Cuplikan teater dramatisasi 'Bukan Perawan Maria' (sumber foto: Instagram @ketemu.di.seni)

Bukan Perawan Maria, Panggung yang Menolak Objektifikasi Tubuh Perempuan

Dramatisasi sastra ‘Bukan Perawan Maria’ yang diadaptasi dari karya Feby Indirani hadir sebagai cermin sosial. Dia menggugat cara patriarki memandang tubuh hingga keimanan perempuan. Betapa selama ini, tubuh perempuan dijadikan medan kontrol yang menuntut perempuan untuk patuh dan diam.

Malam itu, ruang pertunjukan terasa lebih sunyi dari biasanya. Bukan karena penontonnya yang sedikit, tapi karena setiap orang seolah sedang diminta menurunkan suara batinnya sendiri. 

Dramatisasi sastra Bukan Perawan Maria hadir bukan sebagai hiburan, tetapi sebagai pengalaman yang menuntut kehadiran penuh. Ia mengajak kita duduk secara dekat, dengan cerita tentang tubuh perempuan, iman, dan kuasa yang selama ini bekerja tanpa banyak dipertanyakan.

Sebuah pertunjukkan adaptasi dari karya Feby Indirani yang dihelat di pada 12 Desember 2025 di Jakarta ini, bergerak pelan namun tegas. Tidak ada ambisi untuk memukau lewat spektakel. Kata-kata diucapkan dengan ritme yang memberi ruang bagi makna untuk menetap. 

Setiap dialog terasa seperti sedang menolak tergesa-gesa dunia luar yang gemar menyederhanakan persoalan perempuan menjadi hitam dan putih. Di sini, cerita dibiarkan bernapas, dan penonton dipaksa ikut bernapas bersamanya.

Nama Maria membawa beban sejarah yang panjang dan politis. Ia bukan sekadar nama, tetapi simbol kesucian yang berulang kali dipakai untuk mengontrol tubuh perempuan. Dalam pertunjukan ini, simbol itu dibongkar. Maria tidak dihadirkan sebagai figur suci yang harus dijaga, juga bukan perempuan yang perlu diselamatkan. Ia hadir sebagai subjek yang sadar akan tubuh dan pilihannya, sekaligus sadar akan risiko sosial dari kesadaran itu.

Baca Juga: Natal Bukan Hanya Cerita Tentang Yesus, Tapi Juga Tentang Maria Yang Feminis

Penolakan Maria terhadap stigma bukan penolakan yang meledak-ledak. Ia hadir dalam sikap, dalam cara ia berdiri, dalam keberaniannya untuk tidak meminta maaf atas hidupnya sendiri. Di titik ini, panggung menjadi ruang politik yang sunyi namun tajam. Ia memperlihatkan bagaimana kuasa bekerja melalui bahasa moral, tafsir agama, dan standar kesucian yang selalu dibebankan lebih berat pada tubuh perempuan.

Pertunjukan ini mengingatkan bahwa pengendalian tubuh perempuan jarang hadir sebagai kekerasan yang kasat mata. Ia sering menyusup lewat nasihat, norma, dan klaim kebaikan. Dengan menghadirkan Maria yang menolak tunduk, Bukan Perawan Maria secara halus namun konsisten menggugat logika tersebut. Ia mempertanyakan mengapa kesucian harus diukur dari tubuh, bukan dari kejujuran hidup dan pengalaman manusia.

Ruang pertunjukan yang kecil membuat jarak antara pemain dan penonton nyaris hilang. Setiap napas terdengar. Setiap jeda terasa canggung sekaligus intim. Kedekatan ini bukan sekadar pilihan artistik, melainkan sikap politik. Cerita tentang tubuh dan iman tidak mungkin disampaikan dari jarak aman. Ia menuntut keterlibatan, bahkan ketidaknyamanan.

Ego Heriyanto dan Vito Prasasta meracik naskah panggung yang ringkas dan tajam, tanpa menjejali panggung dengan simbol yang berisik. Pemain ditempatkan sebagai pusat pengalaman. Musik, kostum, dan pencahayaan bekerja mengikuti emosi, bukan mendominasi cerita. 

Semua elemen hadir secukupnya, seolah menegaskan bahwa yang paling penting adalah tubuh yang berbicara di atas panggung dan pengalaman yang ia bawa.

Selain Maria, tokoh-tokoh lain hadir dengan kerapuhan masing-masing. Rohman digambarkan sebagai sosok yang terus mencari surga versinya sendiri. Ia tidak diposisikan sebagai figur religius ideal, melainkan manusia yang bergulat dengan rasa bersalah, harapan, dan ketakutan akan penghakiman. Pencariannya memperlihatkan bagaimana agama seringkali menjadi medan tarik-menarik antara iman personal dan tuntutan sosial.

Baca Juga: The Last Supper, Perjamuan Terakhir Yesus dan Muridnya, Maria Cuma Tampil Sekilas

Sasmita berhadapan dengan malaikat penjaga kubur dalam adegan yang simbolik sekaligus membumi. Pertemuan ini tidak dimaknai sebagai spektakel religius, melainkan sebagai dialog batin tentang hidup, kematian, dan penilaian. 

Surga dan neraka tidak lagi terasa sebagai konsep jauh di langit, tetapi sebagai mekanisme sosial yang sudah bekerja sejak manusia masih hidup. Siapa yang layak, siapa yang salah, dan siapa yang harus menanggung rasa malu.

Melalui tokoh-tokoh ini, pertunjukan menolak gagasan bahwa iman adalah sesuatu yang tunggal dan mapan. Iman tampil sebagai wilayah yang terus dinegosiasikan, dipertanyakan, dan sering kali dipenuhi konflik. Di sinilah pertunjukan ini menjadi politis. Ia menolak tafsir tunggal yang kerap dipakai untuk membungkam pengalaman hidup yang tidak sesuai norma dominan.

Sebagai adaptasi sastra, Bukan Perawan Maria tidak terjebak pada kesetiaan literal terhadap teks. Ia setia pada semangat cerita, terutama keberpihakannya pada suara yang kerap disingkirkan. Kata-kata Feby Indirani diterjemahkan ke dalam tubuh, suara, dan cahaya, membuat sastra tidak berhenti sebagai konsumsi intelektual, tetapi hadir sebagai pengalaman sosial yang hidup.

Baca Juga: Maria, Makna Natal dari Perempuan Feminis

Teater dalam pertunjukan ini bekerja sebagai ruang perjumpaan antara ingatan personal dan realitas kolektif. Stigma terhadap tubuh perempuan, relasi kuasa dalam agama, dan moralitas yang bias gender bukan isu abstrak. Ia hadir dalam keluarga, komunitas, kebijakan, dan cara masyarakat menentukan siapa yang pantas dihormati. Dengan menampilkannya di panggung, isu-isu ini dipaksa untuk dihadapi secara langsung.

Dari perspektif feminis, Bukan Perawan Maria adalah upaya merebut kembali hak perempuan atas cerita mereka sendiri (Her Story). Perempuan tidak lagi diposisikan sebagai objek moral atau simbol kesucian, melainkan sebagai subjek penuh yang berhak menentukan makna hidup dan tubuhnya. Pertunjukan ini menolak dikotomi sederhana antara suci dan kotor, benar dan salah, yang selama ini dipakai untuk mengontrol perempuan.

Wilayah abu-abu yang dihadirkan pertunjukan ini justru menjadi ruang paling jujur bagi pengalaman perempuan. Di sana, pilihan tidak selalu ideal menurut norma sosial, tetapi selalu berangkat dari upaya bertahan dan mencari makna. Dengan menghadirkan wilayah ini di atas panggung, pertunjukan menantang penonton untuk merefleksikan posisi mereka sendiri dalam sistem yang sering kali tidak adil.

Baca Juga: Edisi Khusus Perempuan Muda dan Keberagaman: Suster Mariati, Biarawati Perawat Toleransi Agama

Panggung menjadi ruang aman untuk merasakan kebingungan, kemarahan, sekaligus rasa empati. Ia tidak menawarkan resolusi cepat atau pesan moral yang rapi. Dalam konteks sosial yang masih gemar mengontrol tubuh dan iman perempuan, ketidakteraturan ini justru menjadi kekuatannya. Seni dihadirkan sebagai alat perlawanan yang lembut, namun tidak kompromistis.

Ketika lampu padam dan pertunjukan usai, penonton tidak dipulangkan dengan jawaban, melainkan dengan pertanyaan. Pertanyaan tentang siapa yang berhak menilai tubuh perempuan. Tentang iman siapa yang dianggap sah. Tentang berapa banyak suara yang selama ini kita abaikan karena terlalu tidak nyaman untuk didengar.

Bukan Perawan Maria tidak meminta persetujuan. Ia hanya meminta kesediaan untuk mendengar. Mendengar cerita yang kerap disenyapkan, dan mengakui bahwa mendengar dengan sungguh-sungguh adalah langkah politik pertama untuk berhenti menghakimi.

Pertunjukan ini juga membuka ruang refleksi tentang bagaimana seni kerap diposisikan sebagai sesuatu yang netral, padahal ia selalu lahir dari konteks sosial dan politik tertentu. Bukan Perawan Maria dengan jujur menunjukkan bahwa memilih untuk tidak netral adalah sikap yang sah, bahkan perlu. Dalam masyarakat yang masih menganggap pembicaraan tentang tubuh perempuan sebagai sesuatu yang tabu atau mengganggu ketertiban moral, menghadirkan cerita seperti ini di panggung adalah tindakan yang berisiko sekaligus penting.

Risiko itu terasa dalam cara pertunjukan ini tidak berusaha melunakkan pesan. Tidak ada upaya untuk membuat cerita ini lebih mudah diterima oleh selera mayoritas. Maria tidak dipoles agar tampak lebih patuh. Konflik tidak diselesaikan dengan kompromi yang menenangkan. Justru ketegangan dibiarkan menggantung, seolah mengingatkan bahwa dalam kehidupan nyata, perempuan sering kali harus hidup berdampingan dengan stigma tanpa pernah benar-benar diberi kesempatan untuk menyelesaikannya.

Baca Juga: 5 Hal Yang Perlu Kamu Tahu Tentang Maria Ibu Yesus dan Paskah

Di titik ini, teater bekerja sebagai arsip emosional. Ia menyimpan pengalaman-pengalaman yang sering dihapus dari narasi resmi tentang iman dan moralitas. Pengalaman perempuan yang dianggap terlalu berisik, terlalu berani, atau terlalu berbeda. Dengan memanggungkannya, pertunjukan ini menolak lupa. Ia menolak anggapan bahwa pengalaman tersebut tidak layak dicatat atau diwariskan.

Kehadiran penonton di ruang yang intim juga menjadi bagian dari politik pertunjukan. Duduk begitu dekat dengan cerita membuat kita tidak sekadar menjadi pengamat pasif. Tatapan pemain yang sesekali beradu dengan mata penonton menciptakan rasa ikut terlibat, bahkan ikut bertanggung jawab. Kita tidak hanya menyaksikan cerita tentang penghakiman, tetapi juga dihadapkan pada kemungkinan bahwa kita pernah, atau sedang, menjadi bagian dari mekanisme penghakiman itu sendiri.

Dalam konteks ini, Bukan Perawan Maria bekerja sebagai cermin sosial. Ia memantulkan kembali cara kita memandang tubuh perempuan, iman, dan kebenaran. Apakah kita benar-benar memberi ruang bagi perbedaan pengalaman, atau hanya menerima cerita yang sesuai dengan kenyamanan kita. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak diucapkan secara eksplisit, tetapi hadir dalam keheningan yang tercipta di antara dialog dan jeda.

Penting juga untuk mencatat bagaimana pertunjukan ini tidak memposisikan perempuan sebagai korban pasif. Meskipun luka dan tekanan sosial hadir begitu nyata, perempuan dalam cerita ini tetap digambarkan sebagai subjek yang berpikir, memilih, dan melawan dengan caranya sendiri. 

Perlawanan itu tidak selalu heroik atau spektakuler. Ia hadir dalam keputusan kecil, dalam keberanian untuk berkata tidak, dan dalam kesediaan untuk tetap hidup meski harus menanggung konsekuensi sosial.

Baca Juga: Penutupan Paksa Patung Bunda Maria: Tindakan Intoleransi 

Pendekatan ini menolak narasi populer yang sering mereduksi perjuangan perempuan menjadi kisah penderitaan semata. Bukan Perawan Maria justru menunjukkan kompleksitas pengalaman perempuan yang tidak bisa disederhanakan. Ada amarah, ada lelah, ada keraguan, tetapi juga ada daya tahan yang tumbuh dari kesadaran diri.

Dalam lanskap sosial yang masih sering menyalahkan perempuan atas tubuh dan pilihannya, pertunjukan ini menjadi pengingat bahwa masalahnya bukan pada perempuan, melainkan pada sistem nilai yang timpang. Sistem yang menjadikan tubuh perempuan sebagai medan kontrol, sekaligus menuntut mereka untuk tetap patuh dan diam. Dengan mengangkat isu ini ke panggung, pertunjukan ini ikut menantang penonton untuk mempertanyakan sistem tersebut, bukan sekadar menilai individu di dalamnya.

Ketika pertunjukan berakhir, keheningan yang tersisa di ruang tidak langsung pecah oleh tepuk tangan. Ada jeda singkat, seolah penonton membutuhkan waktu untuk kembali ke tubuh mereka sendiri. Jeda itu penting. Ia menandai bahwa apa yang baru saja disaksikan bukan sesuatu yang bisa langsung dilepaskan begitu saja.

Pulang dari Bukan Perawan Maria berarti membawa pulang ingatan tentang cerita-cerita yang selama ini jarang diberi ruang. Ingatan tentang perempuan yang berani menolak definisi kesucian yang sempit. Tentang iman yang lebih manusiawi, penuh tanya, dan tidak selalu rapi. Ingatan tentang seni yang memilih berpihak, meski harus berhadapan dengan ketidaknyamanan.

Dalam situasi sosial yang masih gemar meredam suara-suara kritis, keberanian untuk terus menghadirkan cerita seperti ini menjadi sangat berarti. Ia mengingatkan bahwa panggung bisa menjadi ruang politik yang sunyi namun efektif. Ruang di mana tubuh perempuan tidak lagi sekadar simbol, tetapi hadir sebagai subjek yang hidup, berbicara, dan menuntut untuk didengar.

Baca Juga: Maria dan Makna Natal Perempuan Feminis

Dengan cara itu, Bukan Perawan Maria tidak hanya berhenti sebagai pertunjukan teater atau adaptasi sastra. Ia menjelma menjadi peristiwa sosial. Sebuah perjumpaan yang mengajak kita untuk meninjau ulang keyakinan, prasangka, dan posisi kita sendiri. Dan mungkin, dalam proses meninjau ulang itu, kita sedang belajar untuk bersikap lebih adil pada tubuh dan cerita perempuan.

(Editor: Nurul Nur Azizah)

(sumber foto: Instagram @ketemu.di.seni)

Rayfahd Haykal

Reporter magang Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!