia menyaksikan selama ini hak-hak transpuan sebagai warga negara tidak dipenuhi. “Karena tidak ada yang berani menyuarakan itu. Karena mereka bodoh, mereka takut kalau ada urusan dengan polisi. Tetapi kalau kita sudah memiliki edukasi tentang hukum, aturan-aturan dan perda-perda, kita bisa paham semuanya dan bisa menjadi acuan,” ungkapnya.
Ia lalu mendaftar studi S3 Ilmu Hukum di Universitas Jayabaya, Jakarta Timur. Ternyata ia salah daftar dan masuk ke kelas eksekutif yang biayanya mahal. Saat perkenalan mahasiswa baru, di hadapan dosen-dosen yang sebagian besar profesor, Yuli memperkenalkan diri dengan menyebutkan bahwa dirinya seorang transgender dan motivasinya mengambil studi S3. Saat itu semua yang ada di ruangan kaget, tetapi mereka tidak mempersoalkan identitas gendernya sehingga dia lanjut kuliah.
Namun berjalannya waktu ternyata tidak segampang yang dikira, sempat muncul pertanyaan-pertanyaan terkait latar belakangnya. “Kamu bisa kuliah di sini? Inikan kelas eksekutif, cuma orang mampu yang bisa kuliah di sini!’ “Orang tua kamu kerja apa?” atau pertanyaan lain, “Kamu punya bisnis apa?” Yuli membalas pertanyaan itu dengan jawaban yang membuat mereka berhenti bertanya, “Orang tua saya tuh, Tuhan Yesus.”
Baca juga: 4+1 Alasan Mengapa Penting Lindungi Transpuan: Mereka Bukan Virus
Yuli mengaku awalnya ia masih punya uang untuk membiayai kuliahnya, tetapi setelah 2 semester, biaya kuliah ini jadi persoalan tersendiri. Apalagi kuliahnya kadang dilakukan di luar kota mengikuti posisi dosennya. Namun, meski banyak tantangan ia merasa selalu dicukupkan. Perjalanan hidup membuat Yuli sampai pada titik bahwa ia harus punya keyakinan dan berpegang padanya.
“Romo mengatakan, ‘Sekecil biji sesawi kalau kamu punya iman, kamu bisa memindahkan gunung. Dan semua yang bagi kamu tidak mungkin masuk di akal, bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Tetapi hendaklah kamu percaya dulu.’ Dan dalam kehidupan saya, Tuhan melakukan begitu banyak mukjizat,” tutur Yuli.
Seperti yang ia alami saat menjelang sidang tertutup untuk wisuda doktor, Yuli sudah kehabisan uang sementara ia harus membayar tunggakan uang kuliahnya. Ia menceritakan masalahnya ini kepada Romo Wardjito yang mengingatkannya untuk tetap berdoa. Dan benar, kemudian ada orang baik yang membantunya.
Akhirnya Yuli bisa mengikuti sidang tertutup dan sidang terbuka hingga bisa diwisuda sebagai Doktor Ilmu Hukum dari Universitas Jayabaya Jakarta pada Oktober 2023. Yuli menjadi transpuan pertama bergelar doktor ilmu hukum di Indonesia.
***
Mami Yuli tak sendirian, ada Alegra Wolter yang saat ini sedang menempuh studi doktoral di bidang kesehatan masyarakat. Ia juga dokter transpuan pertama di Indonesia yang terbuka dengan identitas gendernya. Alegra juga mengalami stigma, perundungan, diskriminasi dan kekerasan akibat identitas gendernya. Upayanya untuk menempuh pendidikan tinggi pun penuh liku meski ia menyadari dirinya memiliki privilese.

Perjalanan pencarian jati diri Alegra dimulai sejak usia sangat dini, sekitar 3 atau 4 tahun. Ia memiliki ingatan kuat saat berada di Bali, ia sering menghabiskan waktu bersama keluarganya bermain di taman. Di sana ia mengumpulkan bunga. Baginya, bunga-bunga tersebut melambangkan jiwa femininnya, sebuah perasaan internal yang saat itu belum bisa ia bahasakan secara medis maupun sosial.
Baca juga: Dipanggil ‘Kak’ atau ‘Mbak’? Bagaimana Sebaiknya Kita Memanggil Transpuan
“Waktu itu masih kecil, tentu tidak paham makna feminin, maskulin ataupun transgender dan lain-lain. Yang saya rasakan adalah saya merasa berbeda. Dan itu sesuatu yang mungkin orang lain tidak paham, tapi sesuatu yang secara internal saya rasakan,” tutur Alegra kepada Konde.co pada Senin, 20 Juli 2026.
Alegra masih ingat saat pertama kali mengalami perundungan ketika kelas tiga SD. Ia dipandang berbeda oleh teman-teman sekolahnya karena dianggap terlalu feminin, mulai dari cara omong hingga cara jalan. “Selalu saja ada yang salah sehingga saya merasa perilaku saya harus terus-menerus dikoreksi,” ungkapnya.
Alegra juga mengalami sejumlah perundungan lain, seperti dipanggil dengan sebutan diskriminatif (banci) dan dipukul. Sayangnya pihak sekolah dalam hal ini guru-gurunya tidak ada yang memberikan perlindungan. Ia juga mengalami pelecehan seksual dari murid lain dan guru les laki-laki. Pengalaman tersebut sangat traumatis bagi Alegra dan salah satu yang paling berat.

Di tengah situasi tersebut, Alegra juga kurang mendapat dukungan dari keluarganya, karena orang tuanya kerap bertengkar. Dengan kondisi keluarga yang juga kurang kondusif kala itu, Alegra menemukan titik balik lewat dukungan beberapa guru les perempuannya yang mendorongnya untuk berprestasi.
“Beruntung ada beberapa guru les perempuan yang cukup mendukung, Kalau aku mendapat perundungan, kadang aku cerita ke mereka. Dan mereka selalu bilang, ya apapun itu, kamu juga pasti bisa seperti anak yang lain. Kalau anak yang lain bisa dapat nilai bagus, kenapa aku nggak bisa?” tuturnya.
Saat itu nilai-nilainya jelek. Ia juga sering mengalami sleep walking dan mimpi buruk karena pengalaman traumatis di sekolah dan rumah. Setelah mendapat penguatan dari salah satu guru les perempuannya saat kelas 6 SD, Alegra mulai bangkit. Ia lulus SD dengan loncatan prestasi yang luar biasa. Dari awalnya ada di peringkat 3 dari bawah menjadi hampir masuk 10 besar.
Baca juga: Habis Perpres 111/2025 Sebut LGBT Ancaman Nonmiliter, Terbitlah Perda Diskriminatif dan Persekusi
Saat SMP nilai-nilainya makin baik karena ia merasa kalau dirinya pintar, ia akan punya teman. Di SMP Alegra juga bertemu dengan teman-teman baru. Ia bersyukur untuk pertama kali mulai merasakan ada teman yang mau main dengannya.
Waktu itu Alegra mengalami pergumulan karena ia sempat menyangkal lantaran ia masuk usia pubertas dan merasa tubuhnya berubah menjadi makin maskulin.
Saat memasuki usia puber, Allegra sempat dibawa ke dokter spesialis untuk menjalani terapi hormon testosteron agar terlihat lebih maskulin.
“Jadi aku sempat dapat dua suntikan testosteron, untuk merangsang biar lebih maskulin. Dan itu cukup traumatizing buat aku karena aku merasa tubuhku tambah terinduksi untuk lebih maskulin,” paparnya.
Akibat tekanan lingkungan yang berat, Alegra secara tidak sadar menekan identitas gendernya ke alam bawah sadar selama bertahun-tahun, mulai dari usia 13 tahun hingga memasuki tahun kedua kuliah kedokteran.
Selama masa SMA di sekolah khusus laki-laki Katolik, ia tetap fokus pada studi meski masih mengalami perundungan.

Setelah lulus SMA, Alegra melanjutkan kuliah dengan mengambil jurusan Kedokteran. Ada tiga pilihan studi yang ingin ia ambil saat itu, tetapi dua lainnya yakni psikologi dan fashion design kurang disetujui orang tuanya. Pilihan untuk mendalami ilmu kedokteran salah satu pertimbangannya karena ia berminat menjadi psikiater merefleksikan dari perjuangan mental yang ia alami di masa pertumbuhan.
Pada tahun kedua di bangku kuliah, identitasnya yang sempat “terkubur” muncul kembali ke permukaan ketika ia mendengarkan materi kuliah dari seorang dosen psikiater.
Baca juga: Negara Mencari Musuh Bersama, LGBT yang Jadi Tumbalnya
“Salah satu dosen psikiater anak dan remaja, menyampaikan ada kakak kelas mereka yang punya identitas berbeda. Misalnya dia lahir perempuan, tapi dia lebih maskulin, sehingga membuatnya dirundung oleh teman-temannya. Saat mendengar cerita tersebut, aku langsung teringat, mungkin aku juga bisa cerita sama psikiater ini. Dan akhirnya aku konseling,” tuturnya.
Alegra kemudian mulai membekali diri dengan pengetahuan medis mengenai transgender dan memutuskan untuk memulai terapi hormon secara mandiri.
Saat menjalani masa Pendidikan Profesi Dokter (Koas), Alegra merasakan tantangan berat lainnya karena adanya gender policing yang ketat dari pihak fakultas. Meskipun tidak ada peraturan tertulis, ia dilarang memanjangkan rambut, menggunakan riasan, maupun berpakaian feminin.
Namun, Alegra berhasil mencapai tonggak momen penting saat wisuda dengan berani mengenakan kebaya, berkat dukungan dari beberapa dosen lintas fakultas (Psikologi, Hukum, dan Kedokteran) yang berpikiran terbuka.
Setelah lulus sebagai dokter, Alegra memfokuskan kariernya pada bidang kesehatan masyarakat, khususnya isu HIV dan kesehatan seksual. Ia menyadari bahwa posisinya sebagai dokter transpuan adalah sebuah privilese yang harus digunakan untuk mengedukasi masyarakat luas. Ia sudah melakukan ratusan kegiatan promosi kesehatan, termasuk menjadi figur publik yang vokal di berbagai media untuk memberikan inspirasi bagi komunitasnya.
Alegra yang menjalani profesi seorang dokter mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Ketua Perkumpulan Suara Kita Bambang Prayudi, yang bekerja sama dengan Alegra dalam mendampingi komunitas transpuan, mengenal Alegra sebagai sosok yang berani terbuka dengan identitasnya.

Yudi mengungkapkan bahwa Alegra sebagai sosok yang ngemong, mau merawat komunitas dan mau terlibat, mau mendengarkan, dan ringan tangan. “Ketika ada beberapa kasus, waktu itu Ale masih menjadi dokter di Angsamerah, kami rujuk ke Angsamerah,” ujar Yudi kepada Konde,co, Selasa 21 Juli 2026.
Baca juga: Dari Dimata-matai Hingga Dipersekusi, Echa Waode Bicara Soal Kondisi LGBT
Bagi Yudi, dengan prestasi Ale sebagai dokter dan kini melanjutkan studi doktor, Ale bisa menjadi role model bagi komunitas transpuan. Kalau selama ini teman-teman kesulitan mencari sosok yang bisa menjadi panutan, saat ini ada Ale yang bisa jadi contoh yang dekat.
Februari 2026 lalu, Ale menyelesaikan studi S2 Kesehatan Masyarakat di Australia dengan hasil sangat baik. Saat ini, ia menempuh pendidikan S3 (PhD) dalam bidang Kesehatan Masyarakat di University of New South Wales (UNSW), Sydney, Australia. Melalui riset dan studinya, ia ingin bisa berkontribusi untuk mengubah kebijakan dan merancang program kesehatan yang lebih inklusif dan setara di masa depan.
Alegra meyakini bahwa harapan dan spiritualitas adalah kekuatan utamanya untuk bertahan melewati berbagai trauma. Ia memandang dirinya sebagai alat untuk berbuat kebaikan secara universal tanpa terbelenggu aturan agama yang kaku. Harapan besarnya adalah melihat Indonesia memiliki pemimpin yang bijaksana dan sistem yang melindungi seluruh warga negara tanpa diskriminasi, sehingga teman-teman transpuan lainnya bisa mengenyam pendidikan dan memiliki opsi karier yang luas.
***
Kisah Yuli dan Alegra, dua transpuan yang telah menggambarkan secara nyata kehidupan mereka dan komunitasnya, bukanlah sesuatu yang mengancam bagi siapa pun, apalagi kedudukan kekuasaan dan negara. Para transpuan juga mampu berkontribusi bagi masyarakat di berbagai bidang kehidupan. Namun, jalan masih terjal. Kita semua bisa belajar dari Yuli dan Alegra.
(Foto cover: Anita Dhewy/Konde.co dan suarakita.org)
Editor: Basilius Triharyanto






