Di adegan-adegan pertama film, Ayah Tio (Bucek Depp) bangun paling terakhir, merokok di depan anak kecil, tidak bekerja, dan hanya menuntut dilayani tanpa melayani.
Apa yang berusaha ditunjukkan oleh Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah adalah gambaran langgengnya patriarki dalam kehidupan rumah tangga. Tio sebagai laki-laki mendominasi, dengan melakukan subordinasi dan kekerasan terhadap istrinya, Wulan (Sha Ine Febriyanti). Bagi anak-anaknya, Tio juga adalah ayah yang perannya absen (fatherless), baik secara fisik, emosional, hingga finansial.
Wulan tak hanya harus menjadi tulang punggung keluarga, dia juga menanggung beban domestik dan kerja perawatan. Sehari-hari dia menjadi binatu yang mencuci dan setrika, sepulangnya dia merawat rumah. Kerja ini tidak hanya tentang menjaga kebersihan rumah dari debu atau noda. Tetapi juga tentang mendampingi dan memenuhi kebutuhan orang lain. Baik secara fisik, emosional, dan sosial.
Peran yang mestinya Wulan bisa kerjakan bersama pasangan dalam rumah tangganya, Tio, namun mesti Ia tanggung sendiri.
Dari film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah, kita juga dibawa untuk menyelami lebih dalam tentang kerja perawatan. Ia tidak hanya terbatas di dalam rumah, namun berkelindan dalam aktivitas sehari-hari di sekeliling kita. Seringnya, perempuan yang mengerjakan dan tidak dianggap bernilai.
KDRT Bukan Hanya Fisik, Tapi Juga Mental Hingga Finansial
Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah turut mengeksplorasi ragam bentuk KDRT yang tidak hanya muncul lewat lebam atau luka. Tetapi juga penelantaran finansial dan emosional yang terus dilakukan oleh Tio kepada Wulan. Dan bagaimana kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga tidak hanya menyumbang sakit kepada korban di lapisan utama. Namun, juga lapisan-lapisan selanjutnya, seperti anak atau cucu.
Saat Wulan menjadi terang bagi anak-cucunya, Ayah adalah peredup cahaya. Saat Wulan menjadi alasan orang lain untuk tersenyum dan bertahan, Ayah adalah getir yang tidak diinginkan. Kebohongan-kebohongan kecilnya adalah bibit busuk yang ia terus tanam di dalam keluarga, hanya menunggu waktu panen tengik yang selama ini dipupuk.
“Masa nggak percaya suami sendiri? Rewel banget!” Lalu berbohong. Satu bohong yang menghasilkan buah-buah bohong lainnya dan merugikan kehidupan di sekitarnya, termasuk hatinya sendiri. Bibit busuk itu tidak datang tanpa kawan, ia berdampingan dengan komunikasi yang diputus tanpa penyelesaian masalah, yaitu pengabaian perasaan pasangan.
Dalam ironi keluarga Wulan, penagih utang lebih sering hadir dalam kesehariannya dibandingkan Tio sebagai suami. Mereka hadir di ruko lewat tubuh-tubuh yang siap menyergap seisi ruangan, dalam meja makan lewat setumpuk tunggakan, dan kamar tidur lewat mimpi-mimpi yang dijamah.
Pahitnya Reproduksi Sosial Kekerasan
Alin (Amanda Rawles), anak kedua Wulan dan Tio, adalah perempuan mahasiswi Fakultas Kedokteran yang sedang menempuh penyelesaian skripsi. Sudah jatuh tertimpa tangga, kemiskinannya pun diganggu oleh pemerintah lewat kebijakan pemangkasan anggaran pendidikan. Film ini rupanya tidak sepenuhnya fiktif, tetapi juga memoles narasi dengan kondisi sosiopolitik di negara ini.
Saya teringat dengan kasus kelangkaan gas elpiji melon yang secara mendadak dibatasi oleh pemerintah lewat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia. Kalau Wiji Thukul di bawah rezim Suharto berkata, “Derita sudah naik seleher kau menindas sampai di luar batas,” seorang ayah yang menjadi korban aturan pemerintah di bawah rezim Prabowo Subianto yang tidak bijak berkata “Jangan ganggu kemiskinan kami.”
Pemiskinan merajalela. Hidup di ujung tanduk sudah jadi makanan sehari-hari yang tidak bergizi. Potret keluarga Wulan adalah masalah sistemik yang kompleks, berkelindan antara konstruksi peran gender dalam rumah tangga oleh patriarki dan keputusan pemerintah yang nirempati serta berorientasi pada kelas elite.
Jadi dokter di negara begini, Alin? Tanya saya dalam hati selama menonton bioskop. Jadi dokter di negara yang mematikan kepakaran, memiskinkan guru, dan menghidupkan kleptokrasi?
Baca Juga: ‘Karena Aku Ingin Kamu, Itu Saja’ Film Rangga dan Cinta Bikin Aku Susah Move On
Kerentanan menjadi dokter dimulai sejak jenjang pendidikan, dengan harga uang kuliah yang fantastis, ke eksploitasi dalam jenjang prakerja, berupa program magang nasional yang diupah di bawah UMP setiap bulannya (bahkan belum tentu dibayar tepat waktu), sampai ke masalah kesehatan mental yang mengancam kapan saja jika ada senioritas dalam Program Pendidikan Dokter Spesialis atau burn out kerja, dengan rasio 0,72 dokter:1.000 penduduk, jauh di bawah standar Badan Kesehatan Dunia (WHO). Ironi bermimpi tinggi di negeri ini.
Menikah sering kali jadi solusi tidak solutif yang dipilih imbas Negara yang tidak dapat memenuhi tugasnya menyejahterakan orang-orang miskin dan mengedukasi kesehatan seksual serta reproduksi.
“Mending nikah sama aku, kan? Lebih jelas.” Di dunia Home Sweet Loan, Irfan (Akbar Indian) adalah Hansa (Wafda Saifan). Irfan tidak hanya buruk karena memandang pernikahan lebih penting bagi perempuan daripada mengejar mimpi berpendidikan tinggi dan senang menghasut sesal (guilt trip) seperti Hansa, tetapi juga mengetik dengan tata bahasa yang buruk–jika penonton menilik ke bagaimana caranya mengetik dalam aplikasi berpesan.
Di luar dinamika hubungan romantis antara Irfan dan Alin, saya cukup menikmati dinamika ibu-anak yang dibangun. Sha Ine, yang pernah juga bermain peran sebagai Ibu Prani dalam Budi Pekerti, jelas pintar dalam memainkan raut wajah sedih, terpuruk, dan sakit. Wulan yang terus merangkul orang-orang di sekitarnya, berbicara penuh rasa, dan memastikan kebutuhan anak-anaknya terpenuhi mampu menggambarkan pengorbanan yang sudah ia lakukan sejak menikah dengan Tio.
“Ibu kenapa nikah sama Ayah?”
“Kalau nggak nikah sama Ayah, nggak ada kamu, Sayang. Ayah kamu bukan orang jahat. Cuma orang yang kalah.”
Baca juga: ‘Adolescence’ Menguak Betapa Sedikit yang Kita Tahu tentang Dunia Anak Laki-Laki
“Hidup ribuan kali, ibu akan lakukan lagi.” Penggalan ucapan yang bisa didengar dalam Sore: Istri dari Masa Depan (2025) dan Everything Everywhere All At Once (2022), yang harapannya tidak berlebihan digunakan dalam film populer agar maknanya tak hilang akibat ke-cliche-an.
Selain itu, apresiasi juga untuk Alin yang berhasil membuat monolog di bagian terakhir film yang sempurna. Tudingan berkali-kali: “Andai Ibu tidak menikah dengan Ayah …” merasuk ke dalam pikiran, serta-merta menumbuhkan rasa benci kepada Tio dan seluruh ayah yang destruktif, dan menggeliat menjadi air mata serta tubuh yang rindu pelukan Ibu. Adegan-adegan tambahan hidup Wulan, dengan atau tanpa kehadiran Tio, juga berhasil membangun dunia cerita itu sendiri. Kita pun diajak refleksi bahwa kekerasan dalam rumah tangga pun dapat berupa penelantaran ekonomi dan emosional.
Walau begitu, saya merasa film ini punya beberapa kekurangan: Penggambaran dinamika antarsaudara untuk sampai ke rangkaian adegan berkonflik masih kurang untuk membangun pergesekan, karakter kawan Queer tambahan yang hanya muncul sekian detik tanpa plot bermakna, dan sequence romantis ala Dilan (1990) yang hanya semakin menambah lobang plot dalam film.
Pertanyaan pun muncul: Mengapa Alin tidak tahu sifat ayahnya? Mengapa rambut ibunya rontok tanpa kemoterapi? Apakah tokoh dokter harus sangat terlibat sebenarnya hanyalah usaha untuk menambal plot yang bolong?
Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah memiliki pesan yang terus terang, dengan karakter ibu dan anak perempuan yang matang. Kamu dapat menikmati plot tanpa harus berpikir penuh analisis karena segala deskripsi muncul secara eksplisit dan kehidupan rumah tangga yang relevan dengan sehari-hari. Apakah akhir film memberikan harapan atau malahan membawa pesan yang depresif? Menurut saya, jawabannya adalah judul film ini sendiri.
(Editor: Nurul Nur Azizah)
(Sumber Foto: IMDb)






