Buku ‘Transformasi Feminisme Indonesia: Pluralitas, Inklusivitas dan Interseksionalitas' hasil kerja sama Konde.co, LETSS Talk dan LSPR.

Memotret Feminisme dalam Peluncuran Buku ‘Transformasi Feminisme Indonesia: Pluralitas, Inklusivitas dan Interseksionalitas’

Feminisme telah menjadi gerakan yang memberikan ruang dan suara bagi perempuan di seluruh dunia, begitu juga di Indonesia. LETSS Talk, Konde, dan Centre for Health and Gender Literacy Studies LSPR (London School of Public Relations) meluncurkan sebuah buku tentang kondisi perjuangan feminisme di Indonesia.

‘Ibarat antologi paling komprehensif’, begitulah sepenggal kalimat yang disampaikan L Ayu Saraswati, Profesor di Hawal Manoa AS soal feminisme Indonesia. 

Ruang lingkup feminisme Indonesia begitu luas. Baginya, feminisme Indonesia mengangkat isu-isu penting seperti pengetahuan soal metodologi, juga isu-isu seperti isu keluarga, seksualitas, tubuh dan reproduksi, ekologi, media, negara dan interseksionalitas. 

“Pendekatannya kritis dan imajinatif. Siapapun yang ingin memahami feminisme di Indonesia secara mendalam dan beragam perlu membaca buku ini,” Itulah kesan yang diberikan Ayu Saraswati terhadap buku ‘Transformasi Feminisme Indonesia: Pluralitas, Inklusivitas dan Interseksionalitas” yang dilaunching pada Hari Kartini, 21 April 2024. Buku ini merupakan hasil kerja sama Konde.co, LETSS Talk dan LSPR. 

Buku ini menyajikan pemetaan isu feminisme terkini yang terjadi dan dihadapi para perempuan di Indonesia.

Menurut Rachel Rinaldo, Ph.D., Direktur Center for Asian Studies, University of Colorado Boulder, Amerika Serikat; Penulis Mobilizing Piety: Islam and Feminism in Indonesia, buku ini menunjukkan bahwa feminisme di negara kepulauan terbesar ini selalu terkait dengan gerakan sosial, nasionalisme, dan perubahan keberagamaan. Di era perubahan iklim, peperangan, pandemi, dan meningkatnya otoritarianisme, para peneliti gender dan seksualitas Indonesia kemudian semakin melintasi batasan antara penelitian akademis dan aktivisme.

Baca Juga: Kritik Atas Feminisme Liberal: Abai terhadap Pengalaman Perempuan yang Beragam

Transformasi Feminisme Indonesia mencakup topik yang sangat beragam, seperti transformasi gender dan keluarga, migrasi dan mobilitas, perempuan dan krisis ekologi, kekerasaan dan pelecehan seksual, kesehatan reproduksi dan seksualitas, disabilitas, dan banyak lagi. Bertujuan membangun feminisme yang kritis, plural, dan inklusif di abad 21, buku ini akan memberi pengaruh pada generasi peneliti dan aktivis berikutnya.

Diah Irawaty, Founder dan Koordinator LETSS Talk mengatakan buku ‘Transformasi Feminisme Indonesia: Pluralitas, Inklusivitas dan Interseksionalitas” hadir dari terselenggaranya Conference on Indonesia Feminism pertama (KCIF 2023). Pengetahuan feminisme Indonesia dari konferensi itu, lantas diarsipkan menjadi sebuah buku.   

Hal tersebut menjadi salah satu ruang yang ideal dalam mendokumentasikan perjalanan transformasi ini. Tak hanya perspektif feminisme yang muncul dari dalam negeri, namun juga dari orang Indonesia yang berada di luar negeri. Menjadikan pengalaman diaspora sebagai bagian tak terpisahkan dari narasi tentang feminisme Indonesia. 

“Tidak hanya memproduksi pengetahuan feminis, tapi juga kita mensirkulasikannya,” ujar Diah Irawaty yang juga sebagai editor buku ini, dalam Forum Publik Peluncuran dan Diskusi Buku ‘Transformasi Feminis Indonesia’ secara daring pada Minggu, 21 April 2024.

Baca Juga: Kamus Feminis: Apa Itu Personal is Political? Betapa Politisnya Pilihan Perempuan

Pemimpin Redaksi Konde.co, Luviana Ariyanti, mengatakan bahwa buku ini juga menarik menyoroti soal pembahasan yang belum banyak muncul. Yaitu soal feminisme dan media. Di sisi lain, perspektif anak muda yang menjadi warna penting dalam pergerakan feminisme.

“Ini bagian kampanye, kajian dan pemikiran-pemikiran penting. Banyak anak muda menulis tentang feminisme,” katanya. 

Nikodemus Niko, salah satu kontributor yang juga pengajar di Program Studi Sosiologi FISIP, Universitas Maritim Raja Ali Haji misalnya. Dia menuliskan soal ‘Menghidupkan Feminisme Lokal’. 

Dirinya merupakan bagian dari masyarakat Dayak Begawan. Ia mengangkat soal pengalaman dan pengetahuannya sehari-hari sebagai masyarakat adat, yang ternyata lekat dengan feminisme lokal. Ada ajaran-ajaran adat yang memberdayakan, sesuai dengan semangat feminisme. 

Di satu sisi, dia juga menangkap adanya peminggiran para perempuan adat. Itu kaitannya dengan tekanan kapitalisme dan justru oleh negara. Ia mencontohkan fenomena yang terjadi pada perempuan adat di perkebunan sawit di desa Kelumpang, Kalteng. 

Baca Juga: Melihat Childfree dari Perspektif Feminis Eksistensialis

“Mereka memperjuangkan tanah adatnya agar pengetahuan-pengetahuan mereka tidak hilang ditelan oleh perusahaan-perusahaan yang saking mendominasi. Di bawah tekanan negara, satu sisi (negara) mendukung dan melindungi masyarakat adat tapi negara juga jadi penekan misalnya banyak tokoh adat yang dikriminalisasi oleh kebijakan-kebijakan negara,” terangnya. 

Ia juga mendorong agar gerakan feminisme juga lebih banyak lagi mendorong laki-laki untuk mengambil peran. Gerakan feminis menurutnya, sepanjang sejarah bekerja, telah mentransformasikan maskulinitas dan struktur patriarki yang melibatkan laki-laki dalam upaya kesetaraan gender. 

“Mengakui nilai kerja feminis adalah penting. Tetapi itu tidak cukup. Ketersediaan sumber daya sebagai proses strategis untuk perubahan ini adalah tantangannya,” lanjut nya. 

Pentingnya Sinergi Akademisi dan Aktivisme 

Dzuriyatun Toyibah, Dekan FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengapresiasi adanya gerakan swadaya hingga melahirkan buku transformasi feminisme Indonesia ini. Tradisi seperti ini yang perlu terus dibangun sebagai kolaborasi akademisi dan aktivisme.

“Merayakan dinamika keberagaman, keterbukaan feminisme yang pluralis dan inklusif dalam gerakan feminisme Indonesia,” ujar Dzuriyatun. 

Baginya, buku ini telah menjadi dokumentasi tentang berbagai hal yang sangat beragam. Ia dirangkum dalam 8 tema pokok yang memberikan gambaran tentang isu-isu kunci dalam dimensi aktivisme dan keilmuan tentang feminisme Indonesia. 

“Perspektif baru yang didukung oleh data-data yang relevan menjadi kontribusi penting publikasi hasil KCIF 2023. Yaitu untuk tercapainya relasi gender yang berkeadilan di indonesia dengan mengintegrasikan pendekatan aktivisme dan pendekatan akademik,” imbuhnya. 

Irwan Martua Hidayana, Dosen dan Peneliti Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP Universitas Indonesia menambahkan, buku ini juga mampu mendorong para penulis muda yang memiliki perhatian soal feminisme, gender, dan seksualitas. Harapannya, hal itu terus bisa dilanjutkan. 

Baca Juga: Trend Tradwife Apakah Cocok untuk Hidupmu? Bagaimana Feminisme Melihat Ini

Tak kalah penting, buku ini juga bisa menghadirkan penelitian yang dialogis. Saling memberi kesadaran antara peneliti dan subjek yang diteliti. Sebab selama ini, banyak juga peneli yang “tak sadar” membangun relasi kuasa dengan subjeknya. 

Selain soal interseksi feminisme dan queer, salah satu topik yang menarik perhatiannya dalam buku ini seperti, fenomena childfree yang dilihat dari sudut pandang dan pengalaman laki-laki. “Studi maskulinitas harus didorong lebih banyak,” katanya. 

Sementara itu, Theresia Iswarini, Komisioner Komnas Perempuan memberikan tanggapan khusus pada buku ini. Dia menyoroti beberapa isu yang menurutnya mengalami kebaruan dalam 10 tahun terakhir, seperti isu kekerasan terhadap perempuan secara online, ketubuhan pada isu LGBTIQ, pemaknaan perempuan dalam keluarga (long distance motherhood and child free). 

“Teknologi dan pemaknaan baru individu dan gerakan sosial/perempuan mempengaruhi kebaruan isu dan pendekatan feminisme yg digunakan,” kata Theresia Iswarini. 

Baca Juga: Perempuan Yang Sekolah Tinggi, Bikin Laki-laki Minder? Imajinasi Salah Kaprah

Ia juga menyebut adanya isu-isu seksualitas dan keluarga baru (new families) bergerak maju dan inspiratif. Di antaranya seperti, childfree, cisterhood atau sisterhood, long-distance motherhood

Buku ini menurutnya menjadi refleksi terhadap dilema gerakan feminisme dengan beragam konteks dan ekspektasi. Refleksi pada sejauh mana perdebatan ‘sisterhood atau cisterhood’ ini dianggap sebagai suatu hal yang produktif dan memberi perubahan. 

Namun di satu sisi, bisa juga merefleksikan apakah kita telah menegasikan gender lain atau kita sedang berstrategi saat berhadapan dengan situasi kekinian yang masih homofobik. 

“Terindikasi pada masih banyaknya kebijakan diskriminatif, berpusat pada keluarga dan reproduksi sebagai prokreasi,” katanya. 

Dalam diskusi launching buku itu, Theresia juga menyampaikan masukannya. Menurutnya, ada isu yang relatif berulang. Contohnya problem perempuan pada tanah (perempuan Dayak Benawan, perempuan aceh, isu terkait seksualitas pada disabilitas, aborsi, peremajaan vagina, menstruasi, sunat perempuan, krisis ekologi, media dan alternatif pemulihan dengan terapi menulis).

Baca Juga: Kamus Feminis: Apa Itu Misogini Atau Kebencian terhadap Perempuan

“Ada pula “stagnasi isu” atau pendalaman kekerasan terhadap perempuan dipengaruhi oleh ketidakhadiran negara menyebabkan gerakan perempuan harus terus bersinergi,” katanya. 

Pada beberapa tulisan juga tampak masih bergerak dalam ruang wacana atau menempatkan perempuan pada ruang pengetahuan semata. Namun belum ada aksi atau advokasi yang dilakukan. Interseksionalitas belum juga dieksplorasi secara mendalam dan perspektif yang kuat. 

“Ada ruang atau potensi untuk menggali lebih jauh berbagai informasi yang tersedia dalam buku terutama pada dunia digital dan metaverse; interseksionalitas proses intelektual akademis terkait dengan produksi dan reproduksi pengetahuan feminis dibangun secara terus menerus oleh aktivis perempuan, Kamala Chandrakirana,” kata Theresia. 

Di akhir paparannya, dia mengajak untuk merawat semangat mengkaji dan mendokumentasikan feminisme dan transformasi sosial terutama di era kekinian. Seperti halnya yang telah Konde.co, LETSS Talk dan LSPR dalam penerbitan buku ini. 

Buku ini memang menghadirkan berbagai perspektif feminisme yang mencerminkan kompleksitas dan kekayaan gerakan di Indonesia. Mulai dari perspektif akademis, hingga tulisan pribadi dan pengalaman langsung, naskah-naskah dalam buku ini memperkuat kontribusi feminisme dalam diskursus sosial, politik, dan budaya

Harapannya, buku “Transformasi Feminisme Indonesia” ini akan menjadi sumber inspirasi dan pemahaman yang berharga bagi pembaca, yang dapat mendorong refleksi mendalam tentang peran gender dan kesetaraan dalam masyarakat. 

Baca Juga: Penutupan Kartini Conference ‘KCIF 2023’, Inklusivisme Harus Jadi Landasan Perubahan Kebijakan Perempuan

“Melalui pengetahuan dan wawasan yang diperoleh dari buku ini, kami berharap semakin banyak orang yang tergerak untuk mengambil bagian aktif dalam membentuk perubahan yang positif dan inklusif,” pungkas LSPR Publishing. 

Bagi kamu yang mau memesan buku ‘Transformasi Feminisme Indonesia: Pluralitas, Inklusivitas dan Interseksionalitas” bisa melalui link ini. Selain itu, buku ini juga dipesan via marketplace Tokopedia LSPR Publishing. 

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik.Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!