Film 'Conclave' (sumber foto: IMDb)

Misteri Kematian Paus dalam ‘Conclave’, Ada Peran Biarawati Walau Tampil Tipis

Film Conclave adalah film yang mengungkap narasi penuh intrik dalam panggung pemilihan Paus, pemimpin tertinggi gereja Katolik sedunia. Ada peran biarawati dan perempuan korban kekerasan seksual yang ditampilkan tipis, namun penting.

Paus sebagai pemimpin tinggi Katolik tiba-tiba meninggal. Dokter menyebutnya sakit jantung. Namun ada yang menyebutnya meninggal karena ulah salah satu kardinal, Joseph Tremblay yang akan mencalonkan diri sebagai Paus yang baru. Itulah premis yang membentuk narasi film ‘Conclave‘.

Film ini dimulai dengan teka-teki meninggalnya Paus yang cukup mengguncang. Itu membuat gereja Katolik harus dengan cepat mengganti dengan paus yang baru. 

Conclave adalah film yang menyajikan soal pemilihan Paus baru yang terjadi secara senyap. Kita akan dihadapkan pada banyak kardinal yang mau maju menjadi calon Paus yang baru, di tengah penyelidikan di seputar meninggalnya Paus yang dilakukan secara hati-hati. Setiap adegan menampilkan ketegangan-ketegangan yang membuat penonton tak mau melewatkan detail-detail ceritanya.

Pemilihan Paus baru diwarnai intrik, penggalangan suara tertutup sebagaimana peristiwa pemilihan politik. Ada banyak faksi yang mau memilih Paus agar ada pembaruan gereja, bukan mengajak gereja menjadi konservatif. Walau ada faksi lain yang berpikir sebaliknya.

Baca Juga: Laporan Pelecehan Seksual di Gereja Katolik Jerman Segera Dirilis

Kolese Kardinal, di bawah kepemimpinan dekan, Thomas Lawrence dari Britania Raya, memimpin konklaf untuk memilih penggantinya. Conclave adalah pertemuan dewan kardinal tertutup yang diadakan untuk memilih seorang Paus, uskup Roma sekaligus kepala gereja Katolik sedunia.

Ada 4 pastor kardinal calon Paus yang namanya muncul dalam pemilihan. Empat kandidat utama Paus adalah Aldo Bellini dari Amerika Serikat, seorang progresivisme. Lalu Joshua Adeyemi dari Nigeria, seorang konservatif sosial. Ada Joseph Tremblay dari Kanada yang seorang moderat, dan Goffredo Tedesco dari Italia, seorang tradisionalis yang gigih. 

Kubu liberal tidak mau dipimpin oleh Paus yang seolah-olah jujur, tapi menutupi skandal seks yang terjadi pada anak-anak di gereja. Sedangkan kubu konservatif tidak mau dipimpin oleh Paus yang sepakat adanya LGBT dan ikut memperjuangan perempuan dan keberagaman. Ketegangan antar faksi ini muncul dalam masa-masa pemilihan. Dalam pemilihan Paus baru ini, para kardinal terpecah menjadi beberapa faksi yang bersaing, masing-masing mendukung kandidat mereka. 

Dalam penyelidikannya tentang mengapa Paus sebelumnya meninggal mendadak, Kardinal Thomas Lawrence menemukan sebuah rahasia. Ia berusaha keras mengungkap kebenaran sebelum rahasia tersebut jatuh ke tangan yang salah dan mengguncang fondasi Gereja Katolik.

“Yang justru abadi adalah hidup dalam ketidakpastian-ketidakpastian, karena disini iman kita teruji.”

Baca Juga: Sebanyak 330.000 Anak Diduga Jadi Korban Pelecehan Seksual Gereja Katolik di Prancis

Kalimat ini kemudian menjadi kata yang banyak diperbincangkan, yang ternyata membuat Lawrence justru masuk dalam nominator pemilihan.

Dalam masa-masa pemilihan, Janusz Woźniz, pengawas rumah tangga kepausan mengklaim bahwa mendiang Paus menuntut pengunduran diri Tremblay pada malam kematiannya. Tremblay dianggap melakukan sesuatu yang tercela sehingga diminta mundur oleh Paus.

Namun informasi ini dibantah oleh Tremblay. Sementara Bellini mengatakan kepada para pendukungnya bahwa tujuannya mencalonkan diri menjadi Paus adalah untuk mencegah Tedesco menjadi Paus.

Sementara itu, Thomas Lawrence dikejutkan oleh kedatangan menit-menit terakhir Uskup Agung dari Kabul, Afganisthan, Vincent Benitez, yang kabarnya telah diangkat oleh mendiang Paus sebagai kardinal in pectore pada tahun sebelumnya. Ia tak punya informasi apapun tentang ini. Kejutan-kejutan seperti ini sangat mewarnai pemilihan Paus.

Yang menarik dari film ini adalah kita dibawa dalam detik-detik untuk membuka intrik-intrik tersembunyi dalam gereja. Penuh dengan ketegangan, pilihan-pilihan untuk menutupi sesuatu, membuka konflik atau memilih untuk dijalankan secara tertutup demi sebuah harmoni. Thomas Lawrence, dekan kardinal dalam keuskupan ini kemudian mengungkap semua rahasia ini di tengah keyakinannya pada gereja serta ketidakyakinannya pada dirinya sendiri.

Baca Juga: Kekerasan Seksual Di Gereja, Pembina Putra Altar Divonis 15 Tahun Penjara

Conclave adalah sebuah film thriller politik yang diproduksi di tahun 2024 dan disutradarai oleh Edward Berger dan ditulis oleh Peter Straughan. Film ini dibintangi oleh Ralph Fiennes, Stanley Tucci, John Lithgow, Sergio Castellitto, dan Isabella Rossellini. Dalam film tersebut, Kardinal Thomas Lawrence (Fiennes) berhasil mengorganisir konklaf untuk memilih paus berikutnya dan mendapati dirinya menyelidiki rahasia dan skandal tentang calon paus

Belle Enriquez dalam salah satu ulasannya menulis, Thomas Lawrence menampilkan pertunjukan yang sungguh luar biasa. Penggambarannya sebagai Kardinal penuh dengan kompleksitas. Secara sempurna mencerminkan konflik internal antara keyakinan yang tak tergoyahkan dan daya tarik kekuasaan yang menggiurkan. Thomas Lawrence menghidupkan karakter yang bukan hanya seorang tokoh agama tetapi juga seorang laki-laki yang bergulat dengan implikasi moral dari ambisinya. Kehalusan ekspresifnya—ditandai dengan pandangan sekilas dan bahasa tubuh yang terkendali—menyampaikan beban dan keinginan karakter tanpa pernah beralih ke melodrama. Penampilan bernuansa ini menjadi landasan film ini, memungkinkan untuk benar-benar merasakan beratnya pilihan yang ada di hadapannya.

Ada juga peran suster atau biarawati yang ditampilkan secara tipis-tipis namun penting. Hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terlihat, karena biarawati biasanya hanya mengerjakan pekerjaan domestik, bukan di panggung pemilihan Paus atau mengambil keputusan. Biarawati biasanya hanya sebagai orang yang mengurus makanan, tiket dan pekerjaan domestik lainnya. Namun disini muncul peran publiknya. Salah satu calon Paus, Adeyemi diduga telah melakukan kekerasan seksual pada salah satu biarawati, Shanumi. Bekerja sama dengan Suster Agnes, biarawati yang mengawasi akomodasi para kardinal, Thomas Lawrence kemudian menemui korban.

Baca Juga: Jangan Lupakan Kasus Angelo, Kekerasan Seksual Anak Di Lingkungan Gereja

Yang menakjubkan di film ini adalah, dalam satu adegan conclave saja, kita bisa melihat takbir tentang pertentangan, pertarungan, keinginan berkuasa, perjuangan untuk harmoni dan kebijakan sulit yang tersembunyi dalam tubuh gereja.

Hal lain yang menarik adalah ditampilkannya diskursus tentang perempuan, kekerasan seksual, skandal seks, LGBT, keberagaman yang mewarnai silang pendapat yang terus berbeda. Drama tentang pemilihan Paus ini menguak tentang kekuasaan, iman, dan moralitas. 

Film ini mendapat 8 nominasi Piala Oscar 2025, namun hanya memenangkan 1 kategori sebagai Best Adapted Screenplay Oscar 2025.

(sumber foto: IMDb)

Luviana

Setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar paruh waktu di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!