Proses pembuatan briket kelapa sebagai energi terbarukan di NTT (Foto: Regina/Anggota Komunitas Wolosina Watoboki)

Jejak Perempuan dalam Transisi Energi: Menuju Energi Terbarukan yang Berkeadilan

Ini adalah pengalaman perempuan di Desa Bantala, Flores Timur, NTT dan Desa Pandan Indah, Lombok Tengah, NTB yang menjadi penggerak energi terbarukan. Mereka menjadi pilar di desa-desa, mendobrak wacana dominan yang menganggap bahwa isu energi adalah isu yang maskulin.

Isu lingkungan dan energi adalah isu bersama. Malah, utamanya isu tersebut dekat dengan perempuan karena eratnya hubungan antara perempuan dan alam. Namun, isu energi masih dianggap sebagai sesuatu yang maskulin. Perempuan disingkirkan dari eksplorasi potensi energi hingga advokasi pembuatan kebijakan energi yang berkeadilan, sedangkan dampak dari semua itu pada akhirnya bakal paling berpengaruh terhadap kehidupan perempuan.

Maka para perempuan dalam komunitas masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) menolak dibuat tidak berdaya. Alih-alih bungkam, mereka—dari generasi muda sampai tua—aktif menggerakkan potensi energi terbarukan yang ada di sekitar mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka berinisiatif mengubah sumber energi tinggi emisi menjadi energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan. Dalam prosesnya, laki-laki juga turut membantu para perempuan yang tergabung di komunitas untuk memberdayakan sumber energi terbarukan. Kesadaran gender tersebut hadir, mendorong energi berbasis komunitas yang lebih berkeadilan.

Konde.co mendapat kesempatan untuk meliput pengalaman para perempuan penggerak energi terbarukan pada 28-30 April 2025 di Lombok. Kami menemui para perempuan warga Desa Bantala, Flores Timur, NTT dan Desa Pandan Indah, Lombok Tengah, NTB untuk mendengarkan kisah mereka mengeksplorasi potensi energi terbarukan yang berkeadilan.

Regina dan Briket Kopra Putih yang Mengubah Hidup

Perjalanan liputan dimulai pada hari Minggu (27/4/25). Saya bertolak dari Jakarta menuju Mataram. Setelah itu, disambung dengan perjalanan darat menuju penginapan di Lombok Raya. 

Sesaat setelah sampai di penginapan, saya bertemu dengan Regina (50) atau akrab disapa Kak Gin. Ia warga Desa Bantala, Flores Timur, NTT. Regina tergabung dalam komunitas perempuan bernama Wolosina Watoboki, yang memproduksi briket dari kopra putih (kelapa putih). Briket kelapa merupakan bahan bakar alami untuk memasak yang terbuat dari tempurung kelapa. Cara buatnya adalah dengan membakar tempurung kelapa, kemudian digiling sampai menjadi tepung. Setelah itu, campur dengan kanji sampai menyatu, lalu dicetak hingga menjadi briket. Proses ini memakan waktu sekitar 5 hari sampai dapat digunakan. Sumber daya dari kelapa seperti briket kopra adalah tanda kekayaan sumber energi di Flores Timur. Tak heran, sebab daerah itu merupakan wilayah penghasil kelapa dan mayoritas warganya bekerja sebagai petani kelapa.

Baca Juga: Digadang-Gadang Dorong Transisi Energi, Industri Kendaraan Listrik Masih Abaikan Kebutuhan Perempuan Disabilitas Netra

Setelah memperkenalkan diri, Regina tampak sangat antusias bercerita tentang komunitasnya kepada saya. Ia juga menunjukkan beberapa foto-foto briket hasil produksi di rumah jemurnya. Regina berperan sebagai bendahara sekaligus pemilik Rumah Energi Matahari (REM); rumah jemur untuk briket yang diproduksi komunitas. Sementara itu, komunitas mereka terdiri dari 15 anggota. Satu ketua perempuan, 12 anggota perempuan, dan dua anggota lainnya adalah laki-laki. 

Sebelumnya, komunitas menggunakan sumber energi minyak tanah, anglon (serbuk kayu), dan kayu api untuk memasak. Sayangnya, sumber energi tersebut membawa banyak dampak buruk untuk mereka. Selain cepat habis dan sulit didapatkan, pembakaran serbuk kayu dan kayu api menghasilkan debu halus serta asap tebal yang menyesakkan pernapasan. Asap pembakaran dari minyak tanah juga menghasilkan emisi karbon. Dari proses mengolah sampai menggunakannya semua berisiko buruk bagi kesehatan mereka.

Briket kelapa, salah satu bentuk energi terbarukan karya perempuan di NTT (Foto: Regina/Anggota Komunitas Wolosina Watoboki)
Briket kelapa, salah satu bentuk energi terbarukan karya perempuan di NTT (Foto: Regina/Anggota Komunitas Wolosina Watoboki)

“Ini (briket) sangat bagus, berhubung minyak tanah kita semakin langka,” tutur Regina. “Jadi kebanyakan kami (ibu-ibu) semenjak ada program kopra putih—limbah kelapa (yang) diproses jadi arang briket—sangat terbantu untuk kami.”

Inisiasi untuk mulai beralih dari penggunaan minyak tanah ke briket kelapa muncul setelah komunitas mendapat pelatihan dari Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) Flores Timur dan dukungan pemerintah setempat. Para perempuan mengaku senang karena tak lagi harus berjalan jauh ke hutan untuk mencari kayu api atau serbuk kayu. Masakan menjadi lebih harum, minim asap dan debu halus, serta lebih ramah lingkungan. Bahan bakar ini juga lebih hemat dibanding menggunakan minyak tanah. Hanya butuh sekitar 10–15 briket untuk memasak berbagai macam jenis makanan dari sarapan sampai makan sore.

Baca Juga: Cerita Petani Perempuan di Lombok yang Berdaya Kelola Energi Hijau

“Masa musim hujan sangat repot untuk kami (para perempuan) cari kayu api, bawa ke rumah untuk masak. Tapi mulai ada briket tidak perlu repot lagi cari kayu api di hutan. Gampang didapat, ini (briket) kan bisa buat masak pengganti minyak tanah,” ungkap Regina kepada Konde.co.

Tambahnya, “Kalau pakai briket, sekali masak pakai sekitar 10–15 biji. Kita simpan mulai masak air, goreng ikan, tumis sayur, terakhir masak nasi, itu saja masih bertahan. Seharian bisa, kalau masak air bisa sampai empat kali ukuran periuk. Itu bara lama sekali habis, seperti kompor gas. Semenjak ada briket tidak pakai lagi kompor gas / minyak tanah.”

Proses pembuatan briket kelapa (Foto: Regina/Anggota Komunitas Wolosina Watoboki)
Proses pembuatan briket kelapa (Foto: Regina/Anggota Komunitas Wolosina Watoboki)

Nilai ekonomis yang menjanjikan juga membuka peluang perempuan untuk semakin mengembangkan energi terbarukan yang berkelanjutan. Briket diperjualbelikan dengan harga Rp13.000 per kilogram. Dalam setahun, komunitas berhasil menjual 500 kg briket ke beberapa wilayah seperti Ende, Maumere, dan Kota Flores. Para perempuan mengaku untung dan dapat berhemat hampir 50% dari pengeluaran mereka untuk memasak setelah memakai briket.

Baca Juga: Perempuan Mengolah Energi Terbarukan, Sayang Tak Didengar Pemerintah 

Mereka juga giat mengajak masyarakat di luar komunitasnya untuk beralih ke briket kelapa melalui pelatihan bersama mulai dari anak muda sampai disabilitas.

“Semenjak briket ini ada, kami selalu mengajak mereka yang di luar komunitas untuk membuat briket dan praktik. Anak-anak muda, disabilitas, kami ajak mereka untuk latihan membuat bersama. Dulu cuma kami dalam komunitas yang tahu bikin, tapi sekarang mereka juga sudah tahu, biasanya untuk konsumsi rumah tangga.”

Perempuan Komunitas Setara: Nyala Matahari yang Membuka Asa 

Tak hanya perempuan di Flores Timur saja yang aktif menggubah energi hijau. Pada Selasa, (29/4/25), Konde.co kembali berkesempatan untuk melakukan kunjungan peliputan tentang energi terbarukan di Desa Pandan Indah, Lombok Tengah, NTB. 

Dari penginapan menuju desa, butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan menggunakan mobil. Jalan menuju desa tampak sempit, berkelok, berbatu, dan berdebu. Cuaca ketika saya sampai juga sangat terik karena matahari hampir berada tepat di atas kepala. Kata warga lokal, matahari di sana seperti ada sepuluh.

Sesampainya di Desa Pandan Indah, saya langsung menuju ke lokasi pompa air tenaga surya disimpan. Tampak sebuah ruangan beratap panel surya yang di bawahnya terletak sebuah mesin penggerak / generator untuk memompa air tanah. Sebuah tandon air berwarna biru tua berukuran 5000L terletak di sebelahnya, lengkap dengan pipa dan kran di bagian depan. Sinar matahari yang ditangkap panel akan menggerakkan mesin sehingga air di dalam tanah dapat ditarik pipa ke atas. Pipa inilah yang berfungsi mengalirkan air dari tandon utama ke rumah-rumah warga.

Pompa air tenaga surya di Desa Pandan Indah (Foto: Khoirunnisa N. F./Konde.co)
Pompa air tenaga surya di Desa Pandan Indah (Foto: Khoirunnisa N. F./Konde.co)
Baca Juga: Transpuan Dapat Energi Sehat di NTT, Bagaimana di Ibu Kota?

Jarum jam panjang dan pendek hampir bertemu di angka 12 siang ketika Samsiah (40) keluar dari rumahnya. Ia membuka pipa keran tandon yang berisi air bersih hasil aliran pompa air tenaga surya yang baru dimiliki desa. “Senang sekarang ada air, bisa mandi lima kali sehari. Dulu bisa tidak mandi sama sekali karena susah air,” ujarnya sambil tersenyum kecil. Ia bahkan tak ragu memanjat tangga di tengah terik sinar matahari untuk memastikan apakah tandon air sudah penuh. Samsiah mengaku sangat senang karena sekarang ia dan tetangga di desanya tak lagi kekurangan air setelah beralih ke pompa air tenaga surya.

Samsiah sedang mengoperasikan saklar mesin pompa air tenaga surya (Foto: Khoirunnisa N. F./Konde.co)
Samsiah sedang mengoperasikan saklar mesin pompa air tenaga surya (Foto: Khoirunnisa N. F./Konde.co)

Biim (20), salah satu warga Desa Pandan Indah turut menjelaskan bahwa transisi penggunaan energi solar ke pompa air tenaga surya yang lebih terbarukan diinisiasi oleh Komunitas Sekolah Perempuan yang ada di Desa Pandan Indah. Komunitas ini didukung oleh pemerintah setempat dan Gema Alam. Krisis air berkepanjangan membuat mereka mendesak pemerintah daerah untuk segera membuatkan panel dan pompa air bertenaga surya. Inisiasi para perempuan komunitas akhirnya membawa mereka menuju transisi ke energi hijau. Kini, mereka tak lagi harus mengeluarkan Rp15.000 tiap minggu untuk membeli 1 liter solar. Energi matahari dapat digunakan secara gratis tanpa takut kekurangan.

”Sebelumnya ada kolaborasi antara Pemda dan Gema Alam, kita dibuatkan komunitas namanya Sekolah Setara, isinya perempuan—ibu-ibu, anak muda, dan kelompok rentan seperti disabilitas. Setiap pertemuan komunitas—ada tujuh siklus—kami belajar tentang gender, inklusi sosial, cinta diri, kepemimpinan perempuan, dan potensi desa. Kata orang-orang, di sini mataharinya ada sepuluh saking panasnya, sehingga kita mengadvokasi ke Pemda untuk dibuatkan pompa air bertenaga surya,” jelas Biim kepada Konde.co.

Baca Juga: Perempuan yang Menyalakan Energi Hingga ke Pulau

Samsiah (kiri) dan Biim (kanan) (Foto: Khoirunnisa N F/konde.co)

Energi Terbarukan Memberdayakan Perempuan

Berdasarkan hasil rapid care analysis (RCA) yang disajikan Circle Imagine of Society atau CIS Timor, perempuan di Sumba memiliki waktu kerja sebanyak 18 jam dengan waktu istirahat 7 jam, sedangkan waktu kerja laki-laki hanya 12 jam dengan waktu istirahat 13 jam. Perempuan cenderung bangun lebih pagi dan tidur paling akhir. Hasil riset UN Women juga memperkuat realitas ketimpangan bahwa perempuan secara umum melakukan pekerjaan rumah tangga dan kerja perawatan yang tidak dibayar setidaknya dua setengah kali lebih banyak dibanding laki-laki. Ketimpangan ini merugikan perempuan, membuat mereka kelelahan dan menjadi korban ketidakadilan sistem.

Pengalaman perempuan dari Flores Timur & Lombok Barat menunjukkan bahwa dengan transisi energi terbarukan, kerja perempuan menjadi terbantukan. Seperti Regina (50) misalnya, kini ia tak lagi berlama-lama mencari kayu di hutan untuk memasak. Waktunya dapat ia gunakan untuk hal lain seperti menjual briket sehingga menghasilkan uang untuk ia dan komunitas.

Biim (20) menjelaskan bahwa hidupnya semakin mudah setelah beralih ke energi terbarukan. Waktu yang sebelumnya digunakan untuk mencari air di desa sebelah kini dapat mereka gunakan untuk mengerjakan pekerjaan lain seperti memasak, mengurus rumah, dan bekerja.

Perempuan Masih Menghadapi Tantangan

Dalam proses pemberdayaan menuju energi hijau, perempuan tak sepenuhnya lepas dari berbagai tantangan dan risiko. 

Karena profesinya sebagai produsen briket, Regina harus berhadapan dengan panas api dan debu halus selama proses pembakaran. Proses panjang pembuatan briket juga kerap membuat dirinya lelah. Saat bercerita, Regina menunjukkan kepada saya flek hitam tipis yang ada di pipinya akibat lama berhadapan dengan panas api saat membuat adonan briket. Setiap proses olah, ia dan komunitasnya harus mengenakan masker dua lapis untuk perlindungan dari debu dari paparan panas api. Bara api dari briket yang disimpan setelah proses pembakaran bahkan pernah hampir membakar rumah jemurnya. Beruntung api berhasil dipadamkan. Proses pengolahan briket sebagai sumber energi terbarukan harus dilakukan secara cermat dan penuh kehati-hatian.

Regina dan rumah jemur miliknya (Foto: Khoirunnisa N. F./Konde.co)
Regina dan rumah jemur miliknya (Foto: Khoirunnisa N. F./Konde.co)

Berbeda halnya dengan perempuan di Desa Pandan Indah. Dita Lestari (29), anggota Komunitas Sekolah Setara, bercerita bahwa salah satu tantangan yang mereka hadapi justru berkaitan dengan masalah pernikahan dini yang masih dirasakan perempuan muda hingga saat ini.

Baca Juga: Melihat Relasi Orang Tua, Ini Seperti Melukis dengan Air Mata

“Anak-anak perempuan di sini lebih baik menikah katanya daripada sekolah lanjut. Dari orang tuanya, katanya sekolah ngabisin uang. Yang jadi dokter udah banyak, guru banyak, makanya nikah saja, itu dah prinsip orang tuanya.”

”Makanya nggak sampai lulus sekolahnya, paling sampai kelas dua, tiga, terus nikah. Masih seperti itu sekarang. SMA rata-rata, yang kuliah sedikit. Makanya ibu-ibu di sini (orang tua) ingin belajar di sini,” cerita Dita dengan raut wajah prihatin.

Tantangan ini turut menjadi alasan para perempuan di desa Pandan Indah untuk melakukan advokasi ke pemerintah setempat guna mendapat pelatihan khusus di berbagai aspek. Kini, mereka masih menunggu program perpipaan dan pelatihan berkelanjutan dari pemerintah daerah melalui Komunitas Sekolah Setara.

Energi Berbasis Komunitas: Turunkan Emisi, Kuatkan Kesadaran GEDSI

Upaya-upaya yang dilakukan oleh komunitas perempuan merupakan bukti nyata yang membantu penurunan emisi karbon sekaligus mendorong perubahan progresif dari energi tak terbarukan menuju ke energi hijau. Inisiasi perempuan juga memperkuat kesadaran gender masyarakat lokal. Laki-laki setempat turut membantu kerja-kerja perempuan. Mereka bekerja sama untuk mengoperasikan energi terbarukan. Kesadaran peran gender menjadi faktor keberhasilan penggunaan transisi energi. Mereka saling memahami pentingnya inisiasi perempuan dan kerja sama dari semua pihak untuk perubahan desa.

”Mereka juga kuat bantu (pengoperasian pompa air tenaga surya)—laki-laki yang ambil air pakai jerigen pakai motor, kan kami nggak bisa pakai sepeda motor karena jauh juga (kalau sedang meminta air ke desa sebelah),” ungkap Dita (29) kepada konde.co.

Kesadaran akan potensi energi terbarukan yang berlimpah di NTT dan NTB  membuat pemerintah daerah memiliki target ambisius Net Zero Emission (NZE) berbasis gender, disability, social inclusion (GEDSI). Pemerintah daerah NTB misalnya, sudah mulai menggagas isu transisi energi sejak 2015 melalui Peraturan Daerah Nomor 2 tahun 2015 tentang Pengelolaan Energi dan Ketenagalistrikan.

Baca Juga: Kenapa Kita Perlu Beralih ke ‘Slow Fashion’? Solusi Tampil Gaya Tapi Tetap Bertanggung Jawab

Kebijakan semakin berkembang dengan keluarnya Peraturan Gubernur Nomor 13 Tahun 2024 tentang Pengembangan Energi Hijau di NTB yang di dalam salah satu klausulnya disinyalir mempertimbangkan aspek GEDSI dalam isu energi terbarukan. Jika disandingkan dengan target pemerintah pusat, target NZE seratus persen pemerintah NTB bahkan sepuluh tahun lebih cepat dari target nasional. Namun, peraturan tersebut belum menjelaskan bagaimana mekanisme GEDSI akan dijalankan dalam transisi energi sehingga perlu ada kontribusi dari berbagai lapisan masyarakat untuk mendorong implementasi GEDSI ini.

Sedangkan di NTT, Pemerintah Daerah telah memiliki Pedoman Rencana Umum Energi Daerah (RUED) Nomor 10 Tahun 2019 tentang energi terbarukan yang saat ini dalam proses pembaharuan sejak 2024 dengan memasukkan perspektif GEDSI. Menurut Lusia Carningsih Bunga, project manager CIS Timor, untuk mencapai target optimis NZE 52 persen pada 2030, pemerintah daerah NTT membutuhkan dukungan multistakeholder dengan memperhatikan segala aspek yang dapat memaksimalkan penggunaan energi terbarukan dalam masyarakat.

“Penting untuk melibatkan isu transisi energi berkeadilan GEDSI dengan melibatkan akademisi, pemilik usaha, NGO, wartawan, dan pihak swasta lainnya,” jelas Lusia dalam sesi bootcamp pada Senin (28/4/25) di Hotel Lombok Raya.

Baca Juga: Setelah Berpisah Dengan Pasangan, Perlunya Decluttering Agar Tak Menimbulkan Ingatan Buruk

Di level nasional, Pemerintah Pusat juga memiliki target ambisius untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) seratus persen pada 2050. Target ini didukung dengan program kerja sama Just Energy Transition Partnership (JETP) antara pemerintah Indonesia dengan negara-negara maju sejak 2022 untuk transisi energi berkeadilan.

Regulasi tentang energi terbarukan pun tercantum jelas dalam Undang-Undang No. 30 Tahun 2007 tentang Energi dan Undang-Undang No. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan yang memungkinkan masyarakat umum untuk berpartisipasi. Sayangnya, regulasi ini belum secara eksplisit menetapkan langkah-langkah untuk mengatasi kesenjangan gender dan inklusi sosial.

Infrastruktur Energi Harus Inklusif: Pemerintah Daerah dan Pusat Harus Bersinergi, Jangan Cuma Formalitas

Perempuan dan kelompok rentan lainnya masih menghadapi tantangan sistemik yang membutuhkan perhatian dari pemerintah daerah serta pusat. Pemberdayaan perempuan dan peningkatan kapasitas diri juga perlu dilakukan lebih masif.

Pengalaman Regina, Samsiah, Biim, dan perempuan komunitas lainnya di desa membuktikan bahwa kesadaran peran gender memunculkan inisiasi masyarakat untuk aktif berkiprah dalam banyak aspek, terutama isu transisi energi. Pengalaman mereka adalah realitas bagaimana perempuan masih menghadapi tantangan untuk menjadi sepenuhnya berdaya. Pemerintah daerah & pusat harus bersinergi. Program-program yang dibuat jangan hanya dilakukan untuk formalitas belaka. Tapi benar-benar menjadi program berkelanjutan yang mendukung energi berbasis komunitas dan GEDSI agar cita-cita zero net emission (ZNE) dapat terealisasi dengan pasti di masa depan.

Pemerintah dapat melakukan beberapa hal untuk mendorong tercapainya transisi energi berkeadilan, Misalnya menyediakan anggaran untuk energi berbasis komunitas dengan tepat sasaran, melakukan evaluasi kebijakan, menerapkan perspektif GEDSI dalam lingkup pemerintah, menyelaraskan target bauran energi antara pusat dengan daerah, melakukan kampanye secara masif terkait GEDSI dalam isu transisi energi dan menjadikannya sebagai isu bersama. Sedangkan untuk masyarakat, kita dapat turut serta mengawal kebijakan pemerintah agar mengimplementasikan GEDSI dalam regulasi energi secara tepat sasaran dan berkelanjutan.

Liputan ini difasilitasi oleh Publish What You Pay (PWYP) Indonesia.

(Foto: Regina/Anggota Komunitas Wolosina Watoboki)

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

Khoirunnisa Nur Fithria

Staf Multimedia Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!