Spoiler alert: Artikel ini memuat beberapa adegan kunci dari film the Fantastic Four: First Steps (2025)
Dalam dunia sinema, peran sebagai ibu atau perempuan sering kali dibatasi pada pengasuhan atau latar belakang emosional sang tokoh utama.
Mereka hadir di awal, untuk kemudian ditinggal demi “misi besar” yang katanya lebih penting. Tapi Fantastic Four (2025) membalikkan pola itu. Di sini, menjadi ibu adalah misi besar itu sendiri.
Ini pengalaman saya. Beberapa waktu lalu, saya menyempatkan diri menonton the Fantastic Four: First Steps bersama sepupu saya, “berkedok riset,” kata saya, sambil tertawa.
Tapi sejujurnya, saya memang penasaran: mampukah Marvel Cinematic Universe (MCU) ini menghidupkan kembali empat pahlawan yang selama ini sulit mendapat tempat di hati penonton?
Film versi 2015-nya jelas gagal membekas, dan versi 2005, meski punya nilai nostalgia, masih menyisakan problem dalam cara memperlakukan karakter perempuan (menurut saya pribadi sih).
Salah satu yang paling kentara adalah bagaimana karakter Sue Storm, sang Invisible Woman, tersebut digambarkan. Dalam film 2005 dan 2007, Sue (diperankan Jessica Alba) cenderung menjadi pemanis visual. Ia lebih sering hadir untuk mendukung narasi laki-laki, bukan membentuk narasinya sendiri.
Salah satu adegannya ketika ia harus menanggalkan pakaian di ruang publik agar bisa menjadi tak terlihat, serta ketika ia terpaksa telanjang di muka publik akibat pakaiannya yang terbakar habis ketika tak sengaja bertukar kekuatan dengan Johnny Storm sang Human Torch (Fantastic Four: Rise of the Silver Surfer tahun 2007). Hal itu menurut saya lagi, sebuah penggiring visual untuk lebih menekankan tubuh dan paras daripada kekuatannya.
Namun dua dekade setelahnya, dalam the Fantastic Four: First Steps (2025), kita justru tidak lagi menyaksikan Sue sebagai perempuan tak terlihat. Ia hadir dengan peran yang jauh lebih kuat, kompleks, dan berdaya: seorang ibu, pemimpin emosional, sekaligus pahlawan sejati tim Fantastic Four. Bukan karena dia keras, agresif, atau menyerap karakteristik “kejantanan” yang umum, tapi karena ia membawa sesuatu yang sangat politis dan kerap diremehkan dalam sinema superhero: kekuatan sebagai ibu.
Mother Gaze: Ketika Kamera Belajar Melihat Perempuan Secara Utuh
Salah satu kekuatan utama dari Fantastic Four 2025 adalah bagaimana film ini memandang karakter perempuannya. Tidak lagi melalui male gaze, yaitu pandangan sinematik yang membingkai perempuan sebagai objek hasrat laki-laki, melainkan melalui apa yang bisa kita sebut sebagai mother gaze.
Kamera kali ini tidak menyoroti tubuh Sue, tetapi ekspresi wajahnya saat membuat keputusan sulit, tubuhnya yang merangkul rekan satu tim hingga memeluk anaknya, serta cara ia mengelola krisis dengan penuh kasih dan keteguhan.
Di tangan Vanessa Kirby, Sue Storm menjadi tokoh yang bukan hanya “kuat”, tetapi juga utuh sebagai perempuan dan sebagai manusia. Ia adalah istri, ibu, sekaligus pemimpin dalam satu waktu dimana ia bisa menyatukan keutuhan keluarganya kembali walaupun dilanda permasalahan kompleks.
Namun uniknya, film ini tidak menjadikan semua peran itu sebagai beban atau distraksi dari misinya, melainkan justru sebagai sumber kekuatan.
Menurut saya, film ini secara apik mengemas narasi jangan memandang remeh seorang ibu yang sedang mengandung. Sebaliknya, seperti Sue Storm, ibu yang mengandung tetap bisa menjalankan peran-peran penting lainnya, bahkan ketika ia harus melahirkan di dalam pesawat ruang angkasa.
“I Will Not Sacrifice My Son”: Diplomasi Seorang Ibu Di Tengah Ancaman Kosmis
Konflik utama film ini bermula ketika Galactus, sang entitas kosmik pemakan dunia, mengincar anak Sue dan Reed.
Di tengah ancaman kehancuran total, Sue tidak terjebak dalam pilihan biner: menyelamatkan anak atau menyelamatkan dunia. Ia berdiri di hadapan para demonstran yang dilanda ketakutan dan kebingungan.
Anggota Fantastic Four lainnya kewalahan menghadapinya. Bahkan seorang Reed Richards yang terkenal sebagai manusia paling jenius saja frustasi dan nyaris putus asa untuk bersikap sebagai ‘pahlawan’ dan menenangkan massa. Ia pun tertangkap bingung memilih antara anaknya atau menyelamatkan dunia. Namun ternyata Sue dengan suara tenang namun tegas berkata:
“I will not sacrifice my son for this world. But I will not sacrifice this world for my son.” dan “We’ll face it together, as a family”
Baca juga: ‘GJLS Ibuku Ibu-Ibu’: Kapan Film ‘Lucu’ Bisa Bebas dari Pola Humor Seksis dan Ableist?
Kalimat ini bagi saya sangat esensial, bukan hanya karena menunjukkan keberanian Sue sebagai ibu, tapi juga karena memperlihatkan kemampuan berpikir diplomatis yang holistik, menjunjung tinggi konsep kekeluargaan pula, khas perempuan. Ia tidak memilih kekerasan, tidak pula tunduk pada logika pengorbanan khas narasi maskulin. Ia memilih untuk mencari jalan ketiga: jalan yang mengedepankan empati, negosiasi, dan kesetaraan nilai antara kehidupan individu dan kolektif.
Inilah mengapa, menurut saya, Sue Storm adalah pemimpin sejati Fantastic Four versi 2025. Bukan karena ia paling kuat secara fisik, tapi karena ia memimpin dengan hati dan kepala sekaligus, sesuatu yang jarang kita lihat dalam sinema superhero arus utama.
Menurut saya pula, film ini juga cakap dalam memproyeksikan woman’s power tidak secara dangkal atau abal-abal. Namun dari kacamata seorang perempuan yang menjadi “ibu dari tim” yang welas asih dan empowering di saat yang sama.
Pemimpin yang Merawat, Bukan Menguasai
Hubungan antar karakter dalam tim Fantastic Four versi ini juga lebih manusiawi. Tidak lagi sekadar saling sindir atau adu ego, tapi lebih banyak momen reflektif dan kolaboratif.
Johnny dan Ben kini punya dinamika yang lebih dewasa, dan di tengah semuanya, Sue menjadi perekat yang menyatukan mereka.
Sue bukan pemimpin yang memerintah dari atas. Ia merawat dari dalam. Ia tidak perlu membuktikan dirinya dengan teriakan atau kekuatan destruktif, tapi cukup dengan kehadiran yang konsisten, lembut, namun tegas.
Momen paling menggugah dalam film ini adalah ketika Sue Storm mencapai puncak kekuatannya, bukan karena ledakan energi atau aksi brutal, tetapi karena ia berdiri sendirian melindungi anaknya dari ancaman Galactus. Di saat dunia tampak tidak punya solusi, Sue tidak lari, tidak juga berkompromi dengan kekerasan. Justru di sanalah ia menunjukkan bahwa kekuatan seorang ibu bukan terletak pada keterampilan tempur, tapi pada tekad untuk melindungi tanpa mengorbankan siapa pun.
Sue Storm berdiri disana sebagai benteng terakhir antara harapan dan kehancuran. Ia menjadi simbol bahwa ketika seseorang mencoba menyakiti anak, seorang ibu dapat menjadi kekuatan kosmis itu sendiri. Tidak lagi tak terlihat, menurut saya justru Sue Storm sebagai seorang ibu-lah yang merupakan sorotan terang dari keseluruhan cerita.
Shalla-Bal: Perempuan Kosmis yang Tak Terjebak dalam Male Gaze
Film ini juga memperkenalkan Shalla-Bal, versi perempuan dari Silver Surfer (dalam komik diceritakan sebagai pasangan dari Norrin Radd, Silver Surfer di film tahun 2007).
Menariknya, meski karakter ini ditampilkan dengan tubuh yang tampak “tidak berpakaian” layaknya versi komik, kamera tidak sekali pun menempatkan tubuhnya sebagai objek seksual. Tidak ada sorotan sensual, tidak ada gestur yang dimaksudkan untuk memanjakan mata penonton laki-laki.
Bahkan Johnny Storm versi Joseph Quinn digambarkan bukan lagi sebagai “playboy mata keranjang” yang hobi sexualize perempuan, termasuk Shalla-Bal. Jelas berbeda dari pembawaan Johnny Storm versi Chris Evans di film sebelumnya. Sebaliknya, disini Johnny mau mempelajari bahasa Shalla-Bal untuk bisa memahaminya, dan gesturnya pun terlihat menghargai ketika sedang bicara berhadapan.
Baca juga: ‘Seribu Bayang Purnama’: Ajak Petani Muda Terapkan Metode Alami, Tapi Perempuan Petani Minim Disorot
Shalla-Bal dalam film ini digambarkan sebagai sosok kuat, berani, namun penuh belas kasih. Ia memiliki intensitas yang intimidatif, tapi tidak kehilangan sisi manusiawinya. Dalam salah satu momen penting, Shalla-Bal memilih untuk mengorbankan dirinya demi menyelamatkan rumah dan dunia yang ia cintai, serta menunjukkan empati tulus terhadap anak Sue dan Reed.
Ia bukan sebatas “villain atau pahlawan seksi” khas male gaze, tapi makhluk kosmik yang membuat penonton tertegun karena kedalaman pribadi dan pembawaanya. Apresiasi besar untuk Julia Garner sebagai pemeran Shalla-Bal.
Ia turut bisa memperlihatkan bahwa representasi perempuan dalam film superhero tidak harus dikompromikan demi tuntutan visual maskulin. Shalla-Bal adalah contoh bagaimana sinema bisa merepresentasikan kekuatan dan kebaikan dalam satu tubuh, tanpa eksploitasi.
Kekuatan Politis Ibu di Universe Kita
Sue tidak harus memilih antara menjadi ibu dan menjadi pahlawan. Ia adalah keduanya. Dan lebih dari itu, ia membuktikan bahwa kepemimpinan berbasis kasih sayang dan empati bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan baru yang bisa menandingi dominasi model kepahlawanan agresif yang maskulin.
Ini adalah bentuk representasi yang sangat penting. Karena banyak perempuan di dunia nyata yang juga harus memimpin keluarga, komunitas, atau bahkan negara, sambil tetap menjadi ibu. Namun sayangnya, mereka jarang mendapat ruang dalam narasi arus utama, apalagi dihormati sebagai pemimpin.
Menurut saya, selama bertahun-tahun, Sue Storm cukup dikenal sebagai “Invisible Woman” baik secara harfiah maupun simbolik. Beberapa kali dipandang hanya sebagai “istri dari Reed Richards”, dilihat karena tubuhnya daripada pikirannya. Padahal ia justru lebih dari itu. Tapi kini, Sue tak lagi tak terlihat. Ia menjadi pusat dari segalanya: keluarga, tim, bahkan dunia. Ia menjadi ibu bukan hanya untuk anaknya, namun untuk timnya, penduduk, bahkan penonton film, termasuk saya.
Melalui Fantastic Four (2025), kita belajar bahwa kekuatan seorang ibu bukan hanya ada di balik layar, tapi bisa berdiri di garis terdepan, mengambil keputusan yang menyelamatkan dunia tanpa harus kehilangan kelembutan atau welas asih.
Sue Storm mengajarkan bahwa menyelamatkan bukan berarti mengorbankan, dan bahwa merawat bisa menjadi bentuk keberanian paling nyata.
Foto: imdb.com
(Editor: Luviana Ariyanti)






