"Banyak orang yang anti pada keberadaan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender. Tak sedikit yang mengatakan bahwa LGBT merupakan produk budaya barat. Ternyata anggapan ini salah besar. Ari Setiawan, seniman asal Jawa Timur memetakan konstruksi budaya LGBT dalam praktik kesenian di Indonesia"

*Muhammad Rizky- www.Konde.co

Konde.co- Sejak masa kolonial, kesenian sudah digunakan sebagai media perjuangan untuk melawan penjajahan.

Di Indonesia penggunaan kesenian ini juga dilakukan sejak zaman Kolonial Belanda ketika menduduki Indonesia. Ada kesenian yang menggambarkan tentang konstruksi yang diperankan LGBT, baik dari cara berdandan maupun berpakaian. Ini artinya bahwa budaya berkesenian yang mengikutsertakan LGBT sudah ada sejak zaman Indonesia belum lahir.

Kesenian tersebut diantaranya Gandrung Lanang di Banyuwangi dan Ronggeng Bugis di Cirebon.

Di era pascakolonial, praktik lintas gender dalam budaya Indonesia mengalami kemunduran, ini diakibatkan oleh represi agama dan moral sehingga kesenian lintas gender ini menjadi tersisih bahkan didiskriminasi.

Di era modern, mulai ada film, tari, kebudayaan tentang lintas gender, walau masih ada stigma dan diskriminasi yang mengalahkan eksistensinya, seperti yang terjadi ketika adanya penarikan film “Kucumbu Tubuh Indahku” dari peredaran. Walau dalam tahap berikutnya atas perjuangan para seniman film, film “Kucumbu Tubuh Indahku” akhirnya menjadi pemenang dalam Festival Film Indonesia 2019.

Sejarah kesenian lintas gender terbukti sudah ada sejak zaman kolonial dan digunakan untuk melawan kolonialisme dan penguasaan. Ini juga menunjukkan bahwa seni lintas gender digunakan sebagai budaya perlawanan atas penindasan.

Hari Kamis, 13 Februari 2020 berlangsung diskusi tematik dengan topik ‘Keberagaman Ekspresi Gender dan Seksualitas Dalam Budaya dan Kesenian di Indonesia’ yang diadakan oleh komunitas anak muda di Surabaya, Voice of Youth.

Menghadirkan Ari Setiawan, seniman ludruk sebagai pembicara dalam diskusi tersebut, peserta diskusi mayoritas adalah anak muda yang antusias ingin mengetahui tentang jejak kesenian Indonesia.

Dipandu oleh moderator yaitu Luluk Istiarohmi, mahasiswa tingkat akhir di UIN Sunan Ampel, perhelatan ini layaknya diskusi yang dinikmati oleh peserta.

Ari mengawali dengan menjelaskan masih ada tokoh kesenian lintas gender, salah satunya adalah Didik Nini Thowok yang begitu konsisten menjadi penari lintas gender.

Ari melanjutkan dengan mengajak para peserta keliling Indonesia untuk lebih mengenal budaya sendiri.

Di Sumatera Utara, ada Namboru Nantinjo. Ia adalah seorang tokoh leluhur di suku Batak, Toba yang terlahir tidak dapat digolongkan dalam kategori laki – laki maupun perempuan. Dipercaya sampai saat ini, rohnya masih berada di sekitar keturunannya untuk membantu masyarakat sekitar mengatasi kesusahan.

Sumatera Barat juga memiliki Ronggeang Pasaman. Ronggeng Pasaman adalah penari yang merupakan anak ronggeang yang merupakan seorang laki – laki yang bersolek selayaknya perempuan.

Setelah menapaki pulau Sumatera, Ari mengajak peserta menyusuri pulau Jawa. Ronggeng Bugis di Cirebon, tarian yang begitu jenaka karena berdandan layaknya badut yang diperankan oleh laki – laki dengan ekspresi feminine terdapat disana.

Lalu ada tari Topeng di Indramayu yang diperankan oleh perempuan memainkan karakter seorang laki – laki. Tari ini berkembang ke daerah – daerah lain seperti Cirebon, Malang dan Madura.

Banyumas, Jawa Tengah juga melahirkan Lengger Lanang yang ditarikan oleh laki – laki dengan gerakan feminin sebagai hiburan rakyat.

Disana juga ada wayang Orang dan Ketoprak, tokoh Abimanyu kerap dimainkan oleh perempuan.

Pulau Madurapun juga tak kalah dengan pulau lainnya yang juga menyimpan kekayaan budaya. Sandur, penari laki – laki yang mengenakan busana yang biasanya dikenakan oleh perempuan. Ada juga, Loddrok, hampir sama dengan Ludruk dan semua pemainnya adalah laki – laki.

Sedangkan di pulau Bali ada Arja Muani yaitu opera khas Bali yang semua pemainnya adalah laki – laki. Opera khas Bali ini bersifat komedi dan diciptakan oleh Raja klungkung di akhir abad XX.

Tari Margapati atau tari Bebancihan yang dibawakan oleh perempuan dengan gerakan yang begitu maskulin dan gagah, sampai sekarang masih ada di Bali.

Di daerah lain, suku Bugis telah mengakui adanya lima jenis gender sejak sebelum agama Islam masuk. Diantaranya adalah laki – laki (oroane), perempuan (makkunrai), translaki (calabai), transpuan (calalai) dan satu gender yang dipercayai dapat menghubungkan manusia dengan penduduk langit, yaitu bissu.

Bagaimana perkembangan budaya lintas gender ini? Di era klasik terekam adanya arca dan karya sastra yang menunjukkan bahwa konsep keragaman seksualitas yang begitu gamblang. Arca Ardhanari atau Ardhanariswari merupakan lambang persatuan Dewa Syiwa dan istrinya jadi figur separuh laki – laki (nara) dan separuh perempuan (iswari).

Selanjutnya, ada Relief Candi Sukuh yang terkait dengan praktik ritus kesuburan yang menggambarkan bentuk kelamin manusia secara fulgar. Ada Serat Centhini, ensiklopedia kebudayaan Jawa yang di dalamnya ada kisah aktivitas homoseksual oleh dua tokoh yang bernama mas Cebolang dan Nurwitri.

Itulah jejak – jejak lintas gender yang telah dipaparkan oleh Ari Setiawan. Jadi, mereka yang bilang bahwa keragaman gender dan seksualitas berangkat dari budaya barat adalah tidak tepat. Mereka yang mengatakan ini, berarti tidak memahami budaya Indonesia dan identitas budaya negeri mereka sendiri.

Seharusnya mereka malu telah mengungkapkan pernyataan tersebut karena mereka menunjukkan betapa tak mengertinya mereka akan sejarah dan budaya Indonesia.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Muhammad Rizky, penulis dan aktivis gender

"Para aktivis hak asasi manusia mengecam tindakan gerombolan orang dan polisi yang mengintimidasi aktivis dan pengacara LBH APIK Jakarta. Sebagai pengacara perempuan korban kekerasan, seharusnya staff dan pengacara LBH APIK dilindungi secara hukum."

*Poedjiati Tan- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Setelah diintimidasi oleh segerombolan orang di kantornya, LBH APIK Jakarta juga didatangi secara paksa oleh polisi dari Polsek Matraman Jakarta.

Kedatangan polisi ini merupakan yang ketigakalinya, setelah sebelumnya polisi datang secara paksa pada tanggal 3, 12 Februari 2020 dan yang terakhir Jumat, 21 Februari 2020.

Pada tanggal 21 Februari 2020, polisi menyatakan datang untuk bersilaturahmi. Namun Pengacara LBH APIK, RR. Agustine SH., MH menyatakan akan tetap memproses intimidasi yang dilakukan segerombolan orang dan pembiaran, penggeledahan paksa yang dilakukan polisi.

Sebelumnya LBH APIK telah melaporkan 2 tindakan ini ke Polres Jakarta Timur dan Divisi Profesi dan Keamanan atau Propam Jakarta Timur.

“Sudah ada permintaan maaf dari pihak terlapor kepada LBH Apik Jakarta, tetapi proses hukum tetap berjalan. Kehadiran pihak kepolisian yang sudah datang secara tiba-tiba sebanyak 3 (tiga) kali, pernah melakukan penggeledahan tanpa surat-surat penggeledahan, dan membiarkan preman masuk ke perkarangan LBH Apik Jakarta telah menimbulkan dampak kerugian secara psikis bagi seluruh Pengabdi Bantuan Hukum LBH Apik. Ini juga dapat digugat secara perdata.”

Para aktivis hak asasi manusia memberikan dukungan pada langkah-langkah yang dilakukan LBH APIK karena mengintimidasi dan melakukan penggeledahan paksa ini adalah tindakan yang unprosedural dan tanpa landasan hukum.

Kuasa hukum LBH APIK, RR. Sri Agustini SH.,MH mengatakan tindakan gerombolan dan polisi ini merupakan kemunduran terhadap human right defender atau pembela hukum yang seharusnya dilindungi.

Bagaimana peristiwa intimidasi ini terjadi?


Peristiwa ini terjadi ketika segerombolan orang berjumlah lebih dari 16 orang yang mengatasnamakan sebagai Komunitas Islam Maluku pada tanggal 3 Februari 2020 tiba-tiba datang dan mengintimidasi staff LBH APIK.

Mereka menuduh LBH APIK Jakarta telah melakukan penculikan dan penyekapan terhadap seorang perempuan korban kekerasan yang berinisial DW (bukan nama sebenarnya) berusia 21 tahun.

Kejadian ini bermula ketika LBH APIK sedang mendampingi korban bernama DW, atas rujukan dari Komnas Perempuan.

Pada hari Kamis, 30 Januari 2020, sesuai dengan permohonan surat rujukan dari Komnas Perempuan tersebut diatas, DW (21 Tahun) datang ke kantor LBH APIK Jakarta untuk berkonsultasi hukum atas kasusnya. Dalam konsultasi tersebut, DW diterima oleh salah satu pengacara dan relawan LBH APIK Jakarta.

Dalam konsultasi tersebut DW menjelaskan bahwa ia sudah 1 (satu) minggu lari atau meninggalkan rumah tinggal orangtuanya karena mendapatkan kekerasan dari orangtuanya yang tidak menyetujui hubungan/relasinya dengan Bd (bukan nama sebenarnya) serta karena perbedaan pilihan keyakinan.

Dalam konseling pertama Pada hari Kamis, tanggal 30 Januari 2020 tersebut, belum ada pembahasan mengenai langkah-langkah yang akan dilakukan untuk penyelesaian masalah DW. Konseling masih berfokus pada penggalian masalah yang dihadapi oleh DW.

Pada hari Sabtu, 1 Februari 2020, DW menghubungi LBH APIK Jakarta dengan menceritakan bahwa orangtua Bd yang tinggal di daerah Matraman, didatangi oleh anggota Polsek Matraman berinisial TR yang mencari DW.

TR tidak bertemu dengan DW karena pada hari tersebut, DW dan Bd sedang berada di Cikarang. Karena TR tidak bertemu dengan DW, TR menghubungi DW via Telephone dan mengajak bertemu. DW setuju untuk bertemu TR dengan syarat bertemu hanya dengan TR (tanpa orangtua) dan bertempat di kantor LBH APIK Jakarta.

Pada hari Senin, 3 Februari 2020, sesuai dengan kesepakatan bersama antara TR dan DW, DW datang ke kantor LBH APIK pukul 11.00 WIB, sedangkan TR datang 1 jam kemudian yaitu jam 12.00 WIB. Pada saat TR diterima oleh front office LBH APIK Jakarta, sebelum bertemu DW, TR mengaku sebagai anggota Polsek Matraman, tujuan TR datang untuk bertemu dengan DW.

TR bertemu DW untuk melakukan cek langsung mengenai kasus DW. Selanjutnya, LBH APIK mempersilakan TR bertemu dengan DW di ruang konsultasi.

Dalam pertemuan tersebut DW menjelaskan bahwa dia meninggalkan rumah dan tidak ingin bertemu dengan orangtuanya karena DW sering mendapatkan kekerasan dari orangtuanya, menurut DW kekerasan semakin meningkat ketika DW berelasi dengan Bd.

Selanjutnya DW menuliskan surat berisi keinginannya terhadap orangtua yang dititipkan kepada TR.

Setelah TR meninggalkan kantor LBH APIK, salah satu staff LBH APIK meminta DW untuk pulang. DW mengikuti permintaan LBH APIK, DW meninggalkan kantor LBH APIK.

Setelah itu, TR ditemani PR mendatangi kembali kantor LBH APIK Jakarta ditemani oleh rekannya yang berinisial PR. Alasan kedatangan TR kembali ke kantor LBH APIK Jakarta adalah surat yang ditulis oleh DW tertinggal di kantor LBH APIK. Pada saat surat tersebut diberikan kepada TR, TR menolak surat tersebut.

PR dan TR langsung meminta untuk menggeledah kantor LBH APIK Jakarta dengan tuduhan menyembunyikan DW.

LBH APIK Jakarta menolak permintaan pengeledahan yang akan dilakukan oleh TR dan PR karena TR dan PR tidak dapat menunjukkan surat tugas penggeledahan sebagaimana diatur dalam Pasal 33 KUHAP mengenai Tata Cara Penggeledahan. TR dan PR mengatakan bahwa mereka diminta oleh Komandannya untuk menggeledah kantor LBH APIK Jakarta jadi tidak membawa surat tugas dan surat penggeledahan.

LBH APIK Jakarta menjelaskan kepada TR dan PR bahwa DW sudah meninggalkan kantor LBH APIK Jakarta pada jam 13.30 WIB, akan tetapi TR dan PR berkeyakinan DW masih berada di kantor LBH APIK Jakarta.

Setelah diberikan penjelasan oleh LBH APIK Jakarta bahwa DW tidak ada di kantor LBH APIK dan DW meminta pendampingan LBH APIK Jakarta jika harus bertemu dengan orangtuanya, Setelah diberi penjelasan tersebut TR dan PR meninggalkan kantor LBH APIK Jakarta.

Tidak lama kemudian, orang tua DW dan segerombolan orang yang mengaku berasal dari Komunitas Islam Maluku datang menggedor pintu dan mengatakan ingin bertemu DW.

Salah satu dari mereka mengancam akan merusak kantor LBH APIK Jakarta jika tidak mempertemukan DW.

Ayah DW berkeyakinan bahwa DW disembunyikan oleh LBH APIK, untuk itu ayah DW memaksa untuk menggeledah seluruh ruangan kantor LBH APIK Jakarta untuk mencari DW. Karena terus memaksa, LBH APIK mengijinkan dengan ditemani staff LBH APIK Jakarta dan seorang anggota kepolisan Polsek Kramatjati, ayah DW dipersilahkan untuk memeriksa setiap ruangan di LBH APIK Jakarta.

Karena adanya keributan, pihak LBH APIK Jakarta menghubungi Pak Agus dari Kepolisian Sektor (Polsek) Kramat Jati untuk mengamankan LBH APIK Jakarta.

Setelah DW tidak ditemukan di kantor LBH APIK Jakarta, ayah DW keluar dari kantor LBH APIK Jakarta jam 16.00 WIB dan menemui gerombolan orang yang masih menunggu di depan kantor LBH APIK Jakarta.

Pihak LBH APIK menunggu sekitar satu jam sampai gerombolan orang tersebut pergi, tapi ternyata mereka belum pergi hingga jam 17.00 WIB. Setelah berdiskusi dengan Pak Agus dari Polsek Kramat Jati, Pak Agus menghimbau semua orang/ staff LBH APIK Jakarta sehingga gerombolan tersebut melihat kantor LBH APIK Jakarta tutup.

Ketika seluruh staff LBH APIK pulang, gerombolan yang berkumpul di halaman kantor LBH APIK pada akhirnya bubar.

Penggeledahan Paksa Polisi

Penggeledahan paksa yang dilakukan anggota Polsek Matraman adalah karena laporan dari orangtua DW yang menganggap bahwa LBH APIK Jakarta melakukan penculikan dan penyekapan terhadap anaknya dilakukan tidak sesuai dengan Tata Cara Penggeledahan yang diatur dalam Pasal 33 KUHAP karena anggota polisi yang mengaku dari polsek Matraman tersebut tidak dapat menunjukan surat penggeledahan dan identitas sebagai anggota kepolisian.

Selain itu pengaduan yang menyatakan LBH APIK sebagai lembaga yang melakukan penyekapan sepenuhnya salah, karena LBH APIK bukanlah individu yang membawa pergi seseorang untuk melawan hukum, bahwa mitra datang ke LBH APIK Jakarta dengan kesadaran dan kebutuhan akan perlindungan hukum dirinya pribadi sehingga tidak dapat dikenakan Pasal 328 KUHP tentang Penculikan dan Penyekapan.

LBH APIK juga mendatangi Divisi Profesi dan Keamanan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Propam Polres Jakarta Timur) untuk melaporkan 4 anggota kepolisian Polsek Matraman dengan kasus mal administratif dan pembiaran terhadap tindakan penggerebekan, intimidasi dan penggeledahan paksa yang dialami oleh LBH APIK Jakarta.
Tuntutan LBH APIK

Atas peristiwa ini, pengacara LBH APIK dalam pernyataan persnya mendesak pihak Polres Jakarta Timur untuk tetap melanjutkan proses hukum atas pelaporan pada Propam secara profesional dan independen.

Kemudian meminta Polda Metro Jaya untuk melakukan pengawasan terhadap proses hukum yang dilakukan Polres Jakarta Timur.

Dan meminta Komnas HAM untuk melakukan perlindungan hukum kepada Pembela HAM, khususnya Perempuan Pembela HAM.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Poedjiati Tan,
psikolog, aktivis perempuan dan manager sosial media www.Konde.co. Pernah menjadi representative ILGA ASIA dan ILGA World Board. Penulis buku “Mengenal Perbedaan Orientasi Seksual Remaja Putri.”

Rumah tempat kami mengontrak tiba-tiba terkena banjir, air masuk dengan cepat ke dalam rumah dan kami hanya bisa duduk menunggu di lantai 2 rumah yang kami tinggali selama ini. Cerita ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya dan beberapa kawan perempuan saat menghadapi banjir.

*Tika Adriana- www.Konde.co

Konde.co- Malam itu, 31 Desember 2019, saya memilih untuk tak pergi ke mana pun, meski beberapa teman mengajak saya gabung dalam hiruk-pikuk pergantian tahun. Namun, saya tetap pilih mengistirahatkan badan sembari asyik masyuk membaca. Toh juga saya melihat cuaca malam itu kurang bersahabat. Ketimbang nekat jadi basah?

Tahun resmi berganti, suara kembang api makin memudar, berganti dengan derap hujan yang kian deras, dan saya tertidur.

Sekitar pukul 05.00, saya terbangun karena atap kamar bocor. Tak bisa kembali tidur, saya pun melongok ke luar. Air rupanya sudah meninggi dan kian meninggi. Listrik padam dan air pun hanya tersisa di tandon.

Saat hendak mandi, saya pun teringat bahwa saya sedang menstruasi. Dan betapa repotnya datang bulan di waktu banjir. Saya sedikit beruntung tinggal di lantai dua. Yah, meski saya harus hemat-hemat air untuk mencuci. Apalagi di kala malam. Tidak ada penerangan, tapi pembalut sudah waktunya diganti.

Esok harinya, setelah banjir surut, air kembali mengalir, dan listrik sudah menyala, saya membasuh seluruh badan saya lebih lama dari biasanya. Bukan itu saja, sorenya saya bergegas ke supermarket, membeli beberapa kebutuhan yang harus selalu ada: air galon dan pembalut. Ya, saya harus membeli galon lagi untuk persediaan air bersih kalau banjir datang lagi.

Bukan itu saja, saat musim hujan ini, saya selalu sedia pembalut dan beberapa helai pakaian di tas, payung, dan jas hujan. Saya juga semakin jarang memakai sepatu dan memilih sepatu sandal gunung ketika bepergian, termasuk saat ke kantor. Ribet? Tentu saja, tas saya jadi semakin berat, tapi setidaknya, saya tak pusing kalau bencana yang terjadi karena kerusakan alam itu datang lagi dan memaksa saya untuk mengungsi.

Itu baru menstruasi. Lantas apa persiapan yang harus dilakukan jika Anda adalah perempuan hamil atau menyusui?

Perempuan Hamil Dikala Banjir

Seorang kolega yang istrinya sedang hamil bercerita pada saya. Di musim hujan begini, istrinya jarang sekali pulang ke rumah dan memilih tinggal di rumah saudaranya yang lebih aman dari banjir.

Namun, jika Anda dan partner anda tak dekat dengan siapa pun, ada baiknya kalian berdua bertanya pada dokter atau penyedia layanan kesehatan kehamilan untuk mendapatkan perawatan pranatal atau melahirkan bayi yang terdekat dengan kantor, tempat tinggal, atau jika dokter itu terpaksa tutup.

“Jika sudah dekat dengan hari kelahiran anda, konsultasikan dengan penyedia layanan kesehatan anda tentang apa yang harus dilakukan jika terjadi keadaan darurat. Anda pun harus menyampaikan pada badan manajemen darurat terdekat untuk mencari tahu cara mendapatkan peringatan darurat,” begitu pesan Center for Disease Control and Prevention (https://www.cdc.gov/reproductivehealth/features/disaster-planning-parents/index.html) dalam situs resmi mereka.

Sebaiknya anda dan partner anda juga selalu menyediakan persediaan makanan dan minuman, setidaknya untuk tiga hari, obat-obatan, perlengkapan bayi dan keamanan, peralatan komunikasi, dokumen, dan nomor kontak darurat.

Nomor kontak darurat itu bermanfaat untuk mencari pertolongan ketika bencana datang, sehingga perempuan hamil bisa segera diungsikan ke tempat yang aman dan mendapatkan pemeriksaan medis.

Lindungi juga diri anda atau perempuan hamil di sekitar anda. Jangan lupa untuk selalu mencuci tangan agar terhindar dari infeksi. Hindari tempat berjamur atau kotor. Kembalilah ke rumah saat tempat tinggal anda sudah dalam keadaan bersih.

Agar terhindar dari stres fisik, perbanyak minum air putih. Bicaralah dengan penyedia layanan kesehatan atau konseling psikologi, teman, atau anggota keluarga untuk mengatasi stres emosional. Bagi orang di sekitar perempuan hamil, selalu perhatikan kondisi emosional mereka dan jadilah pendengar untuk membantu mereka terhindar dari stres.

Bayi dan Perempuan Menyusui Saat Banjir

Persiapan memang diperlukan kapan saja, karena bencana memang tak bisa ditebak datangnya. Seperti yang terjadi pada pergantian tahun lalu, BMKG tak bisa menebak curah hujan yang begitu tinggi. Pergantian musim juga makin tak menentu.

Jika anda merupakan perempuan menyusui, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter mengenai perlengkapan darurat yang harus disiapkan, termasuk lokasi dokter atau pelayanan kesehatan terdekat.

Yang perlu anda perhatikan yakni asupan gizi anda dan makanan bayi dan boks portabel. Jika diperlukan, bawa serta obat-obatan yang telah diresepkan dokter. Jangan lupa, anda juga harus memperhatikan persediaan air bersih untuk mencuci botol susu. Jika memungkinkan, anda bisa menyediakan wadah penyimpan ASI portabel, meski kapasitasnya tentu tak sebesar lemari pendingin ASI.

Jaga kondisi psikologis perempuan menyusui, agar tidak mudah stres. Jadilah pendengar yang baik bagi mereka untuk berbagi untuk mendukung kelancaran ASI.

Seperti dikutip dari Nidirect Goverment Service (https://www.nidirect.gov.uk/articles/keeping-children-safe-during-flood), hindari untuk mengajak bayi pulang saat kondisi rumah belum benar-benar bersih, termasuk mencuci pakaian dan kasur yang terendam banjir. Singkirkan barang berbahaya dari rumah anda dan jangan biarkan sang buah hati bermain di luar jangkauan.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Tika Adriana, jurnalis perempuan yang sedang berjuang. Saat ini managing editor Konde.co

Di sejumlah komentar dan diskusi di sosial media, penolakan terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketahanan Keluarga ramai diperbincangkan. Para aktivis perempuan menolak pasal-pasal yang mendomestifikasi perempuan seperti ibu tugasnya mengurus rumah, suami dan anak. Dan jika kamu tak rajin beribadah, pemerintah akan mengawasimu. Jika RUU ini disahkan, maka ini akan menjadi sebuah kemunduran bagi Indonesia.

*Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketahanan Keluarga merupakan RUU yang tiba-tiba muncul di akhir tahun 2019.

Munculnya RUU yang menjadi salah satu prioritas di DPR ini harus dicermati karena punya makna politis, muncul secara tiba-tiba dan langsung masuk menjadi RUU prioritas di DPR.

Padahal RUU lainnya membutuhkan waktu yang panjang untuk menjadi RUU prioritas pembahasan di DPR.

RUU Ketahanan Keluarga ini intinya meminta pemerintah untuk mengurusi semua urusan keluarga. Seperti hal-hal yang sangat personal nantinya akan diurus oleh pemerintah, misalnya bagaimana hubungan ibu dan anak, ayah dan anak, agama keluarga, semua akan diurus oleh pemerintah.

Kata “Agama” dan ‘Keluarga” adalah kata terbanyak dalam RUU ini. Misalnya disebutkan: orangtua dan anak yang baik adalah orangtua dan anak yang beragama dan beraklak mulia. Intinya RUU ini dibuat untuk mengurus agar semua keluarga di Indonesia rajin beribadah, jika tidak rajin beribadah, maka pemerintah akan turut campur tangan dalam keluarga kamu.

Yang paling banyak menuai protes adalah, dalam RUU dituliskan bahwa tugas istri adalah mengurus rumah tangga, mengurus suami dan anak. Para aktivis perempuan menyatakan bahwa ini merupakan bentuk kemunduran luar biasa bagi perempuan Indonesia.

Apa saja isi RUU Ketahanan Keluarga dan mengapa banyak pihak yang menolaknya?

1. Keluarga Adalah Urusan Pemerintah

Intinya RUU ini meminta pemerintah untuk mengurus semua urusan keluarga. Pemerintah harus mengurus urusan keluarga termasuk menyediakan konsultan khusus keluarga jika keluarga tersebut dianggap bermasalah atau sedang dalam krisis.

Seperti apa keluarga yang terkena krisis? RUU menyebutkan, keluarga yang terkena krisis adalah keluarga yang tidak taat beribadah.

Yang lain disebut krisis ketika ada anggota keluarga yang bekerja ke luar negeri. Jadi, jika keluarga kamu ada yang bekerja di luar negeri, maka keluarga kamu dianggap sebagai keluarga yang sedang mengalami krisis. Jika mengalami krisis, maka pemerintah wajib untuk turun tangan menyelesaikan persoalan keluargamu.

Disebutkan juga di pasal lainnya tentang keluarga yang krisis adalah keluarga yang dianggap melakukan penyimpangan seksual. Jadi nanti jika ada Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender di Indonesia, maka ia harus mendapatkan perawatan karena RUU ini menyebutkan bahwa LGBT harus dirawat dan diawasi oleh lembaga rehabilitasi yang ditunjuk pemerintah.

2. Dibentuk Badan Ketahanan Keluarga yang Memantau Keluargamu

RUU meminta pemerintah untuk membentuk badan ketahanan keluarga untuk memantau keluarga-keluarga di Indonesia dan melaporkan apa yang terjadi di keluarga di Indonesia. Jadi siap-siap saja keluarga-keluarga di Indonesia akan dipantau oleh pemerintah melalui badan ketahanan keluarga

Dalam pasal 70 juga tertulis, bahwa jika ada keluarga yang bermasalah, maka ia akan dibimbing oleh konsultan keluarga yang dipilih oleh pemerintah. Konsultan ini harus lulus melalui uji kompetensi

3. Pemerintah Memfasilitasi Bimbingan Keagamaan Keluarga

Kata “agama” sepertinya menjadi kata kedua yang paling banyak dalam tulisan di RUU ini. Dalam RUU dituliskan bahwa semua orang harus taat beribadah. Untuk taat atau tidak taat ini, kita akan dipantau pemerintah. Jika tidak taat, maka pemerintah akan memfasiltasi bimbingan keagamaan keluarga.

Padahal pilihan kita atas agama dan keyakinan juga beribadah, adalah pilihan personal, mengapa pemerintah harus mengurus apakah kita sudah beribadah atau belum?

4. Menikah Harus Mendapatkan Pendampingan Perkawinan

Jika kamu akan menikah, kamu harus mendapatkan bimbingan dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah. Pemerintah harus mengetahui rencana perkawinanmu.

5. Kewajiban Istri Mengatur Urusan Rumah Tangga

Sebagaimana tertulis dalam pasal 25, kewajiban istri adalah mengatur rumah tangga sebaik-baiknya. Padahal rumah tangga adalah urusan seluruh anggota keluarga, tidak semua dibebankan ke istri.

Bagaimana jika istri bekerja di kantor, apakah semua tanggungjawab harus dilakukan oleh istri saja? Ini sebuah kemunduran di era sekarang

6. RUU Mengatur Soal Keturunan dan Cara Mendapatkan Keturunan


Dalam pasal 26, untuk memperoleh keturunan, RUU menyatakan diperbolehkan untuk menggunakan teknologi, namun ini harus merupakan langkah terakhir dan harus dibuktikan dengan bukti medis. Jika melanggar, maka akan dikenai denda sebanyak Rp. 500 juta

Dalam pasal 31, tertulis bahwa donor ovum atau sperma yang akan mendonorkan pada orang lain yang ingin memperoleh keturunan dilarang, jika melanggar akan dikenai denda Rp. 500 juta

7. Donor ASI: Harus Dibuktikan dengan Identitas Agamamu dan Diurus Pemerintah


Jika kamu mau mendonorkan Air Susu Ibu (ASI), harus ada bukti tertulis untuk memastikan identitas agamamu dan terlebih dahulu harus mendapatkan sertifikat sepersusuan yang dibuat oleh unit donor ASI yang dibentuk pemerintah. Ini seperti yang tertulis dalam pasal 100.

Jadi jika ada teman atau orang lain yang membutuhkan ASI, maka pendonornya harus memberikan identitas agama dan mendaftarkan terlebih dahulu ke unit donor ASI yang dibentuk oleh pemerintah

Pasal-pasal inilah yang menimbulkan kontroversi dan mendapatkan banyak penolakan. Jika RUU ini diundangkan, maka ini adalah sebuah kemunduran bagi masyarakat di Indonesia, bagi perempuan dan kemunduran bagi pemerintah Indonesia.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Luviana,
setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar ilmu komunikasi di sejumlah universitas di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas

Kekerasan yang dialami pekerja perempuan di rumah, terbukti sangat mempengaruhi kondisi mentalnya saat bekerja. Tak hanya mendapatkan kekerasan psikis, pekerja korban KDRT ini juga mendapatkan luka fisik, ada yang cacat pendengaran hingga terganggu kesehatan reproduksinya.

*Aprelia Amanda- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Suatu hari, ada seorang suami yang datang ke pabrik dan tiba-tiba memukuli istrinya. Orang-orang di pabrik hanya diam dan tidak berani melakukan apa-apa. Mereka bilang tidak boleh mencampuri urusan rumah tangga orang lain karena dianggap pamali.

Ini adalah realita yang dialami sejumlah perempuan pekerja pabrik.

Salah satu pekerja perempuan lain juga menyatakan hal yang sama. Jika ia sedang bertengkar dengan suaminya di rumah, ia menjadi tak semangat untuk bekerja di kantor. Hal ini juga diakui oleh beberapa perempuan yang mendapatkan Kekerasan dari suaminya di rumah.

Kekerasan yang dilakukan pasangan atau kekerasan yang terjadi di rumah, ternyata sangat berpengaruh pada kerja- kerja buruh perempuan. Hal ini yang mencoba dipotret Lembaga Perempuan Mahardhika.

Perempuan Mahardhika pada 13 Februari 2020 mempublikasikan hasil penelitiannya tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) pada buruh Perempuan.

Penelitian yang dilakukan sejak September sampai Desember 2019 ini menunjukkan bahwa KDRT yang dialami perempuan di rumah akan mempengaruhi kondisi kerja buruh perempuan.

Penelitian dilakukan dengan memilih tempat kerja yang memiliki banyak pekerja perempuan seperti di industri garmen, tekstil, dan pekerja rumahan yang tersebar di Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Ada 26 korban KDRT dan 5 orang perwakilan serikat buruh yang diwawancara untuk memperoleh data kekerasan.

Meskipun penelitian dilakukan di Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah namun beberapa dari mereka sebenarnya berasal dari luar wilayah tersebut seperti Palembang dan Lampung. Mereka dibesarkan dengan budaya bertani dan berkebun namun lambat laun mulai mengenal bentuk kerja buruh jasa melalui migrasi. Bermigrasi adalah cara mereka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di tanah perantauan.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa korban-korban KDRT sebenarnya juga mengalami kekerasan saat masih anak-anak. Ada yang diperkosa oleh pamannya, ada pula yang menyaksikan sang ayah menyiksa ibunya.

Kekerasan di dalam rumah dan situasi yang menganggap mereka (perempuan) hanyalah beban keluarga akhirnya mendorong mereka untuk keluar dari situasi yang ada. Mereka ingin mengubah hidupnya menjadi lebih baik.

Seperti yang dikatakan Pratiwi, salah seorang narasumber penelitian, “saya ingin mengubah hidup saya”.

Penelitian ini dilakukan oleh peneliti Karolina L. Dalimunthe dan Vivi Widyawati dari Perempuan Mahardhika. Penelitian juga menemukan bahwa jika dilihat dari latar belakang pendidikan, dalam rentang waktu ini, terlihat ada peningkatan pendidikan dari para buruh perempuan. Jika pada rentang usia 39-46 tahun lulusan SD sebanyak 6 orang, maka pada rentang usia 25-31 tahun sudah tidak ada buruh perempuan yang lulusan SD.

“Meskipun ada peningkatan pendidikan bukan berarti buruh perempuan terbebas dari KDRT,” ujar Karolina L. Dalimunthe.

Selama ini responden mengatakan bahwa mereka menjalani kehidupan pernikahan dengan keyakinan tradisional yang diyakini banyak orang, yaitu suami bertugas mencari nafkah dan mengambil keputusan sedangkan perempuan bertugas mengasuh anak dan mengurus rumah.

Padahal kenyataanya berbeda. Para buruh perempuan inilah yang menjadi tulang punggung keluarga dalam segala aspek. Mereka juga mencari nafkah, mengasuh anak, dan mengurus rumah. Beban yang sangat berat ini akhirnya berujung pada tindak kekerasan yang mereka terima dari pasangannya.

Kekerasan yang dialami terjadi dalam berbagai bentuk ada yang secara fisik, psikologis, verbal, seksual, penelantaran ekonomi, dan ancaman.

Kekerasan terhadap mereka tidak hanya terjadi di ruang domestik yang tertutup tapi juga berlanjut di tempat kerja.

“Ketika ada suami yang datang ke pabrik dan memukuli istrinya, orang-orang di sekitar hanya diam dan tidak berani melakukan apa-apa. Mereka bilang nggak boleh mencampuri urusan rumah tangga orang lain,”ujar Karolina.

Perempuan Mahardhika juga menemukan beberapa kekerasan yang dilakukan suami di tempat kerja, ada buruh perempuan yang dibentak dan dipermalukan; dipukul, ditendang, dan dicekik; memaksa untuk pulang; dan mendapat ancaman.

Kekerasan juga dilakukan oleh mantan suami di tempat kerja seperti masih mendatangi tempat kerja; melakukan sms ancaman, melakukan rayuan seksual, dan melecehkan; memaksa mencium dan memeluk; memukul; dan mengganggu kehidupan personal.

KDRT yang dialami buruh perempuan baik di rumah ataupun di tempat kerja berdambak pada luka fisik dan mental para korbannya. Ada yang mengalami cacat pendengaran, luka-luka, dan kesehatan reproduksinya terganggu. Mereka juga menjadi tidak percaya diri dan selalu merasa resah, tidak aman, dan ketakutan berlebih.

Kekerasan yang dialami para buruh perempuan ini tidak semerta-merta membawa mereka dengan mudah keluar dari hubungan yang penuh kekerasan.
Hal yang selalu menjadi pertanyan, mengapa masih bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan?

“Mereka tetap berada di dalam hubungan yang penuh kekerasan dengan banyak pertimbangan. Masalah anak menjadi pertimbangan utama. Juga pandangan masyarakat yang masih menganggap janda hanya sebelah mata, punya stigma buruh, sehingga mereka takut dikucilkan,” ujar Karolina.

Hasil penelitian ini akhirnya membuat Perempuan Mahardhika merekomendasikan agar perusahaan dan serikat buruh ikut terlibat dalam melindungi buruh perempuannya dari kekerasan rumah tangga.

Perempuan Mahardika juga merekomendasikan agar pemerintah dan perusahaan meratifikasi Konvensi International Labour of Organisation (ILO) 190 tentang Kekerasan dan Pelecehan dalam Dunia Kerja.

Salah satu yang menjadi rujukan dari konvensi ini adalah mengakui KDRT sebagai kekerasan dalam dunia kerja.

*Aprelia Amanda, biasa dipanggil Manda. Menyelesaikan studi Ilmu Politik di IISIP Jakarta tahun 2019. Pernah aktif menjadi penulis di Majalah Anak (Malfora) dan kabarburuh.com. Suka membaca dan minum kopi, Manda kini menjadi penulis dan pengelola www.Konde.co


Tak sedikit clickbait di media yang menjadikan perempuan sebagai korban, contohnya adalah berita yang menuliskan secara sensasional tentang tubuh perempuan. Lalu, apakah clickbait digunakan oleh media sebagai tipuan atau justru sebagai taktik dalam bermedia?


*Tika Adriana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Ada yang berubah di tengah melesatnya industri digital: arus informasi yang kian deras.

Jika di tahun 90-an radio, TV, dan koran jadi primadona untuk mendapatkan kabar terbaru, di zaman sekarang, dengan teknologi yang kian berkembang, ragam peristiwa pun bisa kita ketahui hanya dalam hitungan detik.

Saluran berita di jagat maya makin berwarna. Kalau dulu kita hanya mengenal satu-dua sumber informasi, kini ribuan kanal tersaji, berebut hati warganet. Konsekuensinya, tak sedikit media yang menggunakan strategi clickbait utuk meraih perhatian pembaca.

Dan tak sedikit clickbait yang kemudian menjadikan perempuan sebagai korban, contohnya adalah berita-berita sensasional tentang tubuh yang menjadikan perempuan sebagai korban.

Yang baru-baru ini terjadi adalah berita penangkapan artis Lucinta Luna yang diduga menggunakan narkoba. Namun sejumlah media lebih memilih menuliskan tentang identitas dan pilihan seksualnya, padahal ini tidak ada hubungannya dengan penggunaan narkoba.

Berita lainnya yaitu dari kasus Renyhard Sinaga, Warga Indonesia yang melakukan perkosaan terhadap lebih dari 100 orang di Inggris. Sejumlah media di Indonesia kemudian mengangkat hal-hal yang faktanya sama sekali tidak relevan dengan kasus kriminal Reynhard. Seperti menuliskan identitas orientasi seksual, kemewahan rumah, kehidupan keluarga, almamater, gawai yang ia gunakan, gaya selfie, dan sebagainya. Dampak buruknya, narasi mengenai kekejian dan kebiadaban tindakan pemerkosaan yang dilakukan Reynhard bergeser jauh menjadi narasi receh yang sekadar jadi bahan olok-olok di ruang publik.

Atau sejumlah kasus lainnya, ini merupakan strategi clickbait yang kerap dilakukan media untuk meraih pembaca. Jika pembacanya banyak, maka asumsinya akan banyak pemasukan iklan untuk media tersebut.

Apa itu clickbait?

Pertanyaan tentang apakah clickbait adalah sebuah tipuan atau taktik dalam bermedia itulah yang saya lempar kepada empat narasumber ketika dipercaya menjadi moderator dalam seminar “Clickbait: Tipuan atau Taktik Bermedia” di rangkaian kegiatan Commpress yang dilakukan program studi jurnalistik, Universitas Multimedia Nusantara atau UMN.

Mereka yakni Domu Ambarita General Manager Content Tribun Network; Joni Aswira, Divisi Advokasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia; Wisnu Nugroho, Editor in Chief Kompas.com; dan Ardyan M. Erlangga, Managing Editor Vice Indonesia.

Keempat narasumber saya sepakat bahwa clickbait merupakan sebuah strategi yang kerap digunakan oleh redaksi media untuk menarik minat para pembacanya, namun dengan cara yang tidak sesuai dengan etika jurnalistik.

Domu Ambarita pun meluruskan percakapan di masyarakat yang kerap menuduh medianya menggunakan strategi clickbait. Dia menyebut bahwa Tribun Network selama ini memilih untuk menggunakan judul menarik yang ramah dengan mesin pencarian.

“Kalau selama ini orang bilang Tribun menggunakan clickbait, itu tidak benar, karena kami sendiri menolak untuk melakukan hal tersebut. Kami hanya menggunakan judul yang menarik untuk berita-berita kami,” ujar Domu di UMN, Rabu (5/2/2020).

Domu menyebut, redaksi Tribun juga terus melakukan perubahan agar tak melulu distigma masyarakat, salah satunya dengan memberikan peringatan tegas kepada editor yang menggunakan judul tipu-tipu dan mengecewakan pembaca.

Di situ, Domu juga mengakui bahwa kemampuan dan sensitivitas para pekerja di jaringan Tribun berbeda-beda, sebab mereka memiliki lebih dari 20 media yang tersebar di daerah.

Namun, untuk mengatasinya, dia menyampaikan bahwa dapur beritanya telah berbenah, salah satunya dengan mengadakan pelatihan bersama untuk para editor Tribun di seluruh Indonesia. Dengan melakukan pelatihan pada para redakturnya, maka harapannya ini akan mengurangi clickbait.

Pada tahun 2015, BBC pernah mengulas tentang “Clickbait: The changing face of online journalism” yang menyebut bahwa kini media-media berlomba untuk menyusun judul yang menggoda pembaca menekan tautan berita mereka. Sayangnya, judul itu hanya jebakan untuk menggambarkan tajuk berita yang sensasional atau menyesatkan, ini bisa dilihat dari judul dan isi beritanya yang berbeda. Inilah yang kemudian disebut sebagai berita yang menyesatkan.

Mengapa clikbait banyak diperbincangkan? Sebab, semakin banyak klik yang didapat oleh sebuah media, maka iklan pun akan mengalir ke kantong media.

Salah satu penelitian populer yang mereka sertakan yakni dari Columbia Journalism Review. Dalam artikel itu, mereka menyoroti sebuah strategi yang digunakan oleh Slant. Media itu memberi bayaran kepada para penulisnya sebesar $100 per bulan. Namun, mereka akan memberikan bonus sebesar $5 untuk setiap 500 klik kepada si penulis artikel. Akhirnya, strategi clickbait lah yang digunakan oleh para jurnalisnya dalam menulis.

Ardyan M. Erlangga, Managing Editor Vice Indonesia, mengamini bahwa clickbait tak hanya dilakukan oleh media di Indonesia, tapi juga oleh media daring di negara-negara lain. Tujuannya sama: berebut pembaca.

“Makanya di Vice, kita tidak memainkan berita harian, karena kita tahu itu sudah banyak dimainkan oleh media lain di sini. Maka kita memilih untuk membuat tulisan-tulisan panjang seperti feature atau kisah-kisah menarik lain, ini tak lain agar terlihat khas di mata pembaca,” ujar Ardyan.

Menilik dari artikel yang pernah ditulis oleh Made Supriatma dalam Amatan di Remotivi (http://www.remotivi.or.id/amatan/367/Hoax,-Kapitalisme-Digital,-dan-Hilangnya-Nalar-Kritis-(Bagian-I)), tanpa disadari, pilihan dan kemerdekaan manusia telah diambil alih oleh mesin pencari akibat adanya kapitalisme digital.

Jika di zaman media tradisional seperti televisi, radio, dan koran, masyarakat tak punya pilihan kecuali menerima seluruh isi dari pemberitaan yang tersaji. Di era sekarang: manusia bisa memilih hal yang ingin mereka sukai dan tidak disukai.

Wisnu Nugroho, Editor in Chief Kompas.com dalam diskusi tersebut mengatakan bahwa mesin pencarilah yang membuat media arus utama menyajikan semua berita yang jadi kegelisahan masyarakat, salah satunya suara masyarakat di sosial media. Namun Wisnu mengatakan, medianya tetap berkomitmen menyajikan informasi yang mendalam, dengan kualitas jurnalistik yang baik.

“Selain berita-berita harian, kami juga menyajikan berita yang mendalam di kanal VIK (Visual Interaktif Kompas). Di kanal VIK tersebut kami menyajikan karya jurnalistik dengan kualitas terbaik kami,” ujar Wisnu.

Metode semacam Kompas.com memang kerap digunakan oleh media untuk menyiasati mahalnya harga jurnalisme yang berkualitas dan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan yang menjadi ladang nafkah bagi ratusan pekerja. Sebab masyarakat Indonesia belum memiliki kesadaran untuk melakukan donasi secara bersama-sama demi mendapatkan produk jurnalistik yang berkualitas.

“Saya memang tidak pernah tahu berapa pendapatan dari klik pembaca ke berita-berita kami, karena urusan kami hanya memproduksi konten berita. Soal penghasilan itu urusan dari marketing, tapi sebagai gambaran, Kompas.com itu berdiri tahun 1995 dan kami baru memperoleh untuk pada tahun 2008. Butuh waktu 13 tahun,” tambah Wisnu.

Wisnu mengatakan bahwa tantangan lain yang saat ini dihadapi media sebenarnya berasal dari perusahaan-perusahaan komunikasi seperti Google, Youtube. Selama ini perusahaan inilah yang banyak di klik oleh pembaca. Maka perusahaan media harus bersaing keras dengan Google, Youtube dll untuk meraih pembaca, dan ini tentu bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan.

Media di Indonesia seperti media online selama ini harus berebut iklan yang jumlahnya tak banyak. Berbeda dengan iklan di televisi yang jumlahnya hampir 70% dari pendapatan iklan di media, sedangkan 30% jumlah iklan sisanya diperebutkan oleh media cetak, media online dan radio.

Namun bukan berarti media bisa melakukan clickbait begitu saja atas nama peruntungan. Tak hanya mencari iklan, tapi media punya banyak fungsi yang lain seperti: menuliskan suara masyarakat dan kritis terhadap pemerintah

Joni Aswira dari Divisi Advokasi AJI Indonesia pun mengingatkan kepada pemilik media untuk memerangi clickbait yang menjadi tantangan jurnalisme masa sekarang.

“Kita harus ingat bahwa dalam Undang-Undang Pers nomor 40 tahun 1999, media memiliki fungsi edukasi, sehingga kita harus menyajikan berita yang sesuai dengan etika jurnalistik,” tutupnya.

Selama ini sejumlah berita yang banyak mendapatkan protes karena melanggar kode etik adalah media yang judul dan kontennya tidak sesuai. Sering juga kita mendapati berita yang melakukan sensasionalisme untuk mendapatkan klik dari pembaca.

Media-media seperti ini umumnya melanggar kode etik karena melakukan sensasionalisme di media.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Tika Adriana, jurnalis perempuan yang sedang berjuang. Saat ini managing editor Konde.co

Konde.co- Menjelang siang hari tanggal 17 Februari 2020, salah satu pengurus Serikat Buruh, Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Darto dikagetkan oleh kedatangan 10-15 orang ke sekretariat KASBI di Cipinang, Jakarta Timur.

Yang datang ini rata-rata berumur 15-17 tahun dan berteriak-teriak agar KASBI dibubarkan karena telah menolak omnibus law. Massa ini berteriak menyuarakan bubarkan KASBI karena mereka nilai, para aktivis buruh di KASBI telah menghambat omnibus law, kata Darto.

Tidak seperti aksi buruh yang tampak sering dihambat meski sudah mengajukan surat pemberitahuan ke polisi, aksi para pendemo ini tampak begitu lancar dan cepat meski tidak melayangkan pemberitahuan ke polisi.

Setelah itu para pendemo bergesar dan mengatakan akan melanjutkan aksi mereka di Kementerian Hukum dan HAM untuk menuntut pembubaran KASBI.

KASBI mengecam aksi tersebut, karena dalam ruang demokrasi seharusnya kebebasan menyampaikan pendapat tentang persoalan rakyat untuk mengkritik berbagai regulasi dan kebijakan seharusnya didengar, bukan kemudian membuat teror bagi publik yang tengah berjuang.

KASBI dalam penyataan sikapnya menjelaskan bahwa mereka bersama organisasi buruh lainnya menolak omnibus law, karena omnibus law akan mempertinggi kerusakan lingkungan dan memiskinkan buruh.

Omnibus law adalah pembuatan satu undang-undang dengan isu besar yang bisa menghilangkan beberapa undang-undang yang lain. Jadi nantinya akan dibuat 1 undang-undang dari hasil penyederhanaan sejumlah undang-undang yang lain.

Pemerintah membuat omnibus law untuk mempercepat pelaksanaan investasi di Indonesia. Namun rencana ini ditolak para buruh karena pembuatan omnibus law tak pernah mengikutsertakan buruh. Pemerintah juga terkesan sembunyi-sembunyi membuat aturan ini.

Dalam Omnibus law yang dibuat pemerintah, banyak pasal yang merugikan pekerja terutama pekerja perempuan. Misalnya disebutkan bahwa kontrak untuk pekerja akan dilakukan tanpa batasan waktu dan jenis pekerjaan, upah minimum kabupaten/kota juga dihapus, upah akan diganti per jam, dan pengusaha tidak diwajibkan membayar cuti hamil, haid, dan menikah. Hal lain, cuti besar juga akan dihapus dan tidak ada sanksi pidana bagi pengusaha pelanggar hukum.

“Yang akan mendapat kerugian, penderitaan dan kesengsaraan itu rakyat Indonesia seperti buruh, pemuda, pelajar, tani, masyarakat adat, nelayan,” kata Nining Elitos.

KASBI juga mengaskan bahwa mereka tidak akan mencabut tuntutan melawan omnibus law. Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) juga memperingatkan bahwa aksi teror ini mungkin baru permulaan. KPBI menyerukan agar berbagai gerakan perlu meningkatkan persatuan. Sebab, serangan terhadap gerakan-gerakan yang menolak omnibus law mungkin akan kembali terjadi.

Sebelumnya, KASBI bersama GEBRAK dan Fraksi Rakyat Indonesia menyuarakan penolakan terhadap rencana pemerintah tentang omnibus law. Pada 13 Januari 2020 GEBRAK melancarkan aksi ke DPR RI menolak rancangan undang-undang yang pembahasan draftnya berlangsung secara misteris karena tidak melibatkan masyarakat dan sembunyi-sembunyi.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

(Disarikan dari www.buruh.co, artikel ini merupakan kerjasama www.Konde.co dan www.Buruh.co)

Empat hari lalu, sejumlah aktivis memprotes tulisan media yang beredar di sosial media. Tulisan di media itu menggambarkan bagaimana Lucinta Luna yang sedang mengalami depresi. Penangkapan artis Lucinta Luna kemudian mengundang pemberitaan sejumlah media secara sensasional dan mengusik privasi. Identitas dan pilihan seksualnya kemudian menjadi komoditas.

*Meera Malik dan Luviana- www.Konde.co

Konde.co- Setelah ditangkap karena diduga menggunakan narkoba pada 11 Februari 2020, Lucinta Luna ditulis mengalami depresi berat, dan ini justru digambarkan secara terbuka oleh beberapa media.

Penggambaran ini jelas tidak menunjukkan empati pada siapapun yang sedang terkena depresi, atau dalam bahasa umumnya: orang yang sudah kena depresipun, tetap saja diberitakan.

Ini jelas bukan situasi yang menyenangkan ketika seseorang tak lagi mendapatkan hak privasi. Malah saya sering mendapatkan jawaban klise seperti ini:

"Karena Lucinta Luna khan seorang artis, jadi ia adalah milik publik dan layak diberitakan."

Atas nama kelayakan ini, maka seseorang menjadi tidak punya privasi. Padahal sedih, sakit, depresi merupakan hal yang lumrah yang bisa terjadi pada siapa saja, dan orang tentu bisa menolak jika ia tak mau ditulis dalam kondisi ini. Namun media kemudian tetap memberitakannya.

Pertanyaan selanjutnya adalah: apakah seseorang tak boleh punya privasi? Karena soal privasi dan personalitas sejatinya adalah milik seseorang, apalagi jika orang tersebut tak mau membaginya ke publik.

Feminis Catharine Mac Kinnon menyatakan bahwa personalitas adalah situasi politik dalam hal ini situasi politik perempuan. Apapun yang dilakukan seseorang adalah politis. Namun bukan berarti yang politis ini harus semuanya diurus oleh publik. Seharusnya ada yang bertanya: nyamankah jika dalam situasi demikian, rahasia seseorang diketahui publik?

Selain menuliskan personalitas Lucinta Luna, sejumlah media kemudian juga menuliskan secara sensasional tentang identitas Lucinta Luna. Kira-kira begini judul-judul beritanya:

1. 7 Nama Lucinta Luna

2. Nama Lucinta Luna yang Berubah

3. KTP Lucinta Luna Perempuan, Paspornya Laki-Laki


Sejumlah pemberitaan media tentang Lucinta Luna yang terkait dengan identitas pilihan seksualnya inilah yang kemudian menjadi komoditas.

Lucinta Luna sendiri, berdasarkan pengakuannya, menggunakan zat psikotropika itu untuk menghilangkan depresi dan mengontrol emosi. Apalagi, ada indikasi bahwa Lucinta Luna berkali-kali mencoba bunuh diri. Ini merupakan sebuah kondisi kesehatan jiwa yang tidak dapat dianggap remeh.

LBH Masyarakat membenarkan bahwa penangkapan Lucinta Luna mengundang pemberitaan media yang sensasional dan mengusik privasi yang bersangkutan. Dalam pernyataan persnya, LBH Masyarakat meminta kepada media untuk menghentikan reportase yang bombastis terkait kasus Lucinta Luna dan mengedukasi publik melalui pemberitaan yang proporsional dan objektif

Polres Jakarta Barat yang melakukan penangkapan terhadap Lucinta Luna juga dipandang LBH Masyarakat semakin merunyamkan situasi dengan membeberkan fakta yang sama sekali tidak berkaitan dengan pokok perkara, seperti identitas pasangan Lucinta Luna.

Frasa-frasa yang media gunakan juga semakin mengaburkan pokok permasalahan di kasus Lucinta Luna. Pemberitaan-pemberitaan media yang bersifat menggemparkan pun kian memojokkan identitas perempuan yang dipilih oleh Lucinta Luna, sehingga malah menambah perundungan atau bullying kepada kelompok transgender yang sudah terstigma di masyarakat.

Direktur LBH Masyarakat, Ricky Gunawan melihat bahwa beberan fakta yang dilakukan polisi kepada media menunjukkan bahwa pendekatan pidana yang kepolisian gunakan hanya memperkeruh stigma terhadap pengguna narkotika, orang yang memiliki masalah kejiwaan, dan kelompok transgender.

Polisi telah memukul rata para pengguna narkotika yang sebenarnya memiliki beragam latar belakang menjadi hanya satu identitas, yakni sebagai penjahat.

“LBH Masyarakat mendesak Polres Jakbar untuk mengubah pendekatan hukum pidana dalam kasus Lucinta Luna dan tersangka-tersangka lain yang memiliki permasalahan serupa menjadi pendekatan kesehatan,” kata Ricky Gunawan.

Sudah waktunya kepolisian menghentikan penggunaan cara-cara yang punitif dalam mengatasi permasalahan pemakaian narkotika, dan mengedepankan pendekatan kesehatan yang humanis.

Penangkapan atau penahanan terhadap pemakai narkotika hanya akan membuat mereka enggan mengakses layanan kesehatan yang mungkin mereka butuhkan. Energi dan sumber daya kepolisian sepatutnya diarahkan untuk membongkar sindikat peredaran gelap narkotika, daripada mengincar pemakai narkotika.

Dengan latar belakang pemakaian narkotika/ psikotropika dan riwayat kondisi kejiwaannya, Lucinta Luna seharusnya disediakan dukungan kesehatan dan psikososial, bukan penanganan yang punitif. Penangkapan/ penahanan terhadap Lucinta Luna juga bersifat eksesif.

Ricky Gunawan menilai bahwa sejak awal, Polres Jakbar harusnya dapat melibatkan tenaga kesehatan, seperti psikiater atau psikolog; dan segera mendiversi Lucinta Luna ke fasilitas layanan kesehatan.

Pengalihan jalur dari pidana ke kesehatan ini bertujuan agar Lucinta Luna tetap dapat melanjutkan akses kesehatannya, baik untuk perkara pemakaian narkotikanya maupun kesehatan jiwanya.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Luviana, setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar ilmu komunikasi di sejumlah universitas di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas.

*Meera Malik,
pengagum paradoks semesta yang gemar membeli buku tapi lupa membaca.

Asosiasi LBH APIK akhirnya melaporkan anggota Komisi Vl DPR RI dari Partai Gerindra, Andre Rosiade ke Mahkamah Kehormatan DPR. Tindakannya dinilai merendahkan perempuan.

*Poedjiati Tan- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Khotimun, mengirimkan beberapa pesan kepada wartawan, Kamis siang lalu.

Kiriman pesan itu sebagai pemberitahuan bahwa Asosiasi LBH APIK Indonesia yang merupakan asosiasi dari 16 kantor LBH APIK, pada 13 Februari 2020 mengadukan Andre Rosiade, anggota Komisi VI DPR RI kepada Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR.

Khotimun, Koordinator Pelaksana Harian Asosiasi LBH APIK melihat tindakan Andre Rosiade yang menjebak NN di sebuah hotel di Padang pada 26 Januari 2020 telah melakukan pelanggaran etik anggota DPR pasal 236 dengan merujuk pada Pasal 81 UU MD3

“Aksi yang dilakukan Andre Rosiade tidak mematuhi prosedural. Asosiasi LBH APIK merasa penting untuk bersuara bahwa skenario penjebakan yang dilakukan oleh Andre Rosiade tidak mengindahkan harkat dan martabat manusia, khususnya hak asasi perempuan,” kata Khotimun.

Lagipula anggota DPR bukanlah unsur negara yang memiliki wewenang melakukan penyelidikan, penyidikan, apalagi penjebakan terhadap suatu peristiwa yang diduga tindak pidana. Maka dari itu, penjebakan yang dilakukan oleh Andre Rosiade terhadap NN bukan merupakan wewenang dirinya sebagai anggota DPR RI dan menyalahi prosedur hukum.

“NN telah mengalami penghinaan atas harkat dan martabatnya serta bentuk kekerasan seksual melalui tipu daya pemesan yang ada dalam skenario Andre Rosiade dengan dalih turut serta dalam penegakan hukum.”

Andre Rosiade dapat dikenakan pasal 55 ayat (2) KUHP, khususnya ayat 2e (turut melakukan suatu tindak pidana dengan menyalah gunakan kekuasaan) dan pasal 56 KUHP (membantu melakukan suatu tindak pidana), yaitu diduga memberi kesempatan, daya upaya atau keterangan untuk melakukan kejahatan itu, dalam hal ini terjadinya pelacuran.

Perbuatan terduga Andre Rosiade adalah bentuk diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan yang termuat dalam Pasal 2 huruf d Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) yang telah diratifikasi Indonesia menjadi UU No. 7 tahun 1984 yaitu untuk tidak melakukan suatu tindakan atau praktek diskriminasi terhadap perempuan, dan untuk menjamin bahwa pejabat-pejabat pemerintah dan lembaga-lembaga negara akan bertindak sesuai dengan kewajiban tersebut.

“Seharusnya sebagai anggota DPR Andre Rosiade mendalami bahwa NN adalah korban dari struktur sosial yg timpang, dan prostitusi yang terjadi dapat saja merupakan bagian dari perdagangan manusia, dimana dalam dunia prostitusi perempuan selalu dirugikan dan menjadi korbannya. Dari situ, yang bersangkutan juga dapat diduga memudahkan terjadinya kejahatan trafficking yang termuat dalam Pasal 12 UU No. 21 tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang, yakni tindak pidana pemanfaatan korban traficking dengan persetubuhan atau perbuatan cabul terhadap korban traficking,” kata Khotimun.

Tindakan Andre Rosiade yang mendorong orang lain secara sewenang-wenang menggerebek NN, memvideokan dan menyebarkan konten yang bermuatan penghinaan dan pencemaran nama baik melalui jaringan internet patut diduga melakukan pelanggaran terhadap UU ITE Pasal 27 ayat (3).

Maka dari itu, Asosiasi LBH APIK menuntut kepada MKD agar segera melakukan pemeriksaan Andre Rosiade dan memberikan sanksi tegas sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Menuntut Kepolisian RI membebaskan NN karena tidak terdapat unsur yang menyangkut dirinya dalam ketentuan tindak pidana dan melakukan pemeriksaan terhadap Andre Rosiade atas dugaan pelanggaran berbagai peraturan perundangan yang telah dijelaskan pada pandangan di atas

Juga kepada DPR dan pemerintah memastikan penegakan hukum yang independen dan adil serta mengedepankan persamaan di muka hukum (equality before the law).

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

"Valentine tak hanya dirayakan oleh orang yang punya hubungan asmara. Hari valentine juga bukan hari yang penuh manipulasi, mendorong orang menghabiskan banyak uang atas nama cinta"

Konde.co- Mengapa Valentine yang datang setiap 14 Februari selalu terkesan hanya dirayakan oleh orang yang punya hubungan asmara, padahal kasih sayang bisa dilakukan oleh siapapun.

Valentine juga tak identik dengan pesta, harus dirayakan di hotel atau harus dengan coklat dan bunga yang dibungkus pita-pita.

Salah satu hal yang sering diulas tentang Valentine adalah, momen Valentine sangat sering dikomersialisasikan. Valentine tiba-tiba berubah menjadi cara untuk memanipulasi orang ke dalam pengeluaran uang atas nama cinta. Yaitu bagaimana banyak orang sudah mengkomersilkan sesuatu yang berhubungan dengan cinta, seolah menyamakan antara kemampuan untuk membeli dengan kemampuan untuk mencintai.

Ini juga sangat materialistis ketika kita menyamakan daya beli dengan cinta. Masyarakat sering mengabadikan gagasan bahwa pengeluaran uang pada seseorang adalah satu-satunya cara untuk menunjukkan cinta, dan banyak dari kita tahu bahwa itu tidaklah benar.

Tapi kebanyakan dari kita masih menginternalisasi pesan menyakitkan ini: jika kamu tidak menghabiskan uang yang kamu berikan pada seseorang, berarti kamu tidak benar-benar mencintainya. Hari valentine seolah menjadi subversif, mengekang dorongan untuk menghabiskan banyak uang atas nama cinta yang dikomersialisasikan.

Padahal ada banyak valentine yang bisa kita rayakan dengan cara berbeda.

Dan Valentine sejatinya tidak hanya diperingati atau dirayakan untuk kelompok heteroseksual saja, namun juga kelompok homoseksual. Tidak hanya ungkapan kasih sayang antara laki-laki dan perempuan, namun untuk semua orang, dari saudara, teman, adik, kakak, orangtua.

Sian Ferguson dalam everydayfeminism.com menuliskan pernyataan dan harapan-harapannya tentang valentine:

1. Valentine, Saatnya Merenungkan Relasi dengan Pasanganmu

Hari valentine bisa dilakukan dengan melakukan refleksi tentang relasi kamu. Apakah ada penindasan di dalam relasi dengan pasanganmu? Apakah ada pemaksaan-pemaksaan yang membuat kamu merasa tidak nyaman? Valentine bisa jadi momen untuk perenunganmu

2. Valentine, Saatnya Kamu Mencintai dan Merawat Dirimu


Ini hal yang sering kita lupakan, yaitu mengurus diri sendiri. Padahal memperhatikan diri sendiri adalah sesuatu yang penting untuk memberikan diri kamu merasa dicintai, karena kamu berhak mendapatkan perawatan yang layak. Di hari Valentine, kamu bisa mengambil waktu untuk melakukan hal-hal kecil yang membuat kamu merasa baik, seperti mencoba beberapa makanan lezat, membaca, atau praktek membuat kerajinan sendiri Atau kamu bisa mengambil waktu untuk merencanakan dan berkomitmen untuk menciptakan rutinitas perawatan diri jangka panjang.

3. Valentine, Rayakan dengan Assesoriesmu

Jika kamu ingin memberikan hadiah pada hari valentine, kamu bisa membuat hadiah sendiri. Hadiah handmade seperti kartu, rajutan, barang-barang rumah tangga bisa kamu berikan sebagai hadiah yang manis.

4. Valentine, Ajak Komunitasmu untuk Berkumpul

Komunitasmu adalah orang-orang yang selama ini berada di sekelilingmu. Mereka adalah orang-orang yang selalu mendukungmu. Kamu bisa melakukan ini bersama-sama komunitasmu, misalnya menyediakan buku-buku untuk anak-anak secara gratis di hari Valentine ini, mengunjungi panti jompo bersama-sama, atau sekedar membersihkan sampah secara bersama-sama. Keterlibatan komunitas selalu harus datang dari tempat cinta yang berpusat pada kebutuhan bersama.

5. Rayakan Valentine dengan semua cinta


Hari valentine bisa menjadi waktu yang tepat untuk merayakan persahabatan, hubungan keluarga dekat, dan hubungan yang penuh kasih. Kirimi saudaramu email atau ucapan untuk mengingatkan mereka betapa kamu sangat menghargai mereka. Pergi keluar untuk makan malam dengan teman-teman terbaikmu, kunjungi kakek-nenekmu untuk minum teh adalah hal yang bisa kamu lakukan. Jika kamu memiliki anak-anak, mungkin kamu bisa membawa mereka ke pantai, taman, atau menonton film. Bisa juga kamu memberikan hadiah kecil untuk rekan kerjamu atau tetanggamu.

6. Valentine, Luangkan Waktu Untuk Hubungan Spesial dengan Teman atau Saudara yang Selama ini Jauh

Apakah ada seseorang yang kamu jadikan teman dekat atau tempat untuk curhat, tapi kamu tidak pernah sempat untuk meminta mereka datang atau bertemu? Mungkin ada temanmu yang belum banyak kamu temui selama ini . Mengapa tidak menggunakan hari Valentine untuk menemui mereka?


(Disadur dari tulisan Sian Ferguson, is a Contributing Writer at Everyday Feminism and a queer, polyamorous, South African feminist who is currently studying towards a Bachelor of Arts majoring in English and Anthropology. Originally from Cape Town, she now studies at Rhodes University in Grahamstown, where she works as vice-chair of the Gender Action Project dalam http://everydayfeminism.com/2016/02/feminist-valentines-day-ideas/)

Sebuah gerakan global yang bernama “One Billion Rising” diadakan setiap tanggal 14 Februari, tepat di hari Valentine. Apakah One Billion Rising (OBR) dan mengapa gerakan ini penting untuk menyelamatkan para perempuan di seluruh dunia?

Apakah One Billion Rising?

One Billion Rising adalah aksi massa terbesar untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan. Semua pihak bisa mengikuti aksi ini, cisgender, transgender, dan mereka yang memiliki identitas dalam sejarah manusia.

Bagaimana cara orang memperingati One Billion Rising?

Di tanggal 14 Februari, OBR mengajak semua orang di dunia untuk menari sebagai bagian dari gerakan bersama mengakhiri kekerasan terhadap perempuan.

Bagaimana Sejarah One Billion Rising?


OBR diluncurkan pada Hari Valentine di tahun 2012. Dilatarbelakangi oleh data staistik yang mengejutkan, bahwa 1 dari 3 perempuan di planet ini akan dipukuli atau diperkosa selama hidupnya. Maka OBR mengajak semua masyarakat di dunia untuk menari bersama di tanggal 14 Februari mengakhiri kekerasan perempuan. OBR juga merupakan representasi perlawanan dari setiap korban kekerasan di manapun berada. Jadi OBR merupakan sebuah upaya kolektif yang dibentuk untuk turut serta dalam mengampanyekan antikekerasan terhadap perempuan secara global.

Siapakah yang Menginisiasi Lahirnya One Billion Rising?


OBR diprakarasai oleh beberapa feminis dari berbagai latar belakang, kolektif ini terbentuk pada November 2012 dengan terinspirasi oleh gerakan global One Billion Rising yang didirikan Eve Ensler, feminis dan penulis Vagina Monolog. Sejak itulah, maka setiap tanggal 14 Februari sebanyak satu miliar perempuan di seluruh dunia diundang untuk bangkit pada hari valentine untuk mengakhiri budaya pemerkosaan.

Apa saja yang Dilakukan dalam One Billion Rising?


OBR mengajak semua orang untuk menari bersama sebagai simbol perlawananannya. Gerakan menarinya pun mengandung makna membebaskan perempuan dari segala belenggu norma aturan dan tuntutan yang selama ini dilekatkan pada perempuan itu sendiri. Orang-orang di seluruh dunia datang bersama untuk mengekspresikan kemarahan mereka, untuk menyerang, menari, dan bangkit dalam menentang ketidakadilan yang diderita perempuan

Apa saja tema yang diperjuangkan untuk perempuan dalam One Billion Rising?

Berbagai tema yang diperjuangkan setiap tahun selalu berganti, namun intinya tema ini diambil dan disesuaikan setiap tahunnya dengan bagaimana dunia memperlakukan perempuan. Di tahun 2020 ini, OBR melihat bahwa kita sedang berada di tengah gelombang nasionalisme sayap kanan yang meningkat, fasisme, tirani, kebencian dan ketakutan terhadap para imigran, kebencian terhadap perempuan, pembunuhan perempuan, homofobia, transphobia, keserakahan korporat, kerakusan perusahaan, dan kehancuran iklim.

Kita tidak bisa membiarkan diri kita diubah atau tenggelam dalam sinisme, kebencian, perpecahan, dan kehancuran mereka. Apa yang dapat kita lakukan adalah meningkatkan getaran melalui tindakan, seni, koneksi, imajinasi dan cinta. Itulah tema OBR global di tahun 2020 ini.

Apakah One Billion Rising diselenggarakan di Indonesia?


Setiap tahun sejak 14 Februari 2013, OBR diselenggarakan di Indonesia. Diprakarsai oleh beberapa aktivis perempuan, Dhyta Caturani, Lini Zurlia, dkk gerakan OBR di Indonesia selalu diselenggarakan setiap tahun. Di tanggal 14 Februari, seluruh masyarakat Indonesia diajak menari bersama untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan di Indonesia dan seluruh dunia.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

(Disadur dari: https://www.onebillionrising.org/about/campaign/one-billion-rising/)

“Sedih banget cuy udah susah-susah apply jadi pengurus @bemftunj, malah diblur di sosial media hanya karena perempuan. Seksis sekali,” begitu kira-kira komentar dari Space.UNJ mengkritik BEM Fakultas Teknik UNJ di sosial media. Yang dilakukan BEM Fakultas Teknik UNJ dengan melakukan blur pada foto pengurus perempuannya adalah meletakkan perempuan di ruang belakang, ruang yang tak sama dengan laki-laki. Ini merupakan efek dari patriarki.

*Meera Malik- www.Konde.co

Konde.co- Baru-baru ini, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta (BEM UNJ) telah selesai memilih pengurusnya.

Namun dalam pengumuman nama-nama pengurus, wajah para pengurus perempuan tidak terlihat jelas dalam poster pengumumannya.

Padahal poster tersebut seharusnya menampilkan semua foto pengurus BEM Teknik UNJ dengan jelas.

Dalam klarifikasi yang dikeluarkan BEM UNJ, pengurus mengklaim bahwa mereka menyunting foto-foto itu dengan menurunkan kadar “opacity”-nya sehingga foto semua pengurus perempuan tampak buram.

Berbagai komentar mencuat, salah satunya komentar tentang pengakuan posisi perempuan di ruang publik. Saya berpikir, benarkah ini berarti bahwa peran perempuan tidak diakui dalam ruang publik?

Perempuan tampak, tetapi tidak boleh terlalu tampak. Atau, perempuan boleh tampak, tetapi hanya boleh setengah tampak.

Buat saya, persoalan menjadi serius karena perempuan tampak, tetapi sebenarnya tak tampak. Inilah efek dari kultur patriarki. Dalam konsep patriarki, tertuang jelas bahwa hanya laki-laki yang boleh tampak.

Feminis multikultural, Angela Mc Robbie kemudian menambahkan teori untuk melihat bagaimana posisi perempuan di lingkungannya:

1. Apakah perempuan telah tampak?

2. Jika perempuan tidak tampak, mengapa?

3. Jika perempuan tampak, lalu di mana posisi mereka?


Barangkali ketiga pertanyaan ini yang harus dijawab. Dalam konteks kasus foto pengurus organisasi kampus UNJ, perempuan memang sudah masuk dalam kepengurusan, tetapi sebetulnya ia tak tampak.

Pertanyaan berikutnya: mengapa ia tidak ditampakkan? Apakah para perempuan pengurus benar-benar mendapatkan posisi yang diakui dalam kepengurusan?

BEM UNJ sudah seharusnya menyediakan kesempatan yang setara ke semua orang, bukan menutup-nutupi perempuan-perempuan berprestasi seperti ini!

Menurut saya, foto tersebut memakai pendekatan penyuntingan yang, meski tidak disadari atau mungkin tanpa intensi patriarki, tetap saja bermasalah.

Sejak persoalan ini menjadi perbincangan hangat di media sosial, banyak orang yang juga ikut membicarakannya, termasuk yang menganggap bahwa peristiwa ini tidak penting untuk didiskusikan karena berasal dari unggahan media sosial yang trending ,menyedot perhatian publik.

Sebagai seorang jurnalis yang punya ketertarikan khusus dalam isu gender, saya berpikir bahwa isu ini merupakan isu yang sangat penting untuk dibicarakan dan diberitakan. Tidak masalah apakah asal mula perbincangan itu muncul dari media sosial, karena isu tersebut bisa dilihat sebagai sebuah fenomena. Permasalahan terletak hanya pada bagaimana kita menyikapinya.

Asumsi yang beredar, sudah jadi rahasia umum kalau fakultas teknik di berbagai kampus di Indonesia itu misoginis. Asumsi lainnya, kasus BEM FT UNJ hadir, baik sengaja terencana atau tidak, karena ideologi antifeminis yang beberapa waktu belakangan semakin mengkristal di Indonesia, seperti gerakan “Indonesia Tanpa Feminis” yang muncul di media sosial pada Maret 2019.

Namun sayangnya, klarifikasi yang dikeluarkan BEM FT UNJ pada 11 Februari 2020, justru tidak menjawab asumsi-asumsi ini. Pihak BEM FT UNJ bahkan terlihat tidak begitu paham apa itu feminisme, patriarki atau seksisme, 3 wacana yang bisa diulas untuk melihat kasus ini.

Amatan saya, belum semua civitas akademika dalam perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki pemahaman utuh terhadap isu gender, sehingga itu membuatnya menjadi sangat penting untuk dibicarakan.

Ingat saja kasus Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suara Universitas Sumatera Utara (USU). Cerpen bertema kelompok minoritas gender dan seksualitas terbitan Suara USU pernah menuai penolakan besar-besaran dari mahasiswa lainnya dan bahkan berujung pembereidelan sewenang-wenang oleh pihak rektorat.

Kasus Suara USU adalah satu bukti yang menunjukkan betapa dunia intelektual di Indonesia belum ramah dan cenderung gugup menghadapi narasi gender yang spektrumnya begitu luas.

Jadi ya, bagi saya isu ini penting untuk dibicarakan. Peembicaraan dalam bentuk apapun atau narasi dalam bentuk apapun akan mendorong interaksi publik, menciptakan diskursus yang berkualitas, dan harapannya bisa menjadi pelajaran sehingga kesalahan yang sama tidak terulang pada masa depan.


(Foto: suara.com)

*Meera Malik, pengagum paradoks semesta yang gemar membeli buku tapi lupa membaca.

Film Doel sepertinya dibuat hanya ingin memuaskan penonton yang bertanya-tanya: siapakah pilihan asmara si Doel?. Film roman normatif ini menjadikan Doel sebagai laki-laki yang berhak untuk memilih. Si Doel gagal mendobrak mitos.

Luviana- www.Konde.co

Konde.co- Menonton 2 film Doel di layar Lebar, “Doel the Movie” (2018) dan film “Doel the Movie: Akhir Kisah Cinta si Doel” (2019) rasanya tak sama dengan ketika menonton serialnya “Doel anak Sekolahan” di televisi dulu.

Doel (Rano Karno) di serial TV menggambarkan perjuangan di konteks budaya Betawi, anak yang lahir dan dibesarkan di Jakarta, hidup dalam kemiskinan, hanya bisa melihat gedung-gedung tinggi yang dibangun setiap hari, orang-orang sukses yang berseliweran. Keragaman cerita menambah emosi penonton dan membuat Doel tak pernah ditinggalkan setiap minggunya.

Namun sejak pindah ke layar lebar, film yang diproduksi Karnos Film dan Falcon Pictures dan disutradari oleh Rano Karno ini, seperti harus memilih 1 cerita khusus yang membuat penonton harus mengetahui akhir cerita Doel. Maka dibuatlah cerita tentang : asmara Doel, antara memilih Sarah atau Zaenab?

Ataukah mungkin hanya bagian inilah yang paling ditunggu penonton?

Di Film layar lebar sebelumnya, diceritakan Sarah (Cornelia Agatha) meninggalkan Doel selama 12 tahun, hidup di Belanda sambil membesarkan sendiri anak mereka, Dul (Rey Bong).

Sedangkan Doel tinggal di Indonesia. Walaupun masih berstatus sebagai suami Sarah, ia memutuskan untuk hidup bersama dengan Zaenab (Maudy Koesnaedi). Cerita Doel yang punya 2 pasangan ini kemudian menjadi materi cerita 2 film Doel di layar lebar.

Dengan akting para pemain filmnya yang sangat baik, Mandra (Mandra) dan Atun (Suti Karno) yang unik dan lucu, Doel seperti kehilangan ide cerita. Ragam cerita yang dulu hingar-bingar dalam film: kesederhanaan dalam kemiskinan, sulit kuliah, bersaing keras mencari pekerjaan, juga cerita soal persahabatan dan tentu saja, asmara.

Namun 2 film Doel yang diangkat ke layar lebar hanya berisi tentang siapakah perempuan yang dipilih Doel, apakah Doel memilih Sarah atau Zaenab?

Walau Mak Nyak (Aminah Cendrakasih) menginginkan Doel agar tak melakukan poligami, namun dalam film, Doel sudah terlanjur punya 2 pasangan, Sarah dan Zaenab. Inilah yang saya sebut, film Doel sepertinya dibuat hanya ingin memuaskan penonton yang bertanya-tanya: siapakah pilihan asmara si Doel?.

Soal asmara Doel ini dulu juga menjadi satu adegan di layar TV, namun itu hanya menjadi bumbu cerita, bukan sajian utama di film.

Salah satu teman saya mengatakan rasa kecewanya pada Doel dalam film layar lebar, karena film ini hanya bercerita melulu tentang Doel yang sepertinya dihadapkan pada 2 pilihan perempuan.

Kondisi ini juga sering diterima perempuan ketika pasangannya punya pasangan lain. Hubungan yang tanpa status ini kemudian terjadi pada Zaenab dan Sarah. Walaupun selalu terlihat galau, namun Doel dalam film digambarkan sebagai laki-laki yang berhak untuk memilih, sedangkan Sarah dan Zaenab hanya bisa menunggu pilihan Doel. Doel tak mau mendobrak mitos yang terlanjut melekat: laki-laki boleh memilih dan perempuan menunggu untuk dipilih.

Zaenab dalam film kedua kemudian terlihat banyak bicara dan memperjuangkan statusnya sebagai pasangan Doel. Ini terjadi ketika Zaenab hamil dan Doel masih berstatus sebagai suami Sarah. Sedangkan Sarah selalu berpikir bahwa sebaiknya ia memutuskan untuk mengalah.

Film Doel akhirnya berakhir sebagai film roman normatif yang menjadikan Doel sebagai laki-laki yang berhak untuk memilih.

Wajar saja jika teman saya kecewa. Atau mungkin ia yang berekspektasi terlalu tinggi pada Doel? Sosok baik, sederhana, pejuang untuk keluarganya tanpa meninggalkan harga dirinya, namun berakhir dengan cerita roman picisan-- laki-laki selalu berhak untuk memilih dan perempuan harus siap untuk ditinggalkan dan tak dipilih.

Jika ini adalah tentang Doel, si sosok yang bersahaja, mengapa ia tak memilih untuk hidup sendiri ketika dihadapkan pilihan sulit?

Jika ia adalah sosok yang selama ini memperjuangkan perempuan dalam keluarganya, mengapa ia tak mencoba memperjuangkan Sarah, namun malah disaat yang sama hidup bersama dengan Zaenab, lalu menyakiti salah satu diantaranya?

Cerita Doel anak betawi berakhir tak menarik. Doel gagal mendobrak mitos.

Perempuan itu lebih cocok dilukis, bukan jadi pelukis. Pernyataan tersebut pernah terlontar dari seorang pelukis kenamaan sekaligus menjadi representasi atas mitos perempuan sebagai obyek seni. Para seniman perempuan kemudian membongkar mitos ini dan mempengaruhi perkembangan seni di Indonesia dan Asia Tenggara.

*Nunu Pradya Lestari- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Selama ini banyak karya seni rupa dan tubuh perempuan masih sering dilabeli oleh pagar-pagar estetika tubuh. Jadi perempuan hanya dipandang sebatas permukaan kulit saja.

Ada 2 persoalan yang mengemuka, pertama soal peremehan terhadap kehadiran seniman perempuan. Dan yang kedua, peremehan terhadap perempuan dalam karya seni.

Obyektifikasi bentuk dan tubuh perempuan dalam karya seni rupa ini kemudian menciptakan dimensi simbolis yang membentuk oposisi hierarkis dalam teks, gambar, bentuk, bangunan dan wacana tentang seni. Ini sekaligus juga membentuk demarkasi atas relasi sosial laki-laki dan perempuan.

Realitas itulah yang terjadi dalam tatanan masyarakat patriarki, hingga lahir generasi seniman perempuan yang mencoba membongkar mitos-mitos tersebut.

Dolorosa Sinaga, seorang pematung perempuan Indonesia menjadi salah satu pelopor seni kontemporer yang membongkar mitos dan pagar-pagar estetika tubuh perempuan ini.
Sebagai seniman, Dolorosa telah berkarya lebih dari 4 dasawarsa dan menciptakan lebih dari 600 karya.

Sepanjang perjalanan berkaryanya selama 40 tahun, ratusan patung karya Dolorosa menghadirkan spektrum baru dalam dunia seni rupa Indonesia. Bukan hanya karena nilai artistiknya, tetapi juga karena kemampuannya menyampaikan pesan-pesan yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Dolorosa mencatat perjalanan seninya dalam buku berjudul “Dolorosa Sinaga: Tubuh, Bentuk dan Substasi.”

Buku yang ditulis dalam edisi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris ini diluncurkan pada Jumat, 31 Januari 2020 bersama dengan Kaleidoskop Pameran Instalasi 40 Tahun Aktivisme Seni Dolorosa Sinaga di Gedung B, Galeri Nasional Indonesia di Jakarta.

Buku ini disunting oleh kurator seni Alexander Supartono dan sejarawan Soni Karsono. Buku yang disusun hampir tiga tahun ini, tak hanya menampilkan karya-karya Dolorosa tetapi juga menyingkap inspirasi yang memicu penciptaan karya-karyanya. Buku ini terdiri dari lima bagian menghadirkan dialektika antara pengalaman hidup, kegelisahan politik, artistik dan letupan inspirasi dari seorang Dolorosa Sinaga.


Seminar sehari dalam rangka peluncuran Buku Dolorosa Sinaga, mengupas lebih dalam mengenai gagasan Dolorosa dalam visual dan wujud karya-karyanya. Acara yang digelar di Galeri Nasional Indonesia, pada Sabtu (1/2/2020), turut mengundang kurator dan sejarawan seni Asia Tenggara.

Kurator seni dan analis politik Filipina, Marion Pastor Roces mengulas tentang keterhubungan sejarah politik di Asia Tenggara, terutama antara Indonesia dan Filipina yang turut mempengaruhi produksi seni kontemporer di kedua negara tersebut.

Karya-karya Dolorosa, menurut Roces, tidak hanya indah dari aspek nilai estetika saja. Patung tubuh-tubuh perempuan yang sedang menari dan patung-patung lainnya, mempunyai karakteristik dan keistimewaan berbeda-beda.

“Dolorosa mampu memvisualisasikan gambaran pengalaman dunia perempuan sesuai konteks sosial politik yang terjadi di Indonesia,” ungkap Marion Pastor Roces.
Sejarawan seni dari Universitas Paramadina, Heidi Arbuckle memaparkan mengenai perkembangan hiper-maskulinitas dalam seni di Indonesia yang banyak dipengaruhi oleh situasi politik terutama di masa kolonial.

Menurutnya, budaya maskulinitas di Indonesia dibentuk untuk melampaui maskulinitas kolonial, sehingga dimensi simbolik maskulinitas dalam karya seni dan sastra disimbolkan melalui sosok pejuang, mesiu, dan senjata sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme.

“Karya-karya Dolorosa yang kerap menghadirkan figur perempuan, mampu mengajarkan persepsi dan sudut pandang baru mengenai substansi bentuk sebagai obyek seni dalam konteks seni modern dan kontemporer,” kata Heidi Arbuckle.

Sementara itu, sejarawan seni dari Lasalle College of the Arts Singapore, Clare Veal membahas estetika dan gender di Asia Tenggara, khususnya dalam seni patung.

Veal memaparkan mengenai kiprah seniman perempuan di Asia Tenggara yang juga banyak mempengaruhi perkembangan seni kontemporer dunia, salah satunya seniman perempuan Thailand Araya Rasdjarmrearnsook.

Baik karya Araya maupun Dolorosa, menurut Vael, tidak hanya mampu menciptakan karya seni berestetika tinggi dari aspek visual, namun juga kaya akan substansi dan makna yang menyingkap realitas sosial politik.

“Dalam wujud seni patung, kita bisa mendapati seni feminis dan keberpihakan yang sangat kuat terhadap solidaritas perempuan melalui bahasa visual yang diciptakan Dolorosa. “

Sampai kini, karya-karya patung Dolorosa Sinaga diburu para kolektor nasional dan internasional. Seniman patung Dolorosa dikenal sebagai pematung yang kerap kali menghadirkan figur perempuan dalam karya buatannya.

Dolo, sapaannya, memang kental membawa isu-isu perempuan tiap kali mengeluarkan karya baru. Beberapa karya patung yang menarik adalah figur perempuan tercabik yang kurus kering dan tirus karena menderita, yang dengan hati-hati menggamit roknya dan seraya menari untuk menghibur seorang anak yang dilekapkan ke payudaranya. Ada juga figur perempuan yang saling bertaut lengan melakukan protes bersama-sama, yang diberi judul “Avante I”.

Lebih dari 600 karya yang pernah lahir dari tangannya, hanya ada lima figur laki-laki yang pernah dia buat. Mereka di antaranya adalah Soekarno, Multatuli, Wiji Thukul, Dalai Lama, dan Gus Dur. Kelima figur laki-laki itu memiliki kesamaan, yakni para pejuang yang tak pernah menyerah. Lalu, figur-figur itu juga memiliki kesamaan sebagai pejuang yang akhirnya terpinggirkan.

Kekayaan gagasan dan narasi dalam setiap karya Dolorosa menjadi cerminan perjalanan hidup, seni dan politik sang pematung yang tidak hanya membatasi dirinya pada praktik artistik seni.

Baginya, seni perlu hadir dan menjangkau luas semua spektrum. Dolorosa menyatakan bahwa karya-karya seniman perempuan di Indonesia perlu menegaskan posisi dan keberpihakan.

Karya seni yang lahir dari tangan seniman perempuan penting untuk mengangkat metanarasi dari keperempuanannya, baik itu narasi mengenai permasalahan sosiokultural hingga narasi tentang kemanusiaan.

*Nunu Pradya Lestari, sehari-hari aktif sebagai kontributor www.Konde.co dan pegiat buruh di Jakarta





Laki-laki yang berpegang teguh pada stereotip seksis lebih cenderung kasar terhadap perempuan.
Shutterstock



Michael Flood, Queensland University of Technology

Laki-laki yang berpegang teguh pada persepsi seksis yang kaku tentang apa itu laki-laki lebih mungkin untuk menggunakan dan membolehkan kekerasan terhadap perempuan.


Di sisi lain, laki-laki yang pemikirannya lebih fleksibel dan lebih terbuka pada kesetaraan gender dalam hal kejantanan akan cenderung memperlakukan perempuan dengan hormat. Mendorong model maskulinitas yang sehat dan lebih fleksibel adalah cara penting untuk mengakhiri kekerasan dalam rumah tangga dan seksual.


Pernyataan di atas mungkin ada dalam pemahaman orang banyak, tapi sebuah laporan baru dari lembaga nirlaba Our Watch, yang berfokus pada kekerasan dalam rumah tangga memberikan bukti-bukti yang mendukung. Laporan tersebut mengkaji penelitian di Australia dan seluruh dunia tentang maskulinitas, dan mengutip 374 sumber.


Sebagian laki-laki tidak pernah menggunakan kekerasan terhadap perempuan. Namun, beberapa laki-laki jauh lebih mungkin untuk menggunakan kekerasan daripada yang lain. Bayangkan situasi berikut.


Anda adalah seorang perempuan heteroseksual muda dan Anda menginginkan seorang pacar. Kebetulan, ada 100 laki-laki di gedung sebelah, semuanya lajang, dan heteroseksual.





Baca juga:
Risky business: how our 'macho' construction culture is killing tradies




Manakah dari mereka yang lebih cenderung untuk memperlakukan Anda dengan hormat, perhatian dan berkeadilan gender? Dan, di sisi lain, manakah yang lebih mungkin untuk melecehkan, mengendalikan, dan menyerang Anda?


Di antara 100 laki-laki tersebut, sejumlah kecilnya pernah menggunakan kekerasan. Tergantung penelitian mana yang jadi acuan, sekitar 15 hingga 20 sampai 25 dari 100 laki-laki tersebut pernah memperkosa atau memaksa perempuan untuk berhubungan seks.


Apa itu laki-laki


Banyak faktor yang dapat diandalkan untuk memperkirakan risiko terjadinya kekerasan. Beberapa faktor kunci berkaitan dengan maskulinitas, yaitu sikap dan perilaku yang secara stereotip dikaitkan dengan menjadi seorang laki-laki.


Idealisme lama tentang kejantanan mencakup pemikiran bahwa laki-laki harus kuat, tegas, dan dominan dalam hubungan dan rumah tangga. Laki-laki harus tangguh dan terkontrol, sementara perempuan lebih rendah, atau bahkan jahat dan tidak jujur.




Menghentikan kekerasan terhadap perempuan dimulai dengan kesetaraan gender.



Laki-laki yang bersandar pada idealisme ini lebih cenderung untuk memukul, melecehkan, memaksa, dan melecehkan perempuan secara seksual dibanding laki-laki yang memandang perempuan setara dengan mereka.


Dan laki-laki yang percaya pada hak seksual mereka atas tubuh perempuan atau mitos perkosaan lebih mungkin untuk memperkosa perempuan.





Baca juga:
When mothers are killed by their partners, children often become ‘forgotten’ victims. It’s time they were given a voice





Lebih lanjut, lelaki yang teman laki-lakinya membolehkan atau menggunakan kekerasan lebih mungkin melakukan hal yang sama.


Risiko di tingkat masyarakat


Namun, model kejantanan seksis adalah sebuah risiko juga di tingkat komunitas dan masyarakat. Masyarakat dengan dominasi laki-laki dan ketidaksetaraan gender sistemik memiliki tingkat kekerasan yang lebih tinggi terhadap perempuan.


Kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan seksual mencerminkan sistem sosial dan struktur di sekitarnya, termasuk ketidaksetaraan gender di tingkat lingkungan dan negara. Sebagai contoh, penelitian menemukan norma yang tidak berkeadilan gender dalam masyarakat di Tanzania dan India sejalan dengan tingkat kekerasan pasangan terhadap perempuan yang lebih tinggi.


Dan maskulinitas seksis tidak hanya menyebabkan terjadinya kekerasan langsung terhadap perempuan, tapi juga turut melanggengkan kekerasan itu.





Baca juga:
How challenging masculine stereotypes is good for men



Sebagian besar dari 100 laki-laki dari gedung sebelah tadi belum pernah menggunakan kekerasan. Namun, idealisme tradisional tentang maskulinitas memungkinkan beberapa dari mereka akan menyalahkan perempuan yang diperkosa, tidak mencegah perilaku yang mendukung kekerasan, menutup mata terhadap laki-laki yang melakukan paksaan seksual, atau ikut tertawa pada lelucon yang ikut melanggengkan sikap sosial yang membolehkan pemerkosaan.


Di antara 100 laki-laki tadi, banyak faktor lain, di samping gender, yang membentuk kemungkinan mereka melakukan kekerasan. Hal ini termasuk kondisi sosial mereka, pengalaman masa kecil terhadap kekerasan, kesehatan mental, dan sebagainya.


Pendukung pencegahan kekerasan kini semakin mengadopsi pendekatan “intersectional,” yaitu mengakui bahwa gender bersinggungan dengan wujud-wujud ketertinggalan dan privilese sosial lain ketika membentuk keterlibatan dalam tindak kekerasan dan viktimisasi.


Maskulinitas pada dasarnya bersifat sosial


Terdapat pemahaman yang menyebar luas bahwa untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan, kita harus melibatkan laki-laki dan anak laki-laki. Kita harus mendefinisikan kembali maskulinitas, mempromosikan ekspektasi sosial yang lebih sehat dan positif di antara laki-laki dan anak laki-laki. Dan laki-laki serta anak laki-laki itu sendiri akan mendapat manfaat dari perubahan seperti itu.




Bentuk-bentuk kekerasan nonfisik.



Maskulinitas, sikap, dan perilaku yang dikaitkan dengan laki-laki, pada dasarnya bersifat sosial, yakni diproduksi di masyarakat. Makna yang melekat pada kejantanan dan bentuk sosial kehidupan laki-laki sangat berbeda-beda di sepanjang sejarah dan seluruh budaya-budaya.


Ini berarti peran maskulinitas dalam kekerasan terhadap perempuan juga bersifat sosial, dan hal ini dapat diubah melalui upaya pencegahan yang menangani norma, praktik, dan struktur maskulinitas yang seksis.





Baca juga:
How can we make families safer? Get men to change their violent behaviour




Kabar baik dari jumlah penelitian yang bertumbuh pesat adalah bahwa intervensi yang dirancang dengan baik dapat membuat perubahan positif.


Program pendidikan tatap muka dapat memperbaiki sikap serta perilaku laki-laki dan anak laki-laki. Kampanye komunitas dapat mengubah norma sosial. Dan reformasi kebijakan serta hukum tentang diskriminasi, pekerjaan, dan pengasuhan anak dapat berkontribusi terhadap perubahan peran gender di tingkat masyarakat.


Pekerjaan pencegahan harus bersifat transformatif gender, yaitu menantang aspek seksis dan tidak sehat dari maskulinitas dan peran gender. Upaya tersebut harus dilakukan bersama dengan upaya dalam hak asasi perempuan. Dan itu harus menjangkau tidak sekadar sejumlah kecil lelaki “jahat”, namun membuat perubahan dalam norma-norma maskulin di masyarakat, ketidaksetaraan gender sistemik, dan ketidakadilan sosial lainnya.


Aisha Amelia Yasmin menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.The Conversation


Michael Flood, Associate Professor, Queensland University of Technology


Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.