Tren 'obsession isn't scary until you've lived through it' tentang obsesi (sumber foto: TikTok @tatumboyer_27)

“Obsession Isn’t Scary Until You’ve Lived Through It” Bahaya Narasi yang Meromantisasi Obsesi

Tren ‘obsession isn’t scary until you go through it’ di media sosial jangan sampai memunculkan narasi romantisme perilaku obsesi yang membahayakan, terutama bagi perempuan.

Obsesi untuk memiliki dan mengontrol seseorang adalah hal yang tidak wajar dalam sebuah hubungan, apa lagi ketika hubungan itu sudah berakhir. Akan tetapi, di media sosial, obsesi terhadap mantan pasangan ternyata bisa tampil dengan wajah yang berbeda. Perilaku yang mengusik privasi justru kerap dibaca sebagai perhatian, kegigihan, hingga sesuatu yang diinginkan. 

Hal ini tampak dalam tren “obsession isn’t scary until you’ve lived through it” yang sedang marak di media sosial, terutama TikTok. Lewat tren ini, orang-orang membagikan tangkapan layar berisi puluhan pesan teror dan ratusan panggilan tak terjawab yang masuk ke perangkat ponsel mereka. Bahkan hingga perilaku langsung yang perlahan mengusik ruang pribadi mereka.

Unggahan tren ini pun diramaikan dengan komentar warganet. Sebagian ikut membagikan pengalaman mereka menghadapi mantan yang obsesif, sebagian lain merasa ngeri melihatnya. Tetapi ada juga yang justru mengatakan:

“Gue malah mau di-obses-in kayak gitu.”

Atau, “Jujur, tapi kok, gue demen, ya? Pengen diginiin.”

Baca Juga: Sisi Gelap Hubungan Parasosial: Diciptakan Industri, Dianggap Obsesi, Dilekatkan Pada Fangirl

Lantas, bagaimana obsesi dipersepsi di media sosial, hingga ada orang-orang yang justru menginginkannya?

Cara pandang demikian menunjukkan bahwa obsesi diartikan berbeda ketika berada di media sosial. Spam pesan teror dan panggilan tak terjawab, atau kisah orang yang masih mencari tahu kehidupan orang lain yang sudah mengakhiri hubungan dengannya, bisa tampak berbeda ketika muncul sebagai potongan cerita belaka di layar gawai kita. Pengalaman tersebut dilepaskan dari konteks korban, relasi kuasa, dan rasa takut yang menyertainya. Sedangkan perilaku yang sebenarnya mengancam dapat dengan mudah dibaca sebagai bukti bahwa seseorang “sangat mencintai” atau “tidak bisa kehilangan”. 

Potongan cerita itu memang mudah mengundang orang lain untuk membuat bayangan versi mereka sendiri tentang hal yang terjadi di antara dua orang. Narasinya kemudian direduksi menjadi sosok yang masih mencari, sosok yang sudah pergi, dan alasan ia menghubungi pihak lain terus-menerus. Namun, fenomena itu justru diromantisasi dan tak jarang diinterpretasikan sebagai bentuk kegigihan cinta seseorang. 

Padahal, dalam relasi yang telah berakhir, keputusan seseorang untuk pergi seharusnya juga merupakan batas yang perlu dihormati. Ketika batas tersebut terus ditembus, persoalannya bukan lagi tentang seberapa besar cinta seseorang. Melainkan tentang hak siapa yang menentukan kapan sebuah hubungan berakhir. 

Komentar yang mengatakan bahwa mereka justru ingin jadi “target” obsesi pun menjadi kontradiktif. Sebab, keinginan itu seakan tidak menyadari betapa berbahaya perilaku obsesif dari pengalaman yang dibagikan di media sosial. Bukan hanya teror digital, obsesi juga berpotensi memicu seseorang melakukan kekerasan di ruang publik. 

Baca Juga: Film ‘Frankenstein’, Patriarki dan Politik Tubuh oleh Laki-Laki yang Terobsesi Atas Penciptaan

Bagi perempuan, risiko ini menjadi lebih serius. Sebab kekerasan dalam relasi intim dan stalking kerap berlangsung dalam konteks ketimpangan kuasa berbasis gender. Perempuan yang menolak, mengakhiri hubungan, atau menetapkan batas dapat menghadapi konsekuensi ketika pihak lain merasa memiliki hak atas tubuh, perhatian, waktu, bahkan kehidupan mereka. 

Cerita perilaku obsesif sama sekali bukan hal baru. Tempat kejadian, sosok korban, dan persepsi terhadap pengalaman tersebut mungkin senantiasa berubah. Tapi ada pengalaman kolektif dari obsesi yang merangsek ke dalam ruang privat dan berujung pada kekerasan. Bedanya, di era bermedia sosial kini, kisah-kisah yang berpindah ke ruang digital dan terjadi di antara dua orang seperti itu dapat berubah menjadi tontonan yang seakan-akan layak dikomentari dan dibayangkan skenarionya oleh orang lain yang tidak berada dalam situasi sesungguhnya.

Ini bukan lagi sekadar cerita tentang seseorang yang belum bisa melupakan romansa masa lalu. Di balik berbagai tindakan itu, ada satu kata yang terus digunakan dalam konten tersebut: obsesi.

Dalam percakapan sehari-hari, kata “obsesi” dan “obsesif” sering digunakan untuk menggambarkan tindakan dan sosok yang dianggap terlalu terfokus pada suatu hal. Orang yang terus mencari tahu, terus memperhatikan, atau terus berusaha mendapatkan perhatian. Ia bisa kemudian disebut obsesif, terutama ketika perilaku tersebut berulang.

Baca Juga: Perempuan Cantik Harus Berkulit Putih? No! Bongkar Obsesi Kecantikan di Indonesia

Hal tersebut juga terjadi dalam tren ini. Kata tersebut digunakan untuk merangkum berbagai tindakan yang muncul dalam cerita. Obsesi menjadi suatu gambaran atas seseorang yang begitu terfokus pada orang yang pernah dekat dengannya. Tapi tidak berhenti sampai di situ, obsesi tersebut kerap kali berlanjut menjadi pelanggaran privasi dan kekerasan. Sering kali, obsesi berbahaya tersebut menyasar perempuan. 

Hal ini penting untuk diperhatikan karena perempuan bukan sekadar “target” dalam sebuah cerita romantis. Perempuan adalah individu yang hidup dalam struktur sosial yang membuat mereka lebih rentan terhadap kekerasan berbasis gender. Sayangnya, perilaku mengontrol terhadap perempuan kerap dianggap sebagai tanda cinta. Maka masyarakat secara tidak langsung memberi legitimasi pada gagasan bahwa laki-laki memiliki hak untuk terus mengejar perempuan. Bahkan setelah perempuan tersebut mengatakan “tidak”. 

Obsesi juga dijelaskan dalam artikel “Understanding Obsessive Relational Intrusion (ORI)”. Brian H. Spitzberg dan William R. Cupach mendefinisikan ORI sebagai upaya berulang dan tidak diinginkan, serta pelanggaran terhadap rasa privasi fisik atau simbolis seseorang oleh orang lain. Konsep ini tidak hanya mencakup tindakan secara langsung, tetapi juga dapat terjadi melalui ruang digital.

Sementara itu, perilaku yang banyak dibahas dalam literatur sebagai tindakan cyberstalking juga tak jarang masuk dalam kategori obsesif. Dalam systematic review yang ditulis oleh Weekes, Storey, dan Pina (2025), mereka menggambarkan cyberstalking sebagai perilaku memantau, menghubungi, atau mengejar seseorang secara berulang melalui teknologi dan internet. Mereka juga menemukan bahwa kontak daring yang tidak diinginkan dan berulang melalui pesan, media sosial, atau telepon merupakan bentuk yang paling sering dilaporkan.

Bentuknya tidak hanya berupa pesan yang terus dikirim. Penelitian yang sama juga menemukan praktik lain. Seperti memantau media sosial, mengakses akun atau perangkat, melacak lokasi, menyamar sebagai orang lain di internet. Hingga menghubungi teman atau keluarga untuk mendapatkan informasi tentang seseorang. 

Baca Juga: Tren Estetika Old Money Jadi Obsesi di Sosmed? Kenapa Gen Z Suka Ini

Jika tindakan-tindakan tersebut dilakukan terhadap perempuan oleh mantan pasangan, persoalannya tidak bisa dilepaskan dari kekerasan berbasis gender yang lebih luas. Teknologi kemudian bukan hanya menjadi medium komunikasi. Ia juga dapat digunakan untuk mempertahankan kontrol atas seseorang yang sebenarnya sudah berusaha keluar dari sebuah relasi. 

Kita bisa melihat pola-pola tersebut dalam perilaku yang dibagikan melalui tren TikTok “obsession isn’t scary until you;ve lived through it”. Pesan yang terus masuk, panggilan telepon yang berulang, atau upaya untuk tetap mengikuti kehidupan seseorang melalui media sosial. 

Apa lagi ketika menyadari bahwa perempuan adalah kelompok yang banyak menjadi korban. Romantisasi ini juga berbahaya karena dapat mengaburkan tanda-tanda awal kekerasan. Ketika pesan yang dikirim berulang kali dianggap sebagai “perjuangan”, kecemburuan dibaca sebagai “rasa sayang”. Pemantauan media sosial disebut sebagai “perhatian”, dan keengganan menerima penolakan dianggap sebagai “cinta yang terlalu besar”. Batas antara perhatian dan kontrol menjadi semakin kabur. 

Perempuan yang merasa takut pun dapat dianggap berlebihan. Sementara laki-laki yang terus mengejar justru diposisikan sebagai sosok romantis yang pantang menyerah. Pola semacam ini pada akhirnya dapat memperkuat budaya yang menyalahkan korban. Seolah-olah perempuan harus memberikan alasan yang cukup untuk menolak. Sedangkan pihak yang melanggar batas justru mendapatkan pembenaran atas perilakunya. 

Baca Juga: Pakai Baju Agak Terbuka Dianggap Salah? Ini Obsesi Society yang Hobi Atur Perempuan

Maka cerita tentang perilaku mantan yang obsesif akhirnya tidak sesederhana soal seseorang yang belum bisa melepaskan ikatan emosional. Ketika bicara soal obsesi, ada perilaku dan tindakan yang berpotensi bahaya. Bisa jadi tindakan yang termasuk stalking atau cyberstalking, hingga kekerasan berbasis digital bahkan langsung.

Di media sosial, persepsi atas hal-hal tersebut dipertemukan pula dengan cara pandang yang masih melihat obsesi sebagai perhatian dalam hubungan romantis, serta kecenderungan untuk mempertanyakan dan menyudutkan orang yang menjadi sasarannya, meski posisinya adalah sebagai korban dari obsesi. Pengalaman pribadi bukan hanya berubah menjadi urusan publik karena pola-pola kekerasan di dalamnya. Ia pun menjadi tontonan dan kemudian dibaca dari begitu banyak sudut pandang.

Maka dari itu, apa iya kita akan terus menormalisasi dan meromantisasi obsesi? Justru kita perlu waspada ketika obsesi kehilangan konteksnya saat direduksi menjadi “drama romansa” konsumsi publik. 

Tidak ada yang romantis dari pelanggaran hak pribadi dan kekerasan dalam hubungan. Dan jangan sampai kita harus mengalaminya sendiri dulu untuk memahami bahayanya. Terlebih ketika pengalaman tersebut banyak dialami perempuan. 

Kita perlu melihat obsesi bukan hanya sebagai persoalan individu yang “terlalu mencintai”. Tetapi juga sebagai persoalan relasi kuasa dan budaya gender yang masih menormalisasi kontrol terhadap perempuan. Sebab, seseorang yang terus mengejar setelah ditolak bukan sedang membuktikan seberapa besar cintanya. Ia sedang menunjukkan bahwa ia tidak menghormati batas orang lain. 

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

(sumber foto: TikTok @tatumboyer_27)

Elvina Manuella Simanjuntak

Reporter magang Konde.co dan mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS).
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!