Namaku Mirna, orang bilang aku generasi milenial. Aku lahir 32 tahun yang lalu di Dukuh Watugajah, Kelurahan Girijati. Wilayah ini bagian dari Kecamatan Purwosari, Gunungkidul, Yogyakarta.
Aku tumbuh besar dalam keluaga petani, kedua orang tuaku sehari-hari mengolah sawah.
Seperti biasa pagi itu aku memulai aktivitas dengan membereskan pekerjaan rumah. Tak berselang lama suara riuh terdengar dari depan rumah. Rasa penasaran mendorongku mencari tahu apa yang terjadi, saat tiba-tiba ibu memanggil dari luar.

“Nduk, mbok metuo entuk undangan KWT, jare mengko awan kon melu pertemuan. (Nak, cepat keluar ini ada undangan KWT, katanya nanti siang kamu disuruh ikut pertemuan),” ucap ibu.
“Hah, temenan buk. (Hah, serius bu)?“ jawabku.
KWT adalah singkatan dari Kelompok Wanita Tani, yakni perkumpulan yang beranggotakan para perempuan, lebih tepatnya ibu-ibu yang aktif dalam kegiatan pertanian. Di desaku namanya KWT Melati.
KWT Melati Watugajah dipimpin oleh ibu Warsilah yang juga tetanggaku. Selama ini ia mengajarkan banyak hal kepadaku. Sampai saat ini anggota KWT Melati ada sekitar 16 orang.
Aku diundang untuk pertama kalinya mengikuti kegiatan yang mereka selenggarakan. Saat aku datang ke pertemuan tersebut, ternyata mereka sedang mengadakan pelatihan menanam bibit cabai dan terong.
Setelah pelatihan tersebut, satu hari terbesit ide, aku ingin belajar menanam. Aku menyebutnya belajar menanam dan bukan bertani karena aku baru belajar. Aku tertarik belajar menanam karena terkesan dengan kegiatan di KWT dan ingin mempraktikkannya.

Baca juga: ‘Kalau Sering Hujan, Panen Kopi Berkurang’, Perempuan Petani Kopi Beradaptasi Hadapi Krisis Iklim
Meski kedua orang tuaku petani, tapi aku memang belum pernah menanam sendiri dari dulu. Aku hanya mengamati saja saat bapak dan ibu bekerja di sawah. Jadi sekarang aku ingin mencobanya.
Setelah bergabung di KWT, aku mempelajari banyak hal, mulai dari jenis dan macam pupuk dan benih hingga cara menanam. Sebagai orang yang baru belajar soal pertanian, menurutku ternyata itu semua mudah dilakukan.
Dari kegiatan-kegiatan yang kuikuti di KWT, aku bisa melihat dan belajar secara langsung lewat praktik menanam, memupuk dan membuat pupuk kompos sendiri.

Dengan berbagai pengalaman tersebut, aku mencoba memberanikan diri untuk menanam. Saat itu yang terlintas di kepalaku adalah menanam cabai. Aku tertarik setelah melihat keberhasilan beberapa anggota KWT Melati.
Aku lalu mulai mencari bibit cabai dan menyiapkan lahan di sebagian sawah milik orang tua. Karena baru mulai belajar, jadi aku tidak sendiri, melainkan dibantu bude. Bude adalah panggilan untuk kakak perempuan ibuku. Ia bernama Iyem.
Kami mulai mencangkul, memalir tanah agar bisa dialiri air di sekitar tanaman. Untuk bibitnya aku membeli bibit yang sudah berumur 7-10 hari, jadi saat ditanam akan lebih mudah karena sudah sedikit besar.
Bude tampak cekatan dan menanam lebih cepat dariku, tentu saja karena ia lebih berpengalaman dibanding aku. Saat bude mengajariku, kuamati dengan cermat kenapa sepertinya sangat mudah baginya memindahkan bibit ke lahan.
Sementara aku merasa menanam bibit cabai tidaklah mudah. Sering kali bibit yang kutanam miring dan patah, “Duh, bibitku patah lagi,” gumamku.
Baca juga: Sudah Lansia dan Tak Bisa Ke Sawah, Perempuan Petani Tanam Rumput di Rumah
Hari pertama terlewati, kegagalanku kemarin jelas tidak ingin kuulang. Kucoba lagi esoknya hingga akhirnya aku bisa walau akhirnya, “Bentuknya aneh, tanamannya miring” kataku.
Bude bilang, “Mir, iki kurang ditumpuk lemahe mengko nek disiram mesti ambruk. (Mir, ini kurang tumpukan tanahnya, nanti kalau disiram pasti ambruk).”
“Hm, oke bude,” jawabku sambil kuikuti instruksi bude. Aku lanjut menanam hingga akhirnya hari itu terlewati. Selesai sudah semua bibit ditanam.
Tak terasa waktu sudah berjalan dua minggu. Bibit yang kutanam 14 hari yang lalu sudah mulai tumbuh besar. Daun yang awalnya hanya 3 sampai 4 helai, sekarang sudah sangat banyak dan pohonnya pun sudah tinggi.
Kusiram tanamanku setiap hari. Kupupuk sendiri walau awalnya aku risih untuk memegang pupuk dari kotoran sapi tersebut. Hingga bude bertanya, “Lho ngopo jiting-jting demoke? (Kenapa jijik gitu pegangnya?“ Aku cuma tertawa tapi tetap kulanjutkan.
Aku memakai pupuk kandang karena lebih ekonomis dan juga lebih aman untuk kesuburan tanah. Selain itu pupuk kendang juga membuat pertumbuhan tanaman jadi lebih cepat.
Hari-hari berikutnya aktivitasku diisi dengan kesibukan mengolah sawah dan merawat tanaman cabai. Kegiatan mengolah tanah, menanam, menyiram, hingga memberi pupuk ini ternyata sangat asyik.
Hingga tak terasa tanaman cabaiku sudah berumur 40 hari. Pagi itu seperti biasa aku datang ke sawah, dan betapa terkejutnya aku saat melihat tanaman-tanamanku. “Wah sudah berbunga, rasanya aku berhasil!” teriakku.

Baca juga: ‘Seribu Bayang Purnama’: Ajak Petani Muda Terapkan Metode Alami, Tapi Perempuan Petani Minim Disorot
Saat aku asyik melihat tanamanku, ada rasa bangga menyelinap di hati. Namun, tiba-tiba terdengar suara nyinyir yang membuat pikiran dan hatiku pecah serta marah. Seorang perempuan setengah baya yang baru pulang dari sawahnya lewat dan berkata dengan enteng, “Cah enom kok tani neng sawah nduk. (Anak muda kok bertani di sawah nak?)”
Aku merasa agak risih tapi sudahlah aku enjoy dan senang dengan aktivitasku sekarang. Menanam menurutku untuk saat ini bisa jadi semangat. Aku merasakan kepuasan saat tanamanku mulai tumbuh, berbunga bahkan sampai berbuah. Aku merasa ternyata aku bisa sampai sejauh ini.
Hari demi hari kulewati dengan aktivitas baru yang mengasyikkan. Hatiku selalu membuncah melihat tanaman yang kutanam dan kurawat sampai di fase ini, apalagi ini baru pertama kalinya aku menanam.
Sampai kemudian tiba waktunya untuk panen. “It’s time,” teriakku begitu sampai di sawah. Tetapi pemandangan yang kulihat hari ini sangat berbeda. Daun-daun pohon cabaiku menguning dan rontok. Tanaman yang kurawat setiap hari itu kini daunnya berjatuhan, hampir semuanya lepas dari tangkainya.
Sontak aku sedih sekaligus bingung. “Ini kenapa?“ ratapku. Bergegas aku bertanya pada bude yang menjawab, “Lha yo banyu we angel, panase koyo ngene, yo stres uwitmu lombok, mati. (Kan air sudah susah, panasnya terik sekali pasti stres pohon cabaimu, jadi mati).”
Musim kemarau yang panjang membawa dampak besar bagi petani di desaku. Wilayah Purwosari, Gunungkidul yang berada di perbukitan kapur atau karst rentan kekurangan sumber air dan kekeringan saat musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Baca juga: Pengalamanku Belajar dari Perempuan Petani: Kerja Keras, Memastikan Persediaan Pangan
Tanaman jadi mengering bahkan bisa gagal panen. Tak banyak tanaman pangan yang bisa bertahan di musim kemarau seperti ini, bahkan jagung pun sudah tidak bisa.
Aku coba cara yang kuharap bisa membantu tanamanku. Kubeli air untuk menyiram, kupupuk dengan pupuk kandang yang ku ambil dari kandang sapi milik bapak. Tapi sudah tidak ada lagi kesempatan buat mereka tumbuh.
Sumber air yang menjadi bagian penting agar pohon cabai bisa hidup sudah mengering. Tanah pun jadi tandus, daun-daun jatuh, habis tak bersisa, hanya tinggal batang yang saling bersilang satu sama lain. Ini jadi akhir panenku di musim yang sekarang.
Aku harap musim yang akan datang bisa lebih baik dan aku akan terus dan makin bersemangat.
Ini ceritaku, yang musim ini berhasil menanam bibit cabai pertamaku, dari aku yang katanya Generasi Milenial.
Editor: Anita Dhewy
Tulisan ini merupakan kolaborasi YAKKUM Emergency Unit (YEU) dan Konde.co dalam program #Kedip atau Konde Literasi Digital Perempuan






