Cuplikan trailer 'Dilan 1983: Wo Ai Ni' (sumber foto: tangkapan layar YouTube Falcon)

Tak Sekedar Cinta Monyet, 5 Hal yang Bisa Kamu Cermati dari Film ‘Dilan 1983: Wo Ai Ni’

Film ‘Dilan 1983: Wo Ai Ni’ membawa cerita tentang kultur anak-anak yang dibesarkan di tahun 1980an.

Film “Dilan 1983: Wo Ai Ni” merupakan salah satu sekuel dari film yang bercerita tentang kehidupan tokoh utamanya, Dilan.

Kali ini, film menghadirkan cerita kilas balik ketika Dilan kecil, ketika ia masih sekolah SD.

Tahun 1983, setelah satu setengah tahun tinggal di Timor Timur (Timor- Leste), Dilan diceritakan akan kembali ke Bandung. Dilan pun kembali bertemu dengan teman-teman lamanya di SD tempat dulu dia sekolah. Tapi, ternyata di sekolah lamanya di Bandung, ada murid baru pindahan dari Semarang. Namanya Mei Lien, anak perempuan keturunan Tionghoa. Dilan kecil tertarik dengan Mei Lin.

Film ini menyuguhkan cerita, bukan cuma tentang cinta monyet biasa yang banyak dialami manusia di dunia. Tak ada cinta-cintaan serius, cuma cinta monyet, tapi Mei Lien telah membuat Dilan jadi belajar bahasa Mandarin dan tertarik membaca buku tentang sejarah China di Indonesia.

Film garapan Falcon Pictures ini menghadirkan Fajar Bustomi dan Pidi Baiq sebagai sutradara dan Frederica sebagai produser. Dengan pemeran Adhiyat sebagai Dilan, Malea Emma sebagai Mei Lin, Ira Wibowo sebagai ibu dan Bucek sebagai ayah.

Adegan pertama di film ini menggambarkan Dilan sedang terlihat ngobrol dengan sahabatnya di Dili. Ia pamit akan pulang ke Bandung, setelah ia habiskan waktunya di Dili, Timor Timur setelah kurang lebih 2 tahun di sana.

Dilan akan ikut ayahnya yang selama ini bekerja sebagai tentara di Timor Timur untuk kembali pulang ke Bandung.

Baca Juga: Helen Keller dan The Miracle Worker yang Mengubah Dunia

Film “Dilan 1983: Wo Ai Ni” memberikan latar belakang Dilan hidup di tahun 1980an. Diceritakan, ayahnya di Timor Timur kerja sebagai tentara yang menumpas Xanana Gusmao yang dianggap memberontak, Itu kalimat propagandis yang lazim diungkapkan di masa Orde Baru; bahwa orang Timor Timur sedang memberontak, bukan sedang memperjuangkan kemerdekaan dari Indonesia karena hak-hak mereka yang dilanggar.

Walaupun memberikan sejumlah perspektif kanan yang didengungkan pemerintahan Orde Baru, namun film ini juga menghadirkan latar belakang dengan perspektif berbeda. Seperti perspektif orang Tionghoa yang banyak diasingkan di masa itu. Ini menjadikan film ini tidak hanya sekedar cinta monyet Dilan yang menyukai teman sekolahnya, Mei Lin, atau tidak sekedar cerita masyarakat yang hidup di zaman Orba.

Lalu apa saja yang ada dalam Film ini yang bisa kamu cermati?

Baca Juga: Film ‘The Idea of You’: Sulitnya Hapus Stigma Perempuan Tak Boleh Punya Pacar Lebih Muda
  1. Perspektif Tionghoa di Indonesia

Di zaman Orde Baru, banyak orang yang anti pada Tionghoa dan memberikan stempel pada orang Tionghoa sebagai orang yang bukan warga negara Indonesia, bukan orang asli Indonesia. Namun film ini menghadirkan perspektif lain: bahwa Tionghoa yang diwujudkan oleh Mei Lin adalah anak perempuan yang sama dengan lainnya, dan tak boleh didiskriminasi. Dilan dan teman-temannya melihat Mei Lin sebagai teman yang harus ditemani, butuh kawan seperti lainnya.

Pada saat puasa pun, Mei Lin diceritakan datang ke masjid dan memberikan makanan pada Dilan dan kawan-kawannya yang sedang puasa. Di saat Dilan lebaran, Mei Lin juga berkirim surat mengirimkan ucapan untuk Dilan, hal-hal yang masih didebatkan di masa itu bahwa agama lain tak boleh mengucapkan selamat hari raya pada orang dari agama lainnya. Orangtua dan anak-anak yang menonton ini bisa belajar soal keberagaman dan kebersamaan walaupun berbeda.

  1. Pelecehan Seksual berkedok Cermin Rautan

Film ini juga menghadirkan pelecehan seksual yang banyak terjadi di tahun 1980an. Modusnya, ada anak laki-laki yang memasang rautan yang ada cerminnya di tali sepatunya. Kemudian mereka pura-pura ngobrol dan meletakkan posisi rautan di bawah rok anak perempuan. Ini dilakukan agar mereka bisa melihat warna celana dalam anak perempuan lewat cermin ini. Kalau kamu lahir di tahun 1970an dan ada di masa-masa itu, kamu pasti ingat dan melihat ini sebagai bahan guyonan anak laki-laki. Cerita ini seperti dianggap lazim di masa itu, padahal ini merupakan awal pelecehan seksual yang dilakukan anak laki-laki pada anak perempuan di masa Orba.

  1. Penembakan Misterius (Petrus) dan Timor Timur

Walaupun masih menggunakan terminologi propaganda Orba tentang tentara yang akan menumpas pemberontakan Timor Timur. Namun film ini juga menampilkan peristiwa seperti Penembakan Misterius (Petrus) dimana ada orang yang tiba-tiba ditembak di jalanan lalu dikubur begitu saja dan dinyatakan hilang. Orang-orang sekitarnya hanya melihat ini di TV bahwa ada orang hilang.

Baca Juga: ‘Tuhan, Izinkan Aku Berdosa’: Upaya ‘Tanggung’ Menembus Batas Moralitas
  1. Relasi Ibu dan Dilan

Yang menarik dari film ini adalah relasi antara ibu dan Dilan. Kebanyakan anak yang hidup di tahun-tahun itu selalu mendapatkan stigma bahwa orangtua adalah yang paling benar, anak yang membantah akan masuk neraka, anak yang membantah akan dihukum seberat-beratnya. Namun di film ini, relasi orangtua dan anak digambarkan secara equal. Ibu Dilan digambarkan memberikan kebebasan pada anaknya untuk berekspresi asal anaknya mau mengambil resiko yang dihadapi. Ini terjadi ketika beberapakali Dilan ditantang berkelahi oleh teman-temanya dan pulang dalam kondisi luka-luka di wajahnya. Ibu digambarkan sebagai sosok moderat yang tidak memarahi Dilan, tapi lebih mau mendengarkan Dilan dengan alasan-alasannya.

  1. Dilan suka membaca

Dilan juga digambarkan suka membaca, ini dihadirkan ketika Dilan mulai menyukai Mei Lin. Tak cuma sekedar suka dan cinta monyet, Dilan juga membaca sejarah Indonesia, zaman kapal dagang negara-negara asing ke Indonesia termasuk kedatangan Laksamana Cheng Ho. Gambaran ini yang kemudian menjadikan Dilan punya pengetahuan bahwa Indonesia adalah negara yang beragam, sama seperti dia bisa menyukai Mei Lin tanpa melihat perbedaan.

Film ini juga menghadirkan persahabatan antara Dilan dan gengnya, Agus, Nanang (Keanu Azka), Agus (Ferdy Adriansyah) dan Fajar (Sultan Hamonangan). Sejumlah orang menyebut, film ‘Dilan 1983: Wo Ai Ni’ menghadirkan nostalgia anak-anak di masa 1980an.

(sumber foto: tangkapan layar YouTube Falcon)

Luviana

Setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar paruh waktu di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!